Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 97


__ADS_3

Matthew Fernandez duduk dengan tenang di balik mejanya. Tampak kepuasan tersirat di balik kulit wajahnya. Ia tersenyum puas melihat Pradipta Group mulai memasuki era kehancuran. Tinggal menunggu waktu baginya untuk bisa menguasai seluruh managemen Pradipta Group seutuhnya. Utang-utang itu sungguh membantu. Meskipun harus dilakukan beberapa trik licik untuk menjerat Mahendra El Pradipta, terbukti taktiknya berhasil. Ia hanya memanfaatkan sifat naif pria itu untuk membujuknya melakukan kerjasama. Intercom di samping kanan mejanya berdering.


"Mohon maaf Tuan, kami tidak bisa menghalangi Azri El Pradipta."


"Apa katamu? Pengawal macam apa kalian!!" teriaknya kaget sekaligus tak percaya. Ia sudah menempatkan puluhan orang untuk mencegah agar tidak ada yang bisa menerobos. Namun, bagaimana orang itu bisa melewati penjagaan ketat begitu saja? Keterkejutannya belum usai karena interupsi pengawalnya.


"Dia sedang menuju ruangan Anda, Tuan."


"Apa?"


Belum sempat Matthew menyiapkan diri, pintu ruangannya terbuka hingga membentur dinding dengan kencang. Azri El Pradipta berdiri di sana dengan wajah geram.


Matthew menatap Azri dengan kagum. Ia mengabaikan mata tajam pria itu dengan menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.


"Luar biasa, Azri El Pradipta. Kau bisa membersihkan pengawal-pengawalku dalam tempo sepuluh menit. Jujur saja kau membuatku terkesan. Ayahmu berhasil mendidikmu dengan baik rupanya. Jika pria setangguh dirimu yang memimpin Pradipta Group selanjutnya, aku yakin perusahaan itu akan berjaya."


Kalimat yang diucapkan dengan nada penuh kekaguman itu hanya terdengar seperti sebaris dialog sindiran di telinga Azri.


"Apa yang membuatmu datang kemari, Nak?"


Azri dengan berani mendekati meja Matthew. "Kau yang paling tahu tujuanku datang kemari bukan untuk berbisnis."


"Bagaimana aku tidak mengetahuinya?" Matthew merasa tertantang dengan keberanian Azri. Tak pernah ada pria muda yang berani berbicara padanya dengan nada sekasar itu, tak terkecuali puteranya sendiri, Rendra. "Kau datang untuk bernegosiasi. Benar, bukan?"


Azri menyandarkan telapak tangannya pada ujung meja. Tubuhnya membungkuk agar bisa menatap Matthew secara langsung. "Kau sudah melanggar perjanjian."


Untuk beberapa detik terjadi keheningan di ruangan itu. Matthew membulatkan mata lalu tawanya meledak, "Langsung pada intinya, Nak?" ucapnya menyindir.


Azri menegakkan tubuh. Ekspresinya tetap datar tak terpengaruh sama sekali dengan reaksi Matthew.


"Bukankah sudah tercantum dalam perjanjian bahwa tidak akan ada tindakan yang akan merugikan dua belah pihak? Lalu kenapa kau mengungkit tentang utang yang jelas-jelas membuat perusahaan kami merugi besar?"


"Semua orang pun tahu apabila seseorang mengutang, dia harus melunasinya."


"Kenapa harus sekarang? Dalam surat utang tertera kapan jatuh tempo waktu pelunasan dan itu masih dua tahun mendatang."


"Jadi kau sudah melihat perjanjian itu? Ah, rupanya ayahmu sudah menceritakan semuanya." Matthew mengangguk puas. "Tetapi aku yakin ayahmu tidak memperlihatkanmu hal ini." Ia mengambil surat perjanjian itu lalu memperlihatkannya pada Azri.


Azri membacanya dengan curiga. Ekspresinya perlahan-lahan berubah begitu ia selesai membacanya. “Kurang ajar!" desisnya dalam. Ia langsung menggebrak meja. "Bagaimana bisa kau lakukan ini pada keluargaku?!"


Matthew tertawa, “Melakukan apa? Ayahmu sendiri yang menyetujuinya."


"Itu mungkin terjadi karena kau mengancamnya! Ayahku tidak mungkin bersedia menjadi pelayanmu jika dia tidak bisa melunasi utang-utang itu. Kau pasti sudah mengubah isi perjanjian tanpa sepengetahuan ayahku."


"Nak." Matthew gembira sekali melihat Azri frustrasi. "Saat itu ayahmu putus asa. Dia membutuhkan dana besar untuk membangun perusahaannya yang hampir bangkrut. Tepat ketika ibumu sedang sekarat."


"Apa?" wajah Azri pucat pasi. Matthew tertawa puas.

__ADS_1


"Sekarang kau tahu alasan kenapa ayahmu tidak bisa meninggalkan pertemuan bisnisnya saat itu?"


Tidak mungkin! Teriak Azri dalam hati. Jadi itukah alasan sebenarnya?


"Aku yang kasihan melihat ayahmu putus asa, bersedia memberinya suntikan dana. Aku memberinya waktu selama lima belas tahun untuk melunasi hutang itu. Tetapi jika dia tidak bisa melunasinya, dia harus menyerahkan seluruh aset Pradipta Group dan mengabdikan sisa hidupnya padaku.“


Azri menggeleng, tidak mau mempercayainya. "Apa alasanmu melakukan kerjasama dengan perusahaan kami adalah untuk mengendalikan ayahku?"


Matthew lagi-lagi tertawa. “Kau memang lebih pintar dari ayahmu! Kau bisa menebak sesuatu yang tak disadari oleh pria tolol seperti ayahmu. Aku memang ingin mengendalikannya, sejak dulu aku ingin sekali menjatuhkan ayahmu. Dan lihatlah, perusahaan yang susah payah dibangun oleh keluargamu akan hancur di tanganku. Semua karena kebodohan ayahmu. Dia tidak bisa melunasi utang-utangnya. Karena itu dia ingin membuatmu menjadi CEO. Dia mencoba menentangku. Dia berharap kau bisa menemukan solusi untuk keluar dari masalahnya, dari ketakutannya menjadi budakku. Berita baiknya, kau sangat membenci ayahmu sehingga menentang semua keinginannya. Ayahmu memutuskan menikahkanmu dengan gadis bernama Widya Lovarza itu untuk membelokkan pikiranmu dari menentangnya menjadi pendukungnya."


Ini alasan lain kenapa ayahnya ingin menjadi dirinya menjadi CEO dan alasan kenapa ayahnya meminta bantuan Widya Lovarza! Itu semua dilakukan untuk menentang Matthew?


"Ayahmu sempat membuatku ketakutan dengan rencananya," aku Matthew dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat. "Karena itu aku sangat gembira ketika putriku bersedia membantu, kebetulan, kami memiliki dendam yang sama pada kalian."


Sial, sial, sial!


Lia ternyata mendapat dukungan penuh dari Matthew sejak awal. Bagaimana bisa ia berpikir gadis itu memaksa ayahnya? Tentu dengan senang hati Matthew mempercepat tenggat perjanjian sesuka hatinya karena mereka tahu baik ia maupun ayahnya tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Azri benar-benar marah.


"Nah, semuanya sudah kuceritakan. Aku penasaran dengan tindakan apa yang akan dilakukan sang putra kebanggaan Mahendra El Pradipta."


Azri memandang Matthew dengan ekspresi dingin. "Aku berharap Anda tidak pernah mempertanyakannya," lirihnya.


Matthew mengerjap, sikap tubuhnya menjadi lebih waspada saat ia sadar Azri telah memikirkan sesuatu. la dengan tenang mengangkat surat perjanjian itu lalu tepat di depan mata Matthew ia merobeknya menjadi dua, empat, delapan, hingga berubah menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Maafkan aku, Tuan Matthew Fernandez, bagiku perjanjian ini tidak lebih dari omong kosong." Azri menyeringai puas. Perlu keberanian besar untuk melakukannya.


"Sama seperti Anda yang tidak tahu betapa tak ternilainya kehormatan keluargaku. Jangan pernah berharap Anda bisa memperalat ayahku dengan perjanjian itu karena mulai sekarang akulah lawanmu. Aku yakin ayahku sudah berusaha melunasi utang-utang itu tetapi mungkin saja Anda juga yang menghambatnya. Aku akan melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa utang-utang itu terjadi karena trik licikmu." Azri menundukkan kepala sejenak, bukan untuk penghormatan, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia resmi memulai perang dengan GN Group.


"Aku bisa memberikanmu solusi mudah!"


Matthew panik sekaligus kesal. Ucapan, tindakan, dan cara Azri mengancamnya tadi berhasil menyulut ketakutan pria tua itu. Setelah melihat betapa mudahnya Azri melumpuhkan puluhan pengawalnya, maka tidak sulit bagi pria itu untuk membalikkan keadaan.


Azri berhenti melangkah lalu menoleh, menunjukkan ekspresi tak berminat sama sekali.


"Menikahlah dengan Lia. Aku akan menganggap utang-utang itu tidak ada."


"Dengan begitu kau semakin bebas memperbudakku? Mohon maaf, aku tidak tertarik."


Azri keluar dari ruangan itu dengan perasaan berkecamuk. Berkat penjelasan Matthew, kini ia merasa sangat menyesal kenapa dulu ia membenci ayahnya. Seharusnya ia menyadari sinyal-sinyal yang diberikan ayahnya. Jika dulu ia menurut, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Mungkin Widya tidak akan pergi meninggalkannya atau mungkin, ia tidak pernah bertemu Widya dan wanita itu tidak akan menderita karenanya.


Setelah kepergian Azri, Matthew jatuh kembali di kursinya. Kepalanya terasa berat. Ia tak menyangka akan menghadapi monster lain setelah satu monster berhasil ia taklukan. Ia mengambil gagang telepon untuk menghubungi asistennya ketika sosok Lia muncul. Ia meletakkan kembali gagang telepon itu.


"Ada apa anakku?" tanyanya ramah. Putrinya yang cantik yang mengingatkannya pada istrinya itu berjalan masuk. Wajahnya sedingin es. la mengerang dalam hati. Siapa lagi yang datang berniat menghancurkan harinya?


"Meskipun ayah hampir berhasil menjatuhkan Pradipta Group, Azri tetap menolak menikah denganku?" lirihnya sedih. Ekspresinya menyiratkan luka mendalam.


Matthew melebarkan mata. "Kamu mendengarnya?"

__ADS_1


"Meskipun Ayah sudah mengancam menjadikan keluarganya pesuruh, akan memberhentikan seluruh pegawai Pradipta Group, Azri tetap tidak ingin menikah denganku?"


Air mata mengaliri pipinya yang putih, membuat ayahnya tercengang. Lia memandang ayahnya frustasi sekaligus sedih.


"Katakan padaku, Ayah. Apa aku terlihat seperti wanita mengerikan di matanya sampai Azri tidak mau melirikku sedikit pun? Apa aku benar-benar tampak begitu buruk sampai Azri tidak bisa mencintaiku?"


Lia menangis. Kata-kata yang diucapkan Widya sangat memukul hatinya, terlebih ia melihat dan mendengar sendiri bagaimana Azri menolak menikah dengannya. Pria itu membencinya, sangat membencinya.


"Lia, jangan katakan kamu mencintai pria itu?"


Matthew tidak mau percaya dengan pertanyaannya sendiri. Namun, sikap Lia memberitahu segalanya. "Kamu tidak jatuh cinta pada pria itu seperti Yuna, bukan?"


Lia ingin menyangkalnya, sungguh. Dengan sangat menyesal ia memberikan jawaban yang membuat Matthew terperangah. "Aku mencintai Azri, Ayah. Sama seperti Yuna, dengan bodohnya aku jatuh cinta padanya."


Wajahnya dibanjiri air mata. Lia menangis tersedu-sedu. Ia tahu kata-katanya telah mengejutkan ayahnya. Ia sengaja. Ia tahu ayahnya akan melakukan apa pun untuk membuat Azri mencintainya. Seperti yang selalu dilakukan ayahnya selama ini.


...M.E.N.I.K.A.H.I B.A.D B.O.Y...


Widya melihat berita menggemparkan tentang kejatuhan Pradipta Group dengan tangan gemetar. Ia berada di bandara, sedang menunggu waktu keberangkatannya tiba. Ia akan pergi meninggalkan negara ini. Bukan karena perintah Lia, melainkan karena ia tidak ingin terjadi apa pun pada Azri. Namun, apa yang ia lihat di televisi saat ini, Lia sudah melanggar janjinya sendiri. Bangkrutnya Pradipta Group bisa menghancurkan Azri dan keluarganya perlahan-lahan.


"Kamu tidak apa-apa?" Adam menyentuh bahu Widya begitu melihat gadis itu mengurut pelipisnya.


"Aku tidak apa-apa." Widya tersenyum. Adam sudah berbaik hati mengantarnya kemari, menunggunya hingga pesawatnya lepas landas nanti. Ia tidak tega membuatnya cemas.


Adam Lewis melirik televisi yang menampilkan berita terpanas itu dengan cemas. "Kamu yakin akan tetapi pergi? Kurasa Azri sangat membutuhkanmu saat ini."


Widya menggeleng. "Tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Ayah untuk tidak akan kembali lagi."


"Astaga, bagaimana bisa kamu begitu menurut pada kata-kata pria itu? Dia bahkan bukan ayah mertuamu lagi.“


"Secara teknis, dia masih ayahku," jawab Widya lemah. "Aku belum resmi bercerai dengan Azri."


Adam mengerang. Ia sudah lelah melihat Widya menderita. Ia ingin melihatnya tersenyum lepas seperti dulu lagi. Ia ingin melihat Widya yang pernah dicintainya, bukan Widya yang duduk dengan wajah lesu seperti saat ini.


"Baik, kalau begitu jangan pernah kembali pada Azri," erang Adam putus asa. "Saat kamu tiba di Jerman nanti, jangan pernah sekalipun memikirkan Azri, Pradipta Group atau keluarganya. Kamu harus fokus pada bayimu. Aku berjanji akan menemanimu saat kamu melahirkan nanti, di mana pun kamu berada."


"Kamu sungguh baik, Adam. Terima kasih banyak." Widya memeluk pria itu. Ia sungguh gembira memiliki seseorang sebagai tempat bersandar di saat kritis seperti ini. Ia berjanji tidak akan melupakan semua kebaikannya. Ia tersenyum saat penerbangannya disebut melalui pengeras suara.


"Pesawatnya."


"Baiklah, ini saatnya perpisahan." Widya bangkit, begitupun Adam. "Jaga dirimu baik-baik." Ia memeluk pria itu.


Adam sempat terdiam selama beberapa detik. Ia enggan melepaskan Widya pergi. Namun, ia harus. Widya akan tetap aman di luar negeri sana. Lia tidak akan bisa mengusiknya saat Widya jauh dari Azri. Ia meyakinkan itu.


Lambaian tangan Adam menjadi pemandangan terakhir sebelum Widya memasuki terminal keberangkatan. Ia berjalan masuk, tak lama kemudian ia menoleh kembali dan mendapati Adam sudah tidak ada di tempatnya. Langkahnya terhenti. Ia bergegas keluar dari terminal keberangkatan menuju ke arah berlawanan. Ia membatalkan rencananya pergi ke Jerman. Masih ada yang harus ia lakukan.


...B.E.R.S.A.M.B.U.N.G...

__ADS_1


__ADS_2