Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 40


__ADS_3

Playlist : Shut down (BLACKPINK)


Sesosok pria tampak berdiri di atas pasir pantai. Di wajah tampan nya bertengger sunglassess untuk menahan silau nya sinar matahari yang terik.


Yah, dia adalah Azri El Pradipta. Tak ada pria lain di dunia ini yang mampu menyamai evil smile dan evil smirk nya. Ia hanya mengenakan celana pantai pendek dan dengan sengaja memamerkan dada bidang nya yang terbungkus kulit putih semulus porselen.


Beberapa perempuan berambut pirang sempat melirik nya penuh minat sambil berbisik-bisik kagum yang tidak dipedulikan oleh pria tinggi tegap itu. Pikiran nya sekarang dihantui oleh bayangan Widya, istri nya yang berjanji akan memberi nya kejutan sesuai kesepakatan. Widya barus memakai bikini model menantang.


"Kamu tidak ikut berenang?"


Azri menoleh pada sahabat nya, Ryan yang sedang berenang di laut bersama gadis incaran nya, Bella. Entah berhasil atau tidak Ryan merayu nya, tetapi bukti nya gadis itu mau ia ajak pergi berlibur.


“Tidak, kamu saja,” balas Azri acuh tak acuh.


la melemparkan pandangan nya ke arah lain dan menemukan Bobby sedang duduk di atas hamparan kain sambil mengolesi sunblock pada permukaan kulit Hera, tunangan nya yang berbaring di samping nya. Di sudut lain ia juga melihat Jhors yang sedang berbincang dengan Mar leen. Entah ke mana pergi nya Ki Bum, mungkin sedang mengajari pacar nya, Lena berselancar.


Sesekali Azri menangkap pandangan Marleen terarah pada nya ketika ia mengalihkan wajah ke arah gadis itu yang tengah duduk di atas kursi santai yang dinaungi payung. Ia sedang menantikan hal lain sehingga mendekati Mar leen adalah hal terakhir yang dipikirkan nya.


"Cih, mereka malah sibuk sendiri," gumam Azri.


"Apa yang kamu tunggu sebenar nya? Kenapa kamu diam di sana seperti patung?!" ujar Bobby agak berteriak sambil meletakkan botol sunblock-nya di samping Hera.


"Urus saja urusan mu sendiri. Jangan ganggu aku," balas Azri sengit. Ia mulai sebal karena Widya tak kunjung menampak kan diri nya. Jangan bilang istri nya itu berniat kabur dari tantangan nya?


Sebenar nya dari awal Azri sangsi apakah gadis aneh itu mau memakai pakaian sejenis bikini. Jangan kan memakai baju dengan bahan minim seperti itu, memakai hotpants atau tank top ketat di hadapan nya saja Widya tidak pernah. Hal itu malah membuat Azri penasaran. Tanpa permisi, detak jantung nya berpacu semakin cepat.


"Kamu pasti menunggu istri mu. Memang ke mana dia?" Suara Bobby terdengar lagi. Azri mengembuskan napas nya untuk mengendalikan emosi.


"Sebentar lagi juga sampai. Dia masih ada di hotel."


Kesabaran Azri mulai menipis. Dalam hati ia berjanji jika Widya sampai tidak datang sepuluh menit lagi, ia akan kembali ke hotel dan jika menemukan Widya di sana ia akan memaksa istrinya itu tampil tanpa busana di depan nya.


"Eh, lihat."


Terdengar seruan Bobby menunjuk ke suatu arah. Pandangan Azri teralih ke samping nya. Sedetik kemudian mata nya tertuju pada seseorang yang tengah berjalan ke arah nya. Ia melebarkan mata menyaksikan nya. Gadis itu memakai bikini seperti yang ia berikan pada Widya.


Tunggu, itu memang Widya Lavorza Anindita. Azri yakin dia Widya meskipun memakai sunglassess dan topi pantai.


Rambut hitam sepunggung nya terurai indah. Tentu yang paling menarik perhatian adalah lekuk tubuh Widya yang di luar imajinasi nya. Azri tidak memiliki kata lain yang cocok untuk menggambarkan nya kecuali kata seksi. Bikini itu benar-benar memperindah tubuh istri nya dengan sempurna.


Pinggang ramping nya yang baru kali ini Azri lihat, perut nya yang rata dan kaki indah nya yang tampak jenjang meski tertutupi oleh seulas kain pantai yang tipis nyaris transparan. Sungguh, itu tidak terlihat seperti Widya Lovarza yang dikenal nya selama ini.


"Wow, nice body."


Azri terkesiap mendengar komentar Bobby tentang istri nya. Apa dia tidak sadar bahwa tunangan nya ada di samping nya? Seenak nya saja menatap istri orang. Benar saja, Hera langsung mencubit pinggang nya.


Rasakan itu, batin Azri puas. Jarak Widya dan dengan Azri semakin dekat dan akhir nya gadis itu berdiri tepat di depan nya.


Widya sebenar nya malu sekali meskipun ucapan Azri benar, tidak ada orang yang peduli apa yang di kenakan nya. Banyak wanita memakai bikini dan tampak lebih menarik berseliweran di pantai itu. Ia berdiri dengan canggung, memaksakan diri mendongak kan kepala menatap Azri yang lebih tinggi dari nya.


"Aku sudah memakai nya. Bagai mana pendapatmu?" tanya Widya dengan senyum manis.


Azri masih terpaku menatap Widya, seolah gadis itu adalah fantasi yang berubah menjadi nyata. Buru-buru ia menormalkan kembali kerja otak nya.


"Lumayan." la tanpa sadar berbohong sambil mengamati Widya dari ujung rambut sampai kaki.

__ADS_1


Namun, tindakan itu berakibat fatal bagi Azri, ia justru mendapati diri nya semakin terpikat melihat keseksian tubuh Widya dari jarak sedekat ini.


Kamu seksi, sangat, batin Azri menyuarakan isi hati yang seseungguh nya. Aku tidak pernah tahu kamu secantik ini.


Penampilan Widya sebelum ini sangat berbeda 180 derajat. Biasa nya di rumah, Widya hanya memakai kaus longgar dan celana jeans-sama sekali tidak nyaman dilihat. Rambut panjang nya digulung ke atas, agak berantakan sedikit berbeda dengan rambut rapi nya saat di kantor-dan selalu ada kaca mata berbingkai tebal yang mengkover mata nya jika sedang asyik membaca atau pun sehabis menangis.


Sekarang semua itu tidak ada. Azri nyaris tidak mengenali sosok istri yang berdiri di depan nya. Ia bersyukur sudah menantang Widya menggunakan bikini ini.


Namun, Azri mulai merasa risih oleh tatapan beberapa pria yang bisa menikmati tubuh istri nya secara gratis. Ia segera meraih sweter milik Bobby yang tergeletak di dekat pemilik nya. Ia yakin Bobby tidak keberatan jika ia meminjam nya sebentar. Azri memakai kan sweter itu pada Widya.


"Kita pergi." Azri menarik nya.


"Apa yang kamu lakukan?”


Widya meronta karena Azri mencengkeram tangan nya begitu erat. Pemberontakan nya justru semakin membuat Azri mengeratkan pegangan nya. Pria itu menyeret nya kembali ke kamar hotel. Mar leen yang sempat menyaksikan adegan itu hanya terdiam.


Setibanya di kamar, Azri segera menutup pintu hingga terkunci otomatis setelah itu melepaskan tangan Widya.


"Ada apa denganmu? Kamu menarik ku seperti kerasukan setan." Widya kesal.


Lihat pergelangan tangan nya yang memerah sekarang. Pria ini tidak pernah bersikap lembut pada nya.


"Aku tidak suka melihat mu berpakaian seperti ini. Kamu lihat tatapan para pria tadi?" sahut Azri jengkel.


Caranya protes terdengar seolah Widya memang sengaja memakai bikini itu untuk menggoda para pria. Widya megap-megap.


"Apa kamu lupa? Bukankah kamu yang menantang ku memakai bikini?" debat Widya sebal. Memang ulah siapa yang membuat nya terpaksa memakai pakaian terkutuk ini?


Azri tak peduli dengan pembelaan Widya. Walaupun ia salah, Widya lebih bersalah karena membuat nya merasa cemburu—bukan nya puas melihat Widya tidak nyaman memakai baju itu.


Widya menggeleng tak percaya. "Dasar gila. Oh God, kenapa aku bisa setuju menikah dengan pria seperti ini?"


Bukan kah Azri selalu menghina pakaian membosankan nya dan rambut nya yang selalu diikat? la harus menyalah kan diri nya sendiri kenapa mau menerima tawaran Mahendra untuk menikah dengan anak nya yang gila ini.


Azri menghempaskan diri di sofa sementara Widya tetap berdiri.


"Sekarang buka jaket mu!“ perintah nya dengan wajah datar dan nada yang dingin.


"Untuk apa aku--"


"Kubilang buka!"


Azri melotot pada nya seolah ingin mengingatkan Widya bahwa tantangan itu masih berlaku. Widya masih jengkel, tangan nya meraih resleting sweater, tetapi Azri menginterupsi.


"Tunggu!"


"Apa lagi sekarang!"


"Buka dengan cara yang lebih seduktif,” perintah nya menatap Widya penuh minat.


"Kamu gila?"


"Lakukan!"


"Kenapa aku harus melakukan nya?”

__ADS_1


Azri menyilangkan tangan di depan dada, gayanya mirip sekali bos mafia yang menyuruh anak buah nya menjalankan misi.


"Ini tantangan lain dariku!"


"Bukankah seharusnya sudah berakhir?"


"Sampai tengah malam nanti," ucap Azri tak mau kalah, lalu mengakhiri perdebatan nya dengan seringaian licik.


Geraman Widya tertahan di tenggorokan nya.


la mendengkus kesal. Sialan untuk Azri dan tantangan aneh nya! Seduktif apa nya? Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak senonoh seperti itu. Ia membuka zipper sweater dengan gerakan pelan, perlahan menurunkan sweater melewati bahu nya kemudian ia biarkan jatuh ke lantai begitu saja.


Azri menahan napas nya saat mata nya menangkap kembali tubuh Widya yang berbalut bikini.


"Sial!" umpat nya dalam hati ketika ia merasakan celana la pun yang dikenakan nya menjadi lebih sesak.


"Kenapa mendekat?"


Widya memasang pose waspada saat Azri sudah berdiri di depan nya. Pria itu membelai nya pipi nya, tidak menggubris kata-kata nya.


"Lain kali jangan pamerkan tubuh mu di depan pria lain selain suami mu, paham?"


"Kenapa?"


Widya bertanya gugup. Jantung nya hampir jatuh dari tempat nya saat wajah Azri menunduk, lalu mengecup lembut bagian bawah bibir nya.


"Karena aku tidak suka.“ Azri mendorong Widya pelan sampai punggung nya menempel ke dinding di belakang nya.


"Widya," gumam Azri sambil membelai pipi nya lagi.


Widya mencoba mendorong tubuh Azri, tetapi tenaga nya terlalu lemah. Ia tidak mau termakan rayuan pria itu. Yang sekarang dilakukan nya pasti salah satu cara yang digunakan Azri untuk merayu wanita-wanita yang ingin dia kencani dan harus ia akui itu cara yang sangat hebat.


"Kenapa aku tiba-tiba menginginkan mu?“


Widya terkejut bukan main. Azri tanpa aba-aba mencium bibir nya. Awalnya hanya kecupan biasa, tetapi lama kelamaan berubah menjadi *******-******* dalam yang menuntut. la meronta dalam dekapan tubuh Azri yang erat, menghimpit tubuh kecil nya antara dinding dan badan kekar pria itu.


"Berhenti!" Widya memukul-mukul dada Azri karena ia mulai kehabisan napas.


Azri yang paham segera menjauhkan wajah nya. Mereka saling pandang untuk beberapa saat dalam jarak yang sangat dekat, saling merasakan embusan napas masing-masing yang memburu.


"Aku tidak tahu rasa bibir mu semanis ini."


Azri mengusap permukaan bibir Widya yang basah dengan jari nya.


Widya menatap nya dengan sorot mata tajam. "Pria licik," desis nya geram.


Azri pura-pura terkejut dengan reaksi Widya ini.


"Kamu pasti menggunakan cara menjijikan seperti ini untuk mengencani banyak wanita?"


Bukan nya tersinggung, Azri malah terhibur.


"Tapi nyata nya, kamu menikmatinya, kan?"


Widya tercekat. Antara marah bercampur malu. Ucapan nya tidak salah, ia bahkan sempat terlena oleh ciuman Azri. Tapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Selebih nya ia kesal karena Azri mencium nya hanya untuk memuaskan dahaga pria itu. Azri tidak menghargai perasaan nya sama sekali.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2