
Mimpi indah Azri terpotong oleh suara dering ponsel. Dengan mata yang masih memejam ia meraba-raba nakas mencari ponsel nya. Begitu mendapatkan nya, ia menjawab dengan nada mengantuk.
"Halo ...."
"Azri, sudah jam berapa ini? Kenapa suara mu seperti bangun tidur begitu?"
Memang aku baru bangun tidur! Azri meregangkan tubuh nya sejenak lalu menduduk kan diri.
"Ada apa, Jhors?" tanya nya mengenali suara orang berbicara di seberang sana.
"Bobby mengajak sarapan bersama sebelum kita kembali. Kami menunggu mu di kafetaria setengah jam lagi."
Azri hanya menggumam. Sebenarnya ia masih mengantuk, tetapi berkat panggilan Jhors rasa kantuk nya hilang. Ia lupa kalau siang ini ia dan yang lain nya akan kembali. la belum mengemas barang-barang nya.
Ketika akan turun dari ranjang, Azri baru sadar Widya sudah tidak ada di sana dan koper mereka sudah tertata rapi di sudut ruangan. Ia menghela napas takjub dengan sikap cekatan Widya. Namun, ke mana gadis itu? Mungkin sudah pergi lebih dulu ke ke ruang makan bersama sahabat nya. Sekarang ia harus mandi dan bersiap-siap.
Azri berhenti melangkah tepat di depan pintu kamar mandi. Ia mendengar suara gemericik air dari dalam. Pintu kamar mandi tidak ditutup dengan benar sehingga tersisa sedikit celah yang memperlihat kan keadaan di dalam.
la tidak bermaksud sama sekali untuk mengintip. Namun, celah itu seolah memanggil-manggil nya agar mendekat. Tertarik oleh rasa penasaran, ia pun mendekat. Ia berjanji hanya akan melihat sekilas, setelah itu ia akan pergi. Sama seperti kebanya kan rencana nya untuk Widya yang gagal, kali ini pun ia gagal mengalihkan perhatian dari pemandangan yang ia saksikan.
Kedua mata Azri terpaku pada sosok Widya yang sedang mandi di bawah shower. Seluruh pergerakan Widya sudah mengunci indera penglihatan nya. Napas nya tanpa sadar mulai memburu dan Azri tak bisa mencegah bagian diri nya yang lain bangkit. Ia harus pergi dari sini sebelum ia menerobos masuk dan melakukan sesuatu yang tak di inginkan.
Pagi itu pun berhasil di lewati tanpa insiden apa pun. Hanya satu masalah yang di alami Azri. Sepanjang hari sampai mereka kini sudah berada di pesawat, ia tidak bisa menghapus bayangan yang dilihat nya pagi tadi. Ia terus menghipnotis diri bahwa ia sudah terbiasa melihat wanita full **ked, tetapi entah kenapa ia tidak bisa mengenyahkan bayangan itu.
"Ah sial!"
Azri mengumpat kembali. Hari ini entah berapa kali ia merutuk karena tak bisa berhenti bertingkah seperti remaja puber yang baru pertama kali menonton film dewasa.
Widya sekarang sedang tidur di samping nya. Enak sekali dia bisa tidur dengan nyaman sementara Azri menderita tekanan mental.
Perjalanan memakan waktu cukup lama. Tampak nya Azri juga harus tidur. Siapa tahu ia bisa bermimpi tentang hal lain.
Kenyataan nya, keputusan Azri untuk tidur merupakan kesalahan besar. Dengan mata tertutup, ia justru bisa menyaksikan setiap adegan dengan jelas seolah Widya melakukan itu di depan mata nya.
Azri membelalak sadar. Ia mengurut pelipis nya dengan frustrasi. Ada apa dengan diri nya? la sungguh akan di hantui terus seperti ini hingga ia tiba? Seperti nya ia sudah membuat diri nya sendiri kelelahan. Ia pun meminta obat tidur pada pramugari. la berharap obat itu bisa membantu nya tidur lelap.
__ADS_1
Hal yang aneh terjadi di dalam mimpi Azri. Dalam mimpi itu ia berdiri di sebuah kamar yang dihias begitu indah, mirip kamar pengantin. Dia mematut diri nya di cermin dan baru sadar diri nya mengenakan tuxedo seperti yang dikenakan nya di hari pernikahan diri nya sendiri.
"Hari yang melelah kan, bukan?"
Pandangannya tertoleh ke arah ranjang besar dengan bantal-bantal empuk tertata rapi di kepala ranjang. Widya Lovarza duduk di sana dengan gaun pengantin yang sangat indah dan senyum manis di bibir nya. Azri tertular senyum itu. Ia tidak pernah merasa segembira ini.
"Ya, sangat melelahkan," gumam nya sambil berjalan mendekat.
Widya bangkit sambil melepaskan gulungan rambut nya, membuat rambut panjang sepunggung nya jatuh sempurna. Widya terlihat sangat cantik dan meng**irahkan. Gadis itu berjalan mendekat dengan mata menatap nya lekat.
"Kamu tahu, aku sangat menantikan malam ini," Tangan Widya melingkar di leher nya.
"Kenapa?"
"Because it's our first night, we're having s** now."
"Are we?"
Mereka pun ber***man. Azri dengan semangat menanggalkan pakaian Widya lalu membawa nya ke ranjang. "Kamu cantik sekali, aku menyesal karena tidak menyadari nya."
Azri tersenyum mendapati Widya balas tersenyum pada nya. Ia kembali mencium Widya dan mereka pun melakukan apa yang selama ini di inginkan nya. Azri seolah tenggelam dalam kolam wine terbaik. Rasa nya begitu luar biasa dan memabuk kan.
"Kamu ke mana saja? Aku menanti malam pertama kita!" teriak nya.
Azri amat terkejut kapan ia menikah dengan Marleen? Ia melirik Widya dan panik mendapati istri nya itu menatap nya dengan sorot terluka.
"Widya, aku bisa menjelaskan soal ini. Aku tidak bersalah. Aku tidak pernah menikahi Marleen. Berpikir menikahi nya pun tidak. Aku bahkan tidak mencintai nya!"
Widya menggeleng, air mata nya merebak. "Kamu selingkuh. Ternyata selama ini kamu memang mencintai gadis itu, kamu tidak pernah benar-benar ingin menikah dengan ku. Kalian sering melakukan nya di belakang ku, bukan? Silakan saja kamu menikah dengan gadis itu dan bercerailah dengan ku!" Setelah mengatakan nya Widya pergi dari ruangan itu.
"Tidak! Jangan pergi!" Azri berteriak seperti orang gila. Ia didera rasa panik dan takut kehilangan yang begitu besar. Tangan nya terulur hendak menggapai Widya yang bergerak menjauh.
"TIDAAAAAAAAKKKKKKK!"
Azri terperanjat bangun dari mimpi nya dengan tubuh berkeringat. Ia menoleh ke kiri-kanan dan tersadar ia masih berada di pesawat. Ia mendesah lega, dan sangat bersyukur karena semua itu hanyalah mimpi. la mengusap wajah nya dengan putus asa. Seperti nya aku benar-benar sudah tidak waras. Apa-apaan mimpi tadi?
__ADS_1
"Kenapa kamu berkeringat? Mimpi buruk?"
Kepala nya tertoleh ke arah samping. Tanpa sadar diri nya tersenyum melihat Widya duduk di samping nya, menatap nya cemas. la senang. Gadis ini masih ada di sisi nya! Betapa lega nya ia.
Widya mengulurkan sapu tangan. Azri mengambil nya dan langsung mengusap titik-titik keringat di dahi nya.
"Tidak. Aku hanya kepanasan."
"Oh. Kalau kamu sudah lebih baik, ayo cepat turun. Yang lain nya sudah turun sejak lima menit lalu. Aku ingin membangunkan mu, tapi kamu terlihat lelah sehingga aku membiarkan mu tidur sedikit lebih lama. Untung saja pihak pesawat tidak keberatan."
Azri baru sadar ternyata hanya tersisa mereka berdua di kabin pesawat itu. Widya berbaik hati tidak mengganggu tidur nya dan menunggu nya bangun. Ia sungguh tersentuh.
Dengan hati yang lembut seperti itu, Azri heran mengapa sebelum nya ia menuduh Widya perempuan kejam.
Mereka berpisah di depan Bandara Internasional dan lekas pulang begitu jemputan mereka tiba. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengemudi sendiri setelah menempuh perjalanan panjang yang memakan waktu.
"Sampai bertemu di kantor."
Bella melambaikan tangan nya dari dalam mobil Ryan karena pria itu bersikeras ingin mengantar nya pulang. Widya balas melambaikan tangan sambil menunggu mobil jemputan nya datang.
Sesekali Widya melirik ke arah Azri yang berdiri di samping nya dengan tangan melipat, pose yang bossy sekali. Raut wajah nya merengut seperti kesal terhadap sesuatu. Memang begitulah tabiat Azri. Selalu bertingkah angkuh, dingin, dan misterius. Namun, aneh nya tetap mempesona.
Sampai kapan hubungan baik mereka bisa bertahan, Widya sendiri tidak tahu. Rasa nya tugas mengubah Azri El Pradipta dari bad boy menjadi good boy bukan lah pekerjaan mudah. kecuali sikap manis nya pada Widya, hingga sekarang ia masih belum bisa menyimpul kan apakah Azri sudah mulai berubah atau belum berubah sama sekali.
Mobil Maybach coupes berwarna hitam mengkilat berhenti tepat di depan mereka. Widya tidak berpikir itu jemputan nya sampai ia mengenali chauffeur yang ia tahu adalah sopir pribadi ayah mertua nya turun dari mobil dan menyapa mereka.
"Senang bertemu dengan Anda kembali, Tuan dan Nyonya muda," sapa nya. "Saya harap bulan madu Anda berdua berjalan lancar.“
"Hah?" Widya dan Azri berseru kaget secara bersamaan.
Tampak nya sopir itu tidak menyadari keterkejutan di wajah Azri dan Widya karena dia sibuk memindahkan koper-koper ke dalam bagasi.
"Tuan memberitahu Saya bahwa Anda berdua pergi berbulan madu. Beliau terlihat sangat gembira. Pasti tidak sabar menanti hadirnya kabar gembira. Beliau sangat berharap bisa menimang cucu secepat nya."
Azri dan Widya saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa ayah nya memberitahu semua orang mereka pergi berbulan madu, bukan berlibur bersama teman-teman nya.
__ADS_1
Pernyataan itu tidak membuat Widya lega sama sekali karena ia tahu kata-kata itu hanya lah sebuah kebohongan.
Bersambung ....