
Setelah selesai berziarah, tradisi keluarga Pradipta belum berakhir. Kini Azri harus mengunjungi sang tetua keluarga, kakek nya sendiri. Widya pun merasa gugup karena ini pertama kalinya ia akan bertemu secara privat. Saat pernikahan kemarin ia hanya berbicara sekilas dengan kakek Azri.
"Ah, aku malas sekali kembali kemari." Azri bergumam sebelum mereka masuk ke kediaman kakek nya yang seluruh nya bernuansa tradisional.
Setiap sudut bangunan itu didesain layaknya rumah tradisional, tetapi tetap mewah.
"Akhir nya kalian datang juga.“
Widya pikir ia akan melihat ruangan tradisional dengan dinding lipat dan meja lain yang rendah rupanya ia salah. Ruang tengah itu bahkan lebih mewah dari ruangan sudah dilalui. Memang didominasi oleh perabotan kayu, keramik-keramik yang seperti nya berharga ratusan juta, serta berbagai pernak-pernik yang terbuat dari kuningan.
Pandangan Widya tertuju pada sosok kakek Pradipta yang duduk di ruang tengah dengan senyum ramah di wajah nya membuat Widya sedikit lega.
"Kenapa berdiri di sana saja? Ayo kemari.“
Widya berjalan mendekat lalu membungkukkan tubuh nya sebagai penghormatan. Laki-laki itu tersenyum puas dengan sikap sopan Widya sementara Azri tetap berdiri tegak.
"Ayo kamu beri salam juga," bisik Widya menyikut pinggang Azri.
"Haruskah?"
"Kamu harus menaruh hormat pada yang lebih tua." Widya memelototi nya.
Azri mendengkus dan pandangan nya teralih pada kakek nya. Rupanya kakek nya juga menunggu Azri sampai dia memberikan salam hormat. Azri mendesah kalah dan ia membungkukkan badannya. Barulah setelah itu kakek nya tersenyum.
"Duduklah, kalian pasti lelah bukan setelah pernikahan kemarin," ucap kakek Pradipta.
__ADS_1
Azri kembali mendengkus lalu duduk di sofa dan Widya duduk di samping nya.
"Kakek, untuk apa memanggil kami kemari? Kau tidak merasa semua pengantin baru itu pasti sibuk di hari setelah pernikahan—auchh!"
Azri tidak melanjutkan kalimat nya karena sikut Widya lagi-lagi mendarat di pinggang nya. Ia mendelik cepat ke arah Widya yang menatap lurus ke arah kakek Pradipta, seolah-olah tidak terjadi apa pun.
"Sial!"
"Kamu tidak boleh mengatakan kalimat tidak sopan pada kakek," desis Widya tanpa memandang nya.
"Kamu!" Azri ingin sekali menumpahkan semua keluh kesahnya, tetapi kalimat nya itu terpaksa tertelan kembali karena kakek nya berbicara.
"Ini pertama kalinya aku berkumpul bersama cucu-cucuku. Sebenar nya ada satu kegiatan yang sangat ingin kulakukan," kata kakek Pradipta semangat, dengan mata berbinar yang membuat Widya semangat.
"Apa itu kakek?"
***
Azri duduk sebal di kursi di tepi danau, memandang jengkel dua orang yang bersenang-senang dengan alat pancing mereka.
Tepat seperti dugaan nya. Kakek pasti mengajak mereka memancing, hobi yang sama sekali tidak menurun pada Azri dan anehnya, justru Widya lah yang tampak senang sekali dengan hal membosankan itu. Kedua orang itu asyik bersenang-senang berdua mengabaikan dirinya yang hampir mati bosan di tempat.
"Kau cukup berbakat memancing, Nak." Kakek sangat gembira. Sudah lama ia tidak mengalami sesi memancing semenyenangkan ini. Sayang sekali baik anak maupun cucu nya tidak ada yang mengerti betapa menggembirakan nya memancing itu.
"Dulu saat ayahku masih hidup, kami sering pergi memancing. Kami kadang berkemah di pinggir sungai dan mulai memancing saat fajar.“
__ADS_1
"Hahahaha.. aku harus sering-sering mengajakmu kalau begitu.“ Kakek menoleh pada Azri. "Aku menyukai istrimu."
"Terserah," sahut Azri ketus. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat ini.
Kejengkelan Azri ternyata berlanjut ke acara makan malam. Kakeknya tidak membiarkan mereka pulang tanpa makan malam di rumah itu.
"Kakek, kenapa kami harus makan di sini juga? Jarak antara resort kemari cukup jauh," gerutu Azri saat makan malam sedang dihidangkan.
"Diamlah. Kau tidak lihat makanan di sini semua dibuat dari ikan hasil tangkapan kakek dan istrimu. Bahkan dia sudah berbaik hati memasak nya. Kau sungguh beruntung memiliki istri seperti dia. Kakek jadi teringat mendiang nenek mu," kenang kakek Pradipta menerawang ke langit-langit.
"Makanlah yang banyak agar kakek selalu sehat." Widya memberikan piring penuh nasi pada kakek Pradipta yang langsung menerima nya dengan suka cita.
"Kamu juga, Kak." Widya meletakkan mangkuk lain di depan Azri yang disambut cibiran halus pria itu.
Kak? Telinga Azri gatal sekali mendengar panggilan sok akrab itu
"Ah, lezatnya. Kau pandai sekali memasak. Seperti ibu nya Azri," ucap kakek Pradipta spontan ketika mencicipi masakan buatan Widya.
Azri memegang erat piring nasi nya kala kakek membahas ibu nya. Widya bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi Azri.
"Kamu harus coba ikan ini, enak sekali." Widya menyela raut sedih Azri dengan meletakkan sepotong ikan di atas nasi nya. Azri menoleh. Tindakan Widya justru semakin mengingatkan nya pada mendiang ibunya.
Sewaktu masih hidup, ibu nya selalu melakukan hal seperti ini agar dia mau makan. Azri menyuapkan nasi ke mulut nya dengan perasaan sedih. Meskipun makanan itu enak, ia mendapati tenggorokan nya tercekat. Diam-diam ia menatap gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Ayahnya salah sudah menjadikan gadis ini istri nya. Widya terlalu mengingatkan nya pada ibunya.
Itu salah sekali.
__ADS_1
Bersambung ....