Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 86


__ADS_3

Kata-kata Lia terus menghantui Widya selama sisa hari sebelum akhir pekan tiba. Namun, ia berhasil menyembunyikan hal itu dari Azri. Pria itu belum tahu bahwa Lia memang Yuna yang dirindukan nya. Widya tidak tahu apa yang akan di lakukan Azri jika tahu kenyataan itu. Apakah Azri akan langsung berlari memeluk Lia ataukah justru menceraikan nya?


"Sayang, aku hanya akan pergi satu hari, kamu tidak perlu memasukkan begitu banyak baju."


Widya tersentak dari lamunan nya dan menoleh pada Azri yang bersedekap di ambang pintu kamar. Ia baru sadar ia meletakkan terlalu banyak baju ke dalam kopor bepergian suami nya. Ia sedang mempersiapkan segala hal untuk perjalanan bisnis Azri ke Pulau. Besok suami nya itu akan pergi bersama dengan Lia.


"Maaf, aku terlalu banyak berpikir." Widya mengeluarkan beberapa helai pakaian dan memasukkan peralatan mandi untuk Azri gunakan di sana.


Azri menghela napas lalu duduk di samping Widya. Ia menyibakkan helaian rambut di sisi wajah istri nya itu dengan lembut. "Masih belum terlambat untuk melarang ku pergi ke sana."


Sebuah ciuman ringan menyapa lekukan di antara leher dan bahu nya. Widya gemetar.


"Sudah terlambat kamu sudah membeli tiket pesawat dan memesan kamar hotel."


"Kamu bisa pergi dengan ku, tentu saja.“


"Tidak mungkin."


Widya menjawab terlalu cepat, mungkin karena ini pengaruh dari sentuhan tangan Azri di perut nya. Suami nya itu memeluk nya dari belakang dan entah sejak kapan tangan nya sudah menjelajah ke balik baju nya.


"Kenapa?"


Widya semakin sulit berkonsentrasi karena Azri sibuk merayu nya. la belum bisa mengatakan bahwa besok adalah jadwal nya memeriksa kandungan. Tiba-tiba ia penasaran bagaimana reaksi Azri saat ia memberitahu nya tentang hal itu. Apa Azri akan membatalkan kepergian nya dan mengantar nya ke dokter kandungan?


"Aku harus menjenguk kakak Bella, dia di rawat di rumah sakit." Widya terpaksa berdusta.


Bagaimana bisa dia mengarang hal itu? Bella adalah anak tunggal. Ia berharap Azri tidak repot-repot mencari tahu kebenaran nya.


"Sayang sekali. Kamu tahu, aku cemas meninggalkan mu sendirian di sini."


"Kamu sudah biasa meninggalkan ku sendirian. Bukankah sejak dahulu begitu?" Senyum kecut tersungging di bibir Azri. Bagaimana ia bisa lupa betapa kurang ajar nya sikap nya dahulu saat masa awal pernikahan.


Azri merapatkan pelukan nya. Ia menyandarkan dagu nya di bahu Widya. "Aku mendapatkan firasat bahwa kamu akan pergi meninggalkan ku saat aku kembali nanti."


Widya menoleh. "Dari mana asal pikiran itu?“


"Entahlah, aku sedikit paranoid akhir-akhir ini." Azri mengangkat bahu tak peduli. "Terlebih kamu tampak sangat pendiam sejak Lia mengajak ku pergi tempo hari sehingga aku berpikir kamu mungkin marah pada ku."


Widya memejamkan mata dengan raut terluka. Ternyata Azri menyadari nya. Ia tidak cukup pandai menyembunyikan perasaan nya dan Azri terlalu pintar untuk dibodohi.


Pengakuan Lia tentang diri nya kembali terngiang. Sekujur tubuh Widya langsung menggigil. Tidak, ia tidak boleh memberitahu Azri hal itu saat ini. Ia tidak mau Azri melepaskan pelukan nya dan berlari menghampiri Lia.


"Aku tidak marah pada mu, sungguh."


Widya menggenggam tangan Azri yang ada di atas perut nya, tepat di atas janin nya yang sedang tumbuh. Hanya saja masih terlalu kecil untuk bisa di rasakan oleh Azri. la menghadapkan tubuh nya pada Azri, lalu tersenyum hangat untuk nya.


“Pergilah, aku berjanji akan menjaga diri ku di sini."


Azri masih belum yakin meninggalkan Widya sendiri. Namun berangsur-angsur kecemasan itu luruh karena senyum memikat istri nya. Ia menunduk kan kepala nya sedikit agar bisa meraih bibir merah Widya dan mencium nya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu tidak hanya memiliki wajah yang cantik, tetapi juga hati yang cantik." Ia mencium Widya kembali, kali ini lebih lembut. “Aku berjanji akan pulang secepat nya."


Pandangan Azri menelusuri seluruh bagian wajah Widya. Mengamati setiap inci nya dengan penuh kekaguman.


"Ada apa?" Widya merasa kulit nya terbakar di bawah tatapan Azri.


Pria itu sendiri tidak tahu mengapa jantung nya berdebar kencang melihat Widya malam ini. Padahal Azri tahu Widya tidak memakai make-up apa pun atau pakaian yang bagus, tetapi ia merasa jatuh cinta kembali.


"Aku tidak tahu. Aku merasa kamu semakin cantik akhir-akhir ini," aku nya jujur.


Ada aura menyenangkan terpancar dari wajah nya. Widya tampak bersinar dan luar biasa memesona.


"Aku tahu saat kamu merayu ku seperti ini kamu sedang mencoba mengajak ku bercinta."


Azri mengejapkan mata mendengar Widya menyuarakan niat nya dengan tepat. "Tidak selalu," bantah nya lalu kemudian ia menyeringai, "Tapi jika kamu mengajak ku ber****nta sekarang aku tidak keberatan."


"Astaga...," Widya mendesah lalu segera mengepak seluruh keperluan Azri ke dalam kopor kecil.


Azri masih belum membiarkan pembicaran mereka menggantung. Ia menarik Widya kembali saat gadis itu melintas di depan nya.


Widya terkesiap sadar tubuh nya berada di atas ranjang saat ini. Azri tersenyum menggoda di atas nya, "Aku sangat serius, Tuan Putri. Aku bersedia menghangatkan ranjang ini bersama mu sekarang."


Bagaimana bisa Widya menolak jika Azri langsung me**cium nya dengan penuh h***rat seperti sekarang? Widya tidak diberi kesempatan untuk membantah atau pun berkata iya. Ia hanya bisa melingkarkan tangan nya di leher Azri dan menyambut apa pun yang Azri kehendaki.


***


Sebelum memasuki terminal keberangkatan, Azri menyempatkan diri memeluk Widya. Ia sadar meskipun memeluk nya selama apa pun ia akan tetap merindukan nya.


"Jaga diri mu baik-baik di sana." Widya membenarkan dasi nya lalu mencium pipi nya.


Azri dengan berat hati melepaskan pelukan nya. Sudah waktu nya ia pergi. la sesekali menoleh dan melambaikan tangan nya. Widya tersenyum seraya membalas lambaian tangan Azri.


Setelah Azri tidak terlihat lagi, Widya menghela napas berat. Azri jelas akan berada di pesawat yang sama dengan Lia dan mereka duduk berdampingan. la meyakinkan diri untuk tidak cemburu. Mereka sudah seharus nya bersama. Ia bertanya-tanya apakah mungkin sekarang adalah kesempatan terakhir nya bersama Azri?


Widya berhenti lalu menggelengkan kepala. la tidak boleh membiarkan pikiran negatif itu membebani pikiran nya. Saat ini ia harus lebih memikirkan kondisi kandungan nya. Ia melirik arloji nya dan terkesiap menyadari sudah tiba waktu nya untuk menemui dokter.


"Kandungan Anda dalam kondisi baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda hanya harus memperhatikan pola makan dan perbanyak istirahat. Disarankan agar tidak terlalu membebani pikiran dengan hal-hal yang membuat Anda stress karena itu akan mempengaruhi perkembangan janin Anda," jelas dokter itu tenang sambil menulis resep untuk nya.


Widya mengangguk sambil mengingat semua saran yang sudah dikatakan nya tadi.


Tidak boleh membebani pikiran yang akan membuat mu stress. Widya mengembuskan napas pelan. Sambil mengusap lembut perut nya tiba-tiba saja ia di landa kesedihan.


Anak mu tumbuh dengan sehat, Azri, bisik nya pelan. Azri tidak tahu sama sekali tentang nya. Adil kah ia jika pergi tanpa memberitahu Azri?


***


Widya tidak sadar dengan apa yang dilakukan nya, tetapi ia tahu kini mobil yang dikemudikan nya sudah berhenti di depan gerbang mewah kediaman kakek Azri. Sudah lama ia tidak bertemu dengan nya. Ia harap kakek nya ada di rumah dan menyambut nya dengan hangat.


Petugas sekuriti di pos jaga dekat gerbang sudah mengenali Widya sehingga gerbang besi setinggi tiga meter itu segera dibukakan untuk nya. Ia segera turun begitu tiba di depan rumah bergaya tradisional itu dan berjalan dengan langkah santai.

__ADS_1


"Tuan besar sedang tidak berada di rumah, Nyonya," tutur kepala pelayan saat Widya masuk dan menanyakan keberadaan kakek Pradipta. Widya mengerjap, ia sama sekali tidak menduga nya.


"Ke mana?"


Widya yakin hari ini bukan jadwal kakek pergi memancing atau bertemu dengan teman-teman seusia nya untuk bermain mahyong. Sebelum pria paruh baya itu menjawab terdengar suara lain yang membuat tubuh Widya menegak.


"Dia pergi ke Jepang untuk menikmati suasana lain. Aku yang menyarankan nya."


Tanpa perlu menoleh Widya sangat mengenali suara berat yang sudah meminta nya menikahi Azri dahulu. Sambil merutuki diri ia menyesal sudah datang kemari. Ingin sekali ia pergi dari sana tanpa harus menghadapi Ayah mertua nya. Namun, demi kesopanan ia berbalik lalu menyapa ayah mertua nya.


"Selamat pagi, Ayah."


Mahendra tampak lebih tua dari yang terakhir kali Widya ingat kali ini tidak dalam balutan jas yang membuat nya angkuh, tetapi dia memakai baju tradisional warna biru yang membuat nya terlihat lembut dan manusiawi. Jika Widya tidak ingat pada kekejaman nya mungkin saat ini ia sudah berlari untuk memeluk nya selayak nya ayah sendiri. Mahendra terlihat seperti seorang ayah pada umum nya saat ini.


"Tidak biasa nya kau kemari? Ada keperluan apa?" Mahendra menuntun nya untuk duduk di sofa set yang memenuhi luas sisi kanan ruang tempat nya berada.


Widya dengan patuh duduk di sana dengan perasaan tegang. Terutama ketika pandangan menyelidik pria itu menyusuri seluruh tubuh nya.


"Aku hanya ingin bertemu Kakek. Aku merindukan nya."


Sudut bibir Mahendra naik menampilkan seringaian sinis. "Sesuatu yang tidak mungkin di lakukan Azri, kamu sangat bertolak belakang dengan nya. Dia tidak akan repot-repot datang dan berbasa-basi kemari untuk melepas rindu pada kakek nya atau keluarga nya."


"Aku yakin dia tidak bermaksud melakukan nya. Aku juga yakin dia hanya merasa canggung berada di sini," sela Widya setelah mengatasi kekagetan nya atas ucapan Mahendra.


Mahendra menanggapi nya dengan senyum masam. Ia lalu memandang perut Widya sekilas, "Bagaimana keadaan bayi mu?"


Pertanyaan itu menyentak Widya di tempat duduk nya. "Baik. Aku baru saja melakukan pemeriksaan rutin ke dokter."


"Syukurlah, bagaimana pun dia tetap cucu ku. Aku ingin kau menjaga nya dengan baik. Apa kau sudah mengatakan nya pada Azri?"


Ada nada yang aneh dan asing dari cara Mahendra mengatakan nya. Widya tanpa sadar menjadi lebih waspada. Pria tua itu tidak mungkin berpikir untuk mengambil anak ini dari nya juga, kan?


"Belum. Dia belum mengetahui nya."


Mahendra mengerjapkan mata. “Dia belum tahu?" la terkejut mengetahui Widya masih merahasiakan nya dari Azri Apa yang direncanakan nya? "kau tidak berniat menghapus fakta bahwa Azri ayah dari bayi itu, bukan? Kau berencana menjauhkan nya dari keluarga Pradipta?"


Kali ini Widya yang terkejut. "Tentu saja tidak." Tak ada niatan sedikit pun untuk memutuskan hubungan antara bayi yang dikandung nya dengan Azri.


"Ke mana pergi nya anak itu sekarang?"


"Azri pergi ke Pulau bersama Lia."


"Lia? Lia Fernandez putri Presdir GN?"


"Benar." Widya mengangguk lesu. “Aku sudah melakukan sesuai dengan yang di perintahkan. Aku yakin Azri dan Lia tidak lama lagi akan saling jatuh cinta." suara nya mulai tercekat.


Azri dan Lia jatuh cinta? Oh Tuhan, ia tidak percaya baru saja mengatakan kalimat itu dengan mulut nya sendiri.


Bersambung ...

__ADS_1


Like ya.


__ADS_2