
Adam terperanjat bangun dari sofa ruang tamunya ketika ia melihat Widya membuka pintu lalu menerobos masuk. Gadis itu berjalan dengan langkah sempoyongan.
"Widya!" la segera menyongsongnya sebelum Widya jatuh terjerembab di lantai. "Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
Sekujur tubuh Widya gemetar dalam pelukannya. Pandangan gadis itu nyalang menatap kosong ke segala arah seperti ingin bersembunyi dari sesuatu, dipenuhi ketakutan dan kepanikan.
"Aku harus pergi dari sini. Bantu aku kemasi barang-barangku.“
Widya mencengkram erat kedua bahu Adam. Pria itu semakin kebingungan. Apa yang membuat Widya tampak seolah diteror seperti ini?
"Kenapa? Sebenarnya apa yang dikatakan gadis tadi padamu?"
Widya tidak mendengarkan kata-kata Adam. la benar-benar mirip seseorang yang dipengaruhi mantra confudus.
"Aku harus pergi. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Azri dari orang itu. Aku harus menjauhkannya dari orang itu. Kumohon bantu aku Adam."
Suara gadis itu semakin memelas, perlahan-lahan berubah ketakutan lalu histeris. Tangisannya pecah.
"Widya, tenanglah."
Adam langsung memeluknya. Widya menangis kencang, sebagai bukti ledakan rasa takutnya yang tidak bisa dibendung lagi. Ia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk mengancam Lia tadi. Sekarang tidak tersisa lagi keberanian itu dan hanya tertinggal rasa takut dan keputusasaan. Ia tidak mau Azri menderita oleh Lia.
__ADS_1
"Azri satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai lagi. Aku tidak mau sendirian lagi. Aku tidak mau."
Widya menangis tersedu-sedu di pundak Adam. Pria itu hanya menatapnya iba sekaligus sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Widya. Ia bisa merasakan kengerian dari suara tangisannya. Widya benar-benar ketakutan.
"Semua akan baik-baik saja. Aku jamin hal itu. Sekarang kamu harus menenangkan diri lebih dahulu. Setelah itu aku berjanji akan membantumu."
...M.E.N.I.K.A.H.I B.A.D B.O.Y...
Lia tidak main-main dengan ucapannya. Beberapa hari setelah penolakan Azri, jatuhlah bom pertama gadis itu untuk Pradipta Group. Media gempar oleh isu penutupan salah satu perusahaan terbesar itu karena utang yang tak bisa terbayarkan. GN Group mengeluarkan surat penyitaan untuk seluruh aset Pradipta. Bahkan penyiar berita mengatakan bahwa mulai dilakukan PHK di beberapa anak perusahaan Pradipta Group.
"Tuan Besar!"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.“ la meringis merasakan nyeri di dadanya.
"Apa saya harus memanggil ambulans, Tuan? Anda terlihat tidak baik-baik saja.“
"Tidak, jangan lakukan apa pun." Mahendra mencegah, "Dan pastikan Ayah tidak tahu apa pun tentang berita ini. Dia bisa tewas karena serangan jantung."
"Bagaimana dengan Anda?"
"Aku baik-baik saja. Aku harus tahu apa yang sedang dilakukan Azri saat ini."
__ADS_1
Pelayan itu segera menyerahkan ponsel padanya. Ia harus menghubungi Azri. la ingin mendengar apa rencana putranya itu setelah semua ini terjadi.
Sementara itu di ruang kerjanya di kantor pusat Pradipta Group, Azri mematung memandang layar televisi. Tanpa sadar gelas yang digenggamnya hancur berkeping-keping.
"Brengsek! GN Group telah melanggar kesepakatan yang sudah ditandatangani sebelumnya."
"Tuan, tangan Anda--"
Sekretaris Azri memekik panik setelah melihat tangan pria itu meneteskan darah. Azri tidak peduli. Rasa sakitnya tidak terasa sama sekali dibandingkan rasa sakit yang diterima hatinya. GN Group sudah berkhianat. Bukankah sebelumnya pernah ada perjanjian bahwa tidak akan ada tindakan apa pun yang bisa merugikan kedua belah pihak. Oh tentu saja, itu sebelum ia tahu adanya utang-utang itu.
"Lia, dia pasti penyebabnya."
Azri yakin, Lia yang sudah menghasut ayahnya untuk menyita seluruh aset Pradipta Group. Gadis itu dendam dengan penolakannya tempo hari sehingga dia memutuskan menggunakan cara keras untuk menguasai perusahaan dan menguasainya.
Sialan, Azri tidak bisa melihat perusahaan ini diambil alih begitu saja. Ia harus mencari cara untuk membebaskan perusahaan ini dari utang.
Bahkan dengan demo besar-besaran dilakukan oleh pegawai Pradipta Group di luar sana tidak membuat Azri menemukan solusi dengan mudah. Tentu saja mereka akan berdemonstrasi. Mereka khawatir sekaligus panik mengetahui mereka akan kehilangan pekerjaan. Saat ini hanya terpikir satu cara di otaknya.
"Naomi, siapkan mobil untukku. Aku akan menemui Presdir GN."
Bersambung ....
__ADS_1