
Lia memang tidak tahu. Ia hanya diberitahukan oleh suster bahwa surat itu ada di bawah bantal Yuna. Ia juga tidak pernah melihat tulisan Yuna sebelumnya sehingga ia tidak terlalu yakin.
"Jangan mencoba memengaruhiku dengan dongeng yang tak masuk akal! Aku yakin Yuna tidak akan pernah mempermainkanku.“
"Memang tidak akan, tetapi bagaimana dengan ayahmu?"
Lia mengatupkan bibir.
"Maaf harus mengatakan ini, Lia. Tetapi sepertinya kamu dimanfaatkan oleh ayahmu. Surat itu buktinya."
"BERHENTI MEMBUAL PADAKU WANITA ******!"
Lia berteriak memaki Widya. Ia sudah tidak mau mendengar apa pun yang Widya katakan. Ia bahkan tidak peduli seandainya Widya memang ingin membunuhnya.
"Kamu pikir kamu bisa mempermainkanku semudah ini? Kamu pikir kamu bisa menakutiku dengan rencana busikmu?!"
"Rencana busuk?" Widya dengan cepat meringsek maju lalu mencengkeram kerah kemeja Lia kencang dengan kedua tangannya. Lia memekik dan lehernya langsung terasa sesak tercekik, "Kamu ingin tahu seperti apa rencana busuk itu?"
Widya sudah kalap. Ia tidak peduli dengan Lia yang meronta-ronta karena urat lehernya tertekan. Ia sudah dikuasai emosi, ia siap membunuh Lia kapan pun.
"Rencanamu menjatuhkan Pradipta Group dengan cara-cara licik, meneror keluarga Pradipta dengan ancaman keji dan memaksa Azri untuk memilih kematian. Aku tidak akan pernah mengampunimu dan ayahmu yang telah menghancurkan hidup pria yang kucintai. Kamu pikir aku tahan melihat Azri terbujur koma di rumah sakit? Tidak! Meskipun aku harus mengendap di ujung neraka karena membunuh manusia sepertimu, aku tidak akan pernah menyesalinya."
Sorot mata Widya dipenuhi kebencian. Lia Fernandez hanya bisa membelalakkan mata.
"Kenapa kamu harus marah? Bukankah kamu juga merasa sakit hati karena sudah dipermainkan? Kamu tidak ingat bagaimana Mahendra mengacaukan hidup tenangmu dengan melibatkanmu dalam permainan liciknya dan bagaimana Azri El Pradipta membuatmu menderita dengan cintanya? Hal buruk apa pun yang terjadi saat ini, mereka pantas menerimanya!" balas Lia sengit dengan kalimat yang terputus-putus. Ia yakin tak lama lagi ia akan kehabisan napas.
"Bedebah!"
Widya melemparkan Lia hingga gadis itu terhuyung dan jatuh menabrak mejanya. Lia terbatuk-batuk setelah tersiksa oleh cengkeraman Widya.
"Jangan pernah samakan keluarga Pradipta dengan dirimu! Setidaknya mereka masih memiliki hati.“
Sadar bahwa Widya mendekat Lia segera bangkit, berlari memutari mejanya lalu mengambil sepucuk senjata api dari dalam laci. "Jangan mendekat, jika kamu berani maju selangkah saja aku akan menembakmu."
Widya tercengang melihat Lia menodongkan pistol padanya, "Tembak saja. Aku senang jika pada akhirnya kamu yang menjadi pembunuhku. Hidupmu akan semakin menyedihkan."
"Hidupmu yang menyedihkan. Aku memiliki segalanya. Sedangkan kamu.., kamu tidak memiliki apa pun."
"Lebih baik daripada menjadi boneka ayahmu sendiri!"
"Aku tidak menjadi boneka siapa pun!" Lia berteriak. Ia siap menarik pelatuk pistolnya, "Cepat pergi sebelum aku terpaksa menembakmu!" Matanya memelototi Widya.
"Kamu sungguh menyedihkan, Lia," cibir Widya, tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. "Kamu sama sekali tidak sadar bahwa selama ini kamu dikendalikan ayahmu? Kamu dendam pada keluarga Pradipta hanya karena selembar surat dari Yuna, bukan? Apa kamu ingin bukti bahwa surat itu bukan ditulis oleh Yuna?"
Lia mengendurkan pertahanan melihat Widya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Gadis itu melemparkan sebuah buku harian ke atas meja.
"Lihat buku harian itu dan bandingkan tulisan di dalamnya dengan tulisan yang tertera dalam surat Yuna."
Dengan gerakan cepat Lia mengambil buku harian itu. Ia tetap mengacungkan pistol yang dipegangnya dan tangannya yang lain membuka-buka lembaran diary bersampul lusuh itu. Ia tidak percaya ini adalah buku harian milik Yuna. Bisa saja Yuna mengakalinya.
[Hai, aku Yuna Salam kenal]
__ADS_1
Keterkejutan tak bisa disembunyikan saat Lia melihat nama Yuna tercantum di halaman pertama. Ia buru-buru membandingkannya dengan tulisan di dalam surat lalu terkesiap menyadari terdapat perbedaan jelas.
Tidak mungkin, Lia menggeleng. Ini pasti bagian dari akal muslihat Widya. Tidak percaya, ia membolak-balik halaman sampai ke halaman berikutnya dan ia menyadari bahwa tulisan di dalam surat Yuna berbeda dengan tulisan di dalam diary. Di halaman terakhir, ia menemukan sebuah foto yang berhasil membuat tangannya gemetar.
Itu adalah foto Yuna bersama Azri sedang berpose memakai topi Mickey Mouse di Disneyland, tertempel dengan berbagai coretan berisi komentar di sekelilingnya. Mereka tersenyum gembira padanya dari dalam foto.
"Apa artinya semua ini? Bagaimana bisa?" Lia menuntut penjelasan dari Widya. Pistol itu terlepas dari genggaman tangannya.
"Itu buku harian Yuna."
"Darimana kamu mendapatkannya?"
"Aku menemukan diary itu di apartemen yang dulu ditinggali Yuna. Tempat itu masih disewa atas namanya hingga saat ini. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya."
"Aku tidak tahu trik apa yang sedang kamu lakukan, tetapi aku tidak akan mudah ditipu oleh cerita bodohmu." Lia melempar diary itu ke sudut ruangan. Ia memungut kembali pistolnya. "Cepat katakan apa yang kamu inginkan sebenarnya!"
"Kamu masih mencoba menyangkal setelah semua bukti ini jelas? Bukan Yuna yang menulis surat itu! Seseorang sedang mencoba memprovokasi dendam di hatimu."
Widya mengambil diary yang tergeletak di lantai lalu memberikannya kembali pada Lia. "Baca itu baik-baik dan kamu akan tahu bagaimana isi hati Yuna yang sebenarnya."
Lia merebut kembali buku usang dari tangan Widya. Ia tak melepaskan sedetik pun perhatiannya dari gadis itu. Setelah yakin Widya tidak akan melakukan apa pun terhadapnya, ia membuka buku itu. Membaca tulisannya secara acak.
[...aku sangat mencintai Azri.]
[... Oh Tuhan, seandainya kami bisa terus bersama..]
[... Meskipun aku tidak yakin hubungan kami akan bertahan, aku tak akan pernah menyesal sudah mengenal Azri...]
[...Orang tua mana pun akan cemas jika anaknya berhubungan dengan wanita sepertiku, tak ber ayah, tak ber ibu. Aku tidak akan bisa membenci Tuan Mahendra. Dia hanya orang tua yang mengkhawatirkan masa depan anaknya...]
Air mata berlinang saat Lia membaca isi diary itu satu perlahan-lahan. Buku ini jelas milik Yuna dan seluruhnya dipenuhi oleh cerita bahagia Yuna tentang cintanya pada Azri. Tidak ada dendam meski hanya berupa kata-kata. Tidak ada kebencian.
Lia juga teringat bagaimana raut gembira Yuna setiap gadis itu bercerita tentang Azri. Lalu bagaimana bisa surat terakhir Yuna berisi dendam yang begitu besar untuk keluarga Pradipta?
"Kenapa... apa artinya semua ini?"
Widya menatap Lia iba. Gadis itu jelas terguncang. Begitu pun dirinya ketika pertama kali mengetahui keganjilan itu.
"Surat itu milik Yuna, aku yakin suster mengatakannya dengan jelas."
"Tidak, suster itu berbohong. Aku sudah mendatangi rumah sakit tempat Yuna meninggal dan berhasil menemui suster yang menuliskan surat palsu yang kemudian diletakkannya di bawah bantal Yuna."
Lia tercengang. "Kamu menyelidiki semuanya? Apa kamu melakukan semua hal ini untuk menjatuhkanku?"
Widya tak berkata apapun selama beberapa saat, sedetik kemudian ia menggeleng. “Bukan. Aku hanya ingin menyelamatkan pria yang kucintai."
"Kalau begitu katakan padaku siapa yang menyuruh suster itu menulis surat palsu ini dan apa tujuannya!"
"Kamu harus menyiapkan diri karena apa yang akan kamu dengar bisa membuatmu terbunuh perlahan-lahan," gumam Widya keji.
"Jangan terbelit-belit, katakan saja!" Lia sudah tidak sabar lagi.
__ADS_1
Widya mengangguk.
"Ayahmu."
"Pembohong!" Lia mengarahkan pistolnya pada Widya, "Tell me the truth!" teriaknya.
Widya benar, kenyataan itu berhasil mengguncang sekujur tubuhnya. Ia tak akan pernah percaya bahwa ayahnya tega melakukan semua itu. Ayahnya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tak akan memanfaatkan dirinya. Ia sangat mempercayai hal itu dan ia bisa mati kecewa seandainya ayahnya memang sengaja memanipulasinya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Ayahmu yang meminta suster itu menuliskan surat palsu dengan diiming-imingi sejumlah uang sebagai balas jasa."
"Why?!"
Bahkan melihat Lia yang sudah dikuasai amarah Widya tidak akan gentar. Jika cara ini bisa membunuh Lia perlahan, ia akan meneruskannya.
"Ayahmu tahu kamu sudah mencari saudaramu sejak lama. Kamu sangat senang setelah menemukan Yuna, dan jika saudara kesayanganmu itu meninggal karena seseroang, kamu rela melakukan apa pun untuk membalas dendam. Ayahmu hanya memanfaatkan sifat naifmu itu. Dia menggunakan rasa dendammu untuk menghancurkan keluarga Pradipta tanpa perlu repot-repot mengotori tangannya. Kamu sudah diperalatnya tanpa sadar."
Widya mendesah, sementara Lia terdiam dengan seluruh tubuh gemetar. Ia tak percaya dengan seluruh kata-kata yang dilontarkan Widya. Ayahnya tidak sejahat itu. Tidak!
"Aku sangat kasihan padamu, Lia. Kamu adalah boneka ayahmu yang paling sempurna. Aku yakin saat ini ayahmu sedang tertawa bahagia karena tujuan sebenarnya sudah tercapai. Lalu apa yang tersisa untukmu. Hanya dendam dan kehidupan yang tak bahagia."
"Diaaaamm!"
Jeritan memilukan menggema ke seluruh penjuru ruangan diiringi suara letusan pistol. Widya membelalakkan mata tanpa sanggup bergerak seinchi pun setelah Lia menembakkan satu selongsong peluru ke arahnya. Sayangnya Lia meleset sehingga benda itu hanya berhasil menimbulkan goresan sepanjang sepuluh centi di lehernya. la meringis merasakan darah menetes dari rekahan luka itu.
Kondisi Lia jauh lebih mengenaskan. Gadis itu melotot padanya dengan air mata menggenang. Bola matanya tampak kemerahan dan tangan yang memegang pistol itu bergetar hebat. Dia lebih mirip seseorang yang sedang sekarat
"Ayahku tidak akan memanfaatkan anak-anaknya untuk mencapai ambisinya. Kamu tidak tahu apa pun!"
"Kamu bisa bertanya pada ayahmu jika kamu tidak percaya kata-kataku."
"Shut up!" Lia melempar pistol itu, dengan emosi memuncak ia melangkah ke arah pintu. "Akan kubuktikan. Jika kamu terbukti salah, saat itu aku akan benar-benar menembakkan peluru tepat di jantungmu!"
Setelah mengatakan kalimat mengerikan itu Lia menderap keluar ruangannya.
"Lakukan apa pun yang kamu mau, kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu," desis Widya. Ia mengusap darah di lehernya, entah kenapa ia tertawa melihat darah di tangannya. Jika tembakan Lia tidak meleset, mungkin ia sudah ada di surga saat ini.
Perhatiannya teralih pada buku harian yang tergeletak, menatap nanar benda itu. "Maafkan aku Lia, tetapi cara ini yang kupikirkan untuk membunuhmu. Aku bukan dirimu, aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah dari lawanku."
Widya sudah memutuskannya ketika ia pergi ke Amerika dua minggu yang lalu. la mengumpulkan semua informasi yang ia dapatkan setelah meretas e-mail Azri. Banyak hal yang ia dapat termasuk alamat apartemen Yuna di Amerika. Dari tempat itulah ia mendapatkan pencerahan. Ia menemukan buku harian Yuna dan ia berpikir untuk menunjukkannya pada Lia untuk menjatuhkannya.
Ketika muncul untuk menantang Lia beberapa saat yang lalu, sebenarnya Widya sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Jika dugaannya benar, kemungkinan surat Yuna untuk Lia adalah palsu. Ia sudah berhasil menemukan rumah sakit tempat Yuna dirawat sebelum meninggal dunia. Di sana ia menemukan fakta mengejutkan.
Fakta bahwa Matthew-beberapa tahun lalu-meminta salah seorang suster untuk menulis surat itu dan meletakkannya di bawah bantal Yuna. Ia mendapatkan bukti bahwa surat itu palsu. Namun, bagaimana jika ia salah? Maka ia mendatangi Lia untuk melihat sendiri surat itu. la berhasil membuat Lia menunjukkan surat Yuna lalu terkuaklah semuanya.
Widya sadar dengan sendirinya bahwa selama ini Lis telah dimanfaatkan oleh ayahnya sendiri. Seandainya tebakannya salah, ia tidak yakin detik ini ia masih hidup. la berterima kasih pada Tuhan karena sudah memenangkan pertaruhannya.
Kini, hanya tinggal menunggu waktu sampai Lia hancur dengan sendirinya.
BERSAMBUNG ....
Komen dong, pengen baca reaksi kalian pada episode ini. Oiya, jangan lupa like juga ya.
__ADS_1