
"Kau mau ke mana lagi?"
Widya bertanya ketika malam ini kembali melihat Azri bersiap keluar dari apartement. Dia bahkan baru pulang dari kantor dua jam yang lalu. Sekarang Widya baru selesai menyiapkan makan malam. Ada yang ingin ia bicarakan dengan Azri.
"Memenuhi undangan Marleen dan kakaknya, tentu saja." Azri menjawab cuek sambil membenarkan jas kasualnya.
"Kau tidak pernah bilang acaranya malam ini."
Widya menatap nanar masakannya sendiri. Lalu bagaimana dengan makan malam yang dibuatnya dengan sepenuh hati untuk Azri?
"Apa aku harus memberitahumu?"
"Tentu saja. Aku istrimu."
Azri mendengkus karena lagi-lagi Widya menggunakan status ‘istri' untuk mendoktrinnya. Jelas itu tidak akan berpengaruh sama sekali baginya.
"Makan malamlah di sini sekali saja. Setelah itu kau boleh pergi," ucap Widya setengah memohon.
Azri menatap meja makan yang penuh piring-piring lalu kembali menatap wajah gadis di depannya. Ada sesuatu yang Widya tidak tahu mengapa ia menolak menikmati makan malam gadis itu.
Bukannya Azri tega menyia-nyiakan usaha yang dilakukan seseorang untuknya, hanya saja masakan Widya benar-benar mengingatkannya pada mendiang ibunya dan hal itu membuatnya sakit. Ia tidak mau terus merasa sakit setiap kali mengunyah ataupun menelan masakan Widya. Karena itu Azri dengan berat hati menolak permintaan Widya.
"Tidak ada yang bisa memintaku memakan masakanmu. Sekalipun dibayar oleh tubuhmu sendiri."
Rasa sakit yang melejit terasa jelas melukai hati kecil Widya Lovarza setelah mendengarnya. la menatap miris punggung suaminya yang berbalik pergi lalu menghilang di balik pintu. Air mata tanpa diperintahkan jatuh begitu saja. Semestinya ia tidak perlu melakukan hal tak berguna seperti menyiapkan makan malam untuk suami yang bahkan tidak menginginkannya.
__ADS_1
Jika Azri memang tidak mau memakan masakannya, bisakah pria itu mengatakannya dengan kalimat yang tidak menyakitkan?
***
Azri tidak bisa menikmati jamuan makan malamnya karena pikirannya terus terngiang kejadian di apartement. Kata-kata yang diucapkannya untuk Widya terlalu kejam. Seharusnya ia tidak berkata seperti itu.
"Kenapa? Makanannya tidak enak?" tanya Marleen cemas, Azri hanya makan beberapa suap padahal semua yang terhidang di atas meja adalah makanan yang ia buat sendiri.
"Ah tidak, ini enak sekali," ucap Azri bohong lalu menyuapkan sepotong terderloin ke mulutnya.
"Bukankah kita akan makan malam bersama kakakmu?" tanya Azri heran karena Miana tidak terlihat sejak makan malam ini dimulai.
"Perubahan rencana, dia harus menemui orang tua kami di Prancis. Mereka sakit."
"Lalu kau tidak ikut menjenguk mereka?" Tak disangka Marleen malah tertawa ringan. "Untuk apa? Cukup kakakku saja.“
"Tapi mereka orang tuamu."
"Lalu kenapa? Bukankah kau juga tidak terlalu peduli pada orang tuamu? Sudahlah, kita sedang makan malam. Jangan merusak suasana."
Marleen menggenggam tangan Azri untuk membuatnya berhenti membahas orang tua. Azri menghela napas. Mendadak perutnya terasa kenyang. Ia menyudahi makan malamnya.
"Kenapa?" Marleen heran, Azri berhenti makan padahal piringnya masih tersisa setengahnya. Selera makan Azri lenyap seperti asap.
"Masakanku tidak enak?" tanyanya cemas.
__ADS_1
Azri menggeleng. Bukannya masakan Marleen tidak enak, ia hanya merasa kenyang saja.
"Aku sudah kenyang." Azri bangkit dari tempat duduknya. Ia terdiam sejenak karena bingung harus berbuat apa.
Pikirannya menjadi kacau balau karena Widya. Jika gadis itu tidak menawarinya makan malam ia tidak akan sebingung ini. Ia mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Kau kelihatan kacau."
Seperti biasa, Marleen selalu memeluknya setiap kali ia merasa kacau. Azri tersenyum singkat, sangat singkat sampai Marleen ragu apakah itu senyuman atau bukan.
"Hanya sedikit pusing," gumam Azri, membiarkan Marleen memeluknya. Tangan gadis itu bergerak masuk perlahan ke dalam kemejanya. Azri tersenyum simpul.
"Marleen."
Gadis itu tertawa senang dan dia menikmati kegiatannya meraba dada Azri dari balik bajunya.
"Kupikir kau butuh hiburan," bisik Marleen dengan menekankan kata 'hiburan'.
Azri tahu jenis hiburan apa yang dimaksud Marleen, tetapi malam ini ia sedang tidak bersemangat melewati hiburan bersamanya di atas ranjang.
"Aku senang dengan tawaranmu tapi aku harus pulang."
Marleen mengeluh kecewa. "Jadi kita hanya bersenang-senang sampai di sini?"
"Maaf mengecewakanmu. Besok kita bisa bertemu lagi dan aku jamin kau akan mendapatkan apa yang kau mau." Azri menarik bibir Marleen dan mereka berciuman singkat sebelum Azri pergi dari apartement gadis itu.
__ADS_1
Bersambung ....