
Pintu apartement terbuka saat itu. Azri masuk dengan wajah gembira. Senyum nya lenyap ketika ia melhat Widya terpuruk di sofa ruang tamu. Sebelah tangan gadis itu memegang ponsel dan sebelah lagi memegang kepala nya. Dari situasi nya ia bisa menyimpulkan bahwa Ayah nya baru saja mengacaukan suasana hati istri nya. Bahunya melemas. Pria Tua itu!
"Sayang!"
Azri sengaja berseru untuk mengalihkan rasa sedih nya. Di malam yang isimewa seperti sekarang tidak akan ia biarkan Widya sedih. la sudah menyusun rencana untuk membuat Widya tetap bersamanya. Perjanjian itu, harus ia kacaukan sebelum ayah nya menyuruh Widya pergi dari hidup nya.
Widya tersentak, ia cepat mengubah ekspresi nya ketika menoleh menatap Azri.
"Kamu sudah datang?" sambut nya dengan wajah ceria.
Azri menghampiri Widya lalu merangkul nya mesra. Tak lupa ia mendaratkan kecupan ringan di pipi nya.
"Kamu sangat cantik," bisik nya lembut.
Kesedihan yang tadi melingkupi hati Widya lenyap seketika begitu mendengar nya. Ia tersenyum dengan wajah merona.
"Terima kasih, semua karena gaun malam yang kamu berikan."
"Kamu salah, gaun malam itu hanya pelengkap saja. Kamu memang sangat cantik."
Azri memberikan sebuket bunga yang sejak tadi di genggam nya pada Widya. Gadis itu tersenyum lebar menerima nya.
"Untuk ku?" Widya melebarkan matanya takjub lalu mengambil nya. “Ah, kita seperti sedang berpacaran saja. Kamu memberi ku bunga dan kita melewatkan makan malam romantis bersama."
Azri ikut tersenyum. "Kita memang akan makan malam romantis."
"Sungguh?"
"Tentu. Ayo."
Widya tidak tahu bahwa malam ini Azri sudah merencanakan sesuatu yang akan mengacaukan kontrak perjanjian antara Widya dan Ayah nya.
Aku tidak akan membiarkan Pria Tua itu menghancurkan ku untuk ke sekian kali nya karena itu Widya Lovarza, kamu harus siap karena malam ini aku akan mengikat mu dengan hidup ku.
***
Widya mendesah tak jub sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tempat nya berada adalah tempat paling mengesankan yang pernah ia kunjungi seumur hidup. Ia tidak pernah makan malam di tempat semewah ini sebelum nya. Ia tidak berani membayangkan berapa harga satu porsi makanan di sini. Namun, di atas segala nya, semua kegugupan nya malam ini berpusat pada pria tampan dalam balutan jas warna abu-abu di depan nya.
Azri berkali-kali melemparkan senyum yang membuat nya salah tingkah. Beruntung Widya tidak melakuan hal yang memalukan sejauh ini, misal nya menjatuhkan sendok atau menumpahkan minuman nya.
Makan malam kali ini entah mengapa terasa begitu romantis. Azri mengajak nya berbincang ringan dan sesekali mereka tertawa. Untuk sesaat Widya lupa tentang ucapan Mahendra di telepon. Semua rasa cemas itu lenyap oleh rasa gembira.
"Kenapa kamu terus memandangi ku?"
Berkat tatapan intens Azri, Widya tidak bisa menikmati makanan nya dengan tenang.
__ADS_1
Azri tersenyum simpul, dengan gerakan elegan ia meminum anggur nya lalu kembali menatap Widya.
"Ada hal yang sangat ingin ku lakukan ketika aku memutuskan menghabis kan hidup ku bersama seorang wanita."
Azri berbicara begitu lembut. Widya mengerjapkan mata. Astaga, apa yang akan Azri lakukan? Ia tidak sabar menanti nya.
Azri menggenggam tangan nya yang bersandar di meja. Ia mengerjapkan mata, bahkan dada nya ikut berdebar kencang. Azri meletak kan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru.
"Itu." Ucapan Widya menggantung. Dia menatap Azri tak percaya, seolah ragu untuk mengatakan apa yang hampir saja terucap lidah nya.
Azri mengangguk ringan, tahu apa yang akan Widya katakan. Dugaan Widya memang benar. ketika Azri membuka kotak itu, Widya hanya bisa menahan napas karena yang ada di dalam sana benar-benar sebuah cincin. Mata nya naik memandang Azri.
Tanpa mengatakan apa pun, Azri menarik tangan nya yang masih ia genggam lalu menyematkan cincin bermata intan di jari manis nya. Widya hanya bisa mengerjapkan mata. Ia kehabisan kata-kata untuk meluapkan betapa gembira nya ia diberi cincin seindah ini oleh seorang pria terutama pria seperti Azri, suami sementara nya.
"Cincin ini adalah tanda pengikat dariku.“
Sepatah kata dari Azri berhasil membuat Widya fokus kembali pada nya. "Pengikat?" tanya nya dengan mata melebar.
Sorot mata Azri kali ini melembut. Widya bisa melihat kesungguhan dari sorot mata itu. Sesuatu yang membuat nya mengerjap dan gugup. Ia menyadari tak ada sesentipun dari tubuh nya yang tidak terpaku pada mata hitam Azri.
"Meskipun kamu ingin lari dari ku, kamu tidak akan bisa. Meskipun kamu mencoba kabur dari ku, pada akhirnya kamu akan kembali pada ku. Dan jika kamu menghilang dari ku, maka cincin itulah yang akan menuntun ku untuk menemukan mu."
Widya terenyuh mendengar rentetan syair Azri untuk nya. Terharu dan kehilangan kata-kata. Perhatian nya berulang kali teralih dari wajah Azri dan jari tangan nya yang terlingkar cincin. Tanpa disadari, pandangan mata nya menjadi kabur oleh air mata. Cincin indah itu tidak bisa ia lihat. Ia bingung harus sedih atau senang.
Waktu ku tidak akan lama lagi, kenapa kamu meninggalkan kenangan indah seperti ini kepada ku? Batin Widya. Bagaimana aku bisa mengampuni diri ku sendiri dengan semua kebaikan mu?
"Kamu bersedia terperangkap bersama ku seumur hidup?"
Matanya yang bulat kembali mengerjap, ucapan Azri seperti palu yang menyentak diri nya. Mendadak saja ia merasa sedih dan tak berdaya karena tidak memiliki kata-kata yang pantas untuk menjawab nya. Akhir nya, ia hanya bisa mengeluarkan senyum, senyuman tulus penuh rasa terima kasih.
"Jika Tuhan menghendaki ku bersama mu, aku akan dengan senang hati menerima nya."
Azri terdiam melihat ekspresi Widya. Terkejut dengan kata-kata nya. Ada desakan dalam diri nya untuk melukai siapapun yang tega membuat gadis nya seperti ini. Widya sudah mati-matian menahan air mata nya dan malam ini Azri tidak berniat membuat Widya sedih. Ia akan membuat nya bahagia.
Azri segera bangkit begitu musik mengalun. Beberapa tamu pun melakukan hal yang sama.
"Apa yang terjadi?" gumam Widya bingung karena tiba-tiba saja lampu restoran itu meredup. Ketika ia menoleh, ia hanya bisa menganga melihat Azri mengulurkan tangan pada nya.
"Kenapa?"
"Kita akan berdansa, My Queen." Azri tersenyum selayak nya raja yang mengajak permaisuri nya berdansa.
Tanpa menunggu Widya menyambut tangan nya, Azri meraih pinggang Widya, membuat nya berdiri dan menuntun nya ke lantai dansa, seperti yang dilakukan tamu lain.
Widya mengerjapkan mata panik begitu mereka berdiri di tengah lantai dansa. "Aku tidak bisa berdansa," cicitnya malu.
__ADS_1
Azri tidak mendengarkan, malah meletakkan tangan di pinggang nya dan satu lagi menggenggam tangan nya erat. Pria itu tersenyum manis.
"Berdansa tidak perlu latihan, kamu hanya perlu mengikuti gerakan ku."
Suara lembut Azri membelai rambut nya. Widya panik begitu kaki Azri mulai melakukan gerakan dansa. Ia berkali-kali salah langkah dan hampir menginjak kaki Azri. Namun, Azri mendekap nya begitu erat hingga ia merasa jantung nya hampir meledak.
"Jangan gugup."
Suara Azri kembali membelai telinganya, membuat bulu kuduk sedikit meremang. Tidak berani mendongak kan kepala, begitu gugup nya sampai-sampai tangan nya yang ia tumpangkan di pundak Azri terasa kaku. Seperti saran Azri, Widya mencoba mengikuti langkah nya.
Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga ....
Widya terus merapal tiga kata itu hingga akhir nya ia terbiasa. Azri benar, tidak perlu keahlian khusus untuk bisa menghapal gerakan dansa seperti ini. Pada akhir nya Widya berhasil mengibangi gerakan Azri dan ia berdansa dengan luwes.
"Mudah, bukan?" Azri tersenyum simpul menyadari senyuman mulai tersemat di bibir istri nya.
"Ini tidak serumit ketika aku belajar Tango," jawab Widya sambil mendekap leher Azri dengan kedua tangan nya.
Sekarang mereka berdansa pelan diiringi musik yang mengalun lembut kedekatan mereka begitu intim, dan Azri memposisikan tubuh mereka serapat mungkin.
"Kamu pernah belajar Tango?" Azri mengerjap tak jub. Ia tidak menyangka gadis konservatif seperti Widya terpikir juga untuk belajar tari semacam Tango.
"Ya, tapi gagal karena tubuhku tidak bisa mengikuti gerakannya yang dinamis."
"Tapi kamu selalu berhasil mengikuti gerakanku setiap kali kita bercinta."
Widya merasakan pipinya memanas dengan cepat mendengar pernyataan yang begitu vulgar dan langsung dari Azri. Di saat romantis seperti ini bisa-bisa nya Azri menyinggung masalah kamar mereka. Itu bukanlah topik yang pas muncul ketika mereka berbincang di tempat umum seperti ini.
"Bagai mana bisa kamu membahas nya dengan selugas itu?" desis Widya malu.
Azri terkekeh. Sebelah tangan nya yang semula diam di pinggang merangkak naik hingga menyentuh tengkuk Widya.
"Mudah, selama aku berada bersama mu."
Widya kesulitan menelan ludah nya sendiri. la tidak bisa bergerak begitu napas Azri menerpa pipi nya. Spontan, ia menutup mata nya sadar apa yang akan Azri lakukan.
Azri mengulum senyum nya melihat reaksi Widya. Gadis ini, sungguh menggemaskan. Azri tidak ragu lagi untuk menyatukan bibir mereka. Dengan segenap perasaan ia memagut bibir Widya di antara bibir nya.
Rasa nya begitu luar biasa.
Di tengah keremangan ruangan, di antara orang-orang yang berputar di lantai dansa Widya merasa begitu lemah, berdebar, dan tidak berdaya. Ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang. Ia hanya ingin mencium Azri, menikmati bagaimana rasa nya bercumbu dengan pria ini sebelum ia tidak pernah bisa merasakan nya lagi.
Ciuman itu terasa panjang dan dalam. Widya bisa merasakan betapa antusias nya Azri. Terselip rasa gembira dan sedih dari cara nya menyentuh setiap sudut bibir nya, ketika lagu berhenti dan lampu kembali menyala, salah satu dari mereka terpaksa menjauhkan wajah. Azri memamerkan seringaian puas melihat Widya begitu kewalahan menormalkan pernapasan nya.
"I do love you," bisiknya. Kata-kata sederhana Azri membuat jantung nya berdetak tak terkendali.
__ADS_1
"Me, too." Widya menjawab nya terbata, dengan wajah memerah Widya membiarkan Azri membimbing nya kembali ke meja mereka.