Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Wine and tea


__ADS_3

Widya sedang membaca novel favorit nya saat ia mendengar pintu dibuka. Ia melirik jam lalu mendesah. Azri selalu pulang selarut ini dan ia sendiri bingung mengapa diri nya menunggu pria itu kembali ke apartement mereka. Untuk apa ia peduli? Azri saja tidak mempedulikan nya.


"Kau belum tidur?" tanya Azri agak terkejut menemukan istri nya masih duduk manis di sofa ruang tengah.


"Kau sendiri baru pulang. Bagaimana makan malam nya, menyenangkan?"


Nada suara Widya acuh tak acuh. Azri hanya memperhatikan nya sejenak sebelum mengambil satu botol wine dari lemari khusus wine lalu membuka tutup nya.


"Begitulah," gumam nya asal.


Sebenar nya sangat menyebalkan dan semua nya karenamu, gerutu Azri dalam hati. Namun, ia lebih memilih mencari damai karena jika ia menyuarakan nya, akan timbul perang malam ini. la sudah terlalu lelah untuk berdebat.


Widya melihat Azri menuang cairan dari dalam botol itu ke dalam gelas. Ia hanya menggelengkan kepala. Kali ini ia tidak akan mencegah Azri meminum nya. Percuma saja. Ia hanya memperhatikan tindak tanduk Azri diam-diam dari tempat nya.


Azri heran juga karena Widya tidak mencegah nya meminum wine. Apa gadis itu mulai tidak peduli lagi pada nya?


Tunggu, bukankah itu bagus? Dengan begini ia tidak perlu bertengkar lagi dengan gadis itu. Mungkin saja diam-diam Widya sudah memikirkan perceraian. Azri perlahan-lahan meminum wine itu, tetapi detik berikutnya air itu menyembur keluar dengan cepat dari mulut nya.


"Apa ini?!" teriaknya histeris sambil menatapi gelas berisi cairan kekuningan yang dipegang nya.


Widya berusaha mati-matian menahan tawa melihat betapa histeris nya Azri saat ini. la berpura-pura tidak peduli saat Azri menoleh ke arah nya dengan wajah yang menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan pada minumanku?!" marah Azri.


Widya tetap fokus pada buku yang dibacanya. "Tidak ada."


"Kau bohong. Lalu kenapa rasa nya seperti teh begini?"


"Itu memang teh."


"Apa?!" Azri berteriak heboh kembali. Ia menyambar cepat botol wine miliknya dan meminum nya langsung dari botol.


Ternyata lidahnya tidak salah. Ini memang teh. Ia menatap cepat botol-botol wine yang berjejer rapi di tempatnya lalu membuka nya satu persatu untuk dicicipi. Sekujur tubuh Azri membeku ketika sadar semua isinya sudah berubah menjadi teh. Ia menoleh cepat pada Widya yang tetap santai membaca buku. Gadis itu pasti pelaku nya.


"Kau apakan wine-ku, HAH!" teriak Azri tidak terima.

__ADS_1


Widya dengan tenang menutup bukunya. la menatap Azri dengan ekspresi datar sambil berdiri.


"Aku hanya mengganti nya dengan minuman yang lebih sehat. Bukankah kau sangat suka minum dari botol itu? Aku hanya mengganti isinya. Apa nya yang berbeda?"


Azri tercengang. Ia mengacungkan botol wine tepat ke depan wajah Widya dengan tidak sabar. “Kau tidak tahu semua wine ini sangat berharga? Kau kemanakan isi botol-botol wine-ku!"


Memang nya aku peduli? Tak peduli berapa banyak uang yang sudah kau habiskan untuk membeli minuman itu, semua nya hanya cairan yang bisa merusak tubuh.


"Kubuang ke wastafel itu.“


Widya mengendikkan dagu nya ke arah wastafel yang ada di dapur. Azri menoleh cepat ke arah wastafel yang dimaksud Widya lalu berlari ke arahnya. Ia mengendus wastafel itu dan benar, tercium wangi khas anggur yang dikenal nya dengan baik.


"Widya!" geram Azri. Ia naik pitam. "Kau tahukah harga satu dari wine itu lebih mahal dari harga gajimu selama satu bulan?!"


Widya mengendikkan bahu. “Aku tahu. Lalu?"


"Kenapa kau membuang nya? Aku mendapatkan semua itu dengan susah payah!"


Widya sudah tidak peduli lagi dengan pelototan ataupun teriakan Azri. Ia sudah tidak mau tahu lagi. Terserah pria ini akan marah besar ataupun memakinya habis-habisan.


"Aku tidak ingin mengajakmu berdebat malam ini. Kau harus segera tidur karena besok kita memiliki jadwal yang sangat padat," ucap Widya datar, berusaha melawan Azri yang tampak seperti singa marah yang ingin membunuh nya.


"Sekarang kau tidak memiliki hak sama sekali untuk mengaturku."


"Oh, sayang nya aku bisa.“


Sebelum Azri membalas Widya dengan sigap memborgol kedua tangan Azri.


"Hei! Apa lagi ini?!"


Widya akan pura-pura tuli untuk malam ini. Ia tidak peduli pada teriakan Azri saat ia menyeret pria itu ke dalam kamar nya lalu mengunci nya di dalam.


"Widya, kupastikan riwayatmu tamat besok!" teriak Azri dari dalam dan Widya hanya menutup telinga nya rapat-rapat.


"Coba saja kalau kau bisa!" balas Widya lalu pergi ke kamar nya untuk tidur. "Maaf, tapi kau harus pergi ke suatu tempat besok," tambah nya pelan.

__ADS_1


"Salah sendiri kenapa tidak mau mendengarkanku." Widya lalu mematikan lampu kamar nya untuk tidur.


***


"Bangun."


Azri merasakan guncangan di tubuh nya yang tertidur di atas karpet nya setelah semalaman marah-marah tidak jelas pada barang-barang di kamar nya. Ia tidak bisa meninju ataupun melempar sesuatu karena tangan nya diborgol oleh gadis gila itu.


Apa salah nya sampai Widya memasang borgol di kedua tangan nya?


Saat Azri membuka mata, gadis itu sudah rapi dengan baju santai dan sebuah tas ransel di punggung nya.


"Bangun pemalas."


Guncangan menimpa Azri lagi karena ia enggan bangun dari tidur nya.


"Apa lagi maumu sekarang?" Azri kesal. Ia bahkan tidak peduli pada penampilan nya yang acak-acakan mirip orang yang baru saja terjebak dalam badai.


Widya memberikan kaus training pada Azri.


"Apa ini?"


"Kaus training, Tuan muda Pradipta." Widya memutar bola mata nya.


"Aku tahu, maksudku untuk apa kau memberiku ini?"


"Cepat siap-siap. Mulai hari ini kau resmi menjadi peserta training Pradipta Group."


"What the hell?!"


Pagi ini, terpaksa Azri yang harus berteriak kaget.


Bersambung ....


Kalian suka kalau aku pakai kata "kau" atau "kamu" dalam dialog? Kalau aku pribadi sih lebih suka kata "kau" ya, karena baku.

__ADS_1


__ADS_2