
Azri masih ragu meski pun kini ia sudah menginjak lantai apartement nya. Ia menutup pintu perlahan lalu membalik kan diri. Langkah nya terhenti begitu mata nya menangkap sosok Widya tersenyum pada nya.
Tidak, jangan senyum itu, erang Azri dalam hati. Ia mencoba menguasai diri nya agar tetap terlihat tak peduli.
"Kamu datang juga. Ku pikir kamu tidak akan datang," sambut Widya senang.
Azri baru sadar bahwa diri nya begitu antusias kembali ke rumah setelah di kirimi pesan singkat oleh Widya. Itu fakta aneh yang lain. Sejak kapan Widya bisa memerintah nya dengan mudah, bahkan ia sendiri tidak menyadari hal itu.
"Ada apa? Kamu membuat acara ku terganggu," balas Azri dengan nada angkuh dan dingin. Sengaja di lakukan untuk mengingkari kenyataan bahwa jantung nya berdebar kencang.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Ayo."
Widya membimbing Azri duduk di salah satu kursi, Azri berusaha agar tidak menganga takjub melihat aneka makanan yang di sukai nya tersaji di atas meja. Ia tidak pernah di jamu dengan makanan kesukaan nya oleh wanita mana pun. Bahkan Marleen saja tidak tahu makanan apa yang disukai nya. Gadis itu hanya memasak sesuatu yang di kuasai nya.
"Kamu menyukai nya?" tanya Widya dengan wajah cerah bercampur penasaran.
Azri buru-buru menormal kan ekspresi nya dengan memasang pose tidak peduli. Ia tidak boleh terlihat senang.
"Kebetulan sekali aku lapar." Ia pun duduk di salah satu kursi.
Azri tak pernah menikmati makan malam bersama wanita mana pun sedamai seperti yang sekarang di alami nya. Sebelum nya ia hanya makan malam dengan seorang wanita sebagai formalitas saja sebelum benar-benar mengencani nya di dalam kamar. Ia bingung, apa mungkin karena Widya mirip dengan ibu nya? Apa lagi makanan yang sedang di nikmati nya sekarang, benar-benar membuat nya teringat pada rasa masakan yang di buat ibu nya.
Dari sudut mata nya, Azri melihat Widya melirik nya lalu pura-pura makan kembali.
"Apa ada yang ingin kamu katakan pada ku?" Azri berta nya curiga setelah memergoki Widya yang berkali-kali mencuri pandang pada nya.
Widya malu karena dengan mudah tertangkap basah. Ia menatap Azri. Syukur lah pria itu peka. Tadi ia ragu untuk memulai obrolan mengingat sikap dingin Azri saat berangkat tadi. Karena pria itu berta nya lebih dulu, ia tidak akan sungkan.
"Ini soal proyek kerja sama dengan GN Group, perusahaan kita berencana bekerja sama dengan mereka tapi mereka belum menemukan orang yang pantas untuk berunding tentang penandatanganan proyek." Widya diam sejenak menatap Azri untuk mengecek seperti apa reaksi nya. Pria itu menatap nya dengan alis terangkat sebelah.
"Lalu apa hubungan nya denganku?” tanya Azri sedikit penasaran.
"Kami berencana menunjuk mu sebagai penanggung jawab proyek itu."
Widya merasa jantung nya berdebar. Ia lega bisa mengatakan nya dengan lancar. Selebih nya tergantung bagai mana tanggapan pria itu. Dengan gugup ia menatap Azri lekat.
Azri menyandarkan punggung nya pada kursi sambil melipat kedua tangan nya di dada. Ekspresi tidak peduli nya membuat Widya merasa siasat nya akan gagal total.
"Jadi maksud mu, kamu mengajak ku makan malam untuk meminta ku melakukan tugas konyol seperti itu? Kenapa aku harus melakukan nya? Bukankah pria tua itu masih bisa melakukan nya sendiri?"
Tanggapan Azri seperti yang sudah Widya duga. Dia keberatan. Mungkin Widya tidak akan berhasil membujuk nya.
"Berdasarkan kemampuan, kamu yang paling pantas menerima posisi itu. Pikirkan lah, jika kamu berhasil memenangkan kontrak, kamu akan membuat perusahaan mu maju sepuluh langkah lebih cepat. Itu megaproyek yang sangat penting bagi ayah mu."
"A-ha!"
Azri tiba-tiba memotong ucapan Widya. Gadis itu terkesiap sadar bahwa ia sudah mengucapkan kata yang tidak seharus nya. Dia langsung mengatupkan bibir nya dan menatap Azri yang memandang nya dengan mata menyipit tajam.
"Kamu dikirim oleh Ayah untuk membujuk ku mengemban tugas tak penting itu? Sungguh, pria tua itu sudah kehilangan akal nya. Dia membungkus nya dengan baik padahal yang dia inginkan hanya lah mengendalikan ku.“
Azri merasa kecewa. Ia kira Widya tulus memikirkan diri nya. Rupa nya ia sudah terlena dengan sikap manis gadis itu belakangan ini sehingga ia lupa akan fakta bahwa Widya adalah kaki tangan ayah nya.
Sekarang nafsu makan nya hilang. Tak ada guna nya juga ia tetap diam di sini. Azri bangkit dari kursi nya. Widya terperanjat saat Azri berjalan meninggalkan ruang makan. Ia bergegas bangkit untuk mencegah Azri pergi.
"Tidak, Ayah tidak meminta ku melakukan hal apa pun. Ini murni pendapat ku. Kamu memang pantas menjadi penanggung jawab proyek sepenting itu. Aku tahu kamu akan berhasil."
Widya menghalau langkah Azri yang hampir mencapai pintu keluar. Azri memandang Widya datar, berbanding terbalik dengan ekspresi Widya yang cemas dan memohon pada nya.
"Murni pendapat mu?“ ulang nya datar. Widya mengangguk cepat. Ia sungguh berharap Azri akan setuju atau jika tidak, ia akan mengeluarkan kartu as yang terakhir.
Azri tiba-tiba menarik nya ke dalam pelukan. Widya menjerit tertahan. Ia seketika teringat memori saat Azri melakukan hal yang sama seperti saat pertemuan pertama mereka.
Bagaimana jika Azri mendadak mencium nya lagi? Widya tidak akan bisa menampar Azri lagi kali ini. Meskipun ia menjerit saat Azri melakukan nya, tidak akan ada orang yang menolong nya karena mereka sudah suami-istri. Azri memeluk nya begitu erat sampai ia kesulitan bernapas.
"Apa yang membuat mu berpikir bahwa aku mau menerima nya? Ku akui aku memang sangat kompeten, tapi apa kamu lupa bahwa aku masih menentang ide terlibat dengan bisnis Pria Tua itu?" Azri menatap Widya tajam dengan sorot yang mampu mengunci seluruh pergerakan nya.
Widya terkesima lagi pada mata hitam dan mempesona milik Azri. Mungkin beginilah cara Azri memperdaya para wanita karena terbukti, ia pun sudah terhipnotis.
"Karena." Widya memaksa otak nya berputar mencari jawaban di tengah pikiran nya yang tersesat dalam pengaruh Azri. "Ku pikir kamu sudah menyia-nyiakan bakat mu. Aku tahu kamu bisa melakukan hal yang lebih hebat dari apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Bukan berarti aku meremehkan pekerjaanmu sebelumnya. Kamu sangat hebat di bidang yang kamu kuasai, tapi apa kamu yakin kemampuan mu hanya sebatas itu?"
__ADS_1
Azri agak kagum dengan betapa gigih nya Widya dalam meyakinkan diri nya. Namun, itu tidak berarti ia akan langsung menyetujui nya.
"Aku juga mengerti kamu benci bekerja di Pradipta Group karena konflik mu dengan Ayah. Namun, kamu tidak bisa membenci semua hal tentang Pradipta Group. Kamu juga memiliki kaitan erat dengan nya. Kamu tidak akan bisa sampai pada posisi mu sekarang jika Pradipta Group tidak ada. Sudah menjadi tanggung jawab mu untuk ikut andil dalam pengembangan nya."
Memang benar. Sebagian besar kemewahan yang dinikmati Azri hingga saat ini pun berkat keluarga nya sukses memajukan Pradipta Group.
"Kamu tidak bisa hidup selama nya dengan bersikap tidak peduli pada keluarga dan Pradipta Group, bukan? Sudah saat nya kamu ikut mengemban tanggung jawab. Selain itu kamu menyukai tantangan, bukan? Anggap saja tugas kali ini sebagai tantangan yang harus kamu jawab."
"Dan apa untung nya bagiku jika aku berhasil menyelesaikan proyek ini dengan baik? Aku pasti hanya menerima pujian saja, bukan?"
"Itu tidak benar. Kamu bisa mendapatkan bonus yang besar dari Ayah mu. Dan kamu juga akan menerima kepercayaan dari banyak orang." Terutama dari para pemegang saham, tambah Widya dalam hati.
Benefit dari ayah nya? Tentu saja pria tua itu harus membayar uang yang banyak atas pencapaian nya—itu pun kalau Azri mau menerima proyek itu. Masalah nya, ia tidak berminat.
Cara Widya berbicara menggelitik telinga Azri dan desiran asing itu kembali menjalari seluruh aliran darah nya. Gadis ini berkata begitu lembut dan hati-hati seolah tidak ingin menyinggung perasaan nya. Azri sangat menghargai hal itu. Satu-satu nya wanita yang pernah berbicara selembut dan sehati-hati ini sudah meninggal dunia. Ibu nya selalu berkata dengan cara yang sama seperti Widya.
"Kamu tahu ...." Azri berkata sambil menyentuh helaian rambut Widya yang di biarkan tergerai. "Aku tidak pernah suka di atur oleh siapa pun dan aku juga tidak pernah mau memimpin perusahaan yang di besarkan oleh pria tua itu."
Widya menelan ludah gugup saat sadar Azri memiringkan wajah nya, entah apa yang dia lakukan. Ia tidak bisa menghindar karena terjebak dalam pelukan nya, yang bisa ia lakukan hanya lah diam tak bergerak. Azri semakin mendekat dan Widya memejamkan mata nya rapat-rapat begitu embusan napas pria itu menerpa wajah nya.
"Tapi aku tertarik dengan keuntungan yang kamu sebutkan tadi. Hanya saja, itu belum cukup untuk menggugah minat ku, kamu harus menawarkan sesuatu yang lebih menarik."
Tubuh Widya bergetar tatkala bibir nya terasa ditekan oleh material lembut, hanya sesaat setelah itu ia memaksakan diri membuka mata untuk mendongak menatap Azri yang kini mulai menempelkan dahi mereka.
"Apa yang bisa ditawarkan oleh pekerja rendahan seperti ku? Kamu bisa mendiskusikan nya dengan ayah mu setelah kamu setuju untuk menerima proyek itu," jelas Widya kaku karena mata Azri menatap nya lurus.
Mata itu membuat ku tenggelam!
"Aku pasti akan meminta uang yang banyak darinya, tentu saja. Tapi yang ingin ku ketahui adalah keuntungan apa yang akan kamu berikan pada ku jika aku berhasil menyelesaikan proyek itu."
Apa? Aku? Widya kehilangan kata-kata. Apa yang Azri inginkan dari nya? Harta yang dimiliki nya sekarang bahkan tidak setengah nya dari harta yang dimiliki pria itu.
"Kenapa kamu selalu mengharapkan imbalan untuk setiap pekerjaan yang kamu lakukan?" Widya tak habis pikir. "Pernahkah kamu berniat melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan, sesuatu yang kamu lakukan untuk seseorang dengan tulus."
"Aku ini tipe pria yang tidak mau berbuat sesuatu yang sia-sia, jadi benar, aku selalu mengharapkan imbalan untuk setiap pekerjaan yang ku lakukan."
"Sungguh hidup yang menyenangkan," ucap Widya dengan nada mencibir.
"Kalau memang kamu bersikeras, aku mau saja mengambil alih tugas itu."
Widya mengerjap senang. Ia tak percaya karena hasil akhirnya Azri mau juga menerima tugas itu.
"Sungguh? Kamu mau?“ serunya gembira.
Azri menyunggingkan seringaian nya membuat Widya merasa ada yang tidak beres. Apa yang di rencanakan pria ini?
"Jika kamu tidak keberatan untuk mengabulkan satu permintaan ku," ucapnya rendah, membuat jantung Widya bertalu-talu cepat.
Tepat seperti dugaan nya. Azri tidak pernah mau melakukan sesuatu dengan sukarela. Pasti harus ada sesuatu yang di dapatkan nya sebagai timbal balik.
"Apa?" Sebenar nya Widya tidak sanggup menebak apa yang akan Azri katakan, tetapi ia memaksakan diri berta nya.
Azri mendekatkan mulut nya ke telinga Widya untuk membisik kan sesuatu, "Aku ingin Tidur denganmu."
Widya membelalak kan mata. 'Tidak mungkin! Aku pasti salah dengar.' Ia yakin jika Azri tidak memeluknya ia pasti jatuh terjerembab detik itu juga. Ia terlalu kaget dan tidak percaya mendengar apa yang Azri pinta. Ia tahu maksud Azri tidur di sini adalah melakukan sesuatu di atas ranjang bersama-sama dan merupakan aktivitas yang biasa dilakukan pasangan suami-istri pada umum nya. Namun, tetap saja permintaan itu agak berlebihan bagi Widya.
Sebab, Widya tidak pernah tidur dengan lelaki mana pun dan ini akan menjadi pengalaman pertama nya jika ia menyetujui permintaan Azri. Dan satu hal penting lain yang Azri tidak tahu adalah bahwa ia tidak mungkin membiarkan milik nya yang berharga hilang karena pernikahan ini tidak akan bertahan lama.
Ekspresi Azri tetap datar, seolah syarat yang baru dikatakan nya adalah sesuatu yang sama normal nya seperti meminta di berikan camilan. Mungkin karena dia memang sudah terbiasa meminta hal itu dari wanita mana pun yang dikehendaki nya, bahkan tanpa perlu meminta pun mereka akan dengan senang hati memberikan nya.
"Jika kamu setuju memenuhi permintaan ku, maka aku pun akan menerima proyek itu." Ia sudah memberikan penawaran yang adil. Ia pun yakin Widya tidak akan menolak. Jika melihat betapa gigih nya Widya saat membujuk nya tadi, gadis itu pasti akan menerima syarat nya.
Namun, Azri malah melihat keraguan di mata istri nya. Ia tertohok karena untuk pertama kali nya ia menemukan raut itu dari mata seorang wanita. Ia juga tidak pernah harus memohon sampai sejauh ini untuk mendapatkan apa yang ia mau. Biasa nya ia hanya tinggal mengerlingkan mata dan wanita mana pun dengan sukarela membiarkan dia menyentuh nya, tanpa keraguan apa lagi penolakan.
Azri melepaskan Widya setelah gadis itu cukup lama berdiam diri. Kebisuan nya sangat cukup bagi Azri untuk menyimpulkan nya sebagai bentuk penolakan Widya. Ia harus menormalkan hatinya yang perih dengan menatap ke arah lain.
"Pikirkan baik-baik permintaan ku. Jangan buat keputusan yang akan membuat mu menyesal nanti nya."
Azri melewati Widya. Seperti nya kali ini ia harus menenggak alkohol sampai penat nya hilang sama sekali.
__ADS_1
Widya merasa diri nya begitu buruk karena menolak permintaan suami nya tidur bersama. Memang salah jika Azri menginginkan nya? Toh, mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Namun, apakah pantas jika ia menyerahkan diri nya sendiri pada pria yang akan berpisah dengan nya? Itu sama saja seperti menjual harga diri nya hanya untuk selembar surat kontrak. Tunggu, ia memang sudah melakukan itu.
Widya tersesat dalam kabut yang di ciptakan nya sendiri. Dua pendapat yang bertentangan saling beradu dalam pikirannya. Sisi lain nya berteriak setuju, tetapi sisi yang satu nya menolak dengan tegas. Mana yang harus ia ikuti? la melirik ke arah Azri yang berjalan pelan menuju pintu.
Apa usaha nya harus berakhir sia-sia padahal ia bisa membuat Azri menyetujui nya dengan memenuhi satu syarat itu?
Well, apa salah nya tidur bersama walau pun mereka akan berpisah? Mereka juga bukan nya akan melakukan sesuatu yang ilegal atau pun menentang moral, bukan? Malah mungkin diri nya yang akan malu jika orang tahu bahwa mereka belum tidur bersama sekali pun.
Keputusan Widya sudah bulat. Ia akan menerima syarat Azri. Jika ia harus kehilangan keperawanan demi selembar kontrak proyek, hanya Azri-lah yang ia izinkan untuk mengambil nya. Tidak akan ada yang bakal mencela nya karena memilih menawar kan diri demi meraih tujuan nya. Hati nya bergemuruh setelah yakin dengan jawaban apa yang akan ia berikan pada Azri.
"Baiklah."
Azri berhenti melangkah, terkejut mendengar ucapan Widya. Ia membalik kan badan menghadap istri nya yang memasang ekspresi yang sulit diartikan. Apakah itu ekspresi ragu, senang, gugup, atau terpaksa. Atau mungkin semua nya. Widya balas menatap Azri langsung setelah yakin ia tidak akan mengubah keputusan nya lagi.
"Aku akan memenuhi permintaan mu."
Azri merasa seperti baru saja diberitahu diri nya lulus dengan nilai sempurna mendengar hal itu. Bunga-bunga seolah bermekaran di sekeliling nya. Namun, ia harus menjaga ekspresi nya agar tidak tampak begitu senang.
"Benarkah? Kamu bersedia tidur dengan ku?"
"Hanya jika kamu berhasil menyelesaikan proyek kerjasama itu. Jika tidak, permintaan mu tidak bisa ku kabulkan."
Azri mengangkat dagu nya, dengan senang hati menerima tantangan itu. "Kamu akan terkejut setelah melihat kemampuan ku.“
Azri benar-benar akan menerima nya? Semudah itu? Widya takjub.
"Yeah, kalau begitu buktikan lah."
Azri kembali mendekat dan Widya tidak merasa gentar lagi menghadapi Azri yang kini berdiri tepat di hadapan nya. Mata tajam pria itu kembali menghujam nya, menghantarkan desiran asing yang membuat nya berdebar kencang. Ia bahkan belum mempersiapkan diri ketika Azri tiba-tiba saja mencium bibir nya dengan gerakan menuntut, membuat Widya kewalahan dengan serangan tiba-tiba itu. Azri melepaskan nya setelah berhasil membuat Widya kehabisan napas.
"Ini hanyalah permulaan. Setelah aku berhasil nanti, aku akan memberi mu yang lebih intens dari ini."
Beberapa detik setelah nya Widya masih terpaku menatap Azri yang berbalik pergi lalu menghilang dari apartement meninggalkan nya sendirian di sana. Ia terkulai lemas di lantai. Tangan nya gemetar menyentuh bibir nya sendiri. Ciuman seintens tadi baru permulaan? Widya tidak bisa membayangkan sedahsyat apa sensasi yang ditimbukan dari kecupan yang lebih intens.
Seperti nya Widya harus mempersiapkan hati dan mental. Azri pasti akan berhasil, pria itu selalu mendapatkan apa yang diinginkan nya selama dia bertekad.
"Aku bisa gila!"
Widya tidak bisa menyesal, karena keputusan ini ia ambil dengan sukarela. Ia pun teringat kata-kata yang diucapkan Bella pada nya waktu itu;
Azri sudah menjadi suami mu dan buatlah dia benar-benar menjadi milik mu. Aku yakin, dengan sering nya kalian bersama, perasaan Azri akan berpaling pada mu.
Widya memang ingin menjadikan Azri milik nya, hanya milik nya. Bagaimana pun ia ingin dicintai. Ia ingin Azri berpaling padanya dan mencintai nya.
***
Azri bersungguh-sungguh dengan ucapan bahwa dia akan menerima proyek itu dan memenangkan kontrak kerjasama dengan GN Group. Azri bekerja dengan serius sampai-sampai Mahendra melihat putra nya begitu antusias dalam menyelesaikan tugas nya.
“Apa yang kamu katakan pada Azri sampai dia setuju melakukan nya?"
Mahendra bertanya penasaran pada Widya sebelum rapat dengan GN Group dimulai hari itu. Ia masih belum percaya bahwa Azri berhasil membawa pimpinan GN Group yang terkenal rumit datang ke kantor mereka untuk berunding seputar perjanjian kerjasama itu. Padahal ia sudah mencoba melakukan itu sejak tiga bulan terakhir, tetapi selalu saja gagal. Sementara itu Azri berhasil melakukan nya dalam tempo satu minggu saja? la sungguh bangga memiliki anak yang luar biasa. Kemampuan nya tidak bisa dianggap remeh.
"Hanya sedikit memberikan stimulasi saja. Tak ku sangka dia bersedia melakukan nya."
Widya tidak mungkin bercerita bahwa ada perjanjian lain di balik setuju nya Azri mengambil tugas itu.
"Kamu memang hebat. Tak sia-sia aku memilih mu sebagai menantu ku." Mahendra tak kalah bangga pada Widya.
Gadis itu menunduk kan kepala nya tersipu. Setidak nya pujian ayah mertua nya bisa sedikit mengobati rasa gundah nya.
Tak lama Azri dan pimpinan GN Group datang. Kedua nya masuk bersama ke dalam ruang rapat itu sambil berbincang hangat. Mahendra langsung menyambut pimpinan GN Group itu dengan antusias dan mempersilakan nya duduk agar mereka bisa memulai rapat.
Azri memandang Widya sejenak sebelum dia ikut duduk bersama eksekutif lain di ruangan itu. Perhatian nya tertuju pada penampilan Widya yang serba rapi. Sudah sejak lama tangan nya gatal ingin membuat gadis itu tampak berantakan, keinginan nya itu akan segera terwujud begitu kontrak kerjasama ditandatangani hari ini.
Widya tidak menyadari arti tatapan intens Azri. la segera membungkuk kan badan nya dengan sikap formal pada Mahendra lalu beranjak keluar dari tempat itu. la tidak memiliki kepentingan di rapat itu. Keberadaan nya di sana hanya untuk memastikan Azri melakukan tugas nya dengan baik.
Bersambung ....
__ADS_1
Kalau Azri sudah bertekad dapatkan apa pun, pasti dia akan berusaha mendapatkannya. Apalagi ini dengan penawaran yang ...😆