
Widya keluar dari toilet setelah membenarkan riasannya yang sedikit berantakan karena air mata. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Setelah yakin dirinya siap menghadapi semua orang, ia berjalan menelusuri lorong yang akan mengantarnya kembali ke aula.
Langkah Widya terhenti ketika suara langkah kaki menggema di lorong disusul oleh suara seorang pria yang bercakap-cakap dengan wanita.
"Bukankah Azri masa lalumu? Kenapa kamu masih juga berbicara dengannya?"
"Kenapa? Tidak ada apa pun yang terjadi."
Entah kenapa Widya menyembunyikan diri ketika sosok Rendra dan Marleen yang berjalan melintasi lorong lalu menghilang setelah masuk membelok di ujung lorong. Setelah yakin keadaan aman Widya keluar. Sayangnya ia harus pergi melintasi lorong itu untuk sampai ke aula pesta. Ia pun bergerak sambil berdoa agar saat berbelok ia tidak perlu melihat kedua orang itu.
"Kamu tidak mencintainya, bukan?"
Widya tersentak kaget kedua orang itu ada di lorong, tepatnya di depan pintu salah satu ruangan. Rendra tampak memeluk Marleen sementara wanita itu tidak kuasa mengelak. Widya lekas bersembunyi sebelum tertangkap basah sedang menonton.
"Menurutmu?" Terdengar suara Marleen. Nadanya terdengar menantang.
"Kalian beberapa kali menghabiskan waktu bersama di apartemenmu, kamu pikir aku tidak tahu?"
"Kamu juga bermain bersama selirmu. Bukan aku saja yang tidak setia di sini."
"Aku sudah membuang mereka semua, seperti keinginanmu. Karena itu kamu juga harus meninggalkan pria yang sudah menjadi suami orang lain itu. Sejak awal kamu memang tidak ditakdirkan dengannya. Dia hanya bersenang-senang denganmu."
"Paling tidak aku menyukainya dan kami hanya bersama sampai dia menikah."
"Aku tahu, kamu wanita pintar. Kamu kembali padaku saat tahu kamu tidak bisa mendapatkannya. Aku selalu menyambut tunanganku kapan pun."
"Kamu tidak mencintaiku."
"Aku selalu mencintaimu. Kamu yang memutuskan untuk tidak memercayainya."
"Bagaimana aku percaya jika kamu terus tidur dengan perempuan lain?"
"Karena itu aku berhenti sekarang, bukan? Karena kamu kembali padaku dan akhirnya kita sepakat untuk menikah."
"Kamu jahat."
"Tapi kamu tidak bisa melepaskan diri dariku. Sekarang sebaiknya kita sudahi perdebatan ini dan kita lakukan sesuatu yang lebih menyenangkan."
Widya mendengar suara pintu dibuka dan ditutup. Mereka pasti masuk ruangan itu. Ketika Widya mengintip sedikit, keduanya memang sudah tidak ada di lorong. Ia lega, lalu tertegun.
Dari sekilas pembicaraan yang ia curi dengar, Widya menyimpulkan Marleen berselingkuh dari tunangannya dengan Azri untuk balas dendam karena wanita itu dikhianati lebih dulu oleh Rendra. Marleen tidak menyangka bahwa dia akan jatuh cinta pada Azri sehingga dia membenci Widya yang telah merebut pria yang menjadi pelipur lara baginya. Karena sudah tidak mungkin bagi Marleen memiliki Azri, dia pun kembali pada tunangannya yang masih menyambutnya.
Widya mendesah, tidak tahu harus mengasihani Marleen atau tidak. Tapi ia tidak mau memaklumi tindakannya. Bagaimana pun Marleen sudah memilih jalan yang menyakiti dirinya sendiri saat memilih Rendra sebagai tunangannya. Gadis malang, dia pasti membuang harga dirinya ketika memutuskan kembali pada tunangan yang memperlakukannya seperti mainan.
Sebuah tepukan di pundak membuat Widya melonjak, hampir saja memekik jika ia tidak segera menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia berbalik dengan cepat, langsung lega ketika mendapati sosok Azri berdiri di depannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Azri begitu lega setelah berhasil menemukan Widya.
"Tidak ada. Sebaiknya kita pergi dari sini.“ la lekas membimbing Azri meninggalkan tempat itu. Azri tidak perlu tahu apa yang sudah didengarnya.
__ADS_1
Setelah tiba di aula, Widya baru bisa bernapas lega meskipun ia merasa sakit di kerongkongannya.
"Kamu kenapa? Wajahmu pucat." Sapuan tangan Azri terasa di keningnya.
Rupanya Widya tidak cukup pintar menyembunyikan kerisauannya. Ia menatap Azri, suaminya malam ini terlihat tampan luar biasa. Kekhawatiran tidak sanggup melunturkan pesonanya yang memikat, Widya tahu itu.
Cahaya lampu yang menerpa rambut hitam Azri hingga tampak berkilauan, membuat Widya diserang rasa rindu dan sedih. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia harus mengatakannya malam ini. Ia harus pergi dari hidup Azri. Rasanya sesak sekali mengingat dirinya harus pergi di saat cintanya pada Azri sudah begitu besarnya.
"Kenapa kamu menangis?" Azri tersentak kaget melihat setitik air mata jatuh dari sudut mata istrinya.
"Azri, aku harus pergi."
Dengan air mata mengalir Widya berkata pada Azri. Pria itu tercengang, tidak menyangka akan tiba saatnya ia mendengar kata-kata itu dari Widya.
"Apa maksudmu. Aku tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi? Kamu sudah bosan dengan pesta ini?"
Widya menggeleng lemah. "Bukan itu. Aku sungguh-sungguh, aku harus pergi... pergi dari kehidupanmu."
Suasana hening seketika.
Azri terpaku pada satu titik di wajah istrinya, yaitu mata almond-nya yang kini banjir air mata. Ia menahan diri agar tidak meringis karena hatinya terasa begitu nyeri.
"Apa yang kamu katakan?" tanyanya tajam, tanpa sadar melayangkan mata elangnya. "Pergi dari kehidupanku? Yang benar saja!"
Azri menahan diri untuk tidak berteriak mengingat keberadaan mereka di aula pesta yang dipenuhi orang. Ia merenggut tangan Widya, dengan tidak sabar menarik gadis itu pergi ke arah teras di mana tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan obrolan mereka. Tak lupa juga ia menutup pintu teras. Begitu yakin tidak akan ada yang mengganggu pembicaraan mereka, Azri berbalik menghadap Widya. Ia berhasil menahan diri sejauh ini. Ia tidak boleh meledak. Ia harus memberikan kesempatan pada Widya untuk menjelaskan.
Widya menundukkan kepala sejenak, ia tahu Azri akan berteriak geram seperti ini. Karena itu ia sudah menyiapkan hati. Meskipun rasanya akan berat, tetapi perjanjiannya dengan Mahendra tetap harus disepakati tidak peduli hatinya yang akan menjadi korban.
"Aku tidak bisa menundanya lagi, aku memang harus pergi."
Widya sungguh frustrasi, tak sanggup menatap Azri karena rasa bersalahnya.
Azri mengepalkan tangan dengan rahang mengeras dan gigi bergemeletuk, ia tidak bisa menahan diri lagi. Ayahnya benar-benar mengibarkan bendera perang padanya. Widya tidak akan seperti ini jika tidak ditekan oleh Pria Tua itu.
Widya memekik kaget ketika tangannya lagi-lagi ditarik tiba-tiba oleh Azri. Pria itu menyeretnya pergi.
"Kita mau ke mana?" Widya berseru panik.
"Bicara dengan Pria Tua itu."
"Apa?!" Widya membelalakkan mata. Ia panik, "Tidak Azri, kita tidak bisa berbicara dengan ayahmu. Sekarang lepaskan aku."
Widya meronta, mencoba melepaskan cengkraman Azri yang menyakiti pergelangan tangannya. Azri berhenti sejenak, dengan cepat membalikkan badan menghadap istrinya.
"Tidak, kita harus berbicara dengannya. Ini sudah keterlaluan. Dia tidak bisa mengaturmu, menyuruhmu melakukan hal yang tidak kamu sukai."
"Aku tidak keberatan sama sekali, aku setuju karena aku mau."
"Lalu kenapa kamu terlihat frustrasi?!"
__ADS_1
Widya tidak bisa menjawab, bibirnya mengatup tanpa ada sepatah katapun yang terucap.
"Aku akan berbicara dengannya. Jika dia tetap memaksa, aku akan menyuruh orang lain untuk menggantikanmu." Azri berbalik pergi, kali ini tidak menarik Widya bersamanya.
"Tidak!" Widya mengejar Azri. Pria itu sudah dibakar amarah. Jika Widya membiarkannya pergi dengan kepala penuh emosi, entah kekacauan apa yang akan ditimbulkan Azri dalam pesta itu.
Azri mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula, mencari sosok Ayahnya di antara ratusan tamu yang memenuhi setiap sudut ruangan besar itu. Matanya menajam, dengan bibir terkatup menahan emosi Azri berjalan tenang mencoba menjaga wibawanya di hadapan orang-orang.
Matanya semakin menajam ketika menemukan ayahnya. Pria itu dengan santai bercakap-cakap dengan beberapa teman bisnisnya. Ia sudah menyiapkan semua kata-kata yang akan digunakan untuk mendebat ayahnya. Tetapi mendadak langkahnya terhenti karena sepasang tangan yang melingkari pinggangnya. Kakinya berhenti melangkah dan menegang begitu suara halus yang dikenalnya terdengar.
"Jangan El, jangan buat apa pun.“
Azri membatu dengan mata mengerjap beberapa kali. Ia mulai mendengar suara-suara lain berasal dari yang orang-orang di sekitar mereka. Decakan kagum, erangan iri, dan pekikan takjub membumbung di udara.
"Widya." Azri berkata lirih atas ulah Widya yang berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ia tidak masalah dengan tindakan agresif istrinya. Hanya saja ia mengkhawatirkan perasaan Widya saat ini. Jika dia sampai rela mengesampingkan rasa malu, artinya hal gawat memang sedang terjadi. Widya benar-benar tidak ingin Azri berbicara dengan Ayahnya. Hati Azri terasa begitu ngilu dan sakit atas kenyataan ini.
Azri menghela napas, ia mengalah atas egonya sendiri. Perjanjian sialan itu sungguh menyiksa mereka berdua dan ia sangat penasaran apa yang akan Ayahnya dapatkan dari semua ini.
"Baiklah," ia mendesah, telapak tangannya ia tumpangkan pada tangan Widya yang melingkar di perutnya. Menepuk-nepuknya ringan sebagai tanda bahwa dirinya menyerah dan akan menuruti permintaan Widya.
Widya tetap memeluknya. Lega sekaligus malu karena ia baru sadar bahwa ulahnya telah menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Bukannya melepas pelukan Widya justru semakin menyurukan wajahnya di punggung Azri.
Amarah Azri benar-benar lenyap detik itu juga. Ia membalikkan tubuhnya lalu memeluk Widya dengan segenap hati. Pria itu berbisik dengan lembut, meyakinkan Widya bahwa ia tidak akan menemui Ayahnya.
"Aku tidak akan bicara dengan Ayahku, sungguh Widya. Karena itu berhentilah cemas."
Dengan telaten Azri menghapus titik air mata di pipi merah istrinya. Widya sendiri mengerjap, ia tidak tahu kapan air mata itu menyusup keluar dari sela kelopak matanya.
Widya mendongakkan kepala, ketika matanya bertemu dengan mata hitam Azri yang melembut, Widya merasa begitu lega. Ia kembali memeluk Azri dan bersyukur bahwa kiamat baginya tidak terjadi.
"Terima kasih." Widya tidak tahu apa yang terjadi seandainya Azri berbicara dengan Ayahnya dan segalanya menjadi kacau. Mungkin detik itu juga, menjadi momen perpisahannya dengan Azri.
Azri merasa hatinya sakit, tetapi ia mencoba mengabaikan, ia menarik lembut dagu Widya agar mendongak menatapnya. "Sebagai balasannya, aku ingin kamu menciumku sekarang," ucapnya dengan suara serak. Azri tahu permintaan itu membuat Widya mengerjap terkejut, tetapi hatinya tahu hanya kecupan Widya yang bisa meredakan sakit di hatinya.
Widya luluh oleh sorot mata tulus Azri. Pria itu telah mengabulkan permintaannya maka apa salahnya jika ia pun mengabulkan permintaan Azri. Widya tersenyum tulus dan mengabaikan perhatian orang-orang di sekitar mereka, ia menyentuh rahang Azri dan menariknya menunduk agar bibir mereka bisa bertemu.
Azri langsung mendekap Widya diiringi tarikan napas kagum orang-orang. Mereka berciuman penuh hasrat dan membuat siapapun yang melihatnya iri setengah mati, termasuk seorang gadis yang berdiri di kejauhan. Mata nyalangnya berkilat-kilat tidak suka melihat pemandangan itu. Ia memegang erat gelas berisi cairan kekuningan lalu meletakkannya dengan keras di atas meja. Sebuah geraman kecil keluar dari bibirnya. Dengan anggun dia melenggang pergi dari tempat itu.
Mahendra termasuk dalam orang-orang yang terpaku melihat opera dadakan yang dipertunjukkan anak dan menantunya. Ia melihat ke seluruh ruangan memastikan sesuatu, setelah dirasa tidak ada yang aneh ia kembali menatap Azri dengan perasaan cemas yang luar biasa. Matanya menyipit menatap Widya. Apa yang dilakukan gadis itu? Seharusnya dia tidak bermesraan dengan Azri di tempat umum seperti ini. Geramnya.
Widya menjauhkan wajahnya meskipun Azri tampak sangat enggan. Keduanya sama-sama terengah dan dilalap oleh gairah yang sama. Berbagai ekspresi berkelebat ketika mereka saling bertatapan. Sungguh, ingin rasanya Widya bercerita detik itu juga bahwa ia terlilit perjanjian yang melibatkan aset senilai 1 milyar, tetapi ia takut melihat reaksi Azri. Karena itu yang bisa ia lakuan saat ini hanya menatapi wajah tampan Azri hingga puas.
"Apa yang kamu pikirkan?" Azri menyentuh pipinya dengan ujung jari. Refleks Widya memejamkan mata ketika Azri mengusap pipinya lembut. Ia memegang tangan Azri lalu mengecupnya lembut.
"Aku harap kamu bahagia, El," bisiknya serak. "Aku harap kamu selalu bahagia."
Azri yang merasa begitu terharu kembali memeluk Widya dan mengecupnya penuh cinta.
Aku tidak mau kehilanganmu, Widya Lovarza. Jangan pernah memaksakan diri ingin lepas dariku jika kamu tidak mau, karena akupun tidak akan pernah melepaskanmu tak peduli jika bumi harus terbelah dan memisahkan kita berdua.
__ADS_1