Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 66


__ADS_3

Apa yang harus Widya lakukan di saat waktu nya bersama Azri tidak akan lama lagi?


Mahendra memang tidak pernah berkata kapan tepatnya ia harus meninggalkan Azri. Namun, ia tidak bisa menebak jalan pikiran Ayah mertua nya itu. Sekarang ia panik dan bingung. Bahkan tidak mempedulikan tatapan Azri yang sejak tadi menghujani nya.


Azri menatap Widya penasaran dan curiga. Apa gerangan yang membuat Widya selinglung ini? Wajah pucat pasi nya tak kunjung hilang bahkan setelah waktu beberapa hari terlewat sejak hari itu. Bahkan semakin hari semakin terlihat kacau. Azri memang tidak tahu apa penyebab nya. Setiap kali ia bertanya Widya selalu mengalih kan pembicaraan, sama ini seperti yang di lakukan Ayah nya.


"Sebaik nya kamu berhenti bekerja saja.“


Widya mengangkat kepala nya cepat ke arah Azri yang duduk di seberang nya. Kegiatan makan malam nya terhenti.


"Kenapa?"


Azri meneguk segelas air sebelum berkata, "Aku tidak tahu apa yang membebani mu di kantor, tapi aku yakin Pria Tua itu sudah mengatakan sesuatu pada mu. Hal yang membuat mu begitu syok, bingung, sekaligus panik."


Tidak, Widya tidak mungkin berhenti dari pekerjaan nya, jika ia berhenti lalu dari mana ia mendapat uang untuk keperluan hidup nya nanti?


"Aku tidak bisa berhenti, kamu tahu aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," jelas nya panik, tanpa sadar hal itu membuat kening Azri semakin mengeryit bingung. Widya sendiri baru sadar sudah mengatakan hal aneh.


"Kenapa kamu membutuhkan nya? Bukankah kamu sudah menikah dengan ku? Aku yang akan menanggung semua biaya hidup mu karena itu sebaik nya kamu berhenti bekerja saja. Aku tidak mau Pria Tua itu membuat mu terbebani dengan segala hal menyangkut urusan kantor nya."


Namun, aku tidak mungkin menikah selama nya dengan mu! Widya ingin rasanya meneriak kan kata-kata itu pada Azri dan membeberkan segala nya. Ia sudah tidak tahan lagi main petak umpet dengan perasaan nya sendiri. Namun, bibir nya sekarang terkunci rapat dan ia terjepit.


"Aku tidak akan berhenti," putus Widya, wajah nya memelas. Ia mengharapkan pengertian Azri.


"Lalu kenapa kamu semakin frustrasi? Itu jelas karena pekerjaan mu.“


"Aku tidak frustrasi, itu hanya perasaan mu!"

__ADS_1


Kepalanya mulai pening. Sejak pagi Widya memang tidak bisa berpikir jernih karena otak nya penuh dengan hal-hal menyangkut Azri, perjanjian, dan Mahendra. Semua itu membuat nya pusing.


"Itu semakin meyakinkan ku bahwa ada yang kamu sembunyikan dari ku, katakan, Pria Tua itu mengatakan apa pada mu!" Azri menginterogasi nya dengan pernyataan tak terduga.


Widya melonjak kaget. Jadi pria ini mencurigai nya? Kini suami nya tengah melayang kan tatapan tajam.


"Aku benar, bukan?"


Azri mendengkus dengan mata terpejam. Gigi nya bergemeretak membuat Widya mengerut kan tubuh nya takut, sekaligus gemetaran. Azri tidak mungkin tahu soal perjanjian itu, bukan?


"Pria Tua itu seperti nya mengancam mu dengan sesuatu."


Ucapan Azri semakin mempertegas ketakutan Widya. Dia tidak menyadari sama sekali ketegangan yang meliputi sekujur tubuh wanita di depan nya malah meneruskan kalimat nya dengan nada putus asa, “Dia tidak pernah berubah. Dahulu Yuna pun pernah mendapatkan hal yang sama. Namun, kali ini aku heran. Untuk αρα dia mengancam mu, kamu jelas-jelas gadis yang dipilih oleh nya untuk ku. Karena itu katakan yang sebenar nya pada ku, sebenar nya apa yang kalian berdua bicarakan hari itu!!"


Widya tercenung. Kali ini bukan karena ucapan tajam Azri, tetapi karena fakta lain yang baru ia ketahui. Jadi Yuna pernah diancam sebelum nya? Astaga, mengapa Mahendra tega melakukan itu pada anak nya sendiri?


Azri menarik napas dalam lalu menghembuskan nya cepat, frustrasi, ia mengacak rambut nya sendiri. "Dengar, Widya," lirih nya menarik perhatian Widya kembali.


"Ayah ku adalah pemeras ulung. Aku mungkin membiarkan ibu ku menderita karena aku tidak tahu sama sekali akar permasalahan nya, begitu pun dengan Yuna. Aku sama sekali tidak tahu ketika dia diancam oleh Pria Tua itu dulu. Namun, aku tidak ingin hal yang sama terjadi pada mu."


Sekarang pria itu menatapnya dengan sorot mata yang menyiratkan penderitaan. Widya mencelos, bagai mana mungkin ia tega membuat Azri seperti ini.


"Aku tidak tahu apa tujuan nya kali ini. Namun, ayah ku adalah orang jahat yang tega melakukan apa pun demi bisnis nya," ucap Azri sungguh-sungguh, sementara Widya terpaku di tempat duduk nya. "Sekali pun harus menjual anak nya sendiri."


Setitik air mata akhir nya tumpah di pipi Widya. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Azri harus tahu tentang kontrak itu! la tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Apa pun resiko nya ia bersedia menanggung. Meskipun harus menerima kebencian selama nya dari Azri, ia akan menganggap itu adalah ganjaran setimpal karena sudah membohongi Azri.


Azri tercengang melihat air mata terus bergulir jatuh dari kedua mata istri nya.

__ADS_1


"Ayah mu tidak mengancam ku sedikit pun, sungguh." Widya terisak, tenggorokan nya tercekat dan ia bingung harus mulai menjelaskan dari mana. “Semuanya karena kesalahan ku, aku ...."


Tiba-tiba saja Azri menggebrak meja. "Sudah ku duga," bentak nya geram.


Widya terperanjat, pandangan nya mengabur oleh air mata, tetapi ia masih bisa melihat wajah marah suami nya. Pria itu bangkit dari tempat duduk nya lalu bergerak pergi.


"Kamu mau ke mana!" teriak Widya panik. Ia mengejar Azri dengan air mata meleleh di sepanjang pipi.


Azri seolah tuli, tanpa mendengarkan Widya, ia mengambil jaket dan kunci mobil nya. Widya cepat meraih tangan nya sebelum Azri keluar dari apartement.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi ke mana pun!" mohon Widya dengan sangat. Ia putus asa. la ingin menjelaskan segala nya, tetapi tersendat lantaran Azri menatapnya tajam.


"Aku harus berbicara dengan Pria Tua itu. Apa hak nya mengatur-atur hidup ku! Jika dia ingin aku menuruti nya, tidak seharus nya ia mengancam istri ku segala. Aku yakin dia meminta mu pergi dari ku jika tidak berhasil membuatku patuh pada nya, begitu bukan?"


"Tidak, bukan seperti itu." Widya menggelengkan kepala nya cepat. "Ku mohon diam dan dengarkan apa yang akan aku ceritakan," pinta nya penuh permohonan.


Azri menggeleng.


"Aku tidak akan mendengarkan jika apa yang kamu ucapkan itu sesuatu yang ada dalam kendali Ayah ku, karena itu minggir." Azri menggeram, ia terpaksa menyingkir kan Widya dari hadapan nya lalu bergerak ke arah pintu.


Widya dilanda ketakutan luar biasa diiringi dengan rasa sakit yang menjengit di kepala nya.


"Azri, tunggu!" teriak nya.


Namun, bukan suara kencang yang keluar, melainkan suara serak yang semakin mengecil dan akhir nya tenggorokan nya tidak bisa mengeluar kan suara sama sekali. Pandangan nya Tiba-tiba menggelap dan ia tidak bisa merasakan apa pun lagi.


Bersambung .....

__ADS_1


Azri itu cuma takut ditinggalin.


__ADS_2