Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
113


__ADS_3

Kehidupan pernikahan berjalan lancar dan bahagia. Kini satu-satunya yang dicemaskan Azri hanyalah kesiapan Widya menghadapi persalinan. Untuk mengantisipasi, ia sudah meminta seorang pelatih senam untuk datang dan mengajari Widya senam kehamilan agar memudahkan proses persalinan nanti. Ia selalu khawatir setiap kali mendengar pengalaman beberapa koleganya yang sudah menikah dan memiliki anak bahwa persalinan adalah momen paling menakutkan bagi seorang suami dan menegangkan bagi sang istri.


Azri sedikit mengurangi jadwal kerjanya yang padat sebagai CEO untuk menemani istrinya melewati masa hamil tuanya. Pradipta Group sudah kembali stabil pasca rusuh besar-besaran karena penyitaan oleh GN Group. Sekarang perusahaan itu kembali bangkit, malah semakin maju dari sebelumnya. Rupanya taktik-taktik Azri berhasil menarik para investor dan kolega untuk bergabung.


"Kamu yakin hari ini kakek akan kembali?" tanya Widya sambil menuruni tangga rumah melingkar yang lebar dan dilapisi karpet merah.


Azri berjalan di sampingnya, menuntunnya menuruni tangga. Langkahnya begitu pelan untuk mengimbangi Widya yang kesulitan berjalan semenjak kehamilannya memasuki bulan ke-sembilan. Dokter memperkirakan persalinan akan terjadi dua minggu lagi.


"Kamu sudah bertanya ratusan kali dan aku akan tetap berkata 'iya." Azri tersenyum.


"Aku sangat merindukannya.“


"Aku juga. Kakek pulang setelah mendengar kau akan melahirkan dekat-dekat ini. Dia ingin ada ketika cicitnya lahir."


"Owh, dia kakek yang sangat manis."


Mereka sudah tiba di lantai dasar dan berjalan perlahan ke arah pintu utama untuk mengantar Azri. Hari ini suaminya berencana akan menjemput kakek Pradipta di bandara. Widya yang mendengarnya merengek ingin ikut, tetapi dengan tegas Azri menolaknya. la berjanji akan segera membawa kakek ke rumah ini agar Widya bisa langsung memberikan pelukan selamat datang dan Widya pun tidak bisa membantah lagi.


"Cepat kembali. Aku akan di sini bersama Bella. Aku sudah meneleponnya dan dia akan datang beberapa saat lagi," ujar Widya ketika mereka sudah tiba di serambi depan rumah.


Azri tampak cemas ketika sopir membuka pintu mobil untuknya. Ia menoleh kembali pada istrinya.


"Aku merasa cemas meninggalkanmu sendiri. Aku bisa menunggu sampai Bella tiba di sini.“


"Tak perlu khawatir. Cepat pergi, kamu tidak boleh membuat kakek menunggu." Widya mendorong Azri agar pergi. Pria itu menghela napas lalu mencium kening Widya untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Jaga dirimu baik-baik oke, dan.“ Azri membungkuk ke perut istrinya yang besar, "Dengarkan Ayah, Nak. Jangan mencoba untuk membuat ibumu panik selagi Ayah pergi. Jika kamu ingin bertemu dengan kami, tunggulah sampai Ayah kembali, kamu akan menjadi anak yang pintar dan penurut."


Azri menciumnya lalu mencium pipi Widya sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Widya tertawa mendengar kata-kata suaminya.


"Aku tidak akan melahirkan sekarang. Bukankah dokter berkata waktu perkiraannya dua minggu lagi?"


"Dokter bisa saja salah, Sayang. Aku hanya mengantisipasi. Kamu langsung tekan nomorku jika kamu merasa mulas atau berteriak saja kepada Ardi. Dia akan segera membawamu ke rumah sakit bersalin."

__ADS_1


"Oke."


Widya melambaikan tangan pada mobil suaminya yang melaju pergi meninggalkan rumah. Ardi, kepala penjaga yang sejak tadi siap siaga di belakangnya membungkukkan badan ketika ia lewat. Ia hanya tinggal menunggu Bella. Selama itu ia akan duduk di atas sofa sambil menikmati buah-buahan yang sudah disediakan pelayan untuknya.


"Hei, Pretty Mom!"


Widya menoleh dan melihat Bella melambaikan tangan lalu menghampirinya dengan langkah cepat. Widya lega sekali bisa bertemu dengannya. Sejak ia berhenti dari pekerjaannya, ia menjadi kesulitan jika ingin mengajak temannya itu bicara. Azri memberinya banyak sekali tugas karena Bella telah diangkat menjadi Manager HRD.


Semua itu bukan karena kedekatannya dengan istri CEO, melainkan karena kerja keras dan dedikasinya. Di saat perusahaan hampir bangkrut dan semua pegawai melakukan demonstrasi, hanya Bella yang setia dan berada di barisan depan untuk tetap berada di pihak Pradipta Group.


"Syukurlah kamu cepat datang. Aku hampir saja akan menelponmu." Widya memeluknya.


"Mustahil. Aku rindu padamu, terutama pada si kecil di perutmu ini. Apa dia aktif?" Bella dengan penasaran menempelkan telinganya di tonjolan besar di perut sahabatnya.


"Sangat aktif. Kupikir dia akan merobek perutku agar bisa keluar dari sana," ucap Widya memperlihatkan wajah lelahnya.


Bayi dalam kandungannya memang aktif dan selalu menendang, terkadang dengan kekuatan yang membuat Widya terjaga dari tidurnya.


"Minggu depan atau dua minggu lagi. Tapi itu hanya perkiraan saja."


Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan ke topik apa pun yang menghibur bagi keduanya. Widya merasa seperti kembali ke masa sebelum ia menikah. Waktunya bersama sahabat selalu terasa menyenangkan. Mungkin masa menyenangkan itu akan kembali terulang di saat anaknya sudah lahir nanti.


"Widya, ada apa?" Bella tiba-tiba cemas ketika menengok ke arahnya.


"Apa maksudmu?"


"Kamu berkeringat terlalu banyak." Bella mengulurkan tissue lalu membantu Widya mengelap keningnya yang basah oleh keringat.


Widya tidak tahu kenapa ia berkeringat sebanyak ini. Ini bukan keringat karena kelelahan, tetapi ini adalah keringat yang muncul setiap kali ia menahan sakit atau mulas yang melilit perutnya. Seperti saat ini, entah sejak kapan perutnya seperti diperas sangat kencang.


Sebenarnya rasa sakit ini tidak terjadi kali ini saja, tetapi sejak pagi ia merasa mulas, tetapi tidak seintens dan sesakit ini.


"Aku tidak tahu, Bella. Tapi perutku rasanya sakit." Widya memeluk perutnya, bibirnya yang beberapa menit lalu masih tampak segar sekarang berubah pucat.

__ADS_1


"Ya Tuhan, mungkinkah kamu akan melahirkan?!" Bella memekik sambil bangkit. Apa lagi jawaban dari kesakitan Widya itu selain mulas karena akan melahirkan?


"Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit. Tunggu di sini."


"Bella!"


Widya hendak meraih Bella, tetapi sahabatnya itu sudah lenyap, meninggalkannya sendiri yang sedang berjuang sekuat tenaga menahan sakit di perut dan pinggangnya.


"Aaaa, El-"


Widya mengerang, ia mencengkeram bantal sofa yang ada di dekatnya ketika rasa sakitnya menusuk-nusuk seperti dihunus puluhan jarum sekaligus. Napasnya sudah tersengal dan kepalanya seperti diputar-putar. Beberapa pelayan yang mendengar jeritannya langsung mendekat panik.


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?"


Bella tak lama kembali bersama Ardi, mereka tergopoh-gopoh menghampiri Nyonya rumah itu. Mereka segera memapah Widya menuju mobil yang sudah siap di depan rumah. Bella menemaninya, tak pernah melepaskan tangan Widya sedikit pun sementara sahabatnya itu sedang berjuang.


"Tahan beberapa saat lagi. Aku tahu kamu ibu yang kuat."


Dengan penuh pengertian Bella memeluk Widya. Ia merasa kasihan melihat Widya mengerang dengan tubuh dibanjiri keringat. Ia tidak menjerit, hanya merintih sambil mengigit bibirnya.


"Rasanya sakit sekali, Bella," bisik Widya serak karena menahan sakit.


Bella meringis karena tangannya dicengkeram dengan erat oleh sahabatnya itu, tetapi ia tidak berani protes. Ia tersenyum lalu mengusap keningnya.


"Aku tahu. Tapi aku yakin Widya yang kukenal bisa melewatinya. Ini hanya sementara, ingat kau sangat menanti kelahiran anakmu."


Kata-kata itu membuat Widya merasa lega, ia tersenyum dan untuk sesaat rasa sakitnya seperti menghilang. "Terima kasih."


"Aku harus menghubungi suamimu."


Bella langsung menekan nomor Azri.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2