
Widya tidak bisa membaca novel nya dengan tenang hari ini karena otak nya sibuk memikirkan cara untuk mempertahankan kebahagiaan Azri. Ia tahu, jika kontrak itu berakhir dan ia tetap pergi seperti yang tertera dalam kontrak, Azri akan kehilangan senyum nya lagi. Satu-satu nya cara adalah menyelesaikan masalah antara Azri dan Ayah nya.
Mungkin saja jika Ayah dan anak itu berbaikan, Mahendra akan membatalkan perjanjian. Namun, seperti nya tidak semudah itu. Jika Mah endra memang menginginkan itu sejak awal mengapa harus membuat kontrak dalam pernik ahan? Dan siapa sebenarnya wanita yang sudah di pilih nya untuk Azri? Di atas segala nya, Widya ingin tahu alasan Mahendra melakukan ini semua.
Perhatian Widya teralih pada Azri yang duduk di sebelah nya dengan laptop di atas pangkuan. Dia sudah sibuk bekerja sejak pagi, padahal sekarang hari libur.
"Kenapa memandangi ku? Aku tampan, itu kenyataan," celetuk nya santai membuat Widya mengerjapkan mata berkali-kali.
"Astaga, orang yang benar-benar tampan tidak akan bilang begitu." Widya tak habis pikir. Azri menoleh pada nya dengan mimik gemas. Ia menambah kan, "Kenapa? aku berkata sebenar nya."
"Astaga, apa susah nya mengakui betapa tampan nya suami mu."
"Bukan kah kamu bilang semua orang sudah tahu.“ Widya memandang Azri, kali ini ia ragu. "Kata-kata yang kamu ucapkan semalam...." Ucapan Widya yang ragu dan khawatir itu membuat Azri menoleh.
“Jika aku merasa keberatan akan sesuatu, aku boleh mengatakan nya."
Azri tidak pernah melupakan apa yang sudah di katakan nya. "Ada sesuatu yang membuat mu mengganjal?"
Widya mengangguk, ia meletak kan novel nya lalu memandang Azri dalam. "Bisakah kamu berhenti membenci ayah mu?" ucap nya dengan penuh kehati-hatian.
Seluruh kegiatan Azri terhenti setelah mendengar nya. Pria itu terlihat tegang dan tidak menerima permintaan Widya begitu saja.
Azri memang berkata akan berubah seandai nya Widya keberatan dengan salah satu sikap nya. Namun, ia tidak menyangka Widya akan meminta nya berhenti membenci Ayah nya.
__ADS_1
Asal Widya tahu, sampai kapan pun ia tidak akan berbaikan dengan Ayah nya, kecuali jika pria tua itu berubah lebih dulu.
"Kenapa kamu meminta nya?" Azri berta nya gamang, membuat hati Widya mencelos jatuh karena rasa bersalah.
Widya memang tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu sehingga membuat Azri begitu murka pada sang Ayah. Namun, ia tidak ingin membuat Azri terus terjebak dalam perasaan benci yang bisa membuat nya menyesal kelak.
"Kamu tidak bisa terus membenci Ayah mu. Seburuk apa pun dia, ikatan mu dengan nya tidak akan bisa di putus kan. Dia mungkin sudah melaku kan ke salahan, tapi aku yakin itu di lakukan karena Ayah menyayangi mu, kamu tidak tahu bahwa Ayah sangat mencemas kan masa depan mu sehingga ...." Widya buru-buru mengatup kan bibir nya sebelum ia membeberkan masalah kontrak itu. Azri mengangkat alis seraya memandang nya.
"Sehingga apa?" tanya Azri bingung sedikit penasaran.
Seharus nya aku tidak berkata apa pun, batin Widya. "Sehingga dia rela melakukan apa pun agar kamu bahagia, termasuk pernikahan ini."
Kegusaran Widya semakin membuat Azri mengerutkan kening. "Kamu tidak tahu kenapa aku membenci pria tua itu."
Suasana menjadi hening karena Azri terdiam. Hati nurani nya terketuk. Widya benar, suatu hari ketika Ayah nya sudah tidak ada mungkin ia akan menyesal dengan sikap nya sekarang. Namun, di sisi lain ia tidak bisa berbaikan dengan ayah nya tanpa mengingat betapa kejam Ayah nya yang lebih mementing kan bisnis meskipun ibu nya sekarat dan meminta bertemu dengan nya.
"Pria Tua itu tidak memenuhi keinginan terakhir Ibu."
Pernyataan tiba-tiba itu membuat Widya terkejut. Azri berkata dihiasi senyum pahit di bibir nya.
"Seandai nya saat itu dia memedulikan Ibu dan datang setelah aku memohon-mohon pada nya di telepon, aku tidak akan benci pada nya."
Azri memandang Widya setelah mengatakan nya. Ekspresi nya begitu datar, seperti yang Widya lihat ketika mereka berada di awal pernikahan dulu. Azri jelas tidak suka membahas topik ini.
__ADS_1
"Pernahkah kamu bertanya alasan sebenar nya mengapa Ayah mu tidak datang?" Azri mendelik mendengar pertanyaan itu, ia menggeleng tidak percaya.
"Kamu benar-benar menganggap Ayah ku adalah pria baik?" Azri benar-benar tidak habis pikir dengan Widya. Kenapa gadis itu begitu kikih meyakinkannya untuk memaafkan si pak tua?
"Dia pasti memiliki semacam alasan." Widya terus mendesak Azri. Bagaimanapun cara nya, ia akan mencoba membuat Azri memaafkan Mahendra atau setidak nya, Azri mengetahui alasan di balik Mahendra tidak memenuhi permintaan terakhir sang ibu.
"Pikiran Pria Tua itu selalu dipenuhi oleh bisnis! Tidak ada yang lain!" Azri kalap, tanpa sengaja ia berteriak kencang.
Widya melonjak dan mundur perlahan dari tempat duduk nya. Ia tercengang melihat betapa murka nya Azri saat ini.
Widya sadar ia sudah membentak Azri. la mengusap wajah nya sendiri lalu menggeram. "Seharus nya kita tidak membahas ini!" la bangkit meninggalkan Widya yang masih terkejut setelah cukup lama tidak ada yang berani membentak nya.
"Kita temui Ayah mu!" seru Widya.
Azri yang baru beberapa melangkah meninggalkan nya membalikkan badan.
"Apa kata mu?" tanyanya sinis.
"Kamu harus tahu alasan yang sebenarnya. Tak peduli apa yang kamu dengar akan mengecewakan mu atau justru membuat mu semakin membenci Ayah mu."
Azri diam sejenak menatapi Widya yang memohon. Ia ingin sekali menolak, tetapi wanita itu benar. Ia pun sudah lelah terus bersitegang setiap kali berhadapan dengan ayah nya. Ia harus menyelesaikan masalah ini cepat atau lambat.
"Baik, ayo temui dia."
__ADS_1
Bersambung ....