
"Selagi kamu memulihkan diri, biarkan aku yang melakukan pekerjaanmu. Aku akan membantu Ayah membangun Pradipta Group kembali," ucap Widya ketika ia dan Azri sudah duduk manis di dalam mobil. Sopir yang duduk di depan hanya tinggal menunggu instruksi dari mereka saja.
Widya tidak memperkenankan Azri menyetir karena kondisinya yang masih belum pulih seratus persen dan Azri tidak akan pernah mengizinkan Widya mengemudikan mobil dalam kondisi hamil 7 bulan. Perutnya sudah mulai membuncit.
"A-a, kamu tetap di rumah Nyonya Pradipta! Setelah aku keluar dari rumah sakit tugas itu menjadi tanggung jawabku kembali,“ sanggah Azri tegas, tak menerima bantahan. "Kamu juga harus berhenti bekerja, mengerti. Urus saja bayi kita dan dirimu, kamu terlalu kurus untuk ukuran ibu hamil."
"Tapi." Widya ingin membantah tapi tiba-tiba ia meringis.
"Kenapa?" Azri langsung mendekat dengan panik. Ia cemas melihat Widya memegangi perutnya. Tidak, jangan sampai terjadi sesuatu dengan bayi mereka.
Widya mengintip melalui bulu matanya. "Si kecil menendang dengan sangat keras. Sepertinya dia tidak ingin aku membantahmu."
Seringaian Azri langsung menguar. “Jelas dia menuruni sifat ayahnya."
Dengan sangat bangga Azri mencondongkan wajahnya ke dekat perut Widya. "Hei Jagoan, kamu harus sering menendang ibumu saat dia sulit sekali diatur ayahmu, mengerti." Ia lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
Widya melihatnya dengan perasaan terharu. Tak pernah terlintas sekalipun dalam bayangannya bagaimana Azri setelah menjadi seorang ayah nanti. Apa mungkin akan menjadi Cool Daddy yang seksi dan menawan? Atau menjadi Great Daddy yang kuat dan mengagumkan? Entahlah, yang manapun ia akan menyukainya.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu, Sayang?"
Azri heran ketika ia menegakkan tubuhnya, ia menemukan Widya menatapnya dihiasi senyum simpul.
"Kamu akan terlihat memesona saat menjadi ayah nanti dan aku mencintaimu seperti apa pun dirimu." Widya tulus, mengatakannya tanpa maksud untuk memuji atau menyanjung Azri. Ia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya.
Namun, rupanya kata-kata itu berhasil menyentuh Azri. Pria itu menunjukkan senyum serupa, "Apa kamu ingin hadiah ciuman dariku?" Widya mengeryit karena tiba-tiba suara Azri berubah serak.
"Apa kata-kataku tadi terdengar seperti rengekan meminta ciuman?"
Mata Azri langsung menyipit. "Mulutmu memang mulut tukang debat, Nyonya Pradipta. Pantas diberi pelajaran."
"Ingat kita tidak sendiri." Widya mencegah ketika Azri mencondongkan tubuh hendak meraih bibirnya. Ia melirik ke depan, ke tempat sopir sudah siap di balik kemudi.
"Apa kamu bisa meninggalkan kami sejenak?“ tanyanya sopan pada supir kepercayaan ayahnya itu. Pria paruh baya itu tersenyum lalu keluar dari mobil, meninggalkan mereka berdua di dalam mobil.
"El, kamu ini!" Widya memukul dada Azri main-main. Pria itu hanya menyeringai sambil meraih pinggangnya.
"Jadi Ibu, apa kamu siap dengan ciuman ala pangeran dari negeri dongeng?"
"Astaga, kamu menyebut dirimu seorang Pangeran?"
Seringaian Azri melebar, "Dan kamu seorang putri yang cantik."
Pujian Azri yang tidak bernada menggoda sama sekali itu tetap saja membuat Widya merona malu. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Azri lalu mencengkeram kerah kemejanya. Dengan mesra ia berbisik, "kalau begitu ayo cium aku."
"Dengan senang hati."
Detik berikutnya, bibir mereka saling berpagut. Widya mencium Azri lebih antusias dibandingkan biasanya. Entahlah, pengaruh hormon kehamilan membuat gairahnya menjadi tidak stabil dan meledak-ledak di saat yang tak terduga.
Pernah suatu kali ketika Mahendra dan Bibi Swari pulang dan para suster ber istirahat, Widya dengan malu meminta itu pada Azri dan mereka melakukannya di atas ranjang rumah sakit. Widya merasa sangat liar saat itu. Setelah hormonnya kembali normal ia merasa begitu malu sampai tidak berani menatap suaminya selama tiga hari.
Dan Azri tidak pernah keberatan dengan keliaran Widya di masa kehamilannya itu. Justru ia merasa sangat senang. Seperti kali ini, ia biarkan saja Widya melakukan semua keinginannya dibandingkan dirinya yang selalu menciumnya dengan lebih menuntut. Ia hanya ber tugas sebagai penyeimbang, menahan Widya dalam pelukannya.
__ADS_1
Ketika Widya terlalu menikmati ciuman itu, ia tidak sadar telah mendesak Azri hingga pria itu tersudut di ujung kursi.
"Wow, wow, Princess, kamu tidak bisa memperkosaku di dalam mobil ini," sela Azri membuat Widya tersentak sadar lalu melepaskan bibirnya.
Gadis itu mengerjap karena entah sejak kapan tangannya sudah bergerak melepaskan jas yang dikenakan suaminya.
"Oh my, maafkan aku."
Widya langsung mundur dengan wajah memerah. Ini sangat memalukan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena tanpa melihat pun ia tahu Azri sedang menahan tawa mati-matian.
"Aku tidak keberatan sama sekali, sungguh. Kamu bisa melakukannya lagi saat kita sudah memiliki privasi lebih di rumah nanti."
Widya mengerang. Benar bukan? Belum semenit Azri sudah menggodanya. "Diamlah, kamu menyebalkan."
Tawa Azri langsung meledak. Widya semakin menundukkan kepalanya menahan malu. Cara Azri tertawa sungguh tidak sopan.
"Sayang, aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu marah." Ia memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Maaf jika aku menjadi wanita murahan karena hormon kehamilan."
"Ya Tuhan, wanita murahan?" Azri menahan senyum, "kamu adalah istriku yang seksi dan liar."
"Azri El Pradipta diamlah!!"
"Baik, baik." Azri mengalah, tetapi ia tidak melepaskan pelukannya.
"Omong-omong, kita tidak pernah berkencan seperti pasangan remaja. Bagaimana kalau hari ini kita kencan sambil jalan-jalan?"
"Aku setuju!"
***
Sejak segala masalah terselesaikan, entah kenapa dunia terasa seperti penuh dengan bunga, keceriaan dan tawa. Widya merasakan hal itu ketika ia tiba di taman kota. Menyaksikan orang-orang yang berkunjung di sana, anak-anak yang berlarian, dan burung-burung yang terbang di langit membuatnya bahagia. Padahal ia selalu melihat pemandangan itu setiap hari saat berangkat atau pulang bekerja.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari," desah Azri sambil memandang ke sekitar. "Tempat ini tidak berubah."
"Tentu saja, yang berubah hanya kamu yang tumbuh semakin besar dan pohon-pohon yang semakin tinggi," sahut Widya sambil menggandeng tangannya. Ia tidak melewatkan kesempatan untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. "Ah, benar-benar seperti berada di surga."
"Aku selalu senang melihatmu bahagia." Azri tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya.
Widya menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak suaminya. Ketika ia melihat mobil yang menjual eskrim aneka rasa ia melonjak senang.
"Aku ingin es krim itu!" rengeknya seperti anak kecil, ia menarik-narik jas Azri.
"Baik, Sayang. Kamu tak perlu memintanya dengan cara yang menggemaskan. Tunggu di sini."
Widya tersenyum mengetahui Azri begitu pengertian, pria itu seperti suami pada umumnya, yang rela melakukan apa pun demi memenuhi keinginan istrinya yang sedang mengandung. Seandainya Azri masih seperti dulu arogan, keras kepala, dan kejam -ia tidak yakin akan segembira ini saat hamil.
Azri kembali beberapa menit kemudian dengan satu cone es krim rasa cokelat. Widya merengut.
"Aku ingin rasa strawberry."
__ADS_1
Pria itu mengerutkan kening. “Bukankah kamu suka cokelat?"
Itu memang benar, tetapi entah kenapa saat ini ada keinginan kuat dalam hatinya untuk mencicipi es krim rasa straberry.
"Aku ingin strawberry!” bentak nya tak bisa di bantah.
"Baik, baik." Azri ber gegas pergi untuk menukar kan es krim nya. Sekarang ia mem bawa eskrim dengan rasa strawberry. Widya men cicipi nya sedikit lalu me ringis.
"Rasa nya manis."
Azri melemas kan bahu, “Tentu saja, ini es krim."
"Tapi." Widya menaut kan telunjuk nya dengan ekspresi di buat se imut mungkin. "Aku ingin asam, seperti rasa strawberry."
"Astaga." Azri mengerang.
Jika Widya tidak sedang dalam masa kehamilan nya ia tidak akan mau meladeni permintaan nya yang aneh-aneh.
Tak lama Azri kembali dengan es krim yang di bubuhi cacahan buah strawberry. "Ini Putri, ku harap pesanan nya sesuai dengan lidah Yang Mulia."
Widya me natap es krim itu sekilas lalu ter senyum manis. "Aku sudah tidak ber selera lagi, kamu saja yang me makan nya. Ayo."
Azri langsung ter belalak seolah Widya menyuruh nya me minum racun. "Aku? Tapi Widya, kau tahu aku tidak kuat me makan makanan asam."
"Aku tidak mau tahu, cepat lah!"
Aku sudah tidak tahan lagi! Azri ingin sekali ber teriak. Namun, ia tidak tega me lihat Widya begitu me mohon pada nya. Akhir nya dengan hati setengah rela setengah me nolak ia men cicipi eskrim itu dengan ujung lidah nya. Ia langsung me ringis ketika sensasi rasa asam te rasa di indera pengecap nya.
Widya ter tawa karena ekspresi Azri sungguh lucu dan meng gemas kan. "Kamu tega sekali menyiksa ku dengan cara seperti ini," keluh nya.
Tanpa meng henti kan kesenangan nya Widya me lingkar kan tangan ke leher Azri.
"Aku akan mem bayar ini saat kita tiba di rumah."
Widya meng ucap kan setiap kata nya dengan suara yang rendah dan meng goda. Bisikan itu mem buat Azri meng gertak kan gigi karena bagian bawah tubuh nya bereaksi dengan cepat.
"Aku harap bukan acara mengidam konyol mu lagi."
Widya meng geleng kan kapala nya dengan mata menyipit misterius, "Ini tetap bagian dari sesi mengidam ku."
Kamu bisa mem buat ku mengeras di tempat ini jika terus me natap ku dengan ekspresi itu, Sayang, batin Azri.
"Kalau boleh tahu apa yang akan ku dapat kan di rumah nanti?"
Widya ter tawa kecil lalu men dekat kan mulut nya ke telinga Azri untuk ber bisik, "Sebuah jamuan panas di atas ranjang."
Mata Azri langsung me lebar. Dengan tidak percaya ia me nyeringai pada istri nya.
"Kalau be gitu, kita bisa kembali ke rumah."
Seperti pelari yang ber gerak setelah men dengar aba-aba, Azri mem bawa nya pergi dalam sekali sentakan.
__ADS_1
Bersambung ....