
Dan kini mereka bersama-sama di Pulau.
Sudah menjadi bagian dari rencana Lia untuk membuat Azri terpesona pada nya. la yakin Azri bersedia menuruti apa pun yang ia ingin kan. Ia akui itu berhasil. Sepanjang hari ini, Azri selalu berlaku sopan pada nya.
Ketika mereka mengunjungi proyek pun, Azri sekali pun tidak pernah meninggalkan nya sendiri. Mereka selalu pergi bersama. Pria itu bersikap lembut, perhatian, dan menyenangkan.
Sehingga Lia yakin sekali Azri sudah menaruh hati pada nya.
Seperti siang ini, mereka menikmati makan siang berdua saja dengan Azri di restoran terkenal di dekat pantai.
"Aku senang proyek ini berjalan lancar. ku pikir akan banyak peminat saat peluncuran di laksanakan nanti," ujar Lia sambil menikmati hidangan penutup nya.
Azri mengangguk senang. "Aku pun berpikir sama dengan mu." Ia menatap Lia beberapa saat, “Tunggu, ada sesuatu di bibir mu," ujar nya membuat Lia mengerjap.
"Apa?"
Azri mencondong kan tubuh nya untuk menghapus sisa cokelat di bibir gadis itu.
"Cokelat itu akan merusak penampilan mu."
Lia merasakan jantung nya berdebar kencang. Ini bukan kali pertama nya, tetapi kenapa ada getaran hebat ketika Azri menyentuh bibir nya seperti tadi. Ia tak mampu berkata-kata. Azri kembali makan dengan tenang.
Apa ini? Perasaan apa yang merasuk di hati nya saat ini?
Lia kira itu hanya perasaan sesaat saja. Namun, keanehan itu terus berlanjut hingga menjelang kepulangan mereka. Ia duduk diam di kamar hotel nya dengan ekspresi kebingungan. Sebenar nya rasa ini sudah ada sejak ia pertama kali bertemu Azri, hanya saja kehadiran nya baru ia sadari saat ini.
__ADS_1
Apa ini perasaan cinta? Lia langsung tertawa. Tidak, ia tidak mungkin jatuh cinta. Ia datang untuk membuat Azri jatuh pada pesona nya. Bukan ia yang jatuh pada pesona Azri.
Kamu harus hati-hati, Lia. Azri El Pradipta adalah pria yang sangat mudah untuk di cintai.
Tiba-tiba kata-kata peringatan yang pernah di lontarkan Marleen terngiang di telinga nya membuat tawa nya seketika lenyap.
Aku bukan diri mu, Marleen! Aku tidak akan jatuh pada lubang yang sama seperti diri mu.
Entah Lia memarahi siapa. Namun, jelas ucapan Marleen berhasil membuat emosi nya tersulut. Ia bukan Marleen yang ia suruh untuk menggoda Azri malah jatuh cinta pada pria itu. Ia tidak akan melakukan hal yang sama seperti Marleen.
"Well seharus nya aku harus mengerahkan seluruh pesona ku sekarang. Aku akan berdandan secantik mungkin dan." ia melirik tempat tidur nya.
Rasa nya bukan suatu hal yang lain untuk mengajak Azri ke atas ranjang. Marleen berhasil melakukan nya, mustahil ia tidak bisa. Jika ia sudah berhasil menakhluk kan Azri ia yakin tidak sulit untuk membuat pria itu jatuh cinta pada nya.
Lia bangkit dan berdandan dengan gembira. Azri berencana akan pulang sebelum malam ini dan ia akan membuat Azri menginap satu malam saja. Bersama nya dalam satu kamar.
"Sebaik nya aku pergi."
Azri tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Seindah apa pun tidak akan ada guna nya jika Widya tidak bersama nya. Ia mengambil tas nya dan berjalan menuju pintu ketika pintu kamar nya di ketuk.
Siapa? pikir nya. Ia segera membuka pintu kamar itu dan langsung bertatapan dengan Lia yang cantik dalam balutan gaun selutut warna biru laut.
"Lia. Ada apa? Aku akan kembali sekarang."
Lia terkejut. "Sekarang juga? Tapi aku akan mengajak mu ke pantai. Pemandangan di sana terkenal sangat indah."
__ADS_1
Azri memandang nya sesaat. Lia tersenyum melihat Azri ragu. Dia tidak akan menolak ku.
"Aku yakin istri mu tidak akan keberatan jika kamu menginap satu malam saja. Ku dengar akan ada pesta di pantai nanti. Sayang sekali jika kita tidak menghadiri nya, bukan?"
"Apa itu alasan mu berdandan sangat cantik?" sahut nya melirik penampilan Lia.
Gadis itu langsung merona. Itu hanya beberapa patah kalimat rayuan yang tak berarti, Lia! Kenapa jantung ku berdebar kencang seperti ini?
"Aku memang cantik sejak dulu, bukan? Jadi, kamu setuju tetap tinggal?"
"Aku sangat ingin, tapi aku sudah berjanji pada Widya. Dengan penampilan secantik ini aku yakin kamu bisa mengajak siapapun pergi bersama mu. Aku harus pulang."
Sekujur tubuh Lia langsung membeku. Tak pernah sekali pun ia di tolak oleh pria ketika ia meminta nya pergi bersama nya dan Azri dengan ringan nya melakukan itu? la seharus nya tidak sekaget ini, tetapi harga diri nya seperti di injak-injak. Hati nya sakit mendengar hal itu.
"Ti-tidak bisa?" ulang nya dengan senyum di paksakan. Ia tidak mau Azri pergi. la tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia gagal membuat Azri menuruti apa pun yang ia inginkan.
"Aku sangat menyesal," ujar Azri dengan wajah memelas. Ia menutup pintu di belakang nya. "Terima kasih sudah mengajak ku kemari. Hari ini sangat menyenangkan. Sampai jumpa lagi nanti.“ Ia tersenyum lalu merogoh ponsel nya untuk menghubungi Widya. Ia pamit sekali lagi pada Lia yang masih tampak syok.
Azri tidak sedang mempermainkan nya, bukan? Karena ia merasa seperti gadis bodoh yang mengharapkan cinta dari pria itu. la melirik Azri yang berjalan menjauhi nya.
Kenyataan miris kembali memukul hati nya. Pria itu menolak ajakan nya karena tidak bisa meninggalkan istri nya sendiri? Tidak bisa di percaya. Kata-kata Marleen kembali terngiang di telinga nya.
kamu salah Lia, Azri tidak akan pernah jatuh cinta pada mu karena dia sudah mencintai Widya Lovarza.
Jadi semua ini karena gadis itu? la tidak boleh membiarkan semua nya berakhir seperti ini. la akan pulang bersama Azri sekarang. la akan membuat perhitungan dengan Widya. Jika bukan karena ijin nya, gadis itu tidak akan pernah menikah dengan Azri. Seharus nya ia yang menjadi istri Azri sejak awal.
__ADS_1
"Aku ikut pulang dengan mu," seru Lia.
Bersambung ....