Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
105


__ADS_3

Marleen bersembunyi ketika Lia melewati dirinya, berjalan dengan langkah tergesa menuju pintu depan kemudian disusul oleh Rendra yang dengan panik mengejar adiknya.


"Lia, tunggu!"


Gadis itu menatap Rendra yang tidak menyadari keberadaannya dengan tatapan sendu. Pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang tak disangkanya. Beberapa pengakuan yang membuatnya meneteskan air mata.


Di antara malam pekat nan dingin itu, Lia berdiri di depan pintu ruangan luas yang berisi seluruh data penting GN Group dengan air mata meleleh di pipi. Tercium bau kerosin yang menyengat di seluruh ruangan itu. la menatap pematik di tangannya dengan mata kosong. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan mundur lagi. Hanya ini satu-satunya cara untuk melenyapkan dendam yang menumpuk di hatinya.


"Maafkan aku, aku hanya meminta tebusan atas apa yang sudah kau ambil dariku, Ayah."


Tangannya bergerak begitu saja, menyalakan pematik itu lalu melemparkannya ke dalam ruangan. Api langsung berkobar membakar seluruh isi ruangan yang sudah ditumpahi minyak tanah.


Panas yang menjilat-jilat dan warna api yang terang menyala tercetak jelas di retina matanya. Lia merasa puas. Ayahnya pantas mendapatkan ini. Tanpa data-data itu, GN Group akan hancur dengan sendirinya. Tanpa semua itu, GN Group bukan apa-apa. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Ia melenggang pergi di iringi asap pekat yang menjalar keluar.


Ketika asap itu menyentuh panel alarm kebakaran di langit-langit lorong, bunyi nyaring yang menggema ke seluruh penjuru gedung terdengar. Mengagetkan beberapa penjaga yang sedang beristirahat di pos jaga masing-masing.


"Kebakaran!!" teriak petugas keamanan yang berjaga di pos ketika melihat salah satu ruangan di gedung utama mengeluarkan asap. Kaca jendela pecah dan menunjukkan pemandangan lidah api yang berkobar ganas. Kepanikan pun terjadi di tengah malam itu.


Lia melenggang dengan tenang keluar gedung itu tanpa disadari para sekuriti yang panik lalu menghilang di tengah kegelapan malam.


Berita itu sampai dengan cepat di telinga Matthew Fernandez. Pria paruh baya itu sedang menikmati sampanye sebagai perayaan atas keberhasilan rencananya ketika telepon di ruang kerjanya berbunyi. Ia tidak pernah mengira panggilan mendadak di tengah malam itu akan mengejutkan karena ia sedang berada dalam suasana hati yang luar biasa bahagia.


"Ada apa?" ucapnya santai lalu menyesap sampanyenya. Raut gembiranya perlahan-lahan berubah tercengang lalu pucat pasi. "Tidak mungkin, tidak!"


Sedetik kemudian gagang telepon itu ia lempar lalu menggantung begitu saja ditinggalkan oleh pemiliknya yang lari kalang kabut meninggalkan ruangan.


Pria itu terkejut melihat asap mengepul dari gedung GN Group. Bahkan dari kejauhan pemandangan mengerikan kebakaran itu sudah terlihat. Puluhan petugas pemadam kebakaran sudah ditugaskan untuk menaklukan api tetapi belum membuahkan hasil. Seseorang sepertinya benar-benar ingin membumihanguskan seluruh gedung itu.


Rendra sudah tiba di sana lebih dulu. Ia segera menghampiri ayahnya. Presdir GN keluar dari mobil dengan seluruh tubuh yang melemas. Matanya terus tertuju pada kobaran api yang mulai merambat ke seluruh penjuru gedung.


"Apa yang dilakukan para petugas itu? kenapa masih belum memadamkan apinya juga!" Presdir GN berteriak pada Rendra.

__ADS_1


"Mereka sudah berusaha. Sabarlah." Pria itu mencoba menenangkan ayahnya.


"Sabar? Kamu memintaku sabar? Di saat sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan susah payah lenyap kamu menyuruhku bersabar?"


Kedua mata Presdir GN melotot padanya. Rendra mengatupkan bibir rapat-rapat. la tidak bisa membalas kemarahan ayahnya. Di saat seperti ini kata-kata apa pun yang diucapkannya akan membuat pria itu murka.


"Ayah!" Rendra dengan panik menahan ayahnya yang akan menerobos masuk melewati barisan polisi yang mengamankan area. "Apa yang Ayah lakukan?!"


"Aku harus masuk, banyak data penting tersimpan di sana."


"Apa data penting lebih berharga dibandingkan nyawa?" Rendra terpaksa membentak ayahnya. "Untuk saat ini diamlah dan tunggu hingga petugas berhasil memadamkan api.“


Presdir GN terpukul. Di matanya terngiang-ngiang betapa besarnya kerugian yang akan ia hadapi. Semua transaksi yang sudah ia lakukan akan gagal dan yang terburuk, GN Group akan hancur.


Sebenarnya ada yang lebih dicemaskan Rendra daripada terbakarnya gedung kantor utama GN Group. Yaitu adiknya. Sejak menghilang beberapa jam lalu ia belum menemukan adiknya di mana pun. Ia takut kejadian ini ada hubungannya dengan Lia. Ia hanya berharap ketika petugas berhasil memadamkan api, Lia tidak ditemukan di dalam sana dalam kondisi tak bernyawa. Astaga, jangan sampai itu terjadi.


Karena itu, Rendra memilih untuk tidak mengatakan apa pun tentang menghilangnya Lia.


Mahendra memandang putranya dengan perasaan iba. Hati kecilnya sedih melihat Azri tak berdaya seperti ini. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Azri. Seandainya dahulu ia lebih kuat melawan tirani kejam seperti Matthew hal ini tidak akan terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. la hanya berharap putranya bisa segera siuman. Ia menoleh ketika mendengar suara seseorang memasuki ruangan itu.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan Widya Lovarza?" tanyanya pada seseorang berjas hitam, orang yang disuruhnya untuk mencari menantunya yang menghilang. Pria itu membungkukkan badan dengan sopan.


"Belum, Tuan. Menantu Anda ternyata cukup cerdik untuk bersembunyi. Kami memerlukan sedikit waktu untuk menemukannya."


Pria paruh baya itu menghembuskan napas berat. "Baiklah. Aku mengerti." Tentu saja ia tidak akan memilih Widya menjadi menantunya jika gadis itu tidak pintar. Ia hanya mencemaskan kondisinya saja. Bagaimana pun gadis itu tengah mengandung.


"Tetapi Tuan, saya membawa berita hangat untuk Anda. Ini tentang GN Group."


"Apa?"


"Kantor pusat GN Group terbakar malam ini." Kepala Mahendra langsung berputar ke arah orang itu sementara mulutnya memekik terkejut. Pria suruhan itu kembali mengangguk dengan sopan.

__ADS_1


"Anda bisa melihat beritanya di televisi."


Mahendra langsung merenggut remote TV lalu menyalakan TV plasma yang terletak di ruang tunggu. Ia mencari channel TV yang sedang menayangkan acara berita. Begitu menemukannya, kebetulan pembawa berita itu sedang menjelaskan kronologi kebakaran hebat yang menimpa kantor pusat perusahaan raksasa GN Group. Ia terpana melihatnya.


Di layar terpampang betapa mengerikannya sang lidah api melahap gedung yang terkenal dengan tingkat keamanannya yang setara dengan tempat presiden tinggal.


["Petugas pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api ketika berita ini diturunkan. Polisi menyelidiki pelaku kebakaran ini karena diduga, api disulut oleh seseorang setelah sebelumnya menyebarkan minyak tanah di tempat kejadian..."]


Layar kini menampilkan sang CEO GN Group beserta putranya, Rendra Fernandez menatap nanar gedung itu. Sang pemimpin utama, Matthew Fernandez tampak pucat pasi. Tercetak jelas di wajahnya betapa besar kerugian yang akan ia dapatkan karena kebakaran ini.


Entah kenapa, Mahendra merasa gembira melihat ekspresi itu. Bukan berarti ia senang di atas penderitaan orang lain, tetapi jika yang mengalaminya adalah manusia sekejam Matthew Fernandez, maka itu adalah pengecualian.


"Lim," panggilnya pada pria yang menjadi suruhannya tadi. Pria bernama Lim itu mendekat patuh.


"Iya Tuan."


"Laksanakan rencana yang telah kusampaikan padamu sebelumnya."


"Siap, Tuan." Lim menunduk hormat lalu pamit undur diri dari hadapan Tuannya.


Mahendra menghembuskan napas lega. Tak pernah ia merasa selapang ini ketika mendengar sebuah berita buruk. Namun, bencana yang dialami GN Group menandakan kebangkitan bagi Pradipta Group.


"Kamu lihat Matthew Fernandez, ini adalah ganjaran yang kamu terima atas semua kelicikanmu selama ini." la menyeringai lalu kembali berjalan memasuki ruang rawat putranya.


la menatap Azri yang masih tertidur. Menghampirinya dengan langkah tertatih-tatih. Luka di kakinya sudah hampir sembuh, tetapi faktor usia lah yang membuat rasa sakit itu masih terasa. Ia tersenyum sambil memegang tangan Azri.


"Bangunlah Nak, kamu dengar tadi, GN Group telah jatuh. Sekarang saatnya kamu yang berjuang."


Azri bergeming. Tidak adanya reaksi dari Azri membuat kebahagiaan Mahendra tidak bisa meluap dengan sempurna. menarik napas dalam untuk meredakan sesak di dadanya. Azri harus bangun dan berjuang bersamanya untuk mengambil alih kembali Pradipta Group. Ia memutuskan pergi ke ruang rawatnya setelah suster memberitahu bahwa dirinya harus kembali ke tempat tidur.


Andai saja Mahendra tidak meninggalkan Azri, ia akan menyaksikan bagaimana tangan Azri bergerak, merespon kata-katanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2