Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 71


__ADS_3

"Jika kamu bisa, akhir minggu ini. Aku akan mengenalkan Azri pada calon istri yang sesungguhnya."


Kalimat yang sudah ditegaskan Mahendra itu membuat nafsu makan Widya menguap seperti embun. Ia terus melirik kalender. Akhir minggu tinggal beberapa hari lagi dan ia bahkan bingung harus berkata apa pada Azri.


Azri mencoba membuatnya hamil agar Widya tidak bisa pergi meninggalkannya, tetapi itu tidak menjamin apa pun. Akhir minggu ini ia harus pergi sebelum ia tahu apakah ia hamil atau tidak. Apa yang harus ia lakukan? Ia bahkan tidak bisa menatap Azri tanpa ada perasaan cemas.


Lamunannya buyar begitu sebuah kecupan mendarat di pipinya. Widya mendongak, senyum Azri menghipnotisnya sampai ia tidak bisa berkata. Hanya menatap wajah tampan dan gembira pria itu yang berbanding terbalik dengan ekspresinya.


"Kamu tampak murung pagi ini. Kenapa?"


Azri berkata sambil menatap lekat wajahnya. Widya hanya tergagap, karena tindakan iseng Azri menampakkan semburat merah muda di kedua pipinya.


"Tidak apa-apa." Dengan gugup Widya kembali menekuni sarapannya lalu meneguk teh hijau. Azri hanya tersenyum lalu berjalan ke ruang tengah sambil memakai dasinya.


Widya menghampiri Azri setelah membereskan piring-piring kotor.


"Mungkin kamu hamil, apa kamu sudah memeriksa keadaanmu?"


"Hamil?"Widya mengerjap, lalu mengambil alih Azri menyimpulkan dasinya, "Tidak mungkin, bukankah baru beberapa hari?"


Azri mendengkus begitu Widya selesai dengan dasinya, ia menggunakan kesempatan ini untuk mendekap Widya. Walaupun pelukan Azri sudah bukan hal asing lagi, ia tetap saja terkejut setiap kali pria itu mendekapnya secara tiba-tba.


Debaran itu mengencang sadar Azri menatapnya nakal.


"Apa aku harus bercinta denganmu setiap malam agar dia cepat datang?"


"Bukankah dokter mengatakan agar mengurangi intensitasnya jika ingin aku cepat hamil?"


Begitulah yang dikatakan dokter padanya, tetapi tidak seperti dokter, Widya begitu terbata ketika menjelaskannya pada Azri.


Alis Azri terangkat sebelah. "Yang benar saja. Dokter mana yang mengatakannya? Aku akan melayangkan protes padanya."


Wajah Widya semakin memanas. Ia menundukkan wajahnya dan berniat lepas dari pelukan Azri, tetapi pria itu enggan melepaskannya.


“Apa lagi? Kita hampir terlambat," erang Widya putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari Azri.


"Aku bertanya-tanya kenapa hari ini aku tidak mendapat morning kiss," gumam Azri di sela seringaian khas miliknya. Matanya berkilat-kilat penuh hasrat.


Pria ini, batin Widya. Jelas dia meminta dicium lebih dulu.

__ADS_1


Sudut mata Widya melirik jam. Waktu mereka semakin habis oleh hal sia-sia jika ia tidak cepat melaksanakan permintaan Azri. Ia mengecup bibir suaminya. Widya sebenarnya malu sekali, menyadari Azri tersenyum di sela-sela ciumannya.


Setelah merasa cukup, Widya lekas menjauh. Dengan pipi yang memerah ia menurunkan tangannya yang melingkari leher Azri. Pria itu tersenyum simpul dan berkata dengan nada usil.


"Ah, lega rasanya. Sekarang ayo kita berangkat."


***


"Benarkah?"


Pekikan Bella tertahan karena kedua tangannya lekas menutup mulut sebelum lengkingan suaranya menguar memenuhi sudut ruang kantor tempat mereka berada. Dengan ekspresi tercengang ia menatap Widya, sahabatnya yang duduk di kursinya. Wajahnya begitu pucat dan dia terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya.


Widya mengangguk lemah, lalu menunjukkan surat perintah dari Mahendra kepada Bella. Gadis itu merebutnya cepat dan membacanya isinya. Matanya membelalak.


"Aku tahu sekarang kenapa Azri membenci Ayahnya. Astaga, Widya, Ayah mertuamu benar-benar tidak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa dia menyuruhmu bercerai dengan Azri dan pergi ke luar negeri?!"


"Bella, pelankan suaramu," peringat Widya lemah. Ia hanya menatap layar monitornya dengan pandangan kosong.


Widya pun tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan surat perintah yang diterimanya pagi tadi, bersamaan dengan pengesahan Azri El Pradipta sebagai CEO baru Pradipta Group. Seharusnya ia berbahagia hari ini. Namun, pada kenyataannya untuk tersenyum pun sulit ia lakukan.


"Aku tidak bisa mengelak lagi Bella, semua klausul dalam perjanjian sudah terpenuhi. Aku harus pergi. Jika tidak, aku bisa diperkarakan karena melanggar kontrak.“ Widya terdiam sejenak, “Lagi pula mana bisa aku melanggar perintah Tuan Mahendra. Dia atasan kita."


"Kamu salah," sela Bella dengan nada tegas. Widya mendongak menatapnya. "Atasan kita bukan lagi Mahendra El Pradipta, tapi Azri El Pradipta. Tentu saja segalanya bisa berubah."


"Widya." Bella merangkulnya penuh rasa simpati. "Jika kamu memang harus pergi dari Azri, kamu bisa datang ke rumahku kapan saja."


"Terima kasih Bella." Widya balas memeluknya.


***


Widya menarik napas, sesekali melirik ke arah Azri yang sedang menelepon kliennya. Dalam hati ia merasa bangga, karena Azri yang sekarang sungguh berbeda dengan Azri yang pertama kali ia temui. Pria itu begitu ulet bekerja keras memajukan perusahaan yang kini dipimpinnya.


Sebenarnya Widya tidak berani mengganggu Azri, tetapi ia harus mengatakan rencana kepergiannya. Setidaknya ia harus berpamitan. Karena itu, setelah berhasil mengumpulkan keberanian ia berhasil menghampiri Azri.


"Apa kamu ada waktu?" Widya bertanya ragu.


Azri menoleh, beralih sejenak pada teman pembicaraannya di telepon lalu mengakhiri pembicaraan. Sekarang ia bisa fokus pada istrinya yang berdiri di depannya dengan tingkah aneh. Gadis itu tampak begitu gugup, memelintir ujung piyamanya. Dalam hati ia mendesah, ia lupa membelikan Widya gaun tidur. Baju yang dipakainya masih piyama model lama yang membuatnya tampak culun.


"Ada apa istriku?" Azri tersenyum lembut. "Kenapa kamu berdiri di sana? Kemari, duduk di sampingku." Azri menepuk tempat di sisinya.

__ADS_1


Widya menurut, duduk di sisi Azri. Ia menatap Azri dengan mata yang tidak fokus, antara gugup dan salah tingkah karena Azri menatapnya intens.


"Aku mendapat perintah dinas. Aku harus pergi ke luar negeri selama beberapa bulan. Karena itu aku, eh aku ingin berpamitan denganmu." Widya membasahi bibirnya.


Astaga, ia tidak bisa berbicara dengan benar. Widya menoleh pada Azri tepat di saat ia menangkap ekspresi tidak suka pria itu. Tenggorokannya tercekat.


"Kapan?"


"A-akhir minggu ini."


"Aku tidak mengizinkan," tegasnya dengan nada mutlak tak bisa dibantah.


Widya megap-megap, tak menyangka Azri akan menolak sekeras itu.


"Tapi, ini tugas dari Ayah-"


"Aku tidak peduli." Azri lagi-lagi memotong. "Aku tidak mengizinkanmu pergi kemana pun. Tidak peduli apakah itu perintah Pria Tua itu atau bukan."


"Tapi, jika aku tidak pergi perusahaan akan merugi." Widya terpaksa mengarang alasan.


"Aku yang akan membayar kompensasi itu. Selain itu, perusahaan masih bisa mengirim orang lain, bukan?" Azri menatapnya dengan mata menyala-nyala. Jelas ia tidak suka bila apa yang ia perintahkan dibantah.


Widya benar-benar kehabisan kata-kata. Mulutnya terbuka ingin mengatakan keinginannya, tetapi tiba-tiba saja Azri memeluknya. Membuat tubuh Widya menegang.


"Kamu tidak bisa pergi ke mana-mana Nyonya Pradipta." Azri berbisik mesra, lalu mengecup tengkuknya.


Widya menggeliat, pikirannya kacau balau berkat aksi manis itu, tetapi ia tetap memaksakan kepalanya berpikir.


"Kenapa tidak bisa?" Widya masih mencemaskan perintah Ayah mertuanya. la tidak tahu konsekuensi apa yang mesti ditanggungnya jika ia tidak pergi dari kehidupan Azri secepatnya.


"Kita akan datang ke pesta akhir minggu ini dan aku ingin kamu datang bersamaku. Aku akan memperkenalkanmu pada rekan-rekan bisnisku. Semua orang pasti penasaran dengan istri dari CEO baru Pradipta Group."


Ciuman Azri merambah pelan-pelan ke rahang, pipi, dan berhenti sebelum mencapai bibir Widya.


"Sekarang ayo kita tidur.“ Azri mengakhiri perdebatan mereka dengan mel**at bibirnya.


Seluruh pertahanan Widya luruh sudah di tangan Azri. Pria itu dengan lihai membuat pikirannya kacau balau dan ia lupa pada niat awalnya mengajak Azri berbicara, kedua tangan Azri menarik pinggangnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk.


Azri sudah tahu apa yang akan Widya katakan. Ia sudah menyuap Bella agar menceritakan segala permasalahan yang melibatkan Widya dan Ayahnya. Meksipun pada akhirnya ia harus menggertakkan gigi mengetahui Ayahnya telah mengancam istrinya dengan tidak berperikemanusiaan.

__ADS_1


la akan mengacaukan segalanya. Dan jika Ayahnya tetap bersikukuh ingin Widya pergi, maka Sang Ayah harus berhadapan dengannya.


Bersambung .....


__ADS_2