Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 78


__ADS_3

"Apa ada yang ingin kamu lakukan hari ini?“


Widya yang sedang menyisir rambut nya menoleh pada Azri yang berdiri di ambang pintu kamar. Pria itu tersenyum manis dengan baju sederhana, tetapi tak berhasil menyembunyikan ketampanan nya. Widya selalu merasa pipinya merona malu hanya dengan satu tatapan kecil Azri.


"Hari ini kamu tidak ada acara lain?"


Azri mendesah, lalu menghampiri Widya. "Hari ini jadwal ku kosong. Aku ingin menghabiskan waktu dengan istri ku." Setelah berkata, Azri mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala istri nya. Ia menatap Widya dari cermin. "Ayolah, aku memaksa."


Widya tersenyum, senyum samar. "Kamu ingin menemani ku makan siang? Aku ingin bertemu seseorang."


Senyum Azri memudar. "Seseorang? Pria atau wanita?" tanya nya posesif. Jangan katakan Widya akan bertemu, mantan kekasih nya itu.


"Wanita, kamu tenang saja." Widya tertawa kecil lalu bangkit. “Karena kamu ingin menghabiskan waktu dengan ku, aku memaksa kamu ikut."


"Tugas yang sangat mudah." Azri memeluk nya dari belakang, “Aku hanya takut teman mu akan iri jika kamu mengajak ku bersama."


"Percaya diri sekali." Widya tersenyum. Sebenar nya hatinya begitu tersayat karena hari inilah ia berencana mempertemukan Azri dengan Lia.

__ADS_1


Azri mencium pelipis nya, Widya memejamkan mata mencoba meresapi setiap tindakan romantis Azri. Tangan nya ia tumpangkan di atas tangan Azri yang melingkari perut nya.


Di dalam sana ada anakmu, Sayang. Dalam hati Widya meminta maaf pada anak nya karena belum bisa mengungkapkan keberadaan nya pada Azri, ayah nya.


Azri dan Widya sudah berada di sana, di restoran yang sudah di rencanakan Widya sebagai tempat pertemuan dengan gadis bernama Lia. Ia menanti dengan harap-harap cemas.


Sekarang adalah titik balik dari takdir hidup nya. Widya harap ia tidak berdiri di tempat yang salah. Ia harap keputusan nya benar meskipun mungkin semua orang akan berkata ia bodoh sekali menuruti perintah Mahendra.


"Mengapa teman mu lama sekali?"


"Tidak, seperti nya dia agak terlambat," lirih Widya sambil melirik kiri kanan sambil memindai setiap orang yang ada di restoran itu.


Lia memiliki garis wajah yang cantik dan mudah di ingat karena itu ia yakin Lia belum lihat.


Sekujur tubuh nya menegang ketika ia melihat Lia memasuki restoran. Gadis itu mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan dan ketika menemukan Widya, dia tersenyum. Entah kenapa Widya merasa senyuman itu begitu angkuh, tetapi tetap mempesona.


Dengan langkah anggun Lia berjalan mendekati nya, gaun satin selutut warna perunggu yang dikenakan nya berkibar seiring langkah nya bak model di atas catwalk. Bahkan dengan segala aksesoris, riasan ringan, dan tatanan rambut yang sederhana Lia tetap sosok yang mempesona.

__ADS_1


Widya tiba-tiba merasa seperti gadis kampung karena baju nya sangat sederhana. Jauh berbeda dengan busana fashionable yang di kenakan Lia.


Ketika Lia tiba di hadapan mereka, Widya dan Azri refleks berdiri.


"Selamat malam," sapa Lia.


Widya terpana melihat Lia dari dekat dan ketika ia hendak memperkenalkan Lia pada Azri, ia terkejut menyadari Azri terpaku. Suami nya itu tercengang, menatap Lia tak berkedip. Ia mencelos, rupa nya Tuan Mahendra tidak salah memilih calon istri. Sebab Azri segera terpesona pada Lia pada pandangan pertama.


"Azri, dia ...."


"Yuna?"


Bukan, nama nya bukan Yuna bantah Widya dalam hati. Sedetik kemudian ia tercengang sadar nama siapa yang sedang disebut Azri. Ia menoleh kembali pada Azri.


Azri menatap Lia, yakin bahwa ia tidak mungkin salah mengenali. "Kamu Yuna."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2