Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 41


__ADS_3

"Aku bukan wanita bodoh yang bisa dirayu untuk kamu tiduri."


Azri melebarkan matanya takjub. Adrenalinnya seperti terpancing untuk membuktikan pada Widya bahwa tak peduli dia termasuk wanita bodoh itu atau bukan, pada akhirnya dia akan tergoda rayuannya juga.


Sepertinya gadis ini mengibarkan bendera perang. Dia jelas menantang Azri apakah ia bisa merayunya dan mengajaknya ke tempat tidur. Baiklah, sepertinya permainan ini akan menarik.


"Tapi aku memang bisa menidurimu kapan saja, Nyonya Pradipta. Kamu istriku dan aku suamimu."


Widya kelabakan, berpikir untuk mencari kata-kata balasan.


"Lalu, apa dengan begitu kamu berhak menarikku ke atas ranjang? Aku tidak akan mau bercinta dengan pria yang tidak mencintaiku."


"Anggap saja aku pria yang mencintaimu."


Widya mengerutkan kening. "Apa maksudmu sebenarnya?" Ia tidak mengerti.


Kenapa Azri selalu mengatakan kalimat yang ambigu seperti ini? la bukannya tidak mau melayani Azri. Jika saja Azri berkata bahwa dia mencintainya maka ia dengan senang hati melayani suaminya sendiri karena diam-diam ia sudah mencintai pria ini.


Namun, apa jadinya jika itu hanya main-main saja? Bagaimana jika Azri hanya ingin menikmatinya saja seperti dia menikmati tubuh wanita lain? Well kalau begitu apa bedanya Widya dengan kekasihnya yang lain?


Azri menyeringai lalu dengan menggunakan tangannya, ia menarik pinggang Widya masuk ke dalam pelukannya. Gadis itu terkesiap.


"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin membuktikan apakah aku bisa merayumu atau tidak."


Sebelum Widya mencerna maksud kalimatnya, Azri kembali ******* bibirnya. Ia ingin mendorong Azri, tetapi tidak bisa karena mendadak tenaganya seperti tersedot habis oleh setiap pagutan pria itu. Ia pun memilih diam berharap Azri bosan dan melepaskannya.


Namun, keputusan Widya untuk tenang dianggap sebagai bentuk kerelaannya bagi Azri. Widya tampaknya sudah tergoda dan mulai pasrah menerima apa pun yang dia lakukan. Tangan Azri bergerak menjelajahi permukaan kulit Widya.


Sentuhan itu membuat Widya menggeletar seperti tersengat listrik, sensasi yang baru pertama di rasakannya.


Azri tersenyum melihat Widya kepayahan, jelas dia sudah berhasil menguasai Widya sepenuhnya.


"Hentikan, kumohon," mohon Widya lirih.


"Kenapa?" Azri enggan menurut. Ia tetap sibuk membuat jejak di leher Widya dan sekitar bahunya.


"Kau tidak menyukaiku."


Widya kewalahan antara menikmati godaan manis yang dilancarkan atau atau berusaha menolaknya.


"Tidak bisa, ini sudah terlanjur. Kau nikmati saja."


Pikiran Widya buyar, benar-benar berantakan. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah hari ini Azri akan merenggut miliknya yang berharga tanpa dilandasi cinta ataupun izin darinya? Sebenarnya Azri berhak, tetapi tetap saja Widya tidak mau melakukannya jika Azri tidak memintanya dengan sangat tulus.


Azri semakin bersemangat. Dengan sigap ia mengangkat tubuh ramping Widya lalu membawanya ke ranjang. Dia tidak menolak. Benar bukan, tidak ada wanita yang sanggup menolaknya jika ia sudah mengeluarkan karismanya yang menakutkan.


"Sudah kukatakan, tidak akan ada gadis yang sanggup menolakku.“ Azri tertegun sejenak saat matanya menatap wajah Widya.


Ketika mata mereka bertemu, Azri merasa dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Widya dengan bola mata yang menatapnya sayu, pipinya yang merona kemerahan, bibirnya yang basah, dan rambutnya yang jatuh lembut di wajahnya. Semua itu entah kenapa tampak sangat indah di mata Azri.


Aneh sekali, ia mendapati jantungnya berdebar kencang dan aliran darahnya semakin cepat.


Biasanya Azri tidak pernah memperhatikan hal ini jika sedang bercinta dengan gadis mana pun. Ia tidak peduli pada sorot mata, pipi yang merona, ataupun rambut yang sedikit berantakan. Lalu kenapa saat melihat Widya, semua itu seperti peluit yang membangkitkan hasrat dalam dirinya?


Ini bukan desiran gairah, tetapi ini desiran lain yang aneh dan menyenangkan. Apa artinya semua ini?


Widya pun terpaku pada mata hitam milik Azri yang membuatnya tenggelam. Ia bahkan tidak sanggup lagi mengelak saat Azri membungkukkan badannya untuk mendaratkan satu kecupan di bahunya. Ia membiarkan pria itu berbuat lebih jauh lagi. Ia ingin tahu sampai sejauh mana Azri akan membuatnya terperangkap.


Seringaian licik Azri kembali menguar saat Widya memeluknya dengan erat sebagai reaksi spontannya.


"Bagaimana rasanya?"


Widya menutup wajahnya dengan tangan. Ingin sekali menampar pipi Azri, tetapi tidak mampu melakukannya. Ia ingin menangis karena malu pada diri sendiri. Rasanya seperti menjadi orang munafik yang berkata benci di mulut, tetapi tak kuasa menikmatinya saat ia disuguhkan oleh godaan yang ditolaknya mati-matian.


"Kau jahat!" Lirihan Widya merupakan perpaduan antara sedih dan kesal.


Jawaban Widya justru memancing tawa Azri . Pria itu tergelak puas.


"Itulah alasan kenapa para wanita mudah sekali jatuh dalam pesonaku." Ia membungkukkan badannya untuk berbisik, “Karena aku sangat jahat."


Widya menyetujuinya dengan marah. Pria ini memang sangat jahat! Dengan ketampanan, gelimang harta, rayuan maut, dan senyum memikatnya ia sudah banyak mematahkan hati wanita dan membunuh cinta mereka. Matanya memandang Azri sengit.


"Jika ada penjara yang menahan penjahat wanita sepertimu, aku yakin kau akan menjadi tahanan kelas tinggi di sana."


Gadis ini kenapa selalu tahu cara mendebatku? Batin Azri, sedikit tersinggung, tetapi gembira di sisi lain. Tak pernah ada gadis yang bisa membalas kata-katanya sampai sejauh ini.


"Baiklah, jika kau ingin menguji sejahat apa aku ini." Azri menatap Widya dengan sorot yang bisa memikat wanita manapun. "Aku akan menunjukkannya padamu."


"Tidak!"

__ADS_1


Widya berusaha menahan tangan Azri yang menjelajah ke area pribadinya, tetapi pria itu dengan cekatan menahan kedua tangannya. Dia pun lebih leluasa melakukan apa pun yang dikehendakinya terhadap tubuh Widya.


Udara di kamar itu terasa panas meskipun jendela yang menutupi seluruh dinding di samping mereka terbuka lebar dan angin sepoi-sepoi membelai gordin tipis yang tak dibuka.


Tiba-tiba suara bel terdengar.


"Siapa lagi yang mengganggu!" geram Azri jengkel. Sudah terhitung dua kali ia diganggu.


Widya mendesah sangat lega karena akhirnya siksaan itu berhenti. Azri mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia kenal suara yang memanggilnya diiringi bunyi bel. Itu adalah suara milik Marleen.


Azri menatap Widya seolah meminta izin. Tentu saja dengan senang hati Widya membiarkan Azri pergi.


"Kau jangan ke mana-mana, aku tidak akan lama." Azri memberikan ciuman singkat lalu beranjak turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.


Widya memanfaatkan kesempatan itu untuk bergegas turun dari tempat tidur lalu merapikan penampilannya. Ia mengambil asal sweter dan celana jeans dari dalam koper lalu buru-buru mengenakannya sebelum Azri kembali.


Azri tidak tahu Widya diam-diam keluar dari kamar lewat beranda kamar yang berhadapan langsung ke arah taman resort yang menghadap ke pantai karena kebetulan kamar mereka berada di lantai dasar. Ia terlalu fokus pada Marleen yang berdiri di depan pintu, masih mengenakan baju renangnya.


"Ada apa?" tanya Azri buru-buru.


Marleen mengintip ke dalam sebentar lalu kembali menatap Azri. "Aku hanya penasaran karena kau tiba-tiba menghilang dari pantai dan tidak kembali. Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tidak bergabung bersama yang lain?" tanyanya dengan wajah polos. Ia berusaha mengabaikan penampilan Azri yang berantakan. Siapa pun pasti bisa menebak apa yang sudah dilakukannya di dalam.


"Ada yang sedang kudiskusikan dengan Widya." Azri asal menjawab.


"Apa dia ada di dalam?"


"Ya, kenapa?"


"Aku ingin bicara dengannya."


Tanpa sempat dicegah, Marleen menerobos masuk. Azri terkesiap, ia mencoba menahan Marleen masuk lebih dalam ke arah ruang yang tidurnya.


"Marleen, tunggu."


Langkah Azri terhenti karena Marleen menghentikan gerakan kakinya. Pandangan gadis itu tertuju ke arah ranjang yang ... kosong? Azri mengerjapkan mata.


Tunggu, ke mana perginya Widya? la menoleh ke segala arah mencari Widya, tetapi terhenti ketika ucapan Marleen terdengar.


"Ke mana istrimu?"


"Aku tidak tahu," ucap Azri ragu, sama herannya. Ketika meyadari pintu kaca menuju beranda terbuka lebar, ia pun tahu jawabannya.


Marleen tertegun memperhatikan kondisi ranjang yang berantakan, seperti baru saja terjadi perang di sana. Hatinya sakit dan dia tidak mau membayangkan Azri dan gadis itu bermesraan di atasnya.


"Istriku tidak ada di sini, jadi sebaiknya kita juga pergi."


Azri harus mencari istrinya untuk menyelesaikan apa yang terhenti tadi. Ia berniat mendorong pundak Marleen pergi ketika suara lirih gadis itu terdengar.


"Aku tiba-tiba saja rindu saat kau masih menjadi burung yang bebas."


Marleen membalikkan badannya ke arah Azri. Wajah Marleen yang cantik dihiasi rona sendu membuat Azri terdiam.


"Hidup tanpa dikekang oleh peraturan, dan kita bebas melakukan apa pun tanpa ada yang menasehati."


Azri agak tersentak saat Marleen mendekat lalu menggelayutkan kedua tangan di lehernya.


"Itu sudah lama," ucap Azri mencoba mengabaikan.


"Oh ya? kita bisa mengulangnya jika kau mau.”


Azri tidak menyangka sama sekali beberapa saat setelah Marleen berkata, bibirnya terkunci oleh ciuman gadis itu. Terasa menggebu dan sarat akan emosi. Namun, entah kenapa, hatinya tidak lagi diliputi sensasi yang ia rasakan saat berciuman dengan Widya.


Itu aneh sekali. Ia tahu dirinya masih diselimuti gairah yang tak terluapkan setelah menyentuh istrinya, tetapi kenapa perasaan itu masih membekas padahal ia tahu ia melakukannya dengan orang lain?


Marleen menyadari Azri tidak memberikan reaksi seperti yang biasa dilakukannya. Pria itu hanya berdiri mematung, tangannya bahkan tidak bergerak memeluknya.


"Apa kau mencintai istrimu? Kau bilang kau tidak akan pernah bahagia menjalani pernikahan tanpa cinta? Sekarang kau justru terlihat. gembira." Pertanyaan Marleen meluncur begitu saja setelah bibir mereka terlepas.


"Aku belum bisa menyimpulkan apa pun," lirih Azri dingin.


Sebenarnya ia tidak suka kenyataan bahwa dirinya mendamba begitu kuat terhadap satu wanita karena wanita-lah yang seharusnya mendambakannya.


Jatuh cinta hanya perasaan yang dimiliki orang-orang lemah. Azri tidak mau membiarkan dirinya terlena pada satu wanita yang mungkin akan menyakitinya suatu hari nanti. Daripada sakit hati, ia lebih memilih tidak jatuh cinta sama sekali. Itulah yang membuatnya merasa bebas bisa merayu wanita manapun.


Namun, semua itu hanya omong kosong yang diucapkannya sebelum ia bertemu dengan Widya Lovarza. Pada kenyataannya, wanita itu berhasil mengubah hatinya perlahan-lahan.


"Marleen, sebaiknya kau pergi," ucap Azri seraya memalingkan pandangan.


"Kenapa?" Marleen memandangnya nanar, tak peraya akan mendapat perlakuan sedingin ini dari Azri.

__ADS_1


"Aku harus mencari istriku.“ Azri pergi ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya.


Marleen menatap Azri yang melengos pergi dengan ekspresi tidak terima. Azri tidak boleh mengabaikannya. Tidak pernah ada pria yang mengabaikannya. Ia melirik pada koper Azri yang terbuka, matanya mengerjap melihat sebuah gaun wanita yang ada di dalamnya.


"Gaun ini," lirihnya takjub. Pasti untukku. desisnya yakin.


Azri sangat tahu apa yang menjadi favoritnya. Gaun ini jelas untuknya. Tidak salah lagi. Mungkin Azri sedang mencari kesempatan untuk memberikan ini padanya, tanpa sepengetahuan Widya. Ia harus berhasil membuat Azri kembali padanya. Ia melihat ada sebotol air di atas meja lalu mengambilnya. Ia membuka botol itu lalu memasukkan sesuatu ke sana. Senyumnya terbit.


"Aku akan membuatmu kembali padaku, Azri El Pradipta."


Ketika Azri keluar dengan pakaian lengkap, ia melihat Marleen masih ada di kamarnya.


"Kau boleh pergi." Ia melengos mengambil botol air mineralnya lalu meneguknya.


Marleen masih berdiri di tempatnya, hanya menatapi Azri sambil menghitung dalam hati kapan obat yang diam-diam dibubuhkannya ke dalam botol itu akan bereaksi.


"Tidak mau. Jika aku harus pergi, kita harus pergi bersama."


Azri mendengus lalu membalikkan badannya menghadap Marleen.


"Sekarang kau benar-benar harus pergi—" ucapan Azri terpotong saat sadar Marleen berdiri di depannya memakai gaun yang sangat ia kenali.


“Kau, di mana kau menemukan baju itu!” tunjuknya kaget.


Itu adalah gaun yang akan ia berikan pada Widya.


"Aku menemukannya di kopermu. Lihat, ukurannya pas sekali denganku, kau sengaja membelikan ini untukku?" Marleen berpose dengan penuh percaya diri di depan kaca. Ia merasa sangat cantik dengan gaun itu.


Azri menderap cepat dengan tatapan tajam yang memudarkan senyum Azri.


"Buka baju itu! Itu bukan untukmu. Itu untuk istriku!"


Bola mata Marleen membulat kaget. "Apa kau bilang? Gaun ini untuk ...."


"Ini untuk istriku!" tegas Azri agar Marleen percaya.


"Tidak mungkin," tukas Marleen. "Bagaimanapun gaun ini sangat pas dengan ukuran tubuhku, Zri. Ini pasti untukku."


Azri tidak menjawab, ia hanya terus merutuki diri sendiri setelah sadar ia membeli gaun untuk Widya dengan ukuran Marleen. Satu-satunya ukuran pakaian yang diingatnya adalah ukuran pakaian Marleen, karena itu mungkin ia berpikir Widya akan pantas mengenakan gaun pilihannya itu.


"Aku tidak peduli, cepat lepaskan baju itu!“ perintah Azri dengan emosi yang mendadak melonjak tinggi.


"Aku tidak akan membukanya kecuali kau membuka baju ini!"


"Oh, jadi kau menentangku?“ balas Azri kesal. Tanpa ragu ia melingkarkan tangannya ke belakang tubuh Marleen untuk membuka resletingnya.


Syukurlah Marleen masih memakai swinsuit model onepiecenya di balik baju itu. Diam-diam Marleen tersenyum penuh kemenangan. Sebagai wanita seharusnya ia memberontak, tetapi ia justru membiarkan Azri melepaskan gaun dari tubuhnya.


Azri menyadari ada yang aneh ketika matanya berhadapan langsung dengan tubuh Marleen yang tercetak indah di balik swimsuit-nya. Seharusnya ia sudah terbiasa melihat pemandangan itu, bukan? Namun, mengapa kali ini ia merasa lebih ... lebih ....


Keringat dingin membanjir di sepanjang garis keningnya. Ia sadar ada yang salah dengan


tubuhnya sendiri.


"Ada apa?"


Senyum yang diperlihatkan Marleen sekarang justru membuat Azri mengeryitkan kening curiga.


"Marleen, kau...."


"Aku apa?"


Azri menggeleng karena ia sedang berperang dengan akal sehat dan kehendak tubuhnya. Tubuhnya terasa panas. kenapa ia rasanya ingin sekali menjamah tubuh Marleen yang ada tepat di depan matanya?


Apa mungkin Marleen memasukkan obat aprodisiak ke dalam minumannya? Tentu saja itu jawabannya, bodoh! Gejala-gejala yang dialaminya cukup menjadi bukti. Sial! la sudah ceroboh. Ia tidak pernah mengira Marleen akan melakukan trik kotor seperti ini padanya.


Memakai obat untuk merayunya bukanlah cara yang disenangi Azri. Alih-alih senang, ia justru benci. Ia tidak mau menyentuh siapa pun dalam kondisi terpengaruh obat.


"Jangan mendekat.“ Azri melarang gadis itu mendekat karena itu akan sangat berbahaya. Namun Marleen justru sengaja mendekatinya.


"Kau terlihat sangat tersiksa." Marleen berkata seduktif. "Tak perlu berbohong padaku Azri, kau tidak pernah tidur dengan istrimu, bukan?"


Azri terkesiap. Bagaimana dia tahu? la semakin memasang pose waspada. Ia mencoba mengabaikan tubuh indah Marleen meskipun hasratnya ingin sekali mengeksplorasi tubuh itu. Marleen tiba tepat di depannya, tersenyum penuh arti sambil melingkarkan tangannya di leher Azri.


"Marleen, menjauh dariku!" Azri mencoba mendorong tubuh Marleen dari dekatnya, tetapi usaha itu salah karena begitu kulit mereka bersentuhan, sengatan listrik yang tidak biasa mengaliri tubuhnya. Marleen menyeringai menang.


"You're mine, Azri." Ia pun menarik Azri jatuh ke atas ranjang yang kebetulan ada di samping mereka.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2