
Bibi Swari menjelaskan ketika mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju area pemakaman. Pandangan Widya menoleh ke arah Azri yang sedang menyetir di sampingnya. Pantas saja wajah nya terlihat lebih sedih dari biasa nya.
Mereka berziarah ke makam Ibu Azri dan nenek nya. Mahendra hanya sebentar di sana karena harus menghadiri rapat penting setelah nya. Sementara kakek tidak ikut karena tubuh renta nya masih kelelahan.
"Dia sama sekali tidak berubah," gumam Azri.
Kepala Widya menoleh ke arah Azri yang memandang dingin mobil ayah nya yang kini melaju pergi meninggalkan area pemakaman. Di depan pusara keluarga Pradipta kini hanya ada tiga orang tersisa.
"Selamat pagi, Ibu. Sudah sepuluh tahun lebih sejak kau pergi. Aku baik-baik saja. Tentu saja Ibu juga baik-baik saja di sana, bukan?"
Widya tertegun melihat rona gembira di wajah Azri saat berbicara di depan pusara ibu nya, seolah ibu nya benar-benar ada di depan nya. Sungguh ekspresi langka yang baru pertama kali ini dilihat nya. Ia jadi ingin melihat seperti apa rupa wanita yang membuat senyum Azri mekar indah seperti sekarang. Yang pasti, wanita itu pasti sangat hangat dan penuh kasih sayang. Tanpa sadar bibir nya ikut tersenyum.
"Ah, Ibu lihat gadis ini? Dia adalah istri ku. Dia cantik, bukan?"
Widya terkesiap ketika tiba-tiba saja Azri menarik nya berdiri di samping pria itu. "Ayo beri salam, Sayang."
__ADS_1
Sejujur nya Widya kebingungan dengan sikap manis Azri yang begitu mendadak. la menuruti apa yang Azri katakan. Ia tersenyum lalu menundukkan kepala nya seolah ibu Azri memang ada di depan nya.
"Selamat pagi, Ibu," sapa Widya canggung. la menoleh pada Azri yang menatap lurus ke batu nisan itu. Bola mata nya terlihat berair.
Oh tidak mungkin, jangan bilang ia akan melihat Azri menangis?
"Andai Ibu melihatku menikah kemarin. Bukankah itu salah satu impian Ibu sebelum pergi? Maafkan aku baru bisa mewujudkan nya sekarang."
Azri menundukkan kepala nya dalam-dalam sekali lagi. Widya terhenyak, tersentuh oleh sikap Azri sekarang. Pria ini, di balik sikap keras kepala, angkuh, dan sulit diatur nya ternyata tersembunyi sikap lemah lembut seperti ini. Widya tidak akan pernah tahu jika ia tidak ikut berziarah hari ini.
"Apa ada seseorang yang ingin kau ziarahi?" tanya Bibi Swari pada Widya yang masih tertegun karena terpukau oleh sikap Azri di depan makam ibu nya tadi.
"Tentu saja ada." la diam sejenak. "Makam kedua orang tuaku."
Kali ini Azri tampak tersentak. Hat inya seperti bergeser melihat wajah sedih yang mendadak muncul di wajah Widya. Kalimat itu seperti palu yang menyadarkan nya akan sesuatu kemarin di hari pernikahan ia memang tidak melihat satu pun keluarga Widya. Ia pikir Widya sengaja tidak memberitahu keluarga nya, tetapi ia tak menyangka bahwa alasan nya karena mereka memang sudah tiada.
__ADS_1
Azri baru sadar diri nya tidak tahu apa pun soal Widya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Widya kemarin, yang tak memiliki siapa pun yang mendampingi nya di hari bahagia. Kemarin Widya terlihat tegar. la tidak akan pernah mengetahui nya jika Widya tidak memberitahunya hari ini. Mendadak ia merasakan kekaguman yang tak terduga terhadap Widya Lovarza Anindita.
***
Azri menemani Widya berziarah ke makam orang tua nya. Berbeda dengan nya, gadis itu tidak mengatakan apa pun selama berziarah. Hanya diam di depan pusara kedua orang tua nya dengan pandangan menerawang.
"Hei, Widya." Azri harus mengguncang sedikit bahu gadis itu untuk membuat nya tersadar.
Widya mengerjapkan mata.
"Ada apa?" Widya menoleh bingung pada Azri. Pria itu mengerutkan kening bingung.
"Kamu tidak memberi salam pada kedua orang tua mu?"
"Oh iya." Widya ling lung sejenak lalu buru-buru memberi salam.
__ADS_1
Azri penasaran apa yang membuat nya begitu bingung. Jelas sekali pikiran nya tidak ada di sana sejak tadi.
Bersambung ....