Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 60


__ADS_3

Malam itu Widya terbangun karena belaian lembut Azri di perut nya. Ia berbalik dan terkejut mendapati suami nya terjaga.


"Kamu tidak tidur?" Widya mengantuk. la merapatkan tubuh nya ke pelukan Azri. Pria itu menyambut nya dengan senang hati.


"Aku tidur, tapi kemudian terbangun untuk memastikan apa yang kita lakukan nyata atau tidak. Begitu melihat mu tidur dengan nyaman di pelukan ku, aku lega ternyata aku tidak bermimpi."


Widya merona tanpa tahu apa sebab nya. "Dan kamu tidak tidur lagi?"


"Sulit tertidur saat gadis dalam pelukan ku dalam kondisi rentan," usil Azri.


"Hei!"


Azri tergelak. Ia menangkap tangan Widya yang memukul dadanya lalu mengecup nya.


"Kamu tidur sangat nyenyak. Aku pasti sudah membuat mu kelelahan. Ingatkan aku." la mengakui diri nya memang lebih bersemangat dari biasa nya. Ia begitu lega mendapati Widya ternyata tidak mendapati diri sehingga ia melampiaskan kegelisahan, khawatir dan gembira nya dalam percintaan mereka.


"Kenapa meminta maaf? Kamu malah membuat ku malu." Widya menggerutu dengan pipi merona.


Azri selalu bertanya-tanya apa yang membuat gadis ini begitu memiliki pesona yang membuat nya memohon, bahkan memuja-muja cinta nya. Dia gadis biasa, tidak terlalu cantik bahkan latar belakang keluarga nya pun biasa saja. Azri hanya tahu gadis bernama Widya Lovarza ini adalah gadis pilihan Ayah nya, berpendidikan, dan tahu cara mengendalikan nya. Untuk yang terakhir Azri membenci nya. Tidak ada gadis yang tahu cara mengendalikan nya, setidak nya ibu nya saja tidak bisa. Namun, memang itulah kehebatan Widya.


Bahkan dengan kondisi rambut yang sedikit berantakan, pipi merona, dan mata menyorot sayu, Widya tetap memiliki pesona yang membuat Azri jatuh bangun. Ia sangat menginginkan wanita ini. Lebih dari apa pun di dunia.


Widya tenggelam dalam sorot mata Azri. Kelembutan dalam manik mata nya memicu rasa takut Widya. Ia takut akan terjebak pada perasaan yang akan menyerang nya balik suatu hari nanti. Bagaimana jika ia tidak mampu melepaskan pria ini? Bagaimana jika hati nya justru tidak rela jauh dari pria ini?


"Kamu menunjukkan raut itu lagi."


Kedua mata Widya mengerjap kaget. "Raut apa?" Memang bagaimana ekspresi nya sekarang?


Azri mengerutkan dahi. "Katakan, sebenar nya apa yang mengganggu mu? Kamu bertindak aneh hari ini. Kamu menangis di belakang ku tapi menolak mengatakan apa alasan nya. Apa mungkin pria tua itu mengatakan sesuatu pada mu?"


Bagaimana pun, Widya adalah gadis pilihan ayah nya. Suka atau tidak, pria itu akan selalu berada di belakang Widya untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Azri tidak tahu apa yang dikatakan ayah nya sampai membuat Widya menangis, satu hal yang bisa dipastikan, menurut pendapat pria itu Widya sudah melakukan kesalahan.


"Ayah tidak ada hubungan nya dengan alasan ku menangis!"

__ADS_1


Widya berdebar-debar karena Azri menebak setengah nya dengan benar. Apa mungkin dia sudah tahu tentang kontrak nya dengan Mahendra?


Tidak. Jika Azri sudah tahu, tidak mungkin dia diam saja.


"Kalau begitu kamu menangis karena alasan lain?"


Kenapa dia tidak menyerah saja? Widya sangat ingin menghindari topik ini.


"Aku menangis bukan karena hal gawat. Aku hanya merindukan keluarga ku. Karena itu aku menemui kakek dan menangis." Widya melihat Azri masih tidak percaya, maka menambahkan. "Sebenar nya aku juga sedang galau. Aku khawatir kamu akan menceraikan ku.“


"Aku menceraikan mu?" Azri terperanjat. "Setelah kita tidur bersama dan menyatakan cinta? Apa yang membuat mu berpikir demikian?"


"Kamu menikahi ku dengan perasaan benci. Soal tidur itu terjadi karena kamu memenangkan taruhan. Dan untuk pernyataan cinta mu, kupikir kamu biasa mengatakan nya perempuan yang sudah tidur dengan mu hanya untuk formalitas." Widya malu sendiri karena mengemukakan alasan yang sangat dibuat-buat.


Azri sungguh tak habis pikir, sedih juga karena Widya salah paham pada pernyataan suka nya yang tulus. Namun, ia juga tidak bisa membantah. Dulu ia memang membenci Widya dan reputasi nya sebagai bad boy pun membuat Widya sulit membedakan apakah diri nya bersungguh-sungguh atau hanya mempermainkan nya.


"Asal kamu tahu." Azri mengecup sudut bibir nya, berharap Widya bisa merasakan ketulusan hati nya. "Bercerai dengan mu adalah hal terakhir yang ku pikirkan. Aku meminta maaf dengan tulus atas sikap ku sebelum nya. Aku tahu ucapan mu benar, tapi karena ego ku yang setinggi langit dan karena kamu orang suruhan pria tua itu, aku membenci semua tentang mu."


Widya tidak tahu harus merespon dengan cara apa. la terharu sekaligus sedih. Hati nya perih untuk dua alasan yang berbeda. Banyak sekali hal yang ingin ia ungkapkan, tetapi yang bisa ia ucapkan hanya, “Terima kasih," dengan kedua mata berkaca-kaca.


Melihat Widya terlihat lega seolah baru saja diberitahu bahwa dia bebas dari hukuman gantung, Azri pun ikut merasa lega. Tadi ia sempat berpikir bahwa Widya menangis karena ayah nya yang suka ikut campur itu menyuruh nya agar bercerai. Jika dugaan nya benar, ia tidak akan tinggal diam.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menceraikan mu." Azri meyakinkan Widya sekali lagi dengan mencium lembut bibir nya.


Hati Widya berbunga mendengar Azri mengatakan itu. "Kamu bersungguh-sungguh?"


"Tentu saja. Aku belum puas membalaskan dendam ku pada mu. Akan kubuat kamu menyesal sudah menarik ku dalam kehidupan mu."


Tentu saja itu hanya gurauan. Azri mana mungkin masih memikirkan rencana jahat nya setelah ia begitu menyayangi gadis ini.


Sayangnya Widya tidak sadar bahwa Azri hanya bercanda. Ia tercekat. Balas dendam? Kalimat itu kembali mengingatkan nya pada tujuan awal Azri menikahi nya. Bukankah memang berlatar belakang balas dendam?


"Kamu tahu, Sayang? Aku selalu suka menghabiskan waktu di ranjang bersama mu.“ Azri mendekap nya dengan erat.

__ADS_1


Widya masih dalam tahap menyesuaikan diri setelah ditohok dengan gurauan Azri barusan. Tanpa sadar ia menjawab nya sambil mendengkus.


"Apa ini kalimat yang kamu gunakan pada setiap wanita yang sudah tidur dengan mu?"


Apa kamu cemburu, Sayang? Azri menahan senyumnya melihat Widya cemberut. Ia jadi terpicu untuk menggoda nya. "Tidak, aku cukup mengerlingkan mata ku pada mereka dan mereka datang menghampiri ku dengan sendiri nya untuk menyerahkan tubuh mereka."


"Lalu kamu tidur dengan mereka?"


"Hanya jika aku mau. Aku tidak meniduri sembarang perempuan. Mereka harus memenuhi banyak persyaratan."


Azri tidak pernah mengharapkan akan muncul topik pembicaraan semacam ini dan ia juga heran mengapa ia bisa sejujur ini. Biasa nya jika ada wanita yang bertanya hal seputar s**ual life-nya, ia akan langsung mendepaknya. Namun, kali ini Widya yang bertanya, tidak ada yang bisa dilakukan nya selain berkata jujur. "Persyaratan apa?"


Azri menyelidiki sorot mata Widya, mencari apa yang salah dengan gadis ini. Kenapa dia selalu membuat Azri bertanya-tanya, siapa, apa, bagaimana bisa, dan mengapa. Meskipun begitu, rasa penasaran nya membuatnya tampak menggemaskan. "Dia haruslah cantik, tubuh nya indah, dan dia berjiwa bebas."


Widya sendiri tertegun. “Lalu kenapa kamu ingin tidur bersama ku?" Azri menatap nya sedikit terkejut sehingga ia lekas menambahkan. "Maksud ku, bukankah kamu ingin wanita yang tidur dengan mu cantik, bertubuh indah, dan berjiwa bebas. Sementara aku adalah kebalikan dari semua itu. Dan bukankah itu alasan mu mengencani Marleen dulu?"


Widya yakin ia sudah salah kata karena ekspresi Azri berubah datar. Seharus nya ia tidak membahas Marleen lagi. Nama itu sudah lama sekali tidak di sebut di antara mereka. Di saat ia hendak memalingkan mata dari pandangan Azri, mendadak saja ranjang terasa bergoyang, membuat nya terkesiap. Kini Azri mendekatkan wajah ke arah nya. Kedua tangan Azri tidak lagi berada di atas tubuh nya, tetapi bertopang pada ranjang yang ada di kedua sisi kepala nya, mata hitam dan tajam Azri menatap nya lurus.


"Bukankah sudah ku katakan, aku mencintai mu," bisik Azri tepat di sudut bibir nya.


Jantung Widya bertalu cepat. Kondisi mereka yang sama-sama tak berbusana, hanya tertutup sehelai selimut sama sekali tak membantu.


Kedua tangan Azri merengkuh wajah nya. Tangan nya yang kekar itu bisa menggenggam rahang Widya dengan sempurna, membuat pandangan nya terkunci pada sorot mata Azri.


"Marleen tidak lebih dari sekedar teman kencan yang menyenangkan. Aku tidak pernah mencintai nya."


Azri berkata jujur. Ia memang tidak pernah mencintai Marleen meskipun sempat terpikir mungkin Marleen adalah pengganti Yuna yang sempurna, tetapi ia salah. Widya-lah wanita yang ia cari selama ini. Wanita yang berhasil membuat nya siap untuk jatuh cinta kembali. la sangat mencintai nya sampai-sampai rela melakukan apa pun agar Widya tetap berada di samping nya.


Karena itu terbersit ide dalam benak Azri. Mungkin jika ia berhasil menghamili Widya, gadis ini tak akan kabur dari nya. Itu ide yang bagus bukan? Membayangkan Widya yang mengandung anak nya saja sudah membuat nya bahagia.


Selagi Widya terpekur dalam pikiran nya, Azri membelai wanita itu hingga dia akhir nya menginginkan apa yang Azri inginkan.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2