Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 45


__ADS_3

Widya memutuskan untuk memperlakukan Azri seperti biasa walau pun sikap pria itu sudah mulai membaik. Jika ia mendadak berubah, Azri mungkin akan kembali menjadi pria nakal seperti awal mereka bertemu, malah mungkin lebih parah. Ia tidak bisa mengambil resiko hanya untuk menerima fakta bahwa usaha nya sia-sia.


Perubahan sikap Azri di tunjuk kan saat mereka menikmati dinner malam itu bersama teman-teman mereka. Setelah tidak lagi menganggap Widya wanita jahat yang telah menjerumuskan nya, Azri menjadi sangat perhatian. Sikap nya begitu manis sampai membuat Widya terharu. Perlakuan nya pada Widya tanpa cela, dan itu terjadi bahkan pada detail terkecil.


Pria ini benar-benar menjadi sangat manis. Widya seketika teringat ucapan Ryan. Semua perempuan yang pernah menjadi kekasih Azri sangat beruntung.


Sebelum nya Azri tidak pernah peduli Widya makan atau tidak. Sekarang, pria itu memastikan ia makan dengan layak. Azri bahkan dengan senang hati mendapatkan semua makanan yang diinginkan nya.


"Lihat, seperti nya ada yang terjebak dengan kata-kata nya sendiri di sini,” bisik Ki Bum pada Jhors.


Widya begitu terpukau dalam keromantisan Azri sehingga ia tidak sadar bahwa interaksi mereka menjadi objek tontonan yang menarik bagi teman-teman nya.


"Bukankah itu justru bagus?" jawab Jhors senang.


Sebenar nya Jhors sudah merasa khawatir sejak Azri membeberkan rencana nya untuk menyakiti istri nya sendiri. Namun, ia tidak suka ikut campur urusan romansa teman-teman nya. Entah sikap romantis Azri sekarang hanya lah bagian dari sandiwara nya atau bukan, ia tetap senang melihat Azri menikmati kehidupan pernikahan nya.


Makan malam kali ini terasa lebih hangat dan hidup. Mereka makan bersama di sebuah meja panjang di ruang makan terbuka resort itu. Mereka bisa merasakan angin pantai yang sejuk dengan latar suara deburan ombak. Pemandangan yang disuguhkan dari tempat itu tampak indah.


Widya seperti sedang berkencan dengan Azri mendapati betapa manis nya pria itu memperlakukan nya. Suasana sempurna pun semakin karena Mar leen tidak hadir. Gadis itu memutuskan untuk mendekam di kamar nya, masih syok dengan perlakuan kasar Azri pada nya siang tadi. Dia memilih menikmati makan malam nya di dalam kamar, sendirian.


Syukurlah Marleen tidak datang. Widya tidak bisa menikmati makanan nya karena harus bersitegang dengan gadis itu. Marleen pasti akan menyerang nya dengan sindiran-sindiran halus dan Widya sudah pasti akan membalas nya dengan cara yang sama. Ia tidak mau perang uratnya dengan Mar leen memperburuk suasana dan membuat semua orang kehilangan nafsu makan. Absen nya Marleen telah mencegah perang yang tidak diinginkan.


Ryan tidak muncul sepanjang makan malam, ketidakhadiran pria itu membuat Bella bertanya-tanya. Ponsel nya pun tidak bisa di hubungi. Meskipun begitu, tidak ada satu pun teman nya yang cemas. Mereka meyakinkan Bella bahwa Ryan pasti baik-baik saja dan mungkin sedang bersenang-senang di suatu tempat


Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang rekreasi—begitu mereka menyebut nya—salah satu fasilitas yang disediakan untuk bermain bilyard. Para lelaki sudah sibuk dengan permainan mereka sementara para wanita duduk bersama di sudut ruangan sambil menikmati aneka hidangan penutup. Mereka mendiskusikan banyak topik menarik. Siapa sangka ternyata mereka cocok dalam beberapa hal.


Bella kehilangan semangat karena Ryan tidak ada di sana. Sebelum ia ikut menurunkan mood orang di sekitar nya, ia pun berpamitan untuk kembali ke kamar. Pikiran nya masih dipenuhi oleh pertanyaan tentang keberadaan Ryan saat ini.


"Bagaimana kalau ternyata Ryan menunggu di kamar ku lalu menyerang tiba-tiba?"


Ide gila itu terbersit begitu saja. Bella terkejut dengan khayalan nya yang liar sampai berhenti melangkah. Padahal jarak kamar nya tidak jauh lagi.


"Astaga, hal gila apa yang baru saja ku pikirkan?" Bella yang ngeri dengan pikiran melantur nya lekas menggelengkan kepala.


Ryan mungkin kerap menunjuk kan tingkah tidak terduga, tetapi bukan berarti pria itu sudah kehilangan akal. Untuk apa dia bertindak diam-diam seperti serigala yang menanti kedatangan gadis bertudung merah? Namun, mungkin itu lebih baik dibandingkan bayangan Ryan yang bersenang-senang bersama beberapa gadis pirang yang seksi.


Tidak! Jangan bayangkan apa pun lagi!

__ADS_1


Bella bergegas kembali ke kamar nya. Begitu ia tiba di depan pintu kamar nya dan bersiap menggesekkan kunci ke alat yang ada di samping pintu secara mengejutkan seseorang memeluk nya dari belakang.


"Aaaaa!"


Bella sontak menjerit, dengan agresif melepaskan diri lalu merapatkan punggung nya ke tembok. Napas nya naik-turun dengan cepat untuk mengatasi kekagetan nya sementara sang pelaku yang berdiri di depan nya hanya balas menatap bingung.


"Kamu kenapa? Seperti melihat hantu saja," sahut Ryan polos. Ia tak menyangka reaksi Bella akan seheboh itu. Padahal ini bukan kali pertama nya memeluk nya secara spontan.


Ryan tidak bisa ikut makan malam bersama karena mendapat telepon dari dan harus mengurus beberapa pekerjaan, ketika keluar dari kamar nya dan hendak pergi menemui teman-teman nya, ia melihat sosok Bella dan tubuh nya bergerak tanpa sadar menuju gadis itu.


Mengetahui bahwa si pelaku penyergapan adalah Ryan, Bella luar biasa lega. Kekhawatiran yang dirasakan nya sejak makan malam pun lenyap melihat pria itu baik-baik saja.


"Kamu mengagetkan ku, kenapa tiba-tiba muncul di belakang ku seperti itu?!" Bella menggerutu.


Baru beberapa saat yang lalu ia membayangkan Ryan muncul menyergap nya. Walaupun skenario yang terjadi sedikit berbeda, sensasi kaget yang di timbulkan nya tetap sama. Ya Tuhan, mungkin inilah yang dirasakan Gadis Tudung Merah saat serigala berusaha menerkam nya.


"Aku ingin sekali bertemu dengan mu. Syukurlah kita bertemu di sini."


"Tapi tak perlu sampai membuatku syok seperti tadi. Aku sempat mengira kamu penjahat.“


Bella memutar bola mata lalu membuka pintu dengan cepat.


Ryan ikut masuk ke dalam bahkan sebelum Bella mengijinkan nya masuk. Begitu tiba di dalam, ia kembali melakukan kebiasaan yang sangat disukai nya, yaitu memeluk gadis itu dari belakang. Rasa nya sungguh menenangkan terutama ketika aroma feromone Bella yang lembut terhirup oleh nya.


Bella berusaha menenangkan gemuruh jantung nya yang mampu mengalahkan gemuruh petir. Inilah yang terjadi manakala Ryan memberi nya perlakuan romantis. Ia tidak kuasa melawan atau pun menolak Ryan. Aneh sekali. Seperti nya Ryan memiliki pesona yang bisa melumpuhkan nya.


Sesuai yang Widya katakan, seharusnya Bella menolak Ryan karena status pria itu bukan kekasih maupun suaminya. Sikap Ryan sungguh ambigu. Dia pun tak pernah memberitahu apakah dirinya mencintai Bella atau tidak. Ryan hanya mengatakan kalau dia merindukan Bella. Apakah itu termasuk pernyataan cinta?


"Apa kamu sudah makan? Aku tidak melihat mu di ruang makan sepanjang makan malam." Bella tetap berpikir jernih. Sayang nya itu usaha yang sulit terutama ketika bibir Ryan bergerak mengecup pelipis nya.


"Kenapa, kamu mencemaskan ku? Atau, merindukan ku?"


"Aku hanya berta nya." Bella mencoba memberontak menyebabkan Ryan harus mengerat kan pelukan nya.


"Aku tidak muncul selama makan malam tadi karena ada tugas yang harus kuselesaikan. Paman tiba-tiba saja menelepon dan meminta laporan yang seharus nya ku kerjakan saat kembali dari liburan nanti. Tapi kamu tenang saja, aku sudah meminta petugas resort mengantarkan makan malam ku ke kamar."


Bella mengangguk. Dalam hati mendesah lega karena khayalan liar nya yang lain tidak terjadi. la tidak menemukan topik pembicaraan lagi setelah nya. Suasana yang hening membuat Bella merasa kan kegugupan yang menyiksa. Ia tidak boleh memberikan kesempatan pada Ryan melancarkan aksi nya.

__ADS_1


"Ryan ...." Bella menoleh ke samping.


"Hmm?" Ryan memanfaatkan kesempatan dengan mencuri satu ciuman kilat. Bella mengerjap lalu merona. Sejenak ia lupa pertanyaan apa yang ingin ia ajukan.


"Apa kamu memiliki kekasih?"


Ryan melepaskan pelukan nya, membuat Bella lega sekaligus kehilangan. Mereka kini berdiri berhadapan. Bella melihat Ryan mengusap tengkuk nya dengan canggung. "Apa pertanyaan ku terlalu blak-blakan sampai membuatmu tidak nyaman?"


"Tidak," jawab Ryan lugas. Ketegasan nya agak meragukan di mata Bella.


"Kalau begitu kamu pasti memiliki gadis yang kamu suka."


"Em." Ryan berpikir keras lalu menjawab, "Tidak."


Bella mengangguk pelan dengan perasaan mencelos. Jawaban yang sudah diduga, tetapi tetap menyakit kan saat didengar. See, Ryan memang tidak menyukainya. Satu-satunya alasan Ryan mengajak nya berlibur kemari karena pria itu kehabisan stok wanita yang bisa menemani nya bersenang-senang tanpa ikatan apa pun. Ia tak lebih dari sekedar teman kencan Ryan yang bisa ditinggalkan oleh nya kapan saja. Tak heran jika pria ini berlaku sangat romantis, tetapi memberi batas dengan jelas ketika didekati.


Kemudian Bella muncul dalam hidup nya, lugu, naif dan mudah didekati hanya dengan sedikit usaha. Bella memberi nya respon sesuai yang diinginkan nya.


Ryan bukan orang yang akan menyia-nyiakan kesempatan di depan nya. Sekarang dia memiliki wanita yang bisa di peluk nya jika ia ingin, atau dicium nya jika dia mau. Bahkan mungkin ditiduri. Bella tidak mau menjadi gadis gampangan seperti itu.


"Kenapa diam?"


Ryan mengangkat dagu Bella yang tertunduk. Ia terkesiap melihat wajah sedih Bella, terlebih mata nya sudah berkaca-kaca sekarang.


"Ke-kenapa? Apa yang salah?" Ryan mengerjap panik.


Bella lekas menghapus air mata yang menetes di ekor mata nya sebelum Ryan lebih histeris.


"Maaf, Ryan. Seperti nya aku lelah. Bisakah kamu membiarkan ku tidur sekarang?" tanya Bella lemah.


"Tentu saja. Istirahat lah. Aku tidak akan mengganggu mu."


Tak disangka Ryan langsung setuju saja membiarkan nya tidur. Aneh sekali. Apa mungkin Ryan sudah kehilangan minat terhadap nya karena ia tidak bisa memberi apa yang diinginkan nya? Bella hanya bisa menatap kepergian Ryan dari kamar nya dengan hati sedih. Benak nya bertanya-tanya.


Sebenar nya bagaimana perasaan mu pada ku, Ryan?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2