Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 115


__ADS_3

"Kenapa suamimu belum tiba juga?"


Bella terus berjalan bolak-balik di samping ranjang tempat Widya berbaring. Dokter yang bertugas membantu persalinannya sedang memeriksa wanita itu sementara asisten-asistennya mempersiapkan peralatan untuk membantu proses persalinan.


"Bella, tenanglah," bisik Widya pelan. Ia heran kenapa Bella yang panik sementara dirinya tidak begitu mengkhawatirkan ketidakhadiran Azri, karena ia tidak sendiri. Bella dan dokter yang lain ada menemaninya.


"Baik, aku akan tenang."


Bella langsung berhenti berjalan. Ia duduk di samping tempat tidur Widya lalu menggenggam tangannya lagi. “Kamu baik-baik saja bukan?"


Widya mengangguk pelan.


"Kapan perkiraan proses persalinannya Dok?" Bella bertanya pada dokter yang kini sedang memeriksa denyut nadi Widya.


"Sekarang sudah masuk pembukaan 7, jika pembukaan selanjutnya cepat dan lancar mungkin sekitar satu atau dua jam lagi."


"Syukurlah. Suamimu mungkin sudah tiba saat si kecil akan lahir nanti."


Tak perlu menunggu selama itu karena beberapa saat kemudian Azri muncul seperti orang yang dikejar anjing. Panik, khawatir, dan ketakutan. Beberapa suster yang berada di sana terkesima melihatnya. Azri tetap terlihat tampan meski dalam kondisi paling kacau sekalipun. Widya tersenyum saat melihat suaminya.


"Hallo, Ayah," sahutnya santai.


Raut wajah Azri langsung berubah ketika melihat kondisi istrinya baik-baik saja. Bahu pria itu turun karena perasaan lega. Kakinya melangkah cepat mendekati Widya.


"Kamu baik-baik saja, Sayang? Astaga, aku sungguh menyesal meninggalkanmu sendirian." Azri langsung mencium kedua pipi Widya, menghiraukan beberapa pasang mata yang saat ini sedang menyaksikan adegan itu.


"Dia baik-baik saja. Dia ibu yang kuat," jawab dokter lebih dulu. "Kita hanya tinggal menunggu sampai pembukaan ke sepuluh sebelum bayinya lahir." Dokter itu lalu meninggalkan ruangan.


Azri mengangguk lalu menempati kursi yang tadi diduduki Bella. Widya melirik ke belakang Azri.


"Bukankah kau menjemput kakek? Mana dia?"


Seperti disadarkan, Azri langsung menoleh ke belakangnya. "Astaga, aku meninggalkan kakek di lobi. Setelah mengetahui nomor kamarmu aku langsung berlari kemari. Dia pasti sedang dalam perjalanan kemari."


Bella langsung tergelak, "kepanikan bisa membuat bosku ceroboh juga."


"Diamlah." Azri menggeram, "Sekarang bisakah kamu menjemput kakek? Ah, jangan lupa hubungi ayahku juga."


"Apa kamu sedang memerintahkanku sekarang? Ini bukan jam kantor," omel Bella


"Lakukan!" Azri melotot.


Bella mendengkus, “Baiklah!" Ia lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.


Ketika Azri kembali menatap istrinya, ia terkejut melihat Widya menyipitkan mata. "Itu hanya akal-akalanmu saja."


Pria itu menyeringai, pandangannya melembut kemudian. "Aku mencemaskanmu, Honey. Aku Tidak akan membiarkanmu melewati proses ini sendirian, kamu tenang saja. Aku ingin menjadi saksi ketika anak kita lahir nanti.“


Azri mencium tangannya dengan lembut. Kekhawatiran yang tersirat jelas di wajahnya membuat Widya lega. Meskipun kontraksi semakin sering terjadi, ia tidak terlalu merasakannya berkat senyuman suaminya.


"Kamu membuatku terharu."

__ADS_1


Kedua mata Widya berkaca-kaca. Azri mendekat untuk mencium bibirnya. Memberitahunya bahwa segala perasaan cinta yang ia miliki hanya untuk dirinya seorang, dan anak mereka kelak.


Ciuman mereka terhenti karena Widya merasa kontraksi yang panjang melilit perutnya. Ia mengerang kesakitan.


"Suster, istriku!" teriak Azri panik.


Para suster itu langsung sigap menangani Widya. Dokter dipanggil dan muncul beberapa saat kemudian untuk mengecek kondisinya. Dokter itu tersenyum.


"Well, sepertinya si kecil sudah tidak sabar ingin bertemu kalian." Ia langsung menyuruh suster-susternya untuk bersiap-siap karena proses persalinan akan berlangsung.


Azri yang mengerti langsung berdiri di samping Widya sambil memegang tangannya. "Kamu siap Sayang, anak kita akan lahir," bisiknya.


Peluh sudah membasahi wajah, leher sampai membasahi rambutnya. Widya mengangguk dengan sangat lemah karena ia sedang berjuang melawan rasa sakit di perutnya.


"Ikuti instruksiku dan ambil napas, lalu mulai mendorong," ucap dokter itu, berdiri di antara kaki Widya yang sudah ditutupi selimut. Suster sudah melepas baju rumah sakit yang dikenakan Widya untuk mengurangi kemungkinan pasien mengalami dehidrasi.


Widya mengangguk dan mengikuti setiap instruksi dokter dengan baik. Ia menarik napas lalu mulai mendorong. Sepanjang proses itu berlangsung ia tak henti-hentinya menjerit, ia mencengkeram kepala ranjang yang terbuat dari besi dan tangan suaminya dengan kencang. Mungkin nanti tangannya akan biru atau mungkin sekarang ia sudah melukai tangan suaminya sendiri.


"Sayang, kau bisa.“


Azri tidak tahu bagaimana caranya mengatasi kondisi ini. Ia sungguh tidak tega melihat Widya kesakitan, berjuang sendirian melahirkan anak mereka. Bila Tuhan mengizinkan, ia harap sebagian rasa sakit itu dilimpahkan padanya. Azri sampai berkaca-kaca, atau mungkin sudah menangis mengetahui dirinya hanya bisa memberi semangat untuk Widya. Oh Tuhan, percepatlah proses ini. Ia tidak sanggup melihat istrinya kesakitan.


Rasanya waktu berlalu begitu lambat. Azri tak henti-hentinya menyeka keringat di kening istrinya sambil tak henti memberinya semangat. Dan ketika terdengar suara tangisan bayi memenuhi kembali diruangan, segalanya seperti berjalan.


Widya langsung menghempaskan kepalanya ke atas bantal dalam kondisi kelelahan sementara Azri merasa lega luar biasa. Widya menatap langit-langit dengan perasaan bercampur aduk. Senang, lega, dan yang pasti ia sangat bersyukur karena ia berhasil melahirkan anaknya.


Untuk sesaat ia ragu, ia takut ia tidak memiliki kekuatan untuk melahirkan anaknya. Ia takut karena ketidakmampuannya anaknya lahir dengan cara tidak normal. Namun, sekarang ia merasa lega, terlalu lega sampai pandangannya mulai mengabur. Tenaganya sudah habis karena mengejan dan berteriak.


"Buat dia tetap sadar, jika dia pingsan itu bisa membahayakan nyawanya!” seru dokter saat melihat kondisi Widya.


Perhatian Azri langsung kembali pada istrinya. Ia membelalak melihat Widya dalam keadaan setengah sadar, mungkin akan jatuh pingsan beberapa saat lagi.


"Sayang, lihat aku.“


Azri langsung mengusap kening Widya, memberinya kehangatan sekaligus membuatnya tetap terjaga. Istrinya membuka mata dengan susah payah. Sorot matanya meredup, tetapi kebahagiaan tergambar jelas di dalam mata jernih itu.


"Apa aku berhasil melahirkannya?"


Azri merasa begitu lega melihat Widya tersenyum padanya. "Iya. kamu berhasil melahirkannya. Kamu sungguh hebat. Aku bangga padamu," serunya lalu mencium bibir pucat istrinya dengan lembut.


Widya terisak bahagia. Ia memeluk leher Azri lalu menangis kecil di bahunya.


"Selamat Tuan, bayi yang lahir perempuan. Apa kalian ingin menggendongnya?" ucap suster membuat Widya melepaskan pelukannya. Matanya langsung berbinar gembira ketika ia melihat bayi yang baru dilahirkannya sudah dibersihkan dalam gendongan suster itu.


"Tentu saja, aku ingin sekali memeluknya." Widya dengan semangat mengulurkan kedua tangannya.


Detik pertama ketika bayi itu pindah dalam dekapannya, Widya benar-benar menangis. Bayi mungil itu memejamkan mata, seolah malu untuk menatap ayah dan ibunya. Kedua tangannya menyembul di sisi kepalanya karena kain itu tidak benar-benar membungkus tubuhnya.


Azri memeluk Widya dengan pandangan tak lepas dari putrinya.


"Astaga, aku tidak memiliki kesempatan apa pun untuk ini. Dia benar-benar mirip denganmu. Sangat cantik. Aku yakin setelah dia tumbuh dewasa nanti dia akan mematahkan hati banyak pria," ucapnya tak jub lalu menoleh padanya, "Sepertimu." Widya tertawa.

__ADS_1


"Aku tidak mematahkan hati siapapun. Tapi lihat mulut ini, dia mirip sekali dengan milikmu.“


"Tentu saja, mulut yang seksi dan mempesona."


Azri tersenyum sendiri dengan pengakuannya. Bayi itu bergerak, merasa terusik dengan suara-suara di sekitarnya. ketika merasakan sentuhan bibir ibunya di kedua pipinya yang merah, bayi itu menggeliat lalu menangis. Suaranya yang lantang dan nyaring memenuhi ruangan. Bukannya panik, kedua ayah dan ibu baru itu justru tertawa gembira.


"Waktunya memberi dia ASI untuk pertama kali,” ucap Dokter, ikut tersenyum melihatnya.


Bayi itu tampak mencari-cari ****** susu ibunya ketika Widya mendekapnya di dadanya. Dan ketika menemukannya, pipinya yang bulat tampak bergerak begitu bersemangat menikmati makanan pertamanya itu.


"Astaga, sepertinya dia sangat kelaparan." Azri tersenyum geli melihatnya.


Setelah bayinya kenyang dan terlelap kembali, suster itu membawa bayinya untuk ditidurkan di atas ranjang bayi. Tak lama setelah ia dipindahkan ke ruang rawat biasa, ia ingin menggendong bayinya lagi. Padahal baru setengah jam ia berpisah dengan bayinya, tetapi rasanya seperti setahun.


Widya mengusap kening putrinya yang sedang tertidur, lalu mencium rambut di kepalanya yang lebat.


"Ibu akan merawatmu sampai kamu tumbuh dewasa, Sayang."


Azri terharu melihat cara Widya mengatakannya, penuh dengan kasih sayang. Ia mendekap istrinya. “Kita akan membesarkannya bersama."


"Kita akan memanggilnya apa?"


Widya mendongak pada suaminya. Azri memiringkan kepala. Se jujurnya ia belum menyiapkan nama untuk calon anaknya karena berpikir kelahiran anaknya masih dua minggu lagi.


"Liana, Berliana Ruby Pradipta. Aku ingin cucuku bernama Berliana."


Widya dan Azri menoleh ke arah pintu. Mereka terkesiap melihat kakek Pradipta dan Ayahnya masuk bersamaan lalu disusul Bella di belakang mereka.


"Aku ingin menggendongnya."


Kakek mendahului menghampiri ranjang menantunya. Wajahnya terlihat begitu bahagia, Widya menyerahkannya dengan hati-hati.


"Hati-hati, dia sedang tertidur," ucap Widya. kakek Pradipta dengan suka cita menimang cicit pertamanya.


"Dia sangat cantik, seperti ibunya," komentar Mahendra.


"Astaga, aku tidak percaya akan dipanggil Bibi kelak." Bella terisak.


Widya dan Azri saling pandang melihat putrinya dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Azri tahu Widya mungkin akan bosan mendengarnya, tetapi ia tidak akan bosan mengatakannya.


"Aku mencintaimu."


Istrinya itu melebarkan mata, jantungnya seperti jatuh dari tempatnya. Tetapi keterkejutan itu tak berlangsung lama karena ia lalu tersenyum. "Aku tahu."


Azri mendengkus, “Hanya itu jawabanmu?“


Detik berikutnya Widya mendongak untuk menjawab kekecewaan Azri. "Aku juga mencintaimu."


Senyuman keduanya terbit. Selagi tidak ada yang memperhatikan, mereka saling mendekat lalu menyatukan bibir mereka. Menyatukan cinta dan hati mereka.


END ....

__ADS_1


ALHAMDULILLAH, SETELAH SEKIAN LAMA, AKHIRNYA NOVEL INI END. TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SELALU SETIA MEMBACA NOVEL INI. LOVE YOU DARI MAS AZRI DAN MBAK WIDYA.


__ADS_2