
Teman-teman nya sudah berusaha keras membantu tetapi hingga dua hari berlalu mereka belum bisa melacak keberadaan Widya. Azri merasa putus asa. Ia sudah mengerah kan segala cara yang ia bisa, tetapi semua itu belum juga membuahkan hasil.
Kini Azri merenung di ruang kantor nya.
Memandang kosong ke arah pintu di seberang ruangan. Rasa nya sepi dan hampa. Semalaman ia tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan bagaimana keadaan Widya saat ini. Apakah dia tidur dengan nyaman, makan dengan enak, dan merasa tenang karena Azri tidak merasakan satu pun dari ketiga hal itu.
Selagi Azri menunggu kabar tentang Widya, ia sudah memutuskan. Ia harus mencari solusi untuk masalah utang perusahaan nya dengan GN Group sehingga ia bisa lepas dari jerat ancaman Lia. Meskipun harus mati, ia tidak akan pernah menikah dengan nya.
Berani nya gadis itu datang memanfaat kan kelemahan ayah nya untuk membalas dendam terhadap kematian Yuna. Jika memang ingin menuntut balas mengapa tidak langsung membunuh nya saja? Azri merasa diri nya lah yang seharus nya di salah kan atas kematian Yuna. Bukan ayah nya. Jika ia bisa menemukan cara untuk melunasi utang itu, setidak nya ia bisa menghapus alasan Lia untuk memaksakan kehendak nya.
Menikah dengan gadis itu, yang benar saja.
Azri terlalu tenggelam dalam lamunan sehingga ia tidak sadar sekretaris nya mengetuk pintu ruangan nya lebih dari tiga kali. Barulah pada ketukan yang ke empat ia mengangkat kepala nya, tersentak sadar.
"Masuk lah."
"Tuan, nona Lia datang untuk menemui Anda."
Seketika tubuh Azri menegak. Rahang nya mengeras hanya mendengar nama itu saja. "Persilakan dia masuk," sahut nya tegang.
Ini dia monster penyebab keretakan rumah tangga nya. Siapa sangka dia akan datang tanpa perlu di pancing.
Sosok itu masuk dengan langkah anggun. Azri baru pertama kali ini merasa jijik melihat keangkuhan seorang wanita yang terlihat jelas. Lia Fernandez seperti nya tidak menyadari pandangan dingin Azri. Dia terlalu bahagia karena bisa bertemu pria itu.
"Selamat siang, ku harap kedatangan ku tidak mengganggu."
"Tidak sama sekali. Ada masalah apa lagi ini.“
Azri menuntun nya duduk di sofa yang tempo hari di tempati oleh Lia. Gadis itu duduk tanpa mencurigai apa pun.
"Ke mana istri mu, aku tidak melihat nya?"
Ck, kamu tentu sudah tahu dia pergi, cibir Azri dalam hati.
"Dia tidak ada. Dia pergi meninggalkan ku di malam ketika aku kembali dari Pulau."
Azri menjawab teramat dingin sehingga hal itu bisa di rasakan oleh Lia. Cara Azri menatap nya, bahasa tubuh nya, hingga nada suara nya jelas memberi kan informasi bahwa pria itu telah mengetahui segala nya. Seketika, Lia merasa seolah darah di sekujur tubuh nya membeku di iringi lenyap nya senyum ceria di bibir nya.
"Sekarang apa keinginan mu? Mengancam ku dengan utang itu atau kau ingin memaksa ku menceraikan Widya agar aku bisa menikah dengan mu?"
Lia meremas tangan nya. Rupa nya Azri memang sudah mengetahui semua nya. Syukur lah. la tidak perlu repot-repot menjelas kan semua nya dari awal. Ia menegak kan tubuh nya untuk menunjuk kan bahwa Azri tidak akan bisa menindas nya dengan mudah.
__ADS_1
"Lalu?" tantang nya sambil mengangkat dagu angkuh.
Azri menyipit kan mata. "Sebenar nya apa tujuan mu melakukan ini semua? Balas dendam atas kematian Yuna?"
"Bagaimana jika itu memang satu-satu nya tujuan ku?"
"Kamu pikir aku akan berlutut di kaki mu jika kamu mencoba meluluhkan ku dengan wajah yang serupa dengan Yuna?"
"Ya. karena kamu bersalah atas kematian Yuna. Kamu tidak akan bisa menolak ku dan jika kamu berani menolak, aku akan mengambil perusahaan mu karena utang-utang itu. Hanya tinggal menjentik kan jari aku bisa membuat mu jatuh miskin dalam hitungan detik."
Azri mencibir, “Dan kamu berpikir aku akan ketakutan sehingga bersedia menerima apa pun usul mu tanpa berpikir dua kali? Kalau begitu kamu mengancam orang yang salah. Lakukan lah, tuntut lah, ambil lah perusahaan ini jika itu yang kamu ingin kan. Lalu aku akan mengambil nya kembali dari mu, bahkan dengan cara yang lebih kejam."
Pandangan pria itu begitu tajam menunjuk kan keseriusan atas kata-kata nya. Lia tidak bodoh untuk bisa merasakan ada aura mengerikan dari ancaman Azri. Ia tidak terima. Seharus nya ia yang mengancam Azri, bukan justru sebalik nya. Ia harus mencari cara lain untuk memenang kan perdebatan ini.
"Aku sedang mencoba memberi mu kesempatan untuk menebus dosa mu, kamu lah yang menyebab kan kematian Yuna," sentak Lia, ia tersenyum penuh kemenangan melihat Azri menunjuk kan raut penuh kepedihan dan penyesalan.
"Seandai nya itu memang kesalahan ku, mengapa aku harus menebus nya kepada mu? Kamu bahkan bukan Yuna."
"Aku memang bukan Yuna, tetapi dia masih hidup di dalam diri ku." Mata Lia yang berkaca-kaca. "Tepat di sini." Dia menunjuk d**da nya sendiri. Azri mengerut kan kening melihat nya. "Yuna mendonorkan jantung nya pada ku."
"Pembohong! Yuna meninggal karena kecelakaan itu dan aku melihat saat ia di kuburkan!" Azri marah sekali. “Jika kamu memang ingin membohongi ku, cari alasan yang lebih baik!"
Azri tidak memiliki kata-kata apa pun untuk membalas nya. Ia tercengang. Pikiran nya melayang pada memori ketika ia menghadiri pemakaman korban pelayaran itu.
Foto Yuna jelas di pajang di antara foto korban-korban lain nya. Ia ingat dengan jelas. Namun seperti yang di katakan Lia, ia tidak melihat jenazah Yuna sebelum di kubu rkan. Apa mungkin....
"Jelas orang yang di kubur kan saat itu adalah orang lain. Mungkin identitas Yuna tersangkut di baju nya atau apa pun. Segala kemungkinan bisa terjadi," ujar Lia semakin membuat Azri memucat. Pria itu mengurut pelipis nya.
"Itu tidak masuk akal. Yuna dia--" dengan lemah ia memandang Lia kembali. "Apa dia mengatakan sesuatu pada mu?"
"Ya. Tentang bagaimana ayah mu mengancam nya dan dia merasa tersiksa karena itu."
Sebenar nya hal itu tidak di ceritakan Yuna, tetapi ia baca dari surat yang di tinggalkan Yuna untuk nya.
Erangan frustrasi keluar dari bibir Azri. Pria itu lalu berteriak. "Sial!!" Sekarang ia mengerti alasan kenapa Lia begitu ingin membuat nya tersiksa.
“Aku memberi mu kesempatan memperbaiki segala nya," ujar Lia tenang. Ia menghapus air mata nya. "Menikah lah dengan ku, maka aku akan memaaf kan semua kesalahan mu dan utang-utang itu aku akan membicarakan nya dengan Ayah agar menghapuskan nya.“
Dalam hati Lia bersorak senang. Pada akhir nya Lia Fernandez akan memenangkan perdebatan. Azri tidak akan bisa menolak nya setelah ini.
Lia berdebar menanti jawaban Azri. Pria itu berdiri membelakangi nya sehingga Lia tidak bisa membaca bagaimana ekspresi pria itu.
__ADS_1
Azri menatap langit-langit sejenak lalu menghela napas berat. "Aku tidak bisa." la menoleh pada Lia yang terperanjat kaget. "Apa pun kamu bisa meminta nya dari ku, kecuali yang satu itu."
Lia sudah tidak bisa menahan diri nya lagi. Tiba-tiba saja kemarahan meningkat dalam kecepatan tinggi seperti bom atom. Azri menolak nya? Baru saja Azri menolak nya, MENOLAK NYA?!
"Aku tidak menawari mu sesuatu yang mudah. Menikah dengan ku. Itu tidak akan merugikan mu sama sekali, bukan?" tegas nya berapi-api. Jika pandangan bisa membunuh, mungkin Azri sudah mati oleh tatapan Lia saat ini.
"Maafkan aku, satu-satu nya istri bagi ku hanya lah Widya Lovarza. Tidak akan ada tempat lagi untuk wanita lain, termasuk diri mu.“
"Apa kata mu?"
Kedua tangan Lia mengepal erat di sisi tubuh nya. Azri melanjut kan berharap Lia mengerti. "Jika menikah dengan mu adalah pilihan terakhir yang ku miliki untuk hidup, maka aku lebih memilih mati."
Sorot mata penuh tekad nya, kata-kata penuh kesungguhan nya telah membuat sekujur tubuh Lia seolah retak, hancur, dan jatuh berkeping-keping di lantai tempat nya berdiri. la membeku.
"Aku mencintai Widya. Hati ku sudah ku berikan seluruh nya pada istri ku."
"Kamu tidak bisa menolak ku dan kamu tidak tahu betapa mengerikan nya istri mu!"
Lia benar-benar tidak bisa menahan amarah nya lagi. Dengan kasar ia menarik berkas dari dalam tas nya dan menyerahkan nya ke arah Azri.
"Ada perjanjian dalam pernikahan mu. Widya bersedia menikah dengan mu dengan imbalan aset senilai satu milyar. Dia gadis yang sangat licik, bukan? Dia mendapatkan mu, menerima posisi sebagai menantu satu-satu nya keluarga Pradipta dan mendapatkan uang ini lalu dia pergi membawa imbalan sebesar itu. Dia bisa hidup di mana pun dan mencari pria yang lebih kaya dari mu. Lebih baik kamu cepat menceraikan nya sebelum kamu kecewa."
Lia begitu menggebu-gebu dengan harapan Azri akan terkejut, merenung, membenci Widya lalu memutus kan untuk menyetujui usulan nya.
Azri terdiam cukup lama sampai Lia yakin pria itu mulai terpengaruh kata-kata nya. Ternyata dugaan nya salah, sudut bibir pria itu tertarik membentuk seringaian sinis. Lia menaik kan alis nya sebelah. Apa Azri baru saja mencibir nya?
"Jadi inikah senjata terakhir mu untuk memengaruhi ku? Kamu sungguh menyedih kan."
Dengan tenang Azri mengambil berkas itu dari tangan Lia. Gadis itu memperhatikan nya tanpa mengatakan apa pun. Sebelum Lia membuka mulut untuk memprotes, pria itu merobek perjanjian itu sampai menjadi serpihan kecil. Lia tercengang melihat potongan-potongan kertas itu berterbangan tepat di depan mata nya.
"Perjanjian ini tidak akan bisa menggoyahkan ku. Ada atau tidak nya perjanjian ini, keputusan ku tetap tidak akan berubah. Aku tidak akan menikah dengan mu."
"Berani-berani nya kamu!“ Lia menggeram dengan jari telunjuk menuduh Azri.
"Keluar," potong Azri membuat Lia melongo seperti orang bodoh. "Kamu tidak mendengar kata-kata ku? Keluar sekarang juga. Aku tidak ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulut tajam mu itu.“
Azri bergerak membuka pintu ruangan nya. Lia hanya bisa menatap nya dengan mulut menganga.
"Kamu tidak bisa melakukan ini pada ku, Azri, kamu pikir aku akan menyerah jika kamu mengusir ku seperti ini?"
Bersambung ....
__ADS_1