Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 49


__ADS_3

Widya melalui sisa hari nya di kantor dengan perasaan yang tak menentu. Beruntung hari ini tidak ada jadwal untuk memberikan pengarahan pada pegawai-pegawai baru Pradipta Group sehingga ia bisa merenungkan apa yang akan dilakukan nya untuk menghadapi Azri setelah rapat itu selesai nanti. Ia harus memberikan ekspresi yang benar.


Jika Azri gagal mendapatkan kontrak itu— Widya ragu itu terjadi—ia harus memasang wajah prihatin meskipun dalam hati ia lega karena tidak perlu meladeni Azri. Jika sampai Azri berhasil, ia tidak boleh terlihat sedih atau pun terlalu antusias.


Widya berdebar-debar dan tersipu sendiri memikirkan mereka akan tidur bersama malam ini jika Azri berhasil. Ia tidak boleh terlihat amatiran sampai Azri bisa memperlakukan nya semena-mena saat mereka memulai nya nanti. Ia kembali membuka buku yang menjelaskan tips-tips saat bercinta. Ia membaca nya dengan serius meskipun terkadang geli sendiri membayangkan kata-perkata yang dijelaskan buku itu di dalam pikiran nya.


"Kamu sedang apa, sih? Serius sekali."


Kemunculan Bella yang tiba-tiba sangat mengejutkan Widya. Ia memasukkan buku nya dengan panik ke dalam laci meja lalu memandang sahabat nya itu dengan wajah bingung.


"Serius apa?"


Bella mendelik curiga. Tanpa sempat dicegah, Bella membuka laci meja kerja Widya dan mengambil buku yang tadi di jejalkan ke dalam sana. Gadis itu membelalak kan mata ketika membaca judul buku di tangan nya.


"Widya Lovarza kamu—"


"Sssstt!" sela Widya panik sebelum Bella berteriak histeris. Ia melirik ke arah karyawan lain yang tetap sibuk pada pekerjaan nya lalu mengembuskan napas lega.


"Kenapa kamu membaca buku macam ini? Kamu terlihat seperti maniak," desis Bella pelan.


"Maniak!" bentak Widya tertahan. Ia tidak suka kata-kata itu. Ia bukan maniak yang suka melampiaskan hasrat nya dengan membaca buku seputar ****.


"Lalu kenapa kamu serius sekali membaca nya? Tidak mungkin kan kalau kamu berniat mempraktikkan semua nya dengan suami mu?"


Widya mendesah lalu menghempaskan diri nya pada sandaran kursi. Sayang nya ucapan Bella tepat pada sasaran. Ia memang membaca nya agar tidak tampak kaku saat berhadapan dengan Azri nanti. Bodoh nya ia karena tidak mengetahui apa pun seputar itu sebelum ia menikah dulu.


"Memang kenapa kalau benar?" lirih Widya dengan pipi merona malu.


Bella terperanjat kaget. Mata nya melebar penuh minat. Ia bicara dengan pelan, nyaris berbisik, "Kamu serius? Jangan bilang ini pertama kali nya untuk mu?"


Widya menatap nya ragu sesaat sebelum akhir nya mengangguk pasrah. Bella menutup mulut nya dengan kedua tangan lalu menggeleng dramatis.

__ADS_1


"Jadi dia belum menyentuh mu hingga detik ini?“


Widya terkesiap. “Ku kira selama ini kamu tahu. Bukankah aku sudah pernah bercerita?"


Bella menggeleng lagi. “Tidak, ku pikir yang kamu ceritakan waktu itu adalah saat ketika Azri memaksa mu meladeni nya padahal kamu tidak mau, ku kira kalian pernah melakukan nya sebelum itu." Ia menarik kursi yang ada di meja kosong di sebelah meja Widya lalu duduk sedekat mungkin dengan sahabatnya itu, berbicara dengan nada pelan, tetapi misterius seolah pembicaraan mereka rahasia. “Jadi, kalian melewatkan malam pertama kalian?"


Widya membenarkan posisi duduk nya dengan gugup. "Saat itu dia sangat tidak menyukai ku. Mana mungkin dia mau menyentuh wanita yang dibenci nya."


"Tapi, dia Azri. Sayang sekali jika dia melewatkan hal bagus di hadapan nya apa lagi jika itu benar-benar sudah menjadi milik nya. Ya ampun Widya, sepertinya dia benar-benar mencintai mu."


Widya mengerjap. "Mencintai ku apanya? Membenci ku baru benar."


Bella menggenggam tangan Widya dan menatap nya gemas. "Widya, Azri tidak menyentuh mu karena dia menunggu sampai kamu setuju. Dia menunggu sampai kamu siap berhubungan dengan nya. Astaga, dia pria yang sangat pengertian dan gentle."


Widya tidak habis pikir dengan cara berpikir Bella yang suka melompat-lompat dan melantur. Bella tidak tahu saja kalau Azri itu pria termesum, seenak nya, arogan, licik, dan tidak mau rugi yang pernah ia kenal seumur hidup. Jika tidak terikat kontrak mungkin ia sudah meminta cerai sejak jauh-jauh hari tak peduli seberapa banyak harta yang dimiliki nya serta setampan apa penampilan nya.


"Jadi kamu membaca ini untuk menyenangkan nya?" Bella menaik turunkan alis nya cepat dengan eskpresi jahil.


"Astaga ...." Bella memukul bahu nya gemas.


"Jujur saja apa susah nya sih, kamu jatuh cinta pada nya, benar kan?"


"Apa?" Widya terperanjat. "Jangan bicara melantur," tepis nya sambil mengibaskan tangan.


Apakah di wajah nya tertulis dengan jelas bahwa ia jatuh cinta pada pria itu? la tidak mau sampai Bella tahu dia jatuh cinta pada Azri. Jika Bella sampai tahu mungkin Ryan akan mengetahui nya juga dan jika Ryan tahu, mungkin Azri akan tahu juga. Ia tidak bisa membayangkan ekspresi Azri yang menindas nya saat tahu bahwa gadis yang coba ia takhluk kan ternyata sudah jatuh cinta pada nya sejak lama. Azri bisa semakin besar kepala dan seenak nya.


"Kamu tidak perlu malu. Wajar saja untuk seorang istri jatuh cinta pada suami nya." Bella mengedipkan mata nya jahil. kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Adam dulu.


"Aku pinjam buku ini, isinya cukup menarik. Ini akan menjadi bacaan ringan yang menyenangkan."


"Untuk apa?" Widya curiga. "Kamu tidak berniat mempraktikkan nya dengan Ryan, kan?"

__ADS_1


Bella membelalak kan mata. "Jangan gila! Kami belum menikah, bahkan pacaran pun belum." Bella menggulung buku itu sebelum Widya merebutnya kembali. "Omong-omong, kamu harus melakukan persiapan untuk menyambut Azri."


"Persiapan?" Widya merengut bingung. Bella mengangguk antusias.


***


Widya tidak pernah menyangka bahwa persiapan yang di maksud Bella adalah tentang bagaimana penampilan nya di depan Azri nanti. Visual sangat penting untuk menstimulasi hormon testosteron pria, sehingga bisa meningkatkan kepuasan saat berhubungan, itu yang ditekankan Bella dengan yakin pada nya.


Oleh sebab itu sekarang ia terperangkap di dalam sebuah toko yang menjual, pakaian dalam wanita dan pria. Pipi Widya terasa panas hanya dengan melihat aneka model gaun tidur dengan bahan transparan yang terpajang di seluruh toko.


Bella begitu antusias memilihkan gaun tipis yang dia sebut lingerie untuk nya. Dia bahkan sempat-sempat nya memberikan beberapa tips cara memilih gaun tidur itu sesuai dengan bentuk tubuh nya agar terlihat menggoda saat di tempat tidur. Widya terpaksa membekam mulut Bella agar tidak berbicara terlalu keras. la malu kalau sampai ada orang lain yang mendengar nya.


"Aku tidak tahu kamu tahu banyak tentang ini, Bella, kamu benar-benar penuh kejutan.“


Widya sedikit meringis ketika Bella menunjuk kan padanya lingerie dengan bahan sutera bermotif macan tutul. Ia menolak memakai gaun semacam itu apa pun alasan nya. Bella dengan kecewa mengembalikan gaun tidur itu ke tempat nya.


"Sebenar nya aku juga tahu dari Ryan," ucap nya santai lalu memilihkan lingerie yang lain. "Dia tahu segala nya tentang wanita," tambah nya ringan.


Widya memutar bola mata nya malas. "Tentu saja, itu karena dia pandai sekali merayu wanita. Dia pasti sudah sering membelikan hadiah semacam ini untuk teman-teman kencan nya, karena itu dia tahu banyak."


"Tidak, dia bilang dia tahu itu dari kakak perempuan nya. Kakak nya sering meminta pendapat pada nya tentang ini untuk menyenangkan suami nya. Lihat, dia adik yang manis, bukan?" Bella justru membela Ryan.


Widya hanya mendesah pasrah sambil menggelengkan kepala. Sudahlah, sebaik nya ia menyerah saja menasehati Bella agar tidak termakan rayuan Ryan. Sahabat nya ini benar-benar sudah jatuh cinta pada Ryan.


Perjalanan mereka berlanjut pada spa dan perawatan seluruh tubuh. Bella mengajak Widya mengunjungi salon spa langganan nya dan Widya dipaksa melakukan semua perawatan dari ujung rambut hingga kaki. Ya ampun, dia terlihat seperti wanita yang akan menjadi pengantin padahal pernikahan nya sudah berlangsung lama sekali.


"Menyenangkan, bukan?" ucap Bella setelah perawatan itu selesai dua jam kemudian.


Widya harus mengakui bahwa spa membuat nya relaks dan segar. la seolah dilahirkan kembali dan tubuh nya bugar seperti habis berolahraga. Ia melirik jam tangan, mungkin Azri akan pulang satu jam lagi. la harus ada di rumah sebelum itu. la pun ingin tahu apa hasil rapat bersama GN Group.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2