Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 70


__ADS_3

"Terima kasih, malam ini indah sekali."


Widya berkata setelah mereka tiba di apartement. Malam ini adalah malam paling luar biasa. Melewatkan makan malam romantis hanya ada dalam mimpi sebelumnya dan ia tidak percaya Azri El Pradipta bisa mewujudkannya.


Azri membalas ucapan Widya dengan senyum manis di bibir. Ia menyampirkan jasnya di sandaran sofa lalu menarik Widya ke pelukanya.


"Untuk istriku, apa pun akan kulakukan."


Suara serak pria itu terdengar seksi, dan menggelitik telinga Widya. Gadis itu terkekeh kecil, membiarkan jari-jari Azri merapikan rambutnya.


"Apa ada yang lucu?" tanya Azri sedikit merasa kesal.


Widya menggeleng. "Aku tidak menyangka bisa mendapatkan semua ini, mengingat dahulu kamu begitu membenciku."


Azri ikut tertawa padahal tidak ada satupun yang lucu. Diam-diam tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuk Widya.


"Kamu adalah wanita luar biasa, karena bisa mengubah rasa benciku menjadi cinta." la menundukkan kepalanya untuk memberikan satu kecupan selembut bulu di bahu istrinya yang terbuka.


"Apakah kamu bahagia dengan kenyataan itu?" Widya berkata sambil mengendalikan napasnya. Sentuhan mirip sengatan listrik itu membuat tubuhnya meremang.


"Sangat bahagia." Azri membelai lembut tengkuknya dengan ujung jari, berhasil meloloskan satu desau putus asa dari mulut Widya.


Lihat betapa pintar kamu memanaskan gairahku, geram Azri dalam hati.


Widya merasakan kecupan yang semula ringan secara perlahan berubah menjadi kecupan yang lebih dalam, dan memabukkan. Gaun model bahu terbuka yang dikenakannya memudahkan bagi Azri memulai segalanya. Ini memang sudah rencananya sejak awal. Dia ingin kembali melewatkan malam yang indah bersamanya. Widya melemah dalam pelukan Azri.


"Aku menginginkanmu," bisik Azri susah payah sambil memeluk Widya dengan putus asa.


Tentu saja Widya bisa merasakan ledakan ga****h Azri dari sentuhannya. Mata mereka bertatapan. Napas keduanya sama-sama memburu, terbakar oleh ******* yang sama.


"Katakan Widya, katakan." Azri berbisik, merangkum wajah Widya dengan telapak tangannya. Suaranya terdengar begitu lirih dan tersiksa.


"Aku." Widya kesulitan bernapas, tangannya naik membelai tengkuk Azri.


Aku juga sama sepertimu, terbakar oleh rasa ini karena itu kumohon, jangan siksa aku dengan suaramu, batin Widya.


"Lakukanlah."


Meskipun matanya tertutup, tetapi Widya tahu bahwa Azri menyeringai, detik berikutnya bibir mereka berpagut. Widya meresapi setiap momentum dengan kesungguhan hati. Ia akan mengenang apa yang terjadi malam ini.


Azri berniat membawa Widya dalam gendongannya, tetapi ia lekas mencegah.


"Tunggu ...." Widya mengangkat satu tangannya panik.

__ADS_1


Azri mengerling bingung dengan kening berkerut. "Kenapa?"


"Aku tiba-tiba saja haus. Kamu lebih dulu saja ke kamar, hanya sepuluh menit." Widya bergegas ke dapur.


Azri terheran-heran melihat tingkah aneh Widya, tetapi ia membiarkannya. Apa yang akan dilakukan gadis itu?


Widya menarik salah satu laci di kitchen set lalu mengeluarkan satu strip obat. Tanpa sepengetahuan Azri, Widya mengeluarkan pil pencegah kehamilan ke telapak tangannya.


Inilah alasan mengapa ia tidak kunjung hamil meskipun Azri tidak menggunakan pengaman setiap kali mereka berhubungan intim. Pria itu tidak tahu sama sekali bahwa selama ini, Widya meminum pil ini demi mencegah datangnya malaikat kecil dalam perutnya.


Widya berniat meminumnya, tetapi kali ini ia ragu. Sebenarnya ia sedih harus meminum pil semacam ini. Tak bisa dipungkiri ia berharap bisa menjadi seorang ibu dan di atas segalanya, ia ingin mengandung anak-anak Azri El Pradipta. la ingin menyandang gelar kehormatan sebagai wanita yang melahirkan anak-anak pria itu.


Namun, apa yang harus dikata, takdir mencegah ia mengabulkan harapannya. Widya menghela napas, lebih baik cepat minum ini dan selesaikan segalanya. Ia berniat memasukkan pil itu ke mulutnya ketika tiba-tiba saja sebuah tangan mencekal tangannya. Alhasil pil itu jatuh ke lantai.


Widya kaget luar biasa ketika matanya bertatapan dengan mata Azri yang menyala-nyala. Bibirnya tidak bisa berkata-kata karena kini Azri menatapnya tajam.


"A-azri," lirihnya terbata. Apa Azri mencurigai obat yang akan diminumnya?


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu meminum pil itu?"


Suara Azri terdengar begitu menusuk hatinya. Membuat jantung gadis itu seolah membentur dadanya. Widya panik, ia bingung harus berkata apa untuk menjelaskannya.


"Itu suplemen, kamu tahu bukan aku mudah sekali sakit akhir-akhir ini."


Dengan kasar, tetapi tidak menyakiti Azri menghentakkan tangan Widya lalu mengambil strip obat yang ia sembunyikan di dalam laci salah satu kitchen set.


Widya merasa dunianya akan berakhir ketika Azri mengenggam strip obat pencegah kehamilannya dengan mata menajam.


"Kamu pikir aku tidak tahu obat apa ini?" tegas Azri sarkastis seraya mengacungkan obat itu.


Widya hanya bisa membuka mulut tanpa ada satupun kata yang terucap.


"Itu."


"Kamu pikir aku tidak tahu ini adalah obat pencegah kehamilan?"


Suara Azri mulai meninggi. Dengan marah pria itu melempar obat itu ke dalam tempat sampah lalu kembali menatap Widya yang mengerut di sudut kitchen set.


Widya melonjak kaget ketika Azri dengan emosi memuncak melempar obatnya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa pun karena ia seperti menghadapi Azri di saat mereka pertama kali bertemu dulu. Mata hitam pria itu begitu mengintimidasi.


"Kenapa kamu meminumnya?!" bentaknya. “Apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?! Kamu bahkan tidak mendiskusikannya denganku?! Pantas saja kamu tidak kunjung hamil bahkan setelah beberapa kali kita tidur bersama. Kenapa kamu melakukan ini padaku?!"


Widya tidak tahu bahwa Azri akan begitu tersinggung sampai otot-otot di lehernya terlihat. Pria itu benar-benar marah. Ia tidak pernah tahu akan seperti ini. Ia kira Azri tidak akan mau memiliki anak dengannya.

__ADS_1


Azri menggertakkan giginya, dia tampak begitu frustrasi. "Aku mengira selama ini ada yang salah dengan diriku atau dengan caraku melakukannya. Ternyata obat sialan itu penyebabnya!" Widya memekik karena tiba-tiba saja Azri mencengkeram kedua pundaknya. "Kenapa kamu meminumnya?“ tanyanya dengan nada terluka, membuat Widya terdiam cukup lama dengan rasa bersalah yang menyedotnya seperti pasir hidup. "Apa kamu ingin pergi dariku?"


Pertanyaan lirih itu membuat Widya terperangah.


"Apa kamu ingin pergi dariku sehingga tidak perlu bagimu mengandung anak-anakku?" Azri bertanya dengan nada yang semakin terdengar menyakitkan bagi Widya.


Ya Tuhan, aku sudah melukai perasaan Azri. Apa yang harus aku lakukan? "Maaf." Akhirnya hanya itu yang bisa Widya ucapkan dengan penuh sesal.


Mata mereka kini bertatapan dan Widya merasa punggungnya mulai sakit karena terjepit antara tubuh Azri dan meja dapur.


"Kenapa kamu meminta maaf padaku? Apa kamu benar-benar ingin pergi dariku?"


Suara Azri yang rendah membuat dada Widya sakit. Tidak, ia tidak ingin pergi dari Azri, tetapi Ayahnya yang memaksanya pergi dari Azri.


Widya berusaha agar suara ringisan tidak lolos dari mulutnya. Namun, Widya tidak terlalu pandai menyembunyikan raut kesakitan dari wajahnya.


"Katakan, apa masih ada yang kamu sembunyikan dariku?"


Pertanyaan Azri menyiratkan seolah pria itu mengetahui sesuatu. Jantung Widya berdegup kencang. Mungkinkah Azri mengetahui perihal perjanjian yang susah payah ia sembunyikan?


"Ti-tidak." Widya begitu gugup, takut, sekaligus kesakitan.


Azri mendekatkan wajahnya, berbicara tepat di sudut bibir Widya.


"Obat itu, Widya. Apa hanya itu yang kamu sembunyikan dariku?"


Ternyata Azri membahas soal obat! Ada sedikit rasa lega memenuhi hatinya. Widya menggeleng cepat, membiarkan bibirnya dikecup berkal-kali oleh Azri. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya untuk melunakkan pertahanan Widya sehingga tanpa sadar ia akan membeberkan seluruh rahasianya.


Taktik yang sungguh berbahaya. Widya memang sudah tak berdaya. Lututnya mungkin sudah melumer di lantai jika Azri tidak lekas men jauh.


Azri sadar dirinya sudah membuat Widya terlalu tersudut lantas memeluk tubuh gadis itu dan membalikkan posisi mereka.


"Aku tidak peduli apa alasanmu meminum obat itu, tetapi aku ingin kamu tahu bahwa sejak pertama kali kita bercinta ...." Azri diam sejenak untuk menatap Widya, napas keduanya sama-sama memburu. “Aku ingin membuatmu hamil."


Kedua mata Widya membulat, terpaku pada mata hitam pekat Azri yang menatapnya dengan sungguh-sungguh.


"Aku akan membuatmu mengandung, sehingga kamu tidak akan bisa lari dariku meskipun kamu ingin."


Azri tidak memberikan Widya kesempatan untuk mengelak karena pria itu memeluknya begitu erat, tangannya sudah menggerayang di balik tubuh Widya dalam usaha menurunkan gaun Widya dari tubuhnya.


Widya tidak pernah bisa berdaya menghadapi dominasi Azri.


Seluruh permasalahan bercampur aduk dalam pikiran Widya saat ini. Dikungkung oleh rasa yang membuatnya melambung tinggi, satu-satunya yang terpikir jelas hanyalah kenyataan bahwa Azri sedang berusaha mengikat dirinya, tidak membiarkannya pergi. Itu merupakan kenyataan yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Sedikit membuatnya lega dari perasaan takut yang selalu Mahendra berikan padanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2