Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
108


__ADS_3

Widya menyusuri lorong rumah sakit itu dengan perasaan ringan. Hatinya berdebar. la tak sabar untuk melihat Azri, suaminya yang ia cintai dalam kondisi sadar. Ia tidak tahu kata apa yang harus ia ucapkan ketika bertemu dengannya atau apa yang harus ia lakukan ketika bertatapan dengannya. Ya Tuhan, ia begitu gembira sampai bisa gila.


"Tarik napas Widya, jangan gugup dan bersikaplah sewajarnya."


la menarik napas ketika ia tiba di ruang rawat Azri. Ia sudah bertanya pada resepsionis dan ia tahu Azri sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Ia menyentuh engsel pintu itu lalu mendorongnya.


"Widya!"


Widya disambut suara seruan Bibi Swari ketika melangkahkan diri ke ruangan itu. “Demi Tuhan, akhirnya kamu muncul juga!" Widya belum menyiapkan diri sama sekali ketika menerima pelukan hangat wanita itu.


"Bagaimana kabarmu? Ke mana saja kamu selama ini? Kamu terlihat semakin kurus." Bibi Swari menangkup wajahnya dengan kedua tangan, memperhatikan kondisinya selayaknya para ibu yang mencemaskan putrinya.


Widya sungguh terharu. Rasanya ia seperti menemukan sosok ibu yang sudah lama tidak ia lihat. Ia memegang tangan Bibi Swari lalu menatapnya lembut.


"Aku tidak pernah merasa sebaik ini, terima kasih sudah mencemaskanku."


Mata Bibi Swari berkaca-kaca, "Oh Nak, betapa aku lega melihatmu di sini. Azri menjadi tak terkendali sejak dia sadar dan tak menemukanmu di sisinya. Sudah dua kali ia berteriak ingin bertemu denganmu. Syukurlah kamu ada di sini, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan saat dia sadar dan tidak menemukanmu kembali."


"Apa maksud Bibi?" lirih Widya tercengang. Perhatiannya langsung teralih pada Azri yang tertidur di ranjang.


"Dokter berkata emosi tak terkendali yang dialami Azri karena trauma yang dialaminya sebelum kecelakaan itu. Kamu pergi meninggalkannya, itu adalah pukulan terberat untuk jiwa Azri. Karena itu dia menjadi histeris seperti seseorang yang kerasukan ketika kami berkata kamu tidak ada. Dokter harus memberinya obat penenang untuk menghentikan aksinya, ia terus memaksa ingin pergi dari rumah sakit karena kamu tidak mungkin datang jika dia masih berada di sini."


"Ya Tuhan." Widya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca.


Penjelasan Bibi Swari telah mematahkan hati Widya sekaligus membuatnya terharu dan bersalah. Benarkah Azri mengalami hal itu? Azri benar-benar tidak ingin kehilangannya? la segera melangkah ke samping tempat tidur Azri. Mendekap tangan itu dengan erat, tetapi tidak menyakitinya.


"El, aku di sini." Suaranya serak karena rasa sedih yang mencekat tenggorokannya. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah bersamamu."


Widya mengecup tangan Azri berkali-kali sambil berdoa pada Tuhan semoga Azri mendengar suaranya dan terbangun. la sudah merindukan suaranya, merindukan pelukannya, merindukan semuanya yang ada dalam diri Azri. Ya Tuhan, ia sungguh merindukannya hingga kedua paru-parunya terasa sesak.


Tuhan mendengar doa yang diucapkan dengan penuh kesungguhan itu. Tangan Azri dalam genggamannya bergerak. Widya terperangah, ia menyaksikan keajaiban doa itu terjadi. Azri membuka matanya. Bola mata hitam dan jernih milik suaminya mengerjap lalu memandangnya.


Waktu rasanya berhenti berputar ketika bola mata mereka bertemu.


Airmatanya meleleh melihat Azri sadar. Terima kasih Tuhan, pria yang dicintainya baik-baik saja.


Mata Azri tampak bergerak-gerak mengenalinya. Bibirnya yang pucat bergetar menggumamkan sesuatu. "Widya."


Hati Widya diserang rasa bahagia mendengar suaranya. "Ya, ini aku El. Ini aku."


Azri masih tidak percaya dengan penglihatannya. Saat tertidur ia mengira suara Widya hanyalah bagian dari ilusinya. Namun, ketika ia membuka mata dan menemukan sosok yang dirindukan itu di hadapannya, ia tak kuasa menahan rasa lega, gembira, dan syukur. Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa duduk, meskipun ia harus meringis karena sekujur tubuhnya masih terasa sakit ketika otot-ototnya digerakan, ia tetap memaksakan diri.


"Kamu benar-benar Widya."


Suaranya begitu kecil dan serak. Azri melihat Widya mengangguk. Wajah cantik yang selalu hadir dalam mimpinya itu basah oleh air mata. Ia menyentuh wajah Widya untuk menghapusnya sekaligus memastikan Widya bukanlah bagian dari mimpi.


"Widya, Ya Tuhan, aku sungguh merindukanmu," lirih Azri ketika jari-jarinya menyentuh kulit wajah Widya yang lembut dan basah. Ia tersedak oleh air matanya sendiri, ia menangis karena bahagia.


"Aku juga merindukanmu, El."


Widya menangis, mereka sama-sama menghapus air mata di wajah masing-masing. Bibir keduanya tersenyum. Mereka seperti Adam dan Hawa yang terpisah selama ratusan tahun hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir.


"Mendekatlah, aku ingin memelukmu," bisik Azri. Pria itu tak perlu mengulangi permintaannya karena Widya langsung menghambur ke pelukan Azri, menangis di pelukan suaminya.


"Aku sungguh bahagia kamu baik-baik saja, El."


Azri memejamkan mata, tangannya yang masih lemah mengusap-usap rambut Widya. Ia merasa begitu lega sampai tak bisa berkata-kata. “Aku sungguh bahagia kamu kembali padaku."


"Kami tidak tahu bagaimana perasaanku ketika mendengar kamu kecelakaan." Widya terisak.


"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku ketika mengetahui kamu meninggalkanku,” balas Azri. Ia menunduk memandang Widya. "Kumohon, jangan pergi dariku lagi."


"Tidak akan pernah."


Mereka saling berpelukan kembali untuk melepas rindu.


Bibi Swari menangis menyaksikan pemandangan penuh haru itu. Terlalu banyak penderitaan yang mereka alami sehingga rasanya begitu mengharukan dan membahagiakan ketika akhirnya mereka bisa bersama tanpa harus mencemaskan apa pun.

__ADS_1


Widya buru-buru me lepas kan pelukan nya ketika ia men dengar Azri me ringis. Ia langsung mem bantu suami nya ber baring lalu memberikan kecupan di bibirnya yang pucat dan kering.


"Kamu harus cepat sembuh, El. Aku ingin hidup bersamamu di rumah kita lagi."


"Pasti, Sayang."


Azri tersenyum. Rasa sakit yang ia alami seperti terangkat ketika Widya menciumnya.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa anak kita baik-baik saja?"


Widya mengangguk dengan mata dipenuhi binar kebahagiaan. "Dia setangguh dirimu. Meskipun sudah melewati banyak penderitaan, dia tetap tumbuh dengan sehat dalam sini." la membimbing tangan Azri ke perutnya yang masih datar.


"Aku tidak sabar melihatnya lahir." Azri tersenyum.


"Karena itu kamu harus segera pulih."


Azri tertawa kecil, ia memandang Widya dengan sungguh-sungguh.


"Bisakah kamu menciumku lagi? Aku merindukan bibirmu."


Permintaan yang diucapkan dengan tulus itu membuat pipi Widya merona dengan sendirinya. Azri mengatakannya dengan nada biasa saja, seperti permintaan 'Tolong ambilkan aku minum', tetapi bagi Widya itu adalah kalimat rayuan dan hanya Azri saja yang bisa mengucapkannya dengan cara romantis dan mendebarkan.


"Aku tidak bisa melakukannya. Ada bibi Swari di sini," cicit Widya malu.


"Aku bisa memberi kalian privasi,“ sela Bibi Swari paham. Wanita itu tersenyum pada Widya, "Aku akan menemui dokter dulu."


Sebelum pergi meninggalkan ruangan, Bibi Swari mengedipkan mata jahil pada Widya. Gadis itu tak bisa menahan rasa malunya lagi. Ia mengalihkan pandangannya pada Azri.


"Aku tidak berani memikirkan apa pendapat Bibi Swari tentang kita," ucap Widya gugup.


Azri tertawa dengan suara yang pelan, pria itu sedikit meringis karena reaksi menyenangkan itu menimbulkan nyeri di paru-parunya.


"Kamu tidak apa-apa?" seru Widya kaget melihat Azri merintih.


"Tidak, aku tidak apa-apa."


Widya melemaskan bahu. Azri bahkan masih pintar meluluhlantakkan hatinya di saat tak berdaya seperti ini.


"Azri El Pradipta si penggoda wanita akhirnya kembali lagi. Entah aku harus senang atau tidak," desah Widya pura-pura tidak suka.


"Hei, gadis cantik. Diamlah, kamu beruntung karena aku kesulitan menggerakan diriku sendiri. Jika tidak aku pasti sudah menciummu sampai kehabisan napas."


Dan Widya benar-benar kehilangan napas mendengarnya. "Jadi kamu mengajakku berdebat lagi?"


"Berdebatlah denganku asal kamu tetap di sisiku." Mata Azri bersinar-sinar, “Aku bertanya-tanya kapan aku bisa merasakan bibirmu."


"Ya Tuhan." Widya mendesah. "Kamu benar-benar tidak tertolong."


"Kemarilah, beri aku hadiah kecil."


Azri merentangkan tangannya meminta Widya masuk ke dalam pelukannya. Widya menitikkan air mata, detik itu ia benar-benar bersyukur pada Tuhan karena prianya telah kembali. Dia tidak mengambil lelaki yang paling dicintainya, ayah dari anak yang sedang dikandungnya.


Widya langsung melemparkan dirinya ke pelukan Azri. Keduanya saling berpandangan, saling mendekatkan diri lalu tenggelam dalam ciuman yang panjang dan pelan. Tidak ada gairah ataupun nafsu, hanya ada cinta. Mereka ingin menuangkan kasih sayang melalui pagutan mesra itu, menunjukkan eksistensi masing-masing dan janji bahwa mereka akan selalu bersama.


Mereka berhenti sejenak untuk menarik napas, tertawa lalu kembali saling mengecap bibir masing-masing. Kerinduan mereka selama terpisah akhirnya terluapkan hari itu. Mereka bahkan tidak memikirkan ada orang lain yang menonton sesi mesra mereka.


Mahendra menghela napas. Ia merasa lega sekaligus gembira karena akhirnya Widya Lovarza kembali. Dengan begitu kembali juga kebahagiaan Azri.


"Apa sebaiknya kita pergi saja, Tuan?" bisik Kepala Pelayan dengan wajah malu.


"Tidak aku ingin menyapa menantuku dulu," ucap Mahendra. Dengan berat hati ia membuka pintu itu lalu berdehem.


Widya tersentak lalu menjauhkan wajahnya dengan panik. Ia takut yang datang adalah dokter yang akan memeriksa Azri. Namun, ketika ia menoleh ia terkejut menemukan Mahendra berdiri di sana, memberikan senyum khas seorang ayah padanya.


"Widya, aku mencari-carimu kemana-mana. Kepergianmu sungguh membuat kami sedih. Tak kusangka ternyata kamu datang sendiri menemui kami. Kemarilah." Mahendra merentangkan tangan dan Widya langsung memeluknya.


"Maafkan aku Ayah. Aku hanya menuruti perintah seseorang," ucapnya membuat pria paruh baya itu menatapnya sedih.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud menghalangi kebahagiaanmu, kebahagiaan kalian," ujarnya lalu menatap Azri. "Aku hanya ingin melindungi kalian dari, kamu tahu.."


"Aku mengerti," sela Widya paham. "Lagi pula sekarang masalahnya sudah selesai. Presdir GN sudah menerima akibatnya."


"Ya, kamu benar." Mahendra mengangguk.


"Tunggu, aku tidak mengerti!" seru Azri yang sejak tadi diam. "Jadi mereka sudah--"


"Masalah sudah selesai. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun lagi." Widya melingkarkan tangan di lehernya. "Kita tidak akan terpisahkan mulai sekarang."


"Kamu serius?" Azri menatapnya tak percaya. Widya mengangguk lalu mencium pipinya.


"Oh Tuhan." Azri memeluknya. Ia sungguh gembira. Akhirnya, semua masalah yang membuatnya seperti ini terselesaikan dengan baik.


Widya menceritakan apa yang terjadi dengan GN Group selama Azri tidak sadarkan diri. Termasuk apa yang ia lakukan untuk mendapatkan kembali GN Group. Mengatakan semua fakta tentang Lia dan Presdir GN serta apa yang terjadi pada Yuna sesungguhnya.


Azri beberapa kali menyela cerita Widya dengan menciumnya. Mahendra hanya menggelengkan kepala pasrah. Apa yang bisa ia lakukan pada seseorang yang sedang mabuk kepayang?


"Aku sungguh bangga padamu. Kamu melakukan semuanya untuk menyelamatkan kami. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa." Azri mencium tangannya.


"Aku tidak akan bisa tanpa penyelidikanmu. Kamau-lah yang sebenarnya berjasa kamu bisa menuntut GN Group jika kamu tidak mengalami kecelakaan ini."


Widya mengusap wajahnya dengan sayang. Azri memejamkan mata, bersandar pada tangan Widya yang berada di pipinya.


"Jika kamu tidak pergi meninggalkanku. Aku terlalu mencemaskanmu sampai tidak bisa memikirkan hal lain. Kenapa saat itu kamu pergi?"


"Ini terlalu rumit untuk dijelaskan," desah Widya. "Aku akan menjelaskan padamu lain kali. Untuk saat ini aku bahagia karena keadaan telah membaik." Widya tersenyum padanya.


"Kita harus berterima kasih pada orang yang melaporkan Matthew Fernandez," kata Azri.


"Dia selangkah mendahuluiku," aku Widya.


"Sebenarnya aku yang melaporkan Presdir GN pada polisi," sela Mahendra mengejutkan Azri dan Widya.


"Benarkah?"


"Kalian pikir pria tua ini tidak bisa melakukan apa pun?" ucap Mahendra bangga karena sepertinya Azri dan Widya tidak percaya. "Aku juga telah mengumpulkan beberapa bukti yang cukup kuat untuk menuntut Matthew dan aku hanya memanfaatkan momen saat ia hancur untuk menjebloskannya ke balik jeruji besi."


Namun, raut bangga pria itu sedikit meredup. "Andaikan aku memiliki berkas perjanjian utang yang dipegang Matthew, aku bisa langsung membawa perkara ini ke pengadilan. Di sana terdapat poin-poin yang membuktikan kelicikan pria itu."


Widya berdiri tiba-tiba. Wajahnya berbinar senang, "Aku memilikinya." la dengan semangat menunjukkan berkas yang diberikan Lia.


"Ini." Mahendra terperangah gembira melihat berkas yang dibutuhkannya untuk memperkarakan masalah ini ke meja hijau. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini? Kamu mencurinya dari Presdir GN?"


"Lia yang memberikannya padaku.“


"Lia?"


Azri dan Mahendra terkejut kenapa dari sekian banyak kemungkinan, Widya mendapatkan berkas ini dari seseorang yang paling tidak mungkin?


"Ya, sepertinya dia ingin menghancurkan ayahnya sendiri setelah tahu bahwa ayahnya tidak seperti yang dia kira selama ini.“ Widya memandang Azri yang melongo takjub. "Lia hanya gadis kesepian. Saat ini aku merasa kasihan padanya."


Mahendra segera menyerahkan berkas itu pada kepala pelayannya. "Berikan ini pada Pengacara. Biar dia yang menyerahkannya pada polisi."


"Baik Tuan."


Pelayan itu tampak bersemangat. Dia pergi meninggalkan ruangan dengan wajah gembira, seperti menemukan sebongkah emas. Mahendra menghampiri menantunya lalu memeluknya dengan gembira.


"Kamu benar-benar dewi penyelamat kami. Aku merasa sangat diberkati karena telah memilihmu sebagai menantuku.“


"Dan dia istriku," sahut Azri. Ia menarik Widya ke sisinya lalu menciumnya mesra. "Oh, andai aku tidak sakit. Aku ingin mengajakmu bercinta sekarang juga. Kamu benar-benar membuatku bangga." bisiknya membuat kepala Widya mendidih karena malu.


"Ayolah Nak, kamu masih harus dirawat!" seru Mahendra. Mereka tertawa gembira kemudian.


Kebahagiaan telah menghampiri keluarga Pradipta hari itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2