
"Apa yang ingin kalian bicarakan?"
Mahendra memandang keluar jendela ketika berkata dengan nada tenang, membelakangi kedua orang yang menatap nya di sofa ruangan itu.
Widya tidak bisa duduk dengan tenang, sesekali ia menatap gusar ke arah Azri yang memandang sengit punggung Ayah nya.
"Saat ibu ku sekarat, kenapa kamu tidak datang untuk menemui nya?"
Azri tidak perlu berbasa-basi lagi. Oleh sebab itu, ia menanyakan gan jalan di hati nya itu dengan lugas dan tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Apa bisnis lebih penting dari nyawa ibu ku? Apakah keluarga tidak lebih berharga dari Pradipta Group?"
Bahu Mahendra terlihat menegang selama beberapa saat. Di serang dengan pertanyaan seperti itu siapa yang tidak terguncang? Setelah cukup lama terdiam, perlahan-lahan ia membalik kan badan. Masih dengan raut tenang ia berkata, "Jadi itu alasan mu membenci ayah mu selama ini? Hanya karena aku tidak datang di saat-saat terakhir ibu mu?"
Azri mengerjapkan mata, rahang nya bergemeretak. "Hanya?"
Mahendra menghela napas melihat reaksi Azri sementara Widya menatap suami nya khawatir.
"Kamu melakukan hal yang sia-sia selama ini.“ Mahendra berucap dengan lugas.
"Apa?" Nada suara Azri mulai meninggi.
Air muka Mahendra seketika berubah serius. "Apa kamu mengenal ibu mu dengan baik? Kamu tidak akan percaya jika ku katakan ibu mu sudah mengkhianati ku sebelum dia meninggal dunia."
Kali ini Azri tercengang. Ia menatap Ayah nya dengan mata terbelalak. Tidak hanya Azri, bahkan Widya pun terkejut bukan main.
"Maksud mu, Ibu menyeleweng?" kata nya tak percaya. Azri tidak mau percaya ibu yang ia cintai seumur hidup nya melakukan hal sejahat itu.
"Itu tidak mungkin!" Azri kalap. la melempar kan tatapan penuh benci pada ayah nya karena mencoba untuk membohongi nya. "Ibu bukan seseorang yang akan mengkhianati keluarga nya." Ia terdiam melihat ekspresi terluka sang Ayah yang tak pernah di lihat nya.
"Aku tahu kamu tidak akan percaya." Mahendra menghela napas, Azri terlalu mempercayai ibunya.
Lalu Mahendra pun menarik napas keras lalu duduk di kursinya. Azri menatapnya nanar.
"Kau bohong, kan?" Azri memastikan, dia tidak bisa mempercayai perkataan Mahendra begitupun saja.
"Azri." Widya menyentuh tangan Azri, tak tega melihat nya begitu terpukul. Ia pun sama terkejut nya mendengar penuturan Ayah, tetapi ia tahu bahwa pria itu tidak berbohong. Itulah fakta yang sebenar nya.
Pandangan Mahendra menerawang, mencoba mengumpulkan kembali keberanian sebelum menceritakan kisah menyakitkan nya di masa lalu. "Aku memergoki nya bersama seorang pria di sebuah kamar hotel."
__ADS_1
Pikiran Azri tiba-tiba kosong. Tidak pernah terbayangkan sama sekali dalam benak nya wanita yang begitu lemah lembut, baik, dan amat menyayangi nya tega melakukan hal seperti itu. Tidak, ia yakin ayah nya hanya bercanda sekarang. Itu pasti cerita karangan saja.
"Ibu tidak mungkin melakukan nya!" teriak Azri tak terima.
"Dia melakukannya!" Mahendra balas menggertak. Azri seketika bungkam dan terdiam dengan segala perasaan kecewa berkecamuk.
Tidak, ibu nya tidak melakukan itu.
"Kau bohong! Itu hanya cerita karangan mu saja, bukan? Jika memang Ibu menyeleweng kenapa kau tidak pernah menceraikan nya?!" Azri bangkit, berteriak menuduh dengan tangan menunjuk-nunjuk Ayah nya.
"Itu semua karena diri mu!" Mahendra berkata tegas, kembali membuat Azri mengatupkan bibir dengan wajah tercengang.
Widya segera merangkul Azri karena cerita Mahendra berhasil memancing emosi nya.
"Tenanglah, dengarkan hingga selesai," bisik nya pilu.
Azri kembali duduk. Ayah nya berhasil membuat perasaan nya bergejolak. Azri terus menghipnotis diri nya sendiri bahwa ibu nya adalah wanita baik-baik dan justru ayah nya lah sang antagonis.
Mahendra tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat. Ia menatap iba putra nya. Azri pasti akan terpuruk jika ia menceritakan kenyataan pahit ini saat ibu nya meninggal dulu, tetapi rasa tidak tega membuat ia mengurungkan niat itu. Akhir nya setelah di simpan rapat cukup lama fakta ini terungkap juga.
"Aku ingin sekali menceraikan nya, tapi ibu mu begitu mencintai mu. Aku tidak bisa memisahkan seorang ibu dengan anak nya. Terlebih kamu begitu menyayangi ibu mu. Aku hanya berharap kamu bahagia meski pun pada kenyataan nya wanita yang kamu sayangi itu sudah mengkhianati suami nya." Mahendra terdiam sejenak, "Ibu mu bahkan mengambil sebagian uang dari rekening milik perusahaan untuk di berikan pada pria itu."
"Aku tidak menyangka ternyata wanita yang paling kupercayai selama ini hanya memanfaatkan ku. Aku tidak bisa membenci nya, tapi sejak saat itu semua rasa untuk ibu mu telah hilang." Mahendra memandang putra nya dengan sorot mata sedih.
"Karena itu kau tidak datang ketika Ibu sekarat?"
"Kenapa tidak di jawab?!" teriak Azri, ia mulai frustrasi. Meski pun ia sudah berteriak hingga tenggorokan nya sakit, tetapi Ayah nya tetap membungkam mulut nya.
"Katakan alasan sebenar nya kenapa kau tidak datang? Apakah sekarang kau menyesal sudah melakukan itu di saat terakhir ibu ku?!"
Widya menatap nanar Azri yang terlihat begitu tersiksa karena terjebak antara perasaan benci pada Ayah nya dan perasaan sayang nya pada ibu nya. Pandangan nya teralih pada Mahendra. Kini pria paruh itu mengembuskan napas berat, lalu mengeluarkan jawaban yang membuat Azri tercengang.
"Rapat saat itu sangat penting untuk Pradipta Group, aku tidak bisa meninggalkan nya meski pun konsekuensi yang ku terima adalah aku tidak bisa melihat wajah istri ku lagi." Mahendra terdiam sebelum melanjutkan, "Namun pada akhir nya, aku sendiri yang menyesal. Meskipun ibu mu sempat berkhianat, dia tetap satu-satu nya wanita yang ku cintai."
Azri membeku di tempat nya. Kalimat yang di ucapkan dengan datar itu membuat hati nya hancur. Kepala nya begitu pening dengan segala perasaan bercampur menjadi satu. la segera meninggalkan ruangan itu sebelum ia terpaksa berteriak dan menghancurkan segala benda di sekitar nya.
"Azri!" Widya berteriak. Ia hampir meninggal kan ruangan itu untuk menyusul Azri ketika Mahendra kembali bicara.
"Widya Lovarza."
__ADS_1
Widya berhenti lalu menoleh. Pria itu masih duduk di kursi nya, menunduk dengan wajah menderita.
"Suatu saat nanti kamu mungkin akan membuat Azri kembali kecewa. Jika itu terjadi, buat lah alasan yang tidak menyakit kan bagi anak itu."
Aku tidak perlu di ingatkan tentang itu, batin Widya pedih. Ia sadar Mahendra memang tidak berniat membuat nya tetap bersama Azri.
"Baik," ucap nya dengan nada berat. Widya segera pergi dari ruangan itu dengan perasaan hancur yang sama seperti Azri.
S
K
I
P
Azri duduk lemah di bawah pohon yang ada di hutan di dekat klub golf tempat nya berada. Menatap kosong hamparan daun kering yang menjadi alas nya duduk saat ini.
Ibu yang selama ini ia cintai ternyata seorang pengkhianat. Itulah alasan mengapa ayah nya tidak mau datang menemui ibu nya dan selama ini ia sudah membenci seseorang yang di sakiti oleh orang yang ia cintai? Azri merasa sangat malu, bingung, bersalah, menyesal, tidak percaya, dan macam-macam perasaan lain. Ia meremas kepala nya sendiri dengan frustrasi.
Widya baru tiba di sana. Melihat Azri duduk dengan wajah sedih membuat perasaan nya ikut terpuruk. Perlahan ia mendudukkan diri nya di samping Azri, hanya bisa memandang wajah pria itu dari samping. Andai ia memiliki mantra sihir yang bisa mengubah perasaan sedih menjadi gembira, ia akan mengunakan nya sekarang.
Azri merasakan sebuah tangan menghapus air mata di pipi nya. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi air mata nya mengalir keluar. Ia berhenti tenggelam dalam dunia nya sendiri, mengerjapkan mata lalu menoleh pada wanita di samping nya. Wajah penuh simpati itu, berhasil membuat golakan di hati nya sedikit mereda.
"Widya." la mendapati mulut nya bersuara, begitu lirih dan jauh di telinga nya sendiri.
"Aku di sini." Widya memandang langsung ke mata nya.
"Kamu tidak akan mengkhianati ku karena pria lain, bukan? Kamu tidak akan pergi meninggalkan ku karena uang, bukan?" lirih nya.
Widya membelalak kan mata, membeku sendiri mendengar ucapan Azri yang begitu memukul hati nya. Kalimat itu membuat ketakutan nya akan kontrak antara diri nya dan Mahendra terngiang-ngiang kembali. Dengan perasaan berat ia memeluk Azri. Pandangan mereka bertemu dalam berbagai macam emosi. Widya mendekatkan wajah, lalu menempelkan bibir nya di bibir Azri.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan mu karena itu," bisik nya serak. Widya menyesal dalam hati. Ia terpaksa membohongi Azri.
Suatu saat nanti ia akan menukarkan kebahagiaan nya sendiri dengan sejumlah uang dan ia yakin Azri pasti akan kecewa pada nya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. la harus mencari cara untuk cerai tanpa membuat Azri sakit hati.
Apa ia harus mengikuti jejak Ibu mertua nya, pergi meninggalkan dunia ini?
Bersambung ....
__ADS_1