Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
112


__ADS_3

PERJALANAN kembali ke rumah menjadi lebih singkat dari biasanya. Azri memutuskan menjual apartemen yang dibelinya dulu dan mendepositokan uangnya untuk masa depan anaknya kelak. Sekarang mereka menempati rumah tempat ia dibesarkan dulu.


Mahendra memilih mengisi rumah kakek Pradipta sementara kakek Pradipta masih menjalani masa pensiunnya yang tenang di Jepang. Mereka bersyukur segalanya kembali normal karena jika tidak, siapa pun akan kebingungan untuk menjelaskannya pada kakek Pradipta. Lelaki itu pasti akan sulit menerima kebangkrutan Pradipta Group yang sudah dibangun selama empat generasi itu.


Mereka berdiri di tengah kamar, sibuk bercumbu di kamar luas yang dulu digunakan kedua orang tua Azri, tetapi sudah didekorasi ulang sesuai dengan keinginan mereka. Sebenarnya ini bukanlah sesi milik Azri karena sejak tadi ia hanya sebagai penikmat saja, ia mengizinkan istri tercintanya itu menciumnya sesuka hati.


"Kau tidak bisa berhenti menciumku sejak kita masuk kamar ini Nyonya Pradipta, apa ini bagian dari hormon kehamilanmu atau kamu hanya memanfaatkan keadaan saja?"


Bibir Azri tertarik membentuk senyuman puas sekaigus heran. Ia tidak keberatan sama sekali, sungguh. Seandainya Widya ingin menciumnya sampai mati pun ia selalu siap. Ia hanya bertanya-tanya kenapa. Tidak biasanya Widya menjadi romantis, tepatnya menjadi mudah sekali ber******rah semenjak usia kehamilannya melewati trimester kedua.


Widya tertawa, matanya yang berbinar oleh g***rah tak pernah lepas memandang wajah tampan suaminya sementara tangannya kini sedang bergerak membuka satu persatu kancing kemeja Azri.


"Aku tidak tahu jawabannya, Tuan Pradipta. Aku hanya merasa ingin menyenangkanmu.“


Azri tertawa sambil melingkarkan tangan di pinggangnya yang sudah tidak ramping lagi karena kehamilan. "Kamu selalu berhasil menyenangkanku meski hanya dengan senyuman." Ia membungkukkan tubuhnya untuk meraup kembali bibir Widya yang sejak tadi sibuk menikmati bibirnya. Ia membiarkan Widya menjatuhkan jas melalui bahunya.


"Letakkan tangan cantikmu di leherku,” bisik Azri di sela ciumannya karena Widya masih berusaha melepaskan seluruh kaitan kancing kemejanya.


"Aku ingin bisa menyentuhmu tanpa halangan," balas Widya, setelah berhasil membebaskan kemeja itu dari tubuh suaminya, tangannya turun menyentuh sabuk Azri.


Azri menggeram, "Kamu menjadi tidak penurut semenjak hamil," keluhnya, tetapi ia tidak menghentikan usaha istrinya melepaskan sabuknya. Ia justru merasa b********h.


Ayo lepaskan saja semua bajuku dan aku akan langsung membakarmu detik itu juga, batin Azri.


"Memang sejak awal aku tidak pernah menurut padamu."


"Ya, kamu trainer yang menyebalkan dan tak memiliki belas kasihan."


Kata-kata itu mengingatkan Widya pada masa-masa ketika ia melatih Azri dulu. Ia jelas sudah membuat suaminya menderita.


"Dan kamu jatuh cinta pada Si Menyebalkan itu?“


"Karena kamu sudah membuatku tak bisa berkutik, Miss."


"Kamu tidak merasa kepanasan? Aku merasa sangat kepanasan," bisik Widya.


Azri mengerjap saat tangan Widya menyusup ke balik celananya. Ia menggertakkan gigi karena sentuhan ringan itu berhasil membangunkan dirinya yang tertidur.


“Ke tempat tidur sekarang, Nyonya Pradipta."

__ADS_1


Widya tidak tahu Azri memiliki kegesitan yang tidak memberinya waktu untuk mempersiapkan diri. Ia bahkan tidak tahu kapan Azri mengangkat tubuhnya dengan mudah karena detik berikutnya dirinya sudah berbaring di atas ranjang dengan Azri di atasnya. Mata pria itu menyala oleh gairah.


"Kamu bisa membunuhku pelan-pelan jika terus berdiri seperti tadi. Sekarang giliran aku menyiksamu."


Dalam sekali sentakan gaun terusan selututnya sudah teronggok tak berdaya di lantai. Tak perlu waktu lama juga bagi Azri untuk melepaskan seluruh pakaiannya dan membuat mereka sama-sama tak berbusana di atas ranjang disinari cahaya senja yang masuk dari jendela besar di sisi ranjang yang tak tertutup tirai itu.


Widya menahan napas, jantungnya berdebar kencang saat tatapan mereka bertemu dipenuhi oleh api g****ah yang bergelora sama besarnya.


Sinar lembayung senja yang menerpa wajah tampan itu membuatnya terlihat mempesona dan sensual. Widya mengulurkan tangan mengusap pipinya, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang memamerkan seringaian menggoda.


Oh Tuhan, beberapa bulan lalu ia begitu ketakutan akan kehilangan pria ini. Ketika melihatnya berbaring tak berdaya di rumah sakit, melihat wajahnya yang pucat, tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya, Widya merasa seperti jatuh ke dalam lubang kesengsaraan. Namun, sekarang waktu kelam itu hanyalah mimpi belaka baginya karena Azri sekarang begitu nyata dan bisa ia sentuh.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Azri karena tiba-tiba istrinya membisu.


"Aku sangat bahagia karena akhirnya kamu kembali sehat, kecelakaan itu membuatku hampir gila. Aku begitu ketakutan tidak bisa melihat senyummu lagi. Jika itu terjadi lalu bagaimana dengan hidupku dan anak kita?"


Azri memberikan senyum tulusnya. "Tetapi tidak terjadi, bukan? Aku juga sangat bersyukur karena kamu kembali padaku. Aku sangat takut kamu pergi meninggalkanku sendirian. Jika itu terjadi, bagaimana aku bisa hidup?" Ia mencium telapak tangannya lalu maju untuk mencium bibirnya dengan lembut.


Keintiman itu membuat Widya seperti tenggelam di danau berisi sampanye dan ia meneguk kenikmatannya dengan suka cita. Azri melepaskan ciumannya sedetik sebelum ia merengek meminta udara.


"Aku tahu bibirmu tidak akan pernah membuatku bosan. Dengan mulut ini kamu sudah mendebatku, mengubah jalan pikiranku sehingga aku tidak bisa membencimu lagi. Bibir ini membuatku jatuh cinta kembali.“ Azri mengatakannya dengan suara tersengal. Terdengar seksi dan menggelitik di telinga Widya.


"Hei, kamu adalah wanita hamil terseksi yang pernah aku lihat, jangan pernah malu menunjukkan dirimu padaku."


Azri menarik tangan Widya dari atas perutnya, menempatkannya di sisi kepala istrinya. "Harus kuakui aku suka kenyataan kehamilan membuat segalanya dari dirimu terlihat seksi."


Widya mengerjapkan mata. Azri turun untuk menciumnya dan detik berikutnya ia melupakan semuanya karena kesadarannya melesat terbang tinggi.


***


Malam sudah menjelang ketika akhirnya gairah itu mereda. Untuk sesaat waktu rasanya berhenti. Azri menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal tanpa melepaskan pelukannya pada Widya.


Widya senang membaringkan kepalanya di lekukan leher suaminya. Begitu nyaman dan damai. Azri pun tidak melakukan apa pun selain mengusap punggungnya.


"Jika kamu terus mengidam hal ini, aku tidak keberatan untuk memenuhinya." Azri tersenyum lembut sambil menyandarkan pipinya pada puncak kepala Widya.


"Mungkin aku akan melakukannya lagi. Dokter berkata hormonku akan terus bergolak sampai akan melahirkan nanti. tetapi setelah kandunganku menginjak bulan ke-9, dokter meminta agar kita mengurangi intensitasnya, bahkan sampai tiga bulan setelah aku melahirkan."


Azri langsung protes. "Apa dokter itu gila?! Aku yakin dia tidak pernah menikah. Tiga bulan tanpa menyentuhmu, itu penyiksaan namanya!"

__ADS_1


Widya mengangkat wajahnya dari dada Azri. "Aku yakin kamu bisa. Hanya tiga bulan." la tersenyum untuk meminta pengertian. Azri yang mendesah. Tidak memiliki pilihan lain.


"Tentu saja aku bisa."


"Aku tahu." Widya mencium bibirnya lagi.


Ya Tuhan, sejak kapan ia begitu agresif? la seperti wanita murahan pecandu bibir laki-laki. Beruntunglah ia hanya merasakan gejolak itu pada suaminya saja. Azri menikmatinya dengan senang hati, membalas tanpa berniat mendominasi. Tiba-tiba Widya menjauhkan wajahnya lalu menatapnya dengan raut menggemaskan.


"Aku ingin sekali memakan toppa lada buatanmu.“


Tiba-tiba?


Azri mengerjapkan mata berkali-kali melihat perubahan hasrat yang tiba-tiba. Detik berikutnya ia lalu tertawa. Setelah percintaan yang panas ini Widya tidak menginginkan Tidur melainkan menikmati masakan buatannya?


"Baiklah, apa pun yang kamu inginkan Putri.“ Azri meletakkan tangannya di bawah tubuh Widya, "Tapi sebelum itu kita harus membersihkan diri dulu.“ Ia mengedipkan mata lalu membawa Widya dengan sangat mudah menuju kamar mandi.


"Aku suka kamu masih kuat mengangkatku meskipun aku sedang hamil." Widya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Azri.


Malam itu, ketika Widya menikmati suasana damai bersama suaminya di teras samping rumah, ia mendapati sebuah surat diberikan padanya oleh seorang pelayan.


"Surat untukmu, Nyonya."


Widya menengadahkan kepala, lalu menerimanya dengan kening berkerut.


"Terima kasih." la bangkit dari pelukan Azri agar bisa duduk tegak.


"Surat dari siapa?" tanya Azri penasaran.


Widya menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Aku tidak menunggu surat dari siapa pun." Ia lalu membacanya. Bibirnya tersenyum setelah ia mengetahui siapa pengirim surat itu. "Siapa?"


Tanpa menatap suami nya Widya men jawab, "Hanya salam per pisahan dari Lia. Dia ber kata akan pergi ke Jepang dan akan tinggal di sebuah kuil untuk menebus dosa-dosanya. Mencoba hidup baru dengan membuat banyak kebaikan. Sepertinya dia benar-benar menyesal."


"Hmm, ide nya sangat brilian. Aku bangga dengan keputusan nya. Mungkin aku akan me lakukan hal yang sama seperti diri nya." Azri menyahut. "Sekarang lupakan ini dan ayo ber baring dalam pelukan ku lagi."


Azri me narik Widya ke dalam pelukan nya lagi. Mereka ber baring di atas sofa sambil memandangi langit malam yang ber bintang.


Widya me meluk Azri dengan segenap perasaan nya. Detik itu ia me rasa hidup nya sangat sempurna. Per nikahan nya memang di penuhi oleh ber bagai macam cobaan. Namun, lihat apa yang ia dapat ketika ia bisa ber tahan dan melawan ketakutan nya sendiri, ia men dapat kan cinta dari suami nya, men dapat kan keluarga kembali, dan yang paling utama, ia tidak sendirian lagi.


Ber sambung ....

__ADS_1


__ADS_2