Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 36


__ADS_3

Pagi nya Azri bangun ter lambat. Tidak biasa nya, padahal sebelum nya ia selalu di bangun kan oleh sang istri, tetapi ke mana Widya hari ini? Azri yang heran segera bangun dari tempat tidur nya lalu mencari tahu apa yang terjadi.


Sambil tertatih-tatih ia mengetuk kamar Widya. Ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci tu lalu melongok ke dalam. Mata nya melebar begtu menemukan kamar tak berpenghuni. Segala nya sudah rapi.


"Mungkin dia sudah berangkat kerja,“ gumam nya menyimpul kan. Sekarang memang sudah waktu nya jam masuk kerja. “Rajin sekali," lirih nya tersenyum.


Azri segera keluar dari kamar Widya. Ia berjalan melewati ruang makan untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Mata nya begitu tertarik pada piring berisi roti bakar dengan telur mata sapi, sebotol selai cokelat, sekotak mentega, dan secangkir kopi tertata rapi di atas meja makan.


Ada secarik note kuning tertempel di botol selai. Azri meraih catatan kecil itu lalu membaca nya.


Sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor. Aku sudah memberitahu Ayah bahwa kamu akan terlambat.


Widya


"Cih, sok perhatian." Yang keluar dari mulut nya memang cibiran, tetapi berlawanan dengan yang di rasakan hati nya.


Azri gembira sekali setelah ia tahu Widya tidak marah pada nya atau pun menghindar dari nya. Mungkin saja gadis itu pergi terburu-buru karena ada laporan yang harus di serahkan nya. Tanpa membuang waktu lagi Azri segera menikmati sarapan. Di tengah kegiatan, Azri teringat pada kata-kata Marleen semalam.


"Apa yang ingin dikatakan Marleen?“ Heran nya. "Nanti aku tanyakan. Bukankah siang ini kami akan bertemu." Azri kembali melanjutkan makan nya lalu bersiap-siap ke kantor setelah nya.


***


"Apa kata ayah mertua mu setelah mendengar laporan dari mu?"


Bella berta nya penasaran begitu Widya keluar dari ruangan Mahendra. Ia memang baru saja memberikan laporan tentang trainning Azri kemarin.

__ADS_1


"Dia tampak senang," ujar Widya biasa saja, malah dengan wajah muram.


Widya tidak peduli pada wajah Mahendra yang tampak gembira setelah tahu bahwa Azri melewati acara trainning itu dengan sukses.


"Tapi kenapa kau yang justru tampak tidak senang?" sahut Bella dengan mata menyelidik.


Widya mengerjapkan mata. Buru-buru ia mengubah ekspresi nya. "Aku gembira."


Ekpresi gembira Widya tampak dibuat-buat.


"Kau tidak bisa membohongiku, Widya," goda nya sambil menggoyang-goyangkan jari nya. Ia mencium sesuatu yang aneh hari ini.


"Apa terjadi sesuatu selama di trainning kemarin?" Bella menekankan kata sesuatu.


"Lalu kenapa sekarang pipi mu memerah begini?"


"Bella, tidak ada yang terjadi," tegas Widya.


"Baiklah. Tapi ke mana pergi nya suami mu? Dia belum kelihatan sejak pagi."


Widya mendesah kali ini. Ia yakin Azri tidak akan datang. Pria itu pasti lebih memilih menemui Marleen dibandingkan datang ke kantor.


"Eh, itu suami mu!”


Langkah Widya terhenti saat berpapasan dengan Azri yang baru saja keluar dari lift. Widya sempat terkejut. Pria ini datang ke kantor? Wow, ajaib sekali.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak GM," sapa Bella sambil menundukkan kepala nya.


Widya pun ikut menunduk kan kepala nya. Azri hanya tersenyum singkat sebelum melengos pergi. Namun ketika baru dua langkah, Azri berhenti. Ia membalik kan badan dalam sekali gerak.


"Siang nanti apa kamu ada waktu?" Pandangan nya tertuju langsung pada Widya.


"Untuk apa?" Gadis itu kaget.


"Ada yang ingin kubicarakan dengan mu. Bagaimana dengan makan siang bersama?"


Deg.


Jantung Widya serasa berhenti. Jangan katakan Azri sedang mengajak nya makan siang bersama. Bella melongo takjub mendengar nya.


"Maaf, tapi siang nanti aku harus rapat dengan Ayah," tolak Widya cepat dan langsung di sesali nya.


"Oh begitu. Tidak masalah. Mungkin lain kali," ucap Azri dengan nada tidak peduli lalu memalingkan wajah dan pergi dengan cepat.


Widya memandangi punggung suami nya dengan raut penuh penyesalan.


"Kau bodoh Widya, bagai mana bisa kau menolak permintaan suami mu sendiri?" cemooh Bella heboh.


"Aku ada janji dengan ayah mertua ku. Mana berani aku membatalkan nya." Widya pun menyesali penolakan nya sendiri. Namun, susu sudah terlanjur tumpah. Ia tidak mungkin menarik kata-kata nya sendiri.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2