Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 77


__ADS_3

Widya terpekur di sela kesibukan kerjanya. Sejak pagi tadi ia tidak berselera makan. Mungkin alasannya karena hari ini ia akan bertemu dengan Mahendra. Ayah mertuanya itu memintanya datang untuk mempertanyakan mengapa Widya belum lekas pergi sesuai perjanjian. Membayangkan pria itu melayangkan kata-kata pedas dan menyuruhnya pergi segera membuat Widya merinding sekaligus mual. Apa benar hanya itu alasannya? Atau mungkinkah....


"Apa kamu sudah memeriksa siklus bulananmu?"


Widya tersentak kala suara Azri menggema di telinganya. Pertanyaan Azri tentang siklus bulanannya betul-betul mengusik ketenangan jiwa.


Hari ini ia akan menemui Ayah mertuanya. Sebelum itu ia harus menyiapkan diri secara fisik maupun mental. Ia segera melirik kalender meja dan mengecek kapan terakhir kali ia melingkari tanggal tanda kedatangan tamu bulanannya.


Tiba-tiba tangannya bergetar menyadari sudah satu bulan lebih ia belum melingkari tanda itu lagi di kalender. Widya tidak pernah lupa menandai kenyataan itu membuatnya dirundung ketakutan dan kecemasan.


Bagaimana jika ia benar-benar hamil? Namun, bukankah ia berhenti meminum obat pencegah kehamilan itu kira-kira tiga minggu yang lalu?


"Tidak ada salahnya memastikan."


Widya bergegas mengambil testpack yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga dari dalam tasnya. Ia pergi ke toilet, masuk ke salah satu biliknya. Ia menunggu diliputi rasa cemas yang luar biasa. Bukan rasa lega yang ia dapat justru rasa takut yang semakin menjadi-jadi ketika testpack itu menunjukkan dua tanda biru dengan sangat jelas.


Seluruh otot ditubuhnya seperti berubah menjadi agar-agar dan ia kehilangan tenaga untuk tetap berdiri. Widya jatuh lemas di lantai toilet. Badannya bergetar dan jantungnya berdebar kencang.


Aku hamil.


Istri lain mungkin akan gembira luar biasa menyambut berita ini, tetapi lain reaksinya di saat situasi rumit seperti ini.


"Apa yang harus kulakukan?" lirihnya kebingungan. Bagaimana ini, bagaimana ini. Kata-kata itu terus berulang membuatnya seperti berada di depan gerbang menuju neraka.


Widya mengusap perutnya diiringi satu bulir air mata jatuh di pipi.


Nak, kenapa kamu harus hadir di saat seperti ini? Apa kamu datang dengan maksud mencegah agar Ibu tidak berpisah dengan ayahmu? gumamnya dengan pandangan kosong.


Hatinya terasa begitu sakit. Kenapa skenario takdirnya menjadi seperti ini? Kenapa? Sekarang ia bingung harus menghadapi ayah mertuanya dengan perasaan seperti apa.


Di atas segalanya, ia dilema apakah harus memberitahukan hal ini pada Azri atau tidak.


***


Mahendra merasa frustrasi sejak melihat kemesraan Azri dan Widya di pesta Presdir GN. Bahkan orang bodoh pun tahu bahwa putranya itu mencintai Widya lebih dari apa pun di dunia ini. Ia merasa begitu bodoh karena dulu menarik Widya ke dalam rencananya.


Seharusnya ia menghapus rencana untuk menikahkan Widya dengan Azri agar masalahnya tidak menjadi rumit seperti ini. Seharusnya dahulu ia langsung saja menikahkan Azri dengan Lia, putri Presdir GN. Sekarang itulah hal yang paling disesalinya.


Hari ini ia harus meminta Widya agar berpisah dengan Azri, demi kebaikan Pradipta Group, karena itu sekarang ia menanti kedatangan Widya di rumahnya dengan perasaan khawatir.


"Tuan, Nona Widya sudah tiba." Seorang pelayan memberitahu kedatangan Widya. Ia menegang. Akhirnya waktunya tiba.

__ADS_1


"Suruh dia masuk."


Pelayan itu menangguk dan tak lama seseorang masuk, dengan sopan dia membungkukkan badannya lalu tersenyum.


"Selamat malam Ayah." Widya berkata dengan nada profesional.


Mahendra balas tersenyum lalu menyuruhnya duduk. Ia menyadari wajah pucat pasi Widya karena itu ia tidak mau membiarkan Widya terlalu lama berdiri. la tidak tahu kapan gadis itu akan jatuh pingsan.


Widya terlihat begitu gugup dan ketakutan di matanya. Menantunya itu meremas tangannya seolah dia diancam hukuman penjara seumur hidup oleh jaksa penuntut umum.


"Aku tidak akan berbasa-basi, aku ingin mendengar alasanmu mengapa tidak kunjung pergi sesuai perjanjian." Mahendra mengesampingkan hati nuraninya. Sebenarnya ia merasa begitu jahat karena menindas wanita tidak berdaya seperti Widya.


Widya terperangah, ia mengangkat wajahnya dengan raut panik bercampur gelisah. "Apakah perjanjian itu tidak bisa dibatalkan?" la bahkan tidak bisa bertanya dengan nada normal. Bibirnya begitu kaku untuk berkata.


Kali ini gantian pria itu yang tersentak kaget "Apa katamu?!" pekikannya menggelegar memenuhi ruangan tempatnya berada.


Widya mencelos, ia mengerutkan tubuhnya takut pada amukan pria di hadapannya itu. la yakin ia akan menerima segala caci maki dan umpatan kasar dari mulut Mahendra, tetapi nyatanya ketika ia memberanikan diri mengangkat kepala, pria itu terlihat sedang menahan amarahnya. Dia mengepal tangannya sampai buku-buku jarinya memutih dan matanya memejam rapat.


"Katakan," ucapnya dengan amarah yang tertahan, "katakan padaku satu alasan kenapa aku harus membatalkan perjanjian itu? Jika jawabanya adalah hal tidak bisa diterima seperti kau mencintai putraku, aku akan menyeretmu ke pengadilan."


Tubuh Widya gemetar, ia ketakutan sampai-sampai kata-kata yang ingin diucapkannya terhenti di ujung lidah. Apa aku harus berkata sebenarnya? Apa aku harus memberitahu Ayah bahwa aku hamil? Pikiran itu terus menghantuinya, ketakutan terbesarnya adalah ayah mertuanya itu akan menyuruhnya mengugurkan bayi dalam rahimnya. Namun, ia pun tidak mau pergi meninggalkan Azri.


"Aku." Widya tidak tahu apa yang membuatnya berani membuka mulut, tetapi tanpa bisa dicegah mulutnya terus berucap, “Aku hamil."


Wajah Mahendra seketika pucat pasi. Matanya membulat, bahkan nyaris keluar karena terlalu terkejut dengan pernyataan Widya. Pandangannya bergantian menatap wajah ketakutan Widya dan perut gadis itu. Setelah otaknya berhasil mencerna segalanya, rahang pria itu bergemeretak dan serta merta ia berdiri.


"Apa?! Berani sekali kau hamil anak Azri!! Bukankah sudah kusuruh kau meminum obat pencegah kehamilan!“


Aku tahu, demi Tuhan aku tahu, teriak Widya dalam hati. Ia tidak mau mengatakan bahwa Azri sudah membuang semua obatnya. Ia tidak mau menyalahkan siapa pun. Ia bisa saja pergi ke dokter dan mendapatkan obat itu kembali, tetapi ia memilih tidak melakukannya. Ia ingin bersama dengan Azri.


Mahendra mengembuskan napas frustrasi lalu kembali duduk. Ia mengurut pelipisnya dengan gerakan kasar.


"Apa anak itu sudah tahu?" lirihnya kejam, seolah jika Widya berkata ia pria itu siap membunuhnya.


Dengan tenggorokan tercekat Widya menggeleng lemah. "Tidak."


Satu helaan napas pria itu membuat Widya sedikit lega. Namun, ia tidak bisa berhenti tegang selama kejelasan tentang statusnya belum diputuskan.


"Kau tetap harus pergi." Mahendra berkata tegas, datar, dan tenang.


Widya tercengang. Setelah semua ini pada akhirnya dia tetap menyuruhnya pergi?

__ADS_1


"Tidak bisa," lirihnya berat, Widya melayangkan tatapan penuh permohonan pada ayah mertuanya. "Aku tidak bisa meninggalkan Azri, kumohon. Aku tidak bisa membesarkan anak ini tanpa kehadiran Azri."


Pria itu mendelik tajam. "Kau bisa. Aku sudah memberikan aset senilai satu milyar, bukan? Kau bisa menggunakan uang sebesar itu untuk membesarkan anak itu jauh dari jangkauan Azri."


Widya membulatkan mata, menatap nanar ayah mertuanya. Apa ia tetap harus pergi? Kepalanya menunduk sementara tangannya memeluk perutnya posesif.


Ternyata kita memang harus pergi, batinnya. Hatinya begitu perih seperti tercabik-cabik. Bayangan Azri dalam retina matanya membuat luka perih itu laksana tersiram air garam. Begitu sakit menyiksa.


Widya ingin menangis, tetapi anehnya tidak ada satu bulir air mata pun yang keluar dan kenyataan itu membuatnya semakin tersiksa. Sekarang yang tersisa hanya rasa tercekat di tenggorokan dan dada sesak.


Mahendra menatap Widya iba. Tak diragukan jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa senang mendengar tak lama lagi ia akan memiliki cucu. Namun, keadaan membuatnya menjadi manusia jahat. Semakin hari paru-parunya terasa menyempit, bernapas pun rasanya begitu sakit. Mungkin itu akibat dari perbuatan tak berperikemanusiaannya.


la terdiam memikirkan jalan keluarnya, jalan keluar yang membuat semua orang senang, terutama orang itu. la menarik napas panjang lalu berkata dengan suara lirih.


"Baik, kuberi kau satu kesempatan."


Widya terperanjat, mengangkat kepalanya cepat karena terlalu senang mendengar keputusan itu sampai mata hitamnya membulat. Bahkan pria yang duduk di seberangnya bisa melihat binar kebahagiaan dan secercah sinar harapan.


"Benarkah?" Tak perlu dikatakan lagi betapa lega dan senangnya hati Widya. Ia baru akan mengucapkan terima kasih ketika ayah mertuanya itu merogoh sesuatu dari dalam laci meja kerjanya lalu menyerahkan benda itu pada Widya.


Sebuah foto, tepatnya foto seorang gadis sekarang berada di tangan Widya.


"Siapa ini?" Widya memang penasaran siapa gadis dalam foto ini, tetapi ia lebih tidak paham maksud pria itu menunjukkan foto itu padanya.


Mahendra menjawab tanpa memandangnya. "Namanya Lia Fernandez, dia putri Presdir GN dan dia adalah calon istri Azri yang sesungguhnya."


Senyum Widya lenyap seketika karena detik itu juga ia membeku. Belum sempat Widya mengatasi keterkejutannya pria itu menambahkan, "Aku memberimu satu kesempatan tetap bersama anak itu asalkan kau membuatnya menyukai gadis itu."


Apa?


Widya membeku di tempatnya. Dunianya tiba-tiba menjadi hening. Ia tercengang. Rasanya bagai mendengar petir di siang bolong.


"Besok ajaklah Azri bertemu dengan Lia dan buatlah Azri terpesona padanya."


Bisakah aku mati detik ini juga? Lebih baik Tuan Pradipta menghunuskan pedang padanya sehingga Widya tidak perlu menghadapi hari esok lagi. Ia sulit bernapas, sungguh. Dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak menjawab iya ataupun menggeleng menolak. Ia hanya diam membeku di tempatnya dengan pandangan kosong.


Widya sadar kesalahan terbesarnya adalah ia datang menemui ayah mertuanya hari ini.


Bersambung ....


Setelah aku review ulang part ini. Wah aku nangis sendiri, maaf Widya.

__ADS_1


__ADS_2