Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 89


__ADS_3

Langit sudah gelap ketika Azri tiba. Ia tidak sabar untuk tiba di apartemen nya untuk melihat istri nya tercinta. Waktu makan malam sudah tiba. Mungkin saat tiba di sana Widya akan langsung mengajak nya makan malam. Ia rindu masakan gadis itu.


"Azri, boleh kah aku meminta bantuan mu?" Lia menghampiri ketika Azri akan naik mobil jemputan nya.


"Bantuan apa?"


"Mobil jemputan ku tidak bisa datang. Apa kamu bisa mengantar ku pulang?"


Azri mengeryit bingung. Maksud Lia terlihat dengan jelas. Bukan kah dia bisa memanggil seseorang untuk menjemput nya? Untuk apa meminta ia mengantar padahal ia sedang terburu-buru? Namun, ia tidak ada waktu untuk berdebat. "Baiklah," putus Azri membuat Lia senang bukan main.


Dalam hati Lia bersorak. Ternyata, dia masih tidak bisa menolak permintaan ku. Nanti setelah tiba di rumah aku akan memaksa nya makan malam bersama ku.


"Pak, tolong antar kan Lia ke rumah nya dengan selamat." Azri berkata pada supir nya. Lia terperanjat mendengar hal itu.


"Kamu tidak pergi bersama ku?"


Azri memperlihat kan raut penuh penyesalan. "Aku tidak bisa. Istri ku di rumah sudah menunggu. Jangan khawatir, sopir ku akan mengantarkan mu dengan selamat ke rumah sementara aku akan naik taksi."


"Azri...." Lia berteriak ketika Azri tanpa mengatakan apa-apa lagi meninggalkan nya di samping mobil pria itu sementara dia menyetop taksi dan pergi.


Pukulan keras untuk harga diri seorang Lia Fernandez. Ia menatap taksi yang membawa Azri pergi dengan ekspresi tercengang. Azri El Pradipta baru saja meninggalkan nya di sini, sendiri?


***


Azri sudah berjanji pada diri nya sendiri bahwa ia tidak akan terpengaruh lagi. Setelah seharian bersama dengan Lia, ia semakin yakin bahwa gadis itu bukan lah Yuna.


Yuna yang di kenal nya adalah gadis yang lembut, ramah, dan tidak pernah mencoba memanipulasi siapa pun. Sementara Lia, jelas sekali ingin mencoba menarik perhatian nya. la tidak menyukai fakta itu. Namun, Azri berusaha memperlakukan Lia sebaik mungkin.


Bagaimana pun Lia tetap seorang wanita. Para wanita suka dengan sikap perhatian pria pada nya, dan semua hal yang Azri lakukan hari ini tidak berarti apa-apa bagi nya. la hanya melakukan semua itu demi tata krama sementara hati nya sudah ia tinggalkan di sini, di tangan gadis bernama Widya Lovarza.


Mengingat ekspresi terakhir Widya di bandara pagi tadi, entah kenapa Azri merasakan firasat buruk. Bayangan Widya yang pergi meninggalkan nya selagi ia bersama Lia di Pulau membuat nya ngeri, karena itu ia harus pulang secepat nya untuk memastikan ketakutan nya tidak terbukti. la bahkan sampai merelakan mobil nya di pinjam Lia. Ia tidak ingin halangan apa pun mencegah nya tiba di apartemen secepat mungkin.

__ADS_1


Akhir nya setelah tiga puluh menit terlewati Azri telah tiba di depan apartemen nya. Menekan kode keamanan apartemen nya dengan terburu-buru, ia langsung membuka pintu besar itu dan menyerbu masuk.


"Widya."


Teriakan nya sedikit berlebihan karena bercampur kepanikan. Pandangan nya mengedar ke seluruh penjuru apartemen yang rapi dan sepi. Karena tak ada jawaban Azri langsung mencari istri nya ke dalam kamar.


Ruangan tidur itu kosong. Pencarian nya pindah ke kamar satu nya lagi dan di temukan dalam kondisi serupa. Kepanikan tak bisa di sembunyi kan lagi setelah ia mencari ke seluruh penjuru apartemen yang ternyata kosong. Ia langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi gadis itu. Panggilan nya pun tidak di angkat.


Azri pergi ke luar untuk mencari istri nya. Ia berharap Widya belum jauh. Tiba di lantai bawah, ia bertanya pada security yang berjaga di pos nya di depan gedung apartement.


"Apa ada di antara kalian yang melihat istri ku keluar?" Azri memperlihat kan foto Widya. Salah satu dari security itu mengangguk.


"Sekitar satu jam yang lalu beliau keluar membawa koper, Tuan."


Wajah Azri langsung memucat. Widya pergi membawa koper? Sudah jelas gadis itu mencoba kabur dari nya. Kedua penjaga keamanan itu berpandangan heran.


"Apa ada masalah, Tuan?"


"Tidak." Azri menggeleng, bukan menjawab pertanyaan security itu melainkan untuk menepis pikiran buruk nya sendiri. Tiba juga saat yang paling tidak diinginkan nya.


Azri segera pergi mencari Widya dengan menggunakan mobil nya. Meski pun kemungkinan di temukan hanya beberapa persen saja, ia tidak akan menyerah. Ke mana ia bisa melacak Widya yang pergi satu jam yang lalu? Ada ribuan kemungkinan. Ia bahkan tidak tahu tujuan gadis itu pergi. Baiklah, orang yang pertama ia hubungi adalah sahabat nya, Bella.


"Widya? Tidak, dia tidak ada di sini. Apa yang terjadi?"


Bella bertanya heran di ujung telepon. Dari nada suara nya jelas ia tidak tahu apa pun.


"Tidak ada. Maaf mengganggu." Azri langsung memutus hubungan untuk menelepon orang lain. Bibi nya.


"Tidak, Widya tidak kemari. Ada apa?" jawab Bibi Swari kebingungan.


Azri mengerang dan tanpa mengatakan apa-apa lagi ia kembali memutus kan sambungan. Sekarang ia menghubungi rumah kakek nya. Tidak ada jawaban. Azri menyimpulkan kakek nya tidak ada di rumah. Akhir nya ia menghubungi teman-teman nya, meminta bantuan.

__ADS_1


"Ku mohon, bagaimana pun cara nya aku ingin kalian membantuku menemukan Widya," ujar Azri putus asa.


Bobby dan Ryan yang kebetulan berada di tempat yang sama bersedia membantu. Jhors langsung bergerak mencari Widya di seluruh stasiun dekat apartemen Azri sementara Kibum menggunakan koneksi nya untuk menghubungi pihak pengelola bus di seluruh kota. Dan Azri, kini dalam perjalanan menuju bandara.


Bandara itu masih di padati lautan manusia. Namun, Azri tidak pantang mundur mencari istri nya di antara ratusan orang itu. Ia berlari ke sana kemari mencari sosok istri nya. Ia bahkan meminta bagian keamanan bandara untuk menemukan Widya. Satu jam pencarian di seluruh penjuru bandara itu tak membuahkan hasil. Widya tidak ada di mana pun di bandara itu.


"Widya, sebenar nya kamu pergi ke mana?"


Azri meremas rambut nya. Ia sudah lelah dan frustrasi. Ia harus menemukan Widya secepat nya atau ia tidak akan bisa tidur malam ini.


Gemerlap malam kota yang indah tidak membuat Azri tenang. Ia mengendarai mobil nya dengan perasaan sedih. Seharus nya ia tahu ini akan terjadi. Seharus nya ia tidak memberikan kesempatan Widya pergi. Seharus nya ia tidak ke Pulau bersama Lia.


Begitu banyak penyesalan di alami Azri. Widya mungkin merasa sudah tidak ada gunanya lagi tinggal bersama nya. Oh Tuhan, apa mungkin Widya berpikir ia sudah jatuh cinta pada Lia karena menganggap gadis itu mirip Yuna?


Semua ini salah ayah nya.


Oh ya, ayah nya! Bagaimana Azri bisa lupa? Tentu saja satu-satu nya orang yang tahu ke mana pergi nya Widya adalah Pria Tua itu!


Dengan hati di penuhi secercah harapan dan kemarahan Azri membelokkan mobil nya mengarah ke rumah ayah nya. Namun ketika ia tiba di sana, security yang berjaga di gerbang memberitahu nya bahwa ayah nya tidak ada di rumah.


"Tuan besar tidak ada di rumah hari ini. Bukan kah beliau ada di rumah kakek Anda?"


"Apa?" Azri berseru kaget. Sekarang ia tidak punya waktu untuk protes, marah, atau menggerutu. Ia langsung pergi menuju ke rumah kakek nya.


Tiba di sana Azri langsung menerobos masuk. Ia mengabaikan kepala pelayan yang membungkuk kan badannya ketika ia melintas. Dengan tidak sabar ia bertanya.


"Mana ayah ku?"


"Tuan ada di ruang baca."


Azri lagi-lagi mengabaikan sopan santun nya dan langsung melangkahkan kaki nya ke ruang baca yang terletak di ujung lorong. Tempat itu adalah tempat favorit ayah nya di rumah ini, tentu saja. Azri mendorong dengan kencang pintu ruangan itu dan meringsek masuk. Ayah nya yang sedang duduk di salah satu sofa dengan buku di tangan nya tidak terkejut melihat Azri.

__ADS_1


"Kau mengirim istri ku ke mana!“


Bersambung .....


__ADS_2