Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Adam Lewis


__ADS_3

Keesokan harinya pelatihan tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Namun, ada yang berbeda dengan Widya. Gadis itu tampil memakai kacamatanya. Ada dua kemungkinan yang Azri tahu kenapa kacamata itu di kenakannya. Yang pertama karena gadis itu harus membaca lama, atau yang kedua, matanya bengkak karena habis menangis terlalu lama.


"Kau menangis?" tanya Azri setelah acara pertama selesai dan kini mereka sedang makan siang.


Widya harus menahan dirinya agar tidak membentak Azri karena ia masih marah dengan kejadian kemarin. Ia berniat pergi, tetapi tangan Azri menahan tangannya.


"Tolong lepaskan. Ini tempat umum!" cicit Widya dengan mata melotot. Ia mencemaskan tatapan beberapa orang yang memperhatikan mereka.


Bahkan Chris yang duduk dua meja dari mereka sampai menyemburkan kopinya karena kaget.


"Aku tidak peduli. Aku hanya penasaran kenapa kau memakai kacamata."


Azri tidak berniat melepaskan tangan Widya sebelum ia mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Ia pun tidak peduli dengan tatapan orang-orang.


"Mereka akan mencurigai tindakanmu.“


Widya kali ini benar-benar berharap Azri melepaskan tangannya. Ia tidak mau orang-orang sampai tahu bahwa mereka adalah suami istri.


"Aku akan melepaskan jika kau menjawab pertanyaanku."


Widya menghela napas kalah. “Aku menangis semalam. Puas?" lirihnya pelan.


Azri mendudukkannya kembali ke kursinya semula.


"Kenapa?"


Azri sungguh merasa bersalah kali ini. Ia tahu sudah menyinggung perasaan Widya semalam. Ia berniat meminta maaf, tetapi tidak tahu caranya. Ia tidak pernah memohon maaf pada seorang wanita sebelumnya.

__ADS_1


Widya memandang ke arah lain, wajah tampan Azri sepertinya tidak cukup menarik untuk dipandangi dibandingkan dinding kosong yang ada di sebelah meja mereka.


"Tidak ada urusannya denganmu."


Mendengar ucapan tidak peduli Widya, Azri merasa sangat konyol karena berniat meminta maaf pada Widya. Sikap manis yang mencoba diperlihatkannya sejak tadi runtuh sudah. Azri mendengkus kembali lalu bangkit.


"Kau benar. Memang tidak ada urusannya denganku. Terima kasih sudah mengingatkan, Nona. Rasanya konyol sekali aku merasa bersalah semalaman karena pada kenyataannya, aku sama sekali tidak perlu meminta maaf padamu."


Azri pun berjalan pergi meninggalkan restoran.


Widya bersama orang-orang yang kebetulan melihat adegan itu terpaku sejenak. ketika ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, orang-orang segera pura-pura sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ia membuang napas cepat lalu ikut bangkit dan berjalan keluar restoran. Ia menyesali sikapnya yang berlebihan.


Seharusnya tadi ia tidak bersikap ketus. Jika tidak, mungkin ia akan mendengar Azri meminta maaf dan mereka berbaikan. Berani meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan merupakan langkah awal menuju perubahan yang lebih baik.


Oh bagus Widya, kau sudah mencegah seseorang menjadi baik hari ini.


"Halo?"


"Widya ...." Widya melebarkan matanya mendengar suara seseorang di ujung sana.


***


"Kau sudah membalaskan dendammu?"


Azri mendengkus mendengar kata 'balas dendam' yang diucapkan Jhors dari ujung telepon. Ia memandang dingin hamparan rumput hijau yang ada di depan resort.


"Perubahan rencana, karena sepertinya rencana balas dendamku tidak berjalan lancar.“

__ADS_1


"Astaga!" seru Jhors heboh, "Ini pertama kalinya rencanamu tidak berjalan lancar. Apa yang terjadi padamu, sobat? Istrimu menguasaimu lebih dulu?"


"Enak saja. Aku hanya tidak tega menyiksanya."


"Itu justru tindakan pria sejati. Aku sangat bangga padamu. Dengar Azri, jangan pernah sekali-kali berurusan dengan wanita jika kau tidak mau jatuh pada pesona mereka."


Jhors selalu memberinya petuah tentang hal itu dan Azri hanya mengangguk seadanya. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Jhors belum juga memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis.


Sejujurnya Azri hampir melupakan rencana balas dendamnya karena pengaruh Widya yang terlalu kuat. Ia ingin membuat gadis itu bertekuk lutut, tetapi pada kenyataannya dirinyalah yang dikendalikan gadis itu. Ia ingin membuat Widya tersiksa atas pernikahan ini, tetapi pada kenyataannya dirinyalah yang tersiksa. Ia ingin membuat gadis itu jatuh cinta padanya, tetapi pada kenyataannya....


Oh tidak lupakan yang terakhir!


"Lupakan!" teriak Azri jengkel.


"Lupakan apa?" Jhors bingung.


Azri berjalan mondar-mandir agar otaknya berhenti memikirkan gagasan gila soal dirinya menyukai-tidak, itu tidak benar. Ia sedang mencoba mencari cara untuk melupakan isi pikirannya ketika ia menangkap sosok sang pengacau pikiran berjalan keluar dari resort dengan ponsel menempel di telinga. Wajahnya terlihat gembira.


"Mau kemana dia?" gumamnya. "Baiklah, kita sudahi pembicaraan ini karena sepertinya aku harus mengecek sesuatu.“


Azri memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, kakinya tanpa diperintahkan mengikuti gadis itu diam-diam. Widya bahkan tidak menyadari Azri yang menguntit di belakangnya. Gadis itu terlalu sibuk berbincang seru dengan seseorang di ponselnya. Dia berjalan menyebrangi jalan raya menuju sebuah kafe terbuka yang ada di pinggir pantai.


"Lihat apa yang dia lakukan?!" gumam Azri saat menyaksikan Widya kini sedang menghampiri seseorang.


Ia mungkin tidak akan segeram ini seandainya Widya menemui lelaki lain asal bukan pria mantan kekasihnya yang bernama Adam Lewis itu!


Bersambung ....

__ADS_1


Cuma bisa berharap, kalau cerita ini akan melebihi pencapaian SJ.


__ADS_2