
Seusai pelatihan, semua peserta menikmati makan malam di restoran resort. Widya memindai pandangannya ke sekeliling restoran dan ia baru sadar suaminya tidak berada di sana.
"Ke mana Azri?" tanyanya heran yang ternyata terdengar oleh Chris.
"Aku melihatnya kembali ke kamarnya tadi," ucapnya singkat, "Oh iya, di dekat resort ini ada festival yang sering dilaksanakan oleh nelayan daerah ini. Kau ingin datang?"
Widya tidak menanggapi sama sekali ajakan Chris karena dia justru mencemaskan suaminya. Azri belum makan malam dan ia tahu Azri memiliki penyakit maag yang bisa kambuh kapan saja.
"Widya," panggil Chris membuatnya tersadar.
"Oh, apa?"
"Kau tidak mendengarkanku?"
Widya tersenyum hambar, agak salah tingkah. "Maaf Chris, sepertinya aku harus kembali ke kamar. Aku akan meminta pelayan membawa makan malam ke kamarku."
"Baiklah."
Chris menatap Widya yang pergi sesaat lalu mengendikkan bahu.
Widya tidak mengerti, tetapi kakinya dengan sendirinya bergerak menuju kamar tempat Azri menginap. Tahu-tahu sekarang ia sudah tiba di depan pintu kamar Azri. Ia hendak mengetuknya ketika pintu terbuka secara bersamaan. Gerakan tangannya terhenti tepat di depan wajah Azri membuat Widya merasa sangat konyol dan malu.
"Mau αρα kau? Memukul wajahku?" kata Azri sinis. Widya menurunkan tangannya cepat.
"Aku hanya ingin memastikan semua peserta tidur dengan perut terisi," ucap Widya terbata. "Apa kau sudah makan malam?"
"Belum kenapa, kau mencemaskanku?"
Azri menyingkirkan Widya dari hadapannya lalu pergi dengan langkah acuh tak acuh. Widya yang mencemaskan Azri berlari mengejarnya.
"Ada festival di dekat sini. Kau ingin pergi ke sana?" ajaknya teringat ucapan Chris sewaktu di restoran tadi.
Azri menoleh bingung. Widya menambahkan dengan gugup.
"Jika kau bosan dengan makanan restoran, kita bisa mencari makanan di sana."
Pria itu diam sambil memandangnya heran. Widya sudah menduganya. Jelas sekali Azri mencurigainya. Untungnya dia tidak terlalu lama menatapnya. Pria itu mengembuskan napas lalu melangkah kembali.
"Ayo pergi ke sana."
Widya mendesah lega. Ia berhasil meluluhkan Azri. Baginya itu adalah bentuk kemenangannya yang lain. Setidaknya Azri menjadi sedikit penurut. Hanya sedikit.
Apa kejadian saat pelatihan tadi memberikan efek jera bagi Azri?
__ADS_1
***
Festival itu ramai sekali. Widya sampai kesulitan berjalan di antara orang-orang yang berlalu lalang di sana. Azri tampak tidak peduli dengan semua euforia di sekitarnya. Aneh sekali, padahal semua orang bersenang-senang di sana termasuk Widya sendiri.
Mereka masuk restoran sederhana yang menyajikan aneka hidangan laut. Azri tidak terlihat menikmati makanannya. Widya memperhatikan sejak tadi Azri menyingkirkan sayuran yang ada di piringnya. Sepertinya dia tidak terlalu suka makanan para penganut vegetarian itu. Inisiatif Widya menukarkan piring makanan mereka.
Azri menatapnya tanpa ekspresi. Entah bingung ataupun kaget. Widya hanya tersenyum.
"Makanlah. Itu tidak ada sayurannya."
Azri awalnya curiga, tetapi setelah melihat Widya yang tersenyum hangat sambil menopangkan dagu, kewaspadaannya menurun. Widya mungkin hanya bermaksud membantunya. Azri memakannya tanpa protes lagi. Widya senang melihat Azri bersemangat makan kali ini. Ia bisa makan dengan tenang.
"Kenapa kau mendadak baik seperti ini?" tanya Azri menginterupsi.
Widya tercengang menatap Azri. Apa gelagatnya bisa terbaca dengan mudah?
"Aku ingin minta maaf soal yang tadi," ucap Widya merasa bersalah.
"Sudah kuduga," gumam Azri cuek.
"Aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukanmu. Ini menyangkut kredibilitasku sebagai seorang pelatih. Aku harus tegas, aku tidak bisa mendiskriminasikan siapapun. Sekali lagi maafkan aku.“
Azri hanya menggumam sebagai responnya. Widya tidak bisa duduk tenang. la menanti dengan cemas jawaban Azri untuknya.
Widya tersentak karena ia tidak menyangka Azri akan membawa-bawa Chris dalam pembicaraan ini. Apa hubungan Chris dengan masalah mereka? Lagipula rasanya janggal mendengar Azri ingin tahu sesuatu tentangnya. Ia meneguk minumannya dulu sebelum menjawab.
"Chris hanya teman. Dia adalah peserta trainning pertamaku. Saat itu aku baru saja resmi diangkat menjadi trainer. Mungkin karena usia kami yang tidak jauh berbeda kami jadi cepat sekali akrab. Dia orang yang sangat supel, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Ayahmu sendiri yang menempatkannya di posisi manager karena terpukau dengan kemampuannya. Dan kau tenang saja, kami tidak terlibat hubungan asmara atau apa pun."
Rupanya hanya teman, batin Azri. Ia tersenyum tanpa sadar setelah mengetahui Chris bukanlah ancaman baginya.
Tunggu, ancaman? Bagaimana ia bisa berpikir Chris adalah ancaman? Yang benar saja. Bagaimana juga ia merasa terganggu dengan hubungan Chris dan Widya? Ini sangat aneh.
"Widya?"
Perhatian kedua orang itu teralih ke arah samping ketika seseroang menyebutkan nama Widya. Azri mengerutkan kening karena ia merasa tidak kenal pada pria yang berdiri di depan mereka sekarang. Pandangan pria itu tidak tertuju padanya melainkan pada Widya. Ia memutar cepat perhatiannya pada Widya dan terkejut, karena mimik gadis itu terlihat tercengang.
"Adam Lewis?" lirihnya antara kaget, senang, dan tak percaya.
Sebelum Azri sempat bertanya siapa pria yang baru disebutkan namanya itu, Widya sudah lebih dulu bangkit lalu mereka berpelukan tepat di depan Azri.
Mereka! Apa-apaan.
Azri membulatkan matanya melihat adegan yang terjadi tepat di depan matanya. Tidak hanya berpelukan bahkan pria bernama Adam itu berani-beraninya mencium pipi Widya dengan mesra dan Widya tidak keberatan sama sekali, malah senang.
__ADS_1
Siapa pria itu? Tanpa sadar Azri menggeram marah karena tidak tahu apa pun tentang pria itu. Ia memperhatikan pria bersosok tinggi tegap itu. Rupanya harus diakui -meksipun Azri enggan sekali mengakui -tampan untuk ukuran pria seusianya.
"Kejutan sekali bisa bertemu denganmu di sini.“ Adam menggenggam kedua tangan Widya erat.
Wajah Widya merona kemerahan, tersipu. Ekspresi yang membuat Azri semakin kepanasan sendiri.
"Aku juga tidak menyangka."
Azri berdeham keras dengan sengaja. Keduanya pun sadar bahwa sejak tadi melupakan keberadaan satu orang lagi di dekat mereka. Azri menatap keduanya dengan tajam, menyelidik, dan dingin.
"Oh, maaf aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Dia siapa?" Adam bukannya memperkenalkan diri malah bertanya pada Widya, seolah Azri lah orang ketiga dalam pertemuan itu.
"Dia Azri El Pradipta," jelas Widya tanpa embel-embel apa pun.
Azri mendelik menatap Widya karena gadis itu memperkenalkan dirinya bukan sebagai suami. Astaga, apa gadis ini akan berpura-pura menjadi gadis single di sini?
Yang benar saja.
"Azri, dia Adam Lewis."
Mereka saling berkenalan dalam suasana yang kaku karena saling menyelidiki satu sama lain. Namun, sikap Adam lebih sopan karena hanya menatap Azri dalam diam sementara Azri jelas-jelas menyelidiki pria itu seolah dia orang asing yang ingin mencuri uang mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Widya.
"Aku sedang mengumpulkan beberapa bahan untuk pekerjaanku, kulihat tempat di sini cukup ramai."
"Oh, rupanya kau seorang pedagang." potong Azri membuat Adam dan Widya menoleh.
"Dia bukan pedagang, dia seorang arsitek," ralat Widya.
Azri terkejut lantas memandang Adam. Pria itu mengangguk.
"Dia benar. Aku memang arsitek. Kau lihat bukit itu?"
Keduanya langsung memalingkan perhatian pada sebuah bukit hijau yang ada di belakang mereka.
"Klienku akan membangun tempat penginapan di sana karena itu sebelum pembangunan benar-benar dimulai, aku harus mempersiapkan segalanya agar tidak salah perhitungan nanti.“
Widya mengangguk kagum sementara Azri mencibir pelan. Selanjutnya mereka mengobrol seru, melupakan keberadaan Azri di sana—bahkan mereka berjanji akan bertemu kembali di festival itu esok harinya saat mereka pamit pulang satu jam kemudian.
Bersambung ....
Likein
__ADS_1