Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 56


__ADS_3

Azri sebenar nya tidak mau kembali ke rumah kakek nya. Namun, jika ia menjadi Widya, tempat inilah satu-satu nya lokasi pelarian yang sempurna karena ia tidak mungkin mau kembali ke tempat ini. Selain itu, Widya sangat menyukai kakek. Dia yang sudah tidak memiliki keluarga pasti sangat gembira bisa memiliki orang tua lagi.


Setelah menyiapkan hati, Azri menemui kakek nya. Ia mendesah saat sadar sudah datang di saat yang salah. Kakek nya sedang mengasah katana-pedang samurai--kebanggaanya. Azri harus menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan katana itu untuk berjaga-jaga ketika ia mengutarakan maksud ke datangan nya.


"Selamat malam Kakek. Bagaimana kabar mu? Omong-omong, apa Widya kemari? Dia ...."


Kalimat Azri terhenti karena kakek nya mendelik tajam, tepat menghujam mata nya. Gawat, seumur hidup nya ia tahu jika sang kakek sudah seperti itu, arti nya sang kakek sedang di kuasai amarah.


"ANAK NAKAL!"


Azri terjungkal jatuh ke belakang ketika teriakan itu menyembur diri nya. Sang kakek menghunus pedang ke arah nya.


"Apa yang kamu lakukan pada istri mu, hah!"


"Apa maksud Kakek?" seru Azri panik seraya menghindari katana kakek nya yang mengilat dan ia jamin mampu memotong beberapa bilah bambu sekaligus dalam sekali tebas.


"Istri mu menangis. Aku yakin kamu-lah penyebab nya. Apa yang kali ini kamu lakukan?!"


Azri berhenti menghindari katana kakek nya. Kali ini mata nya justru membelalak kaget.

__ADS_1


"Apa? Widya menangis? Kenapa?"


Kakek Pradipta berhenti menghunuskan pedang melihat wajah tercengang cucu nya. Ia sangat berpengalaman untuk tahu bahwa Azri benar-benar terkejut dan tidak sedang bersandiwara. Ia menurunkan pedang nya lalu menatap Azri lekat.


"Jadi kamu tidak tahu kenapa istri mu menangis?"


Azri menggeleng tegas, kali ini ia menuntut penjelasan dari kakek. "Benar kah dia menangis? Tapi kenapa?” Ia tidak merasa melakukan kesalahan untuk Widya hari ini. Atau kemarin, atau kemarin nya lagi kecuali ketika masa-masa awal pernikahan mereka.


Kini Azri duduk berhadapan dengan kakek nya yang sudah menceritakan kronologis ketika Widya datang berkunjung tiba-tiba ke rumah nya sore tadi. Ia kira Azri sudah menyakitinya karena ketika dita nya perihal itu, Widya mendadak menetes kan air mata.


"Aku sungguh tidak tahu kenapa dia menangis," ujar Azri yakin dengan raut memelas. "Aku bahkan tidak ingat kesalahan apa yang ku buat hingga membuat nya bersedih. Seingat ku kami baik-baik saja sejak ... semalam."


"Ini aneh sekali," gumam kakek Pradipta, "Dari ekspresi nya aku bisa melihat bahwa dia sedang memikul beban berat. Ku kira kamu berulah lagi.“


Azri mendadak salah tingkah karena kakek nya kembali melayangkan pandangan sinis ketika mengucapkan kalimat terakhir. “Aku bukan pria tidak bermoral yang tega menyakiti wanita yang di cintai nya. Aku bukanlah Pria Tua itu."


"Kamu masih menyebut ayah mu seperti itu?“ tegur kakek tidak suka.


Azri memalingkan pandangan. Terserah orang akan berkomentar apa. Selama rasa benci itu masih bersarang di hati nya, ia tidak sudi memanggil Pria Tua itu dengan sebutan ayah.

__ADS_1


"Berbicara soal Ayah mu." Kakek Pradipta tiba-tiba berkata dengan nada berat, membuat Azri kembali menolehkan wajah kepada nya. Mendadak saja wajah kakek nya berubah serius dan hal itu menular pada Azri.


"Akhir-akhir ini sikap nya sedikit aneh. Mungkin ini ada hubungan nya dengan istri mu."


"Aku tidak yakin," ujar Azri dengan pikiran menerawang.


Jika diingat-ingat bukankah ide pernikahan ini berasal dari Ayah nya? Widya Lovarza adalah wanita pilihan Ayah nya. Ia tidak pernah bertanya secara langsung pada pria tua itu bagaimana dia mengenal Widya. Ia juga tidak pernah memikirkan apa alasan Widya setuju menikah dengan nya. Tidak menutup kemungkinan hari ini Ayah nya mengatakan sesuatu yang membuat Widya menangis. Astaga, ia tidak tahu apa pun soal itu.


Mungkin saja kakek nya benar. Mungkin saja telah terjadi sesuatu di antara mereka yang tidak Azri tahu. Segala nya bisa saja terjadi.


"Kakek, sekarang di mana istri ku?" tanya Azri cepat.


Satu-satu nya tempat termudah untuk menanyakan kesimpang siuran ini adalah Widya. Gadis itu pasti memiliki jawaban yang di inginkan nya.


"Dia sudah pergi beberapa saat sebelum kamu datang."


"Apa? Kenapa Kakek baru mengatakan nya sekarang?!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2