
"Aku tidak peduli. Keluar!”
Lia membelalak kan mata mendengar ucapan Azri. Pria itu terlihat tidak ingin berdebat lagi. Bahkan tidak mau memandang nya. Harga diri nya benar-benar tercoreng. Dengan kaki menghentak keras lantai ia berjalan keluar. Sebelum Azri menutup pintu ia sempat mendengar kata-kata Lia.
"Akan ku pastikan kamu menyesal sudah melakukan ini pada ku!"
Teriakan itu tidak berhasil menimbul kan simpati untuk pria itu. Azri menutup pintu ruang kerja nya tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Lia terpaku di depan ruangan itu sambil di hujani tatapan heran sekretaris Azri.
Baru saja Azri mempermalukan nya. Lia menaikkan posisi tas nya lalu membalik kan diri pergi dari tempat itu. Sorot mata nya di penuhi binar penuh kebencian dan dendam. Ia menekan tombol lift dengan tangan bergetar oleh kemarahan. Ia kemudian memejamkan mata sejenak.
Sial, seperti nya kata-kata Marleen benar. la sudah jatuh cinta pada Azri dan baru saja hati nya di patahkan. Rasa nya sakit sekali melebihi rasa sakit saat jantung nya sedang dalam kondisi menurun dahulu.
"Kamu yang membuat ku melakukan ini," desis nya penuh dendam. "Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, akan ku pastikan kamu tidak bisa menemukan Widya di mana pun di dunia ini."
***
Pantai ini sangat indah.
Widya tersenyum sambil menatap sinar keemasan matahari terbit yang membias di ufuk Timur. Merapatkan mantel nya, ia berjalan hingga kedua kaki nya menginjak pasir pantai. Banyak kenangan nya dengan Azri tertinggal di sini.
Azri masih menyebalkan ketika mengikuti trainning dulu. Ada nya festival yang di gelar di daerah ini kala itu membuat Widya tidak sempat mengunjungi pantai nya. Namun, sekarang ketika melihat nya dalam kondisi normal rasa nya hampa.
Tentu saja, Azri tidak ada bersama nya.
Widya merenung. Bagaimana kabar pria itu sekarang? Semoga saja apa yang di lakukan nya benar. Azri tidak akan mempermasalahkan kepergian nya.
"Aku mencari mu ke mana-mana. Kamu di sini rupa nya."
Adam Lewis sudah berdiri di samping nya saat Widya menoleh. Pria itu tersenyum hangat lalu mengulurkan cangkir berisi cokelat panas yang masih mengepul.
__ADS_1
"Kamu bisa kedinginan. Ini baik untuk mu dan bayi mu," ucap nya masih dengan senyum ramah yang pernah membuat nya jatuh cinta dulu.
Widya menerima cangkir cokelat itu dengan senyum cerah yang tidak sampai pada sorot mata nya.
Adam tahu sesuatu telah terjadi sejak Widya muncul di villa nya malam tadi. Ia sedang merevisi desain proyek yang ia kerjakan di daerah itu saat seseorang menekan bel rumah nya. Ia kira salah seorang dari bagian proyek yang datang. Ternyata yang bertamu lebih mengejutkan.
Dari raut sedih yang di lihat nya malam tadi dan koper besar yang di bawa nya, pria itu tahu Widya sedang dalam misi pelarian. Maka tanpa bertanya macam-macam ia membiarkan Widya menginap.
Malam tadi, Widya kebingungan ketika keluar dari apartemen nya. Ia tidak memiliki tujuan. Adam lah orang pertama yang ia pikirkan dan Adam juga orang terakhir yang akan di pikirkan Azri jika hendak mencari nya.
"Terima kasih. Anak ku adalah anak yang kuat."
Adam mengetahui tentang kehamilan nya setelah pria itu melihat nya muntah-muntah pagi tadi. Ia lupa membawa biskuit asin yang sering ia makan di pagi hari untuk mengurangi morning sickness-nya sehingga Adam langsung bisa menyimpulkan kondisi nya. Kenyataan itu membuat Widya merenung. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin Azri tidak menyadari perubahan-perubahan dalam diri nya? "Kamu tidak apa-apa? ku perhatikan kamu seperti orang yang siap menangis kapan pun."
Widya menghargai nada hati-hati dalam suara Adam. Dia adalah pria paling sopan yang pernah ia kenal. Namun, ia menolak menjelaskan hal yang membuat muram hati nya.
"Ternyata benar," lirih nya. "Jatuh cinta berarti harus siap untuk patah hati."
Adam mengerjap. "Kamu bertengkar dengan suami mu? Apa Azri melakukan sesuatu yang menyakiti mu?"
Widya menggeleng langsung, tebakan yang salah. "Sudah waktu nya aku pergi. Azri seharus nya mencintai wanita lain. Bukan diri ku. Meskipun mungkin aku akan merasa kehilangan dia pada awal nya, tetapi aku yakin aku bisa melupakan Azri. Dia selayak nya mendapat kan wanita yang jauh lebih baik dari ku."
Sejujur nya Adam tidak mengerti masalah apa sebenar nya yang membuat Widya memutuskan meninggalkan pria itu, tetapi ia mencoba memahami.
"Jadi itu yang membuat mu patah hati, karena kamu merasa tidak layak bersama nya? Kamu sudah terlanjur mencintai nya begitu dalam sehingga sulit bagi mu meninggalkan nya."
Kata-kata yang membuat Widya membisu. Lebih tepat nya kalimat yang menelak hati nya dengan tepat. Ia memang mencintai Azri sangat jauh sampai ia takut tidak bisa hidup tanpa merasakan keberadaan pria itu dalam hidup nya. Namun, kenyataan bahwa mereka di takdirkan untuk berpisah membuat nya sedih.
Azri bukan untuk nya.
__ADS_1
Jika bukan karena keputusan Mahendra, Widya dan Azri tidak akan pernah di pertemukan dan ia tidak akan jatuh cinta. Lalu apakah sekarang ia bisa menghapus Azri dari hidup nya sementara pria itu meninggalkan bekas yang begitu jelas.
Bayi yang tumbuh dalam rahim nya. Selama nya anak ini akan menjadi pengingat bahwa ia dan Azri pernah bersama.
Adam bisa merasakan kepedihan dari ekspresi Widya. Jika ia sanggup, ia akan menghapus kesedihan itu. Sayang nya yang bisa melakukan nya hanya lah Azri El Pradipta.
"Aku mengerti masalah mu," ucap nya tenang. "Tetapi apakah adil memutuskan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun pada suami mu? Bagaimana bisa kamu mengatakan tidak layak berada di samping nya? Apa Azri pernah mengatakan itu dengan langsung pada mu? Bagaimana jika ternyata dia memiliki perasaan yang sama dengan mu dan saat ini dia sedang kelimpungan mencari mu?“
"Azri tidak akan melakukan nya," gumam Widya pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk mata nya.
Widya harap Azri tidak melakukan nya. Namun, jika ia ingat bagaimana panik nya Azri ketika ia menghilang ke rumah kakek nya dulu membuat nya sedih. Azri tidak boleh mencari nya. Azri tidak boleh tersiksa karena kepergian nya karena jika itu terjadi maka ia semakin tidak sanggup pergi meninggalkan nya.
“Apa kamu yakin?" Adam terus memojok kan Widya. "Meski pun aku tidak mengenal nya dengan baik, tetapi sekali lihat pun aku tahu dia sangat mencintai mu. Apa alasan dangkal seperti kamu tidak pantas bersama nya adalah satu-satu nya alasan yang membuat mu pergi dari nya? Atau ada sebab lain?"
"Sebab lain." Widya berkata kosong. Ia langsung teringat Lia. “Tidak ada sebab lain." Ia tidak akan membiarkan Adam tahu tentang Lia.
"Aku tahu paham jika kau tidak ingin menceritakan nya pada ku,“ gumam Azri. "Lalu, apakah Azri mengetahui tentang bayi mu?"
"Tidak, dia tidak mengetahui nya."
"Kamu belum mengatakan nya pada nya?" Widya menggeleng.
"Astaga," seru Adam tanpa sadar. “Aku tidak bisa membayangkan jika istri ku pergi meninggalkan ku dalam keadaan hamil. Aku pasti akan sangat frustasi.“
“Karena itu aku tidak mengatakan nya. Saat anak ini lahir, aku baru akan memberitahukan nya pada Azri."
"Hal itu tidak terjadi," sahut seseorang dari arah belakang Widya.
Bersambung ....
__ADS_1