Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 94


__ADS_3

Mereka berbalik di saat yang bersamaan. Widya membelalak kan mata melihat Lia berdiri berjarak sekitar tiga meter dari nya.


Bagaimana dia tahu aku ada di sini? batin Widya bingung. Dan yang paling membuat nya penasaran adalah, apa alasan Lia berada di sana. Berdiri di depan nya seperti seseorang yang hendak meminta keadilan.


"Bagaimana kamu bisa menemukan ku di sini?"


Widya mencoba mengatasi keterkejutan nya dengan bertanya. Itu satu-satu nya cara agar gadis iblis itu tidak bisa mengintimidasi nya. Adam memandang Lia dengan kening berkerut dan raut penasaran.


Lia mengendik kan bahu dengan gaya angkuh nya, "Aku memiliki banyak informan." la tertawa mengejek, tak lama senyum itu lenyap dari wajah nya.


"Kita harus bicara." Lia berjalan mendekat.


Adam menghadang jalan Lia sebelum gadis itu tiba di hadapan nya setelah ia mensadari Widya menjadi lebih waspada. Ia merasa Lia menyebar kan aura tidak menyenang kan, seperti ancaman. Apa pun alasan nya, ia yakin gadis ini berkaitan dengan pelarian Widya.


"Jika kamu ingin bicara dengan Widya, kamu harus lewati aku lebih dulu." Adam menantang Lia.


Lia mendelik geli lalu tertawa, “Oh God, kamu sudah memiliki penjaga baru rupa nya. Ah atau, dia adalah kekasih gelapvmu?"


"Bisa-bisa nya kamu--" bentak Widya. Ia tersinggung dengan tuduhan semena-mena Lia.


Adam mengangkat tangan nya memotong kata-kata Widya.


"Aku saudara nya. Widya bukan lah tipikal gadis yang akan menjalin hubungan gelap dengan pria lain selagi dia memiliki suami yang sah," jelas nya dengan tenang.


Kalimat yang sempurna untuk membungkam mulut Lia. Gadis itu berdecak, tidak mau menerima ada pria yang berani menelak nya.


"Minggir lah selagi aku bicara baik-baik. Aku memiliki bodyguard yang bisa menendang mu pergi." Ia mengendik kan kepala nya ke arah beberapa orang pria tinggi kekar yang berdiri di samping mobil mewah yang terparkir di tepi jalan sana.


Lia kira itu berhasil menakuti Adam, tetapi gadis ini salah besar. Pria itu tertawa mengejek.


"Aku tidak takut. Asal kamu tahu aku bisa saja menjatuhkan sepuluh orang pria seperti mereka dengan tangan kosong."


Dan itu bukan ancaman belaka. Adam memang seorang pemegang sabuk hitam judo sehingga tidak sulit bagi nya melumpuhkan belasan orang yang menyerang secara bersamaan.


"Kamu."


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?“ desak Widya sebelum Lia melontarkan ancaman lain pada Adam.


Widya tidak ingin melibat kan pria itu ke dalam masalah nya. Jika Lia sampai repot-repot menemui nya maka apa pun yang ingin di bicarakan nya sangat lah penting.

__ADS_1


"Bisa kah kamu mengusir pria ini dulu?" ujar Lia sengit. Sudut mata nya melirik Adam tidak senang.


Widya mendesah lalu menoleh pada pria di samping nya itu. "Kamu bisa meninggal kan kami berdua, ku mohon."


Adam terkejut. "Tapi bagaimana jika dia menyakiti mu?"


"Aku bisa menjaga diri. Aku menjamin nya. kembali lah ke rumah mu. Aku akan menyusul segera setelah menyelesaikan urusan ku dengan gadis ini."


Adam ragu-ragu selama beberapa saat. la menyelidiki Lia dengan mata tajam nya. Tak peduli seberapa cantik nya gadis ini dia tetap mencurigakan. Dia termasuk tipe yang sanggup menyakiti siapa pun yang membuat nya tidak senang. Terlihat jelas dari sorot mata penuh dendam nya.


"Adam, ku mohon," ulang Widya agak memelas menyadari Adam kesulitan membiarkan nya berdua saja dengan Lia.


Adam akhir nya menyerah. Ia mengangguk tidak rela. "Aku memberi mu waktu tiga puluh menit. Setelah itu selesai atau tidak aku akan menjemput mu kemari."


Widya mengangguk lega. Adam segera pergi meninggalkan nya setelah memberikan delikan tajam pada Lia. Gadis itu tersentak karena untuk pertama kali nya menerima pandangan benci seorang pria.


Setelah Adam menjauh gadis itu tertawa sinis. "Kelebihan apa sebenar nya yang kamu miliki sampai pria-pria itu rela mati-matian membela mu."


Nada menghina terdengar kental dari suara Lia.


"Berhenti membual. Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku."


"Baiklah jika kamu meminta ku serius."


Lia melangkah kan kaki nya lebih dekat dengan Widya. Pandangan nya menggelap. "Kenapa kamu masih berada di negara ini?"


"Kenapa? Aku hanya di minta untuk meninggal kan Azri."


"Bukan kah sudah ku bilang menjauh lah dari hidup Azri selama nya. Itu berarti kamu harus pergi ke tempat di mana Azri tidak bisa menemukan mu."


"Apa ada tempat seperti itu di dunia ini?" Widya bertanya dengan nada sarkastis, "kamu tidak bisa mengerti takdir, Lia. Jika Tuhan memang masih memperkenankan kami bertemu, maka tidak ada tempat di mana Azri tidak bisa menemukan ku."


Lia tersentak, tak pernah ia menyangka Widya berani mendebat nya seperti ini. Gadis ini bahkan berani menatap nya dengan pandangan dingin. Tak ada sedikit pun ketakutan dalam sorot mata nya. Keberanian Widya melawan nya membuat tawa sinis Lia meledak. Widya mengangkat alis nya tak mengerti.


"Jadi kamu ingin aku menunjukkan mu tempat yang tak bisa di temukan Azri." Bibir nya lalu menyeringai licik. “Bagaimana jika kamu pergi ke alam baka? Dengan kata lain, mati lah."


Sebuah pedang seperti baru saja terhunus menusuk jantung nya. Widya terkejut bukan main. "Ma-mati," lirih nya kaget.


"Kamu tidak mau? Bagaimana jika tawaran ku ku ganti, aku akan menyiksa Azri jika kamu tidak pergi."

__ADS_1


"Berani nya kamu menawari ku hal itu!“ bentak nya.


Widya benar-benar marah. Tak bisa di bayang kan di dunia ini ada wanita sekejam dia. Lia memperlakukan nyawa seseorang seperti seekor lalat.


Lia tertawa geli akan reaksi Widya, ia melirik perut gadis itu. Penasaran dengan ekspresi apa yang akan di keluar kan Widya ketika ia mengajukan penawaran nya lagi.


"Tunggu, tunggu. Aku akan mengganti tawaran ku lagi. Bagaimana jika aku akan membuat mu kehilangan anak mu jika kamu tidak menghilang dari hidup Azri."


Wajah Widya langsung pucat pasi. Dari mana wanita keji ini tahu tentang kehamilan nya? Apa dia mendengar pembicaraan nya dengan Adam barusan? Dengan gerakan cepat ia memeluk perut nya sendiri. Ancaman Lia benar-benar memicu rasa takut nya. Ia tidak bisa kehilangan anak nya. Bayi ini adalah satu-satu nya harta yang ia miliki setelah kehilangan Azri. Jika Lia ingin merenggut nya juga, lebih baik ia mati.


Lia puas berhasil mengancam Widya. "Karena itu, pergi lah sejauh mungkin. Negara mana pun yang kamu pilih aku tidak peduli. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak akan menjadi penghalang untuk ku mendapat kan Azri. Dia obsessi ku saat ini. Aku tidak peduli dengan apa pun selain mendapatkan nya. Setelah itu, aku bisa membalaskan dendam Yuna pada nya."


Kata-kata itu mengalir dengan tenang dan tanpa beban sedikit pun. Darah di seluruh pembuluh darah Widya mendidih mendengar rencana mengerikan Lia untuk Azri. Ternyata, dendam adalah senjata pembunuh paling mematikan bagi manusia. Widya baru menyadari nya sekarang.


"Kamu benar-benar iblis, Lia," desis Widya dengan kemarahan tertahan. "Jika ada seseorang yang harus mati di dunia ini, itu adalah kamu!"


"Apa kata mu?!" Bibir Lia bergetar mendengar nada kasar Widya. Gadis itu mencoba balik mengancam nya? Brengsek!


"Membalas dendam, mengancam hidup orang lain, memanfaat kan kelemahan orang lain untuk menjatuhkan nya. Kamu pikir itu perbuatan manusia? Hanya orang yang sudah menjual hati nya pada iblis yang bisa melakukan nya.“ Ucapan Widya membuat Lia geram.


Tangan nya melayang mengincar pipi Widya, tetapi gerakan nya kalah lambat. Widya lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan nya bahkan sebelum Lia berhasil menyentuh pipi nya.


Gadis ini salah jika mengira Widya bisa di tindas dengan mudah. Ia sudah terbiasa menangani berbagai macam karakter manusia selama menjadi trainer, termasuk menghadapi manusia super arogan, sombong, dan kejam seperti Lia.


Lia meringis dengan mata membelalak. Sial, tenaga apa yang di guna kan Widya saat ini? Lia bahkan tidak bisa menggerak kan tangan nya sedikit pun.


"Berani nya kamu! Lepas kan!!" Lia mulai merasa tulang pergelangan tangan nya retak.


Widya tidak gentar la justru balas mengancam Lia dengan ekspresi dingin serupa seperti yang Lia berikan pada nya beberapa saat lalu. "Jika kamu berani melukai Azri meski hanya sehelai rambut, aku tidak akan segan-segan membunuh mu."


"Kamu tidak takut akan di penjara seumur hidup?" tawa nya terdengar hambar. Lia merasa terintimidasi oleh ekspresi Widya. Bulu kuduk nya meremang.


"Aku rela di penjara seumur hidup demi melenyap kan orang seperti mu, karena itu ku peringatkan sejak awal, Lia. Jika kamu tidak ingin merasakan sakit nya kematian, lebih baik kamu ingat kata-kata ku. Melukai Azri sedikit saja, arti nya kamu memberi ku sinyal untuk membunuh mu."


Lia tercengang. Ia memekik saat Widya menghempas kan tangan nya lalu berbalik pergi. la mengumpat kesal karena tidak sanggup berkutik saat Widya mengancam nya. Sorot mata penuh kesungguhan itu yang membuat sekujur tubuh nya membeku. Ia hanya bisa menatap punggung Widya dengan tatapan penuh dendam.


"Dia pikir ancaman nya berhasil menakuti ku? Jangan harap! Terima kasih pada mu, kamu memberi ku ide lain untuk menyakiti Azri."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2