
Bagian humas Pradipta Group kewalahan menangani para demonstran yang berunjuk rasa di depan kantor pusat itu. Azri berhasil keluar diam-diam tanpa disadari oleh para wartawan. Ia sekarang dalam perjalanan menuju kantor GN Group, ah tidak, lebih baik ia datang langsung ke kediaman Presdir GN. la yakin kantor pusat GN Group pun akan dipenuhi wartawan.
Segalanya menjadi kacau balau. Azri sudah mencoba memusatkan perhatiannya pada pekerjaan untuk mengalihkan rasa frustasinya karena kepergian Widya. Ia sudah menyusun strategi, tetapi Lia lagi-lagi mengacaukannya.
Widya, ke mana kamu di saat aku membutuhkanmu?"
Azri tidak berharap banyak, hanya menginginkan keberadaan Widya di sampingnya. Jika gadis itu ada, ia yakin masa-masa sulit seperti ini akan lebih mudah di atasi. Pikirannya dipenuhi oleh Widya ketika ponselnya berdering.
"Halo," sahutnya kasar.
"Di mana kamu sekarang?!” Suara ayahnya menusuk telinga. Azri memutar bola mata.
"Menuju kediaman Presdir GN. Kenapa? Jika kau ingin marah padaku, kau menelepon di saat yang tidak tepat. Aku sedang mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini. Aku tahu kau akan berkoar-koar panjang lebar tentang saat yang sempurna untuk menikahi Lia, tetapi terima kasih, aku tetap menolak ide itu."
Azri menebak seenaknya. Apa lagi yang bisa ia duga dari ayahnya selain hal itu? Karena penolakannya lah Lia bertindak secepat ini. Padahal sudah jauh-jauh hari ayahnya berkata bahwa menikahi Lia bisa menyelamatkan perusahaan dari utang. Namun, ia tidak mendengarkan saran ayahnya sendiri. Pria gila mana yang bersedia menikahi wanita lain di saat dia sangat mencintai istrinya?
"Aku memang ingin memarahimu, Nak,” ujar ayahnya setelah menghela napas berat. "Tetapi tidak sekarang, dan tidak untuk memaksamu menikahi Lia."
Baru sekarang akhirnya dia berhenti ikut campur? Bukankah sudah terlambat? Azri mencibir dalam hati.
"Lalu kenapa kau meneleponku? Kau ingin aku membujuk Lia untuk membatalkan penyitaan itu?"
__ADS_1
"Jika kamu bersedia."
"Itu sama saja kau menyerahkan lehermu untuk diikat dengan rantai. GN group bisa mengendalikan kita sesuka hati mereka. Aku tidak mau menjadi budak mereka. Lebih baik aku melawan. Aku yakin akan ada cara.“
"Baiklah, Nak. Aku hanya ingin memberitahumu untuk tidak bertindak gegabah. Dengarkan baik-baik kata-kataku."
Terdengar hening sejenak di ujung sana. Azri bersiap mendengarkan apa pun yang akan dikatakan ayahnya. Entah itu saran yang bagus atau bukan.
"Presdir GN adalah orang yang sebenarnya harus kamu hadapi. Dia adalah pria yang licik. Sudah sejak lama aku dan dia bertarung untuk lebih unggul satu sama lain. Tetapi sejak dulu aku yang berhasil maju lebih jauh dibanding dirinya. Aku mengenalnya dengan baik. Dia adalah seseorang yang penuh dengan dendam. Sikap buruk itulah yang membuat Presdir GN begitu ingin menjatuhkanku. Sayangnya kali ini dia berhasil. Dia dengan licik membuat Pradipta Group terlilit utang yang begitu besar dengan perusahaannya. Jika kamu memang ingin menghadapi dia hari ini, sebaiknya kamu siap secara fisik dan mental."
Azri sedikit tak percaya mendengar kata-kata ayahnya sendiri. Presdir GN adalah orang jahat yang sesungguhnya?
"Tunggu, kenapa aku harus menyiapkan fisik dan mental?" keningnya berkerut mengharapkan jawaban. Namun, kemudian Azri sadar sambungan sudah terputus.
Rumah besar nan mewah itu dijaga oleh puluhan bodyguard berseragam hitam. Ia menutup pintu setelah keluar dari mobil, ketika ia mendatangi pintu ada dua bodyguard menghadang jalannya.
"Aku Azri El Pradipta, CEO Pradipta Group datang untuk bertemu dengan Tuan Matthew Fernandez."
"Maaf Tuan, tetapi Tuan Besar tidak bisa diganggu untuk saat ini."
Sialan, pria itu rupanya berniat untuk bersembunyi.
__ADS_1
"Sebaiknya biarkan aku masuk selagi aku bersikap sopan," ucap Azri tajam, penuh ancaman.
Dua bodyguard itu saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka berusaha menghubungi seseorang lewat earphone di telinga mereka.
Azri berusaha keras untuk tidak bertindak kasar. Tak ada gunanya orang-orang menyebutnya bad boy jika ia tidak pandai berkelahi. Jangan pikir Matthew bisa menahannya di depan pintu sementara dirinya sudah dipenuhi kemarahan yang siap dilampiaskan pada apa pun-termasuk para bodyguard-nya.
"Maaf kembali mengecewakanmu, Tuan. Tetapi tuan besar tetap menolak untuk menemui Anda. Silakan kembali esok hari."
Azri berdecak setelah menarik napas dalam. "Sayangnya, kalian memberiku jawaban yang salah." Ia menatap orang-orang itu dengan ekspresi datar. “Pernah mendengar gossip tentang Azri El Pradipta dari keluarga konglomerat?”
Bodohnya dua orang itu menggeleng bingung.
"Dia dikenal sebagai bad boy dan pernah memenangkan turnamen Mix Martial Artsaat di Amerika dulu."
Azri mengangkat tangannya dan dengan gerakan hampir tak terlihat melayangkan pukulan tangannya ke arah dua orang bodyguard malang itu. Dua orang berbadan besar itu terpental cukup jauh lalu terjerembab di atas lantai teras.
"Dia juga dikenal sebagai pria pemarah dan tidak sabaran. Kesalahan besar sudah membuat pria sepertinya kesal."
Azri lalu melangkahi dua orang itu dengan santai lalu masuk ke dalam rumah. Langkahnya kembali terhenti karena kini bukan hanya dua orang pria yang ia hadapi, melainkan beberapa orang pria kekar. Ia menghitung dalam hati. Lima belas orang, batinnya.
Azri mengangkat dagunya angkuh dan tenang. "Jadi, kalian juga ingin menghalangi jalanku?"
__ADS_1
...B.E.R.S.A.M.B.U.N.G ...