Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 74


__ADS_3

Marleen terbangun dari tidurnya. Ia merasa dingin lantas menarik selimut demi menutupi tubuh telanjangnya. Ruangan tempatnya berada begitu luas dan mewah. Ia mendesah dalam hati, merasa begitu malang karena sudah terjebak dalam situasi yang tidak bisa ia hindari. Rendra sudah tidak ada ketika ia menoleh tempat di sampingnya. Mungkin sudah pergi bekerja, begitulah Rendra yang ia kenal. Bertindak sesuka hatinya. Dia bahkan tidak perlu repot-repot memastikan keadaan maupun perasaan Marleen.


"Apa kamu senang, sudah tidur dengan kakakku?"


Kepala Marleen menoleh cepat pada sosok gadis yang berdiri angkuh di ambang pintu. la terbelalak melihat gadis itu berdiri di sana. Wajahnya memang cantik mempesona, tetapi seringaian sinis membuat kecantikan itu sedikit tercemar.


"Apa yang kamu lakukan di sini?“ cetus Marleen dingin, ia tidak perlu bersikap ramah pada seseorang yang sudah berubah jauh dari sahabat yang ia kenal sejak dahulu.


Mereka memang pernah menjadi sahabat karib, tetapi itu dulu. entah sejak kapan hubungan mereka merenggang, mungkin sejak keluarga Marleen mulai mengalami kemerosotan. Sejak saat itu pula sikap Lia berubah. Gadis itu menjadi lebih dingin dan misterius. Marleen hampir tak lagi mengenalnya.


"Membangunkanmu tentu saja."


Gadis itu berjalan ringan, sepatu high heel-nya yang mahal tampak berkilauan ketika diterpa cahaya matahari. Dia duduk di kursi dengan ukiran mewah lalu melipat kakinya dalam posisi angkuh khas tuan putri.


"Kulihat kamu begitu pulas.“ Dia melirik kondisi Marleen dengan pandangan merendahkan. "Kamu tentu saja sangat senang setelah berhasil menjadi menantu keluarga Fernandez. Kamu sedang membutuhkan uang yang sangat besar. Tidak banyak yang bisa kamu lakukan selain menjual dirimu sendiri. Kamu beruntung karena kakakku bersedia menerimamu meskipun dia tahu kamu tidak akan setia."


Marleen mendelik, tersinggung dengan ucapannya. la ingin membalas, tetapi tidak menemukan kata-kata yang setimpal dan bisa membuat gadis angkuh itu terpaku. Meskipun hatinya sakit, tetapi ucapan gadis itu benar, ia memang membutuhkan uang banyak untuk melunasi hutang keluarganya.


Tidak ada yang tahu, bahkan teman-temannya bahwa keluarga Marleen terlilit utang yang cukup besar. Mereka menutupinya dengan rapat demi menjaga martabat keluarga. Orang tuanya bahkan harus mengungsi ke luar negeri untuk menghindar agar fakta itu tidak terkuak. Orang tua Marleen pun memutuskan menjualnya pada keluarga Fernandez, dan Marleen tidak memiliki pilihan. Jika ia menolak tawaran itu, orang tuanya akan masuk penjara. Karena itu menjadi menantu keluarga Fernandez adalah cara tercepat sekaligus termudah.

__ADS_1


"Apa sebenarnya tujuanmu kemari, Lia Fernandez?" cibir Marleen sinis.


Lia tersenyum miring lalu bangkit. Gaun sutera putihnya berkibar ketika ia bangun.


"Aku sudah melihat Azri El Pradipta semalam, dia pria yang sangat tampan," gumamnya dengan pandangan menerawang memuja, seolah Azri benar-benar berada di depannya.


Mata Marleen melebar, dengan cepat ia memandang Lia tajam. "Kamu tidak berniat mengusiknya, kan?"


Lia menoleh lalu terkikik geli, "Marleen, Marleen, apa yang membuatmu setakut itu? Kamu sudah mendapatkan kakakku. Dan aku hanya memintamu untuk menyelidiki Azri, karena itulah kamu mendekatinya selama ini."


Marleen mengatupkan bibirnya, kehabisan kata-kata sekaligus menyesal. Seharusnya ia tidak perlu menyetujui permintaan Lia, walau keadaannya terdesak. Seandainya dulu ia menolak, perasaannya tidak akan sekalut ini. Ia tidak akan jatuh cinta pada Azri, ia juga tidak akan mendapatkan penghinaan dari Rendra maupun Lia.


"Kamu menyukainya? Kamu jatuh cinta padanya?” tanyanya pelan penuh ancaman.


Marleen menundukkan kepalanya, tidak sanggup untuk mengangguk ataupun menggeleng. Jika diizinkan ia ingin berteriak bahwa ia memang jatuh cinta pada pria itu. Namun, pandangan mengintimidasi Lia membuat mulutnya terkatup rapat.


Lia mencibir atas reaksi Marleen. Ia melayangkan tatapan tajam padanya. "Aku menyuruhmu untuk menyelidikinya, bukan jatuh cinta padanya!"


Suara Lia menggema ke seluruh penjuru ruangan. Gadis itu marah besar. Lia menarik napas dalam lalu berbalik.

__ADS_1


"Sekarang biar aku yang menyelesaikan segalanya."


Marleen tersentak, dengan cepat ia berteriak mencegah. "Tidak, kamu tidak boleh mengusiknya!"


Lia berhenti lalu membalikkan badan. "Kenapa? Ayahnya sudah berjanji akan menjodohkan kami. Lagipula, Azri tidak mungkin menolakku dengan wajah seperti ini,“ ucapnya dengan nada bangga, tetapi penuh maksud. la pikir Marleen akan tetap bungkam, tetapi tawa kecil yang keluar dari bibir Marleen membuat Lia tersentak.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Kamu salah, LIa. Azri tidak akan jatuh cinta padamu bahkan dengan wajah cantik milikmu itu."


Pandangan Marleen bertemu dengan sorot mata Lia. Gadis itu melonjak karena ini pertama kalinya Marleen menatapnya penuh tekad dan keyakinan. "Dia sudah jatuh cinta pada gadis lain, Widya Lovarza. Dia tidak akan pernah melirikmu meskipun kamu wanita terakhir di dunia ini."


Lia terperangah. Tentu saja ia tahu hal itu karena semalam ia melihat sendiri bagaimana Azri mencium wanita bernama Widya itu dengan penuh hasrat dan cinta, tetapi ia mencoba mengabaikan. Terima kasih pada Marleen karena sudah memperingatkannya tentang Widya. Ia menyeringai kembali.


"Kalau begitu, yang perlu kulakukan hanyalah menyingkirkan Widya Lovarza," ucapnya singkat lalu melenggang pergi dari ruangan itu.


Wajah Marleen pucat pasi seketika. Ia harus segera memperingatkan Azri tentang niatan Lia. Beberapa kali ia sudah mencoba menemui pria itu untuk memberitahunya, tetapi ia selalu kehilangan keberanian di akhir. Alasannya sederhana, karena ia belum mau berpisah dengan Azri. Ia juga takut Lia akan berbalik menyerangnya. Tidak segan menyakiti orang yang mengganggunya.


Sejauh yang ia tahu, Lia selalu mendapatkan apa yang dikehendakinya. Nyawa Widya dalam bahaya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2