Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 79


__ADS_3

"Kamu Yuna."


Widya tak mengedipkan matanya sama sekali. la tercengang, memandangi wajah Azri dan Lia bergantian.


Apa artinya semua ini? Kenapa Azri menyebut Lia dengan nama Yuna? Azri tidak mungkin salah menyebutkan nama kecuali dia benar-benar mengenalinya. Mungkinkah wajah Lia mirip dengan Yuna? Atau mungkin dia memang Yuna?


Astaga, Yuna sudah meninggal dalam kecelakaan di laut! Widya memarahi dirinya sendiri karena sudah berpikir yang tidak mungkin. Semua pertanyaan itu membuatnya pusing.


Lia mengerutkan kening dihujani tatapan intens Azri. Pria itu menatapnya seolah Lia adalah tempat di mana ia bisa menemukan jawaban dari rasa penasarannya.


"Maaf, aku Lia Fernandez. Aku bukan Yuna."


Sial, dia gadis yang berbeda! batin Azri berteriak dan detik itu juga ia mengerjap sadar.


Untuk sesaat Azri sempat termangu, sesuatu bergeser di hatinya mengetahui Yuna yang sudah tiada muncul di hadapannya seperti mimpi. Rupanya, itu hanya khayalannya saja. la terkekeh kecil menertawakan kebodohannya sendiri. Mana ada orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, muncul di hadapannya dan berkata 'hai.'


"Tentu saja, kau Lia. Salam kenal. Aku Azri El Pradipta."


Mereka berjabat tangan dan Azri mempersilakan Lia duduk. Makan malam pun dimulai ketika hidangan pertama disajikan di atas meja. Mereka mengobrol hangat selayaknya kawan lama.


Meskipun begitu Azri tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan Lia. Entah apa yang ia cari, tetapi sepertinya ia masih penasaran. Mana ada dua orang yang benar-benar mirip di dunia ini kecuali mereka adalah anak kembar. Mungkinkah dia benar-benar Yuna?


Bodoh! Azri memaki dalam hati. Ia cepat menepis pikiran melanturnya dan kembali fokus pada makanan di piringnya yang baru habis sebagian.


"Ayah sangat menyukaimu," ucap Lia setelah hidangan pembuka selesai dan kini masuk ke hidangan utama.


Azri tertawa setelah ia sempat tertegun memperhatikan setiap gerak-gerik Lia.


"Beliau seseorang yang hebat, kamu sangat beruntung memiliki Ayah sepertinya."


"Benarkah?" Lia ikut tertawa, "kamu tahu, ayahku ingin sekali menjodohkanmu denganku. Tetapi sepertinya dia lupa kalau kau sudah menikah." Lia melirik sinis melalui ekor matanya pada gadis di samping Azri yang sejak tadi tidak ikut bersuara.


Widya diam seperti anak autis, memainkan garpunya dengan tidak berselera. Dia bertingkah seolah tidak ada di sana.


Dalam hati Lia menyeringai. Dia tidak benar-benar mencintai suaminya. Jika Widya mencintai Azri, mana mungkin dia membiarkan suaminya terus-menerus menatap wanita lain. Lia benar-benar ingin tertawa puas sampai sakit perut.


Widya Lovarza adalah gadis bodoh, itu fakta. Jika ia bertemu Marleen nanti ia akan memaki gadis itu. Azri bukan pria bodoh yang akan jatuh cinta pada gadis materialistis dan bodoh seperti Widya Lovarza. Itu tidak benar sama sekali. Buktinya, sejak awal hingga sekarang Azri mengabaikan gadis itu.


Azri tidak menyadari bahwa sejak tadi ia sudah melupakan Widya. Istrinya itu duduk di tempatnya tanpa mengatakan apa pun. Namun, jika Azri melihat wajahnya, dia pasti bisa merasakan betapa sedihnya Widya saat ini.


Widya ingin mengajukan banyak pertanyaan. Namun, ia tidak tahu harus bagaimana memulainya. Ia takut melihat reaksi Azri. la tidak mau melihat satu pun gurat kesedihan di wajah suaminya karena kenangan Yuna.


Sekali lagi Widya memandang Lia dengan perasaan bercampur. Jika memang mereka berwajah serupa, ia paham mengapa Yuna begitu membekas di hati suaminya. Siapa yang akan melupakan gadis dengan rupa secantik itu? Lia adalah gadis cantik dan anggun. Ditambah dengan kenyataan bahwa gadis cantik itu adalah calon istri Azri yang sesungguhnya.


Mungkin jika dia benar-benar menjadi istri Azri, Lia bisa lebih baik darinya.


Tanpa disadari siapa pun Widya mengusap perutnya dengan pilu. Ia meminta maaf pada anaknya bahwa ia tidak bisa memberitahukan keberadaannya pada Azri-ayahnya. Karena Azri kini sudah terpikat pada Lia. Ia bisa menebaknya dari cara Azri menatap Lia.


Detik itu juga ia sadar waktunya bersama Azri tidak akan lama lagi. Ia harus pergi dari kehidupan Azri.


Widya tersenyum getir. Baguslah, dengan begitu ia tak perlu berusaha keras untuk membuat Azri terpikat pada Lia.


***


"Melampiaskan kegelisahanmu pada alkohol bukan tindakan bijak, Tuan Pradipta."

__ADS_1


Azri tersentak sadar dari lamunannya. la memutar kepalanya pada Widya yang berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur warna hijau. Widya tersenyum ringan lalu duduk di sampingnya. Tak lama tubuhnya dilingkari oleh tangan hangat Widya. Gadis itu memeluknya dari samping.


"Kenapa kamu gelisah? Sejak pertemuan dengan temanku kamu sering melamun. Apakah kamu bimbang karena temanku terlalu cantik dan kamu berpikir seharusnya kamu meninggalkanku dan beralih mencintainya?" Widya mencoba bercanda, tetapi yang keluar justru kalimat yang mencekik tenggorokannya sendiri.


Ajaib, Azri tertawa karena lelucon tak lucunya. Dia menolehkan kepalanya untuk mencium Widya singkat. Ciuman lembut yang membuat Widya seperti dijatuhkan dari langit lalu mendarat di atas tumpukan awan. Pipinya menjadi semerah tomat.


"Kenapa aku merasa kamu ingin menjodohkanku dengan gadis lain?"


Azri mencubit pipinya dengan gemas, tidak menyadari sama sekali bahwa kata-katanya tadi telah memukul hati terdalam Widya. Gadis itu tersenyum miris ketika Azri menariknya hingga duduk di pangkuan pria itu.


"Lalu apa yang membuatmu merenung?"


Widya tidak yakin ia siap mendengar jawabannya. Namun, ia tidak mau terus bertanya-tanya, tidak bisa tidur karena terus memikirkan tentang masalah antara dirinya, Mahendra, Azri, dan Lia.


Azri memandangnya dengan sorot mata kosong yang membuat Azri iba sekaligus sakit. Dia membuang napas berat sebelum menjawab dengan nada lesu.


"Aku akan mengatakan sesuatu padamu, tetapi kau harus berjanji kamu tidak akan marah."


"Apa?" tanya Widya was-was. Ia memasang sikap waspada. Ekspresi Azri saat ini sedikit membuatnya takut. Apa gerangan yang akan dikatakan Azri?


"Lia, dia benar-benar mirip dengan Yuna."


Ini dia, batin Widya. Hatinya seperti diremas karena pada akhirnya mendengar pengakuan itu dari mulut Azri langsung. la sempat mengira-ngira semenjak Azri menyebut Lia dengan nama Yuna. Pria itu tidak mungkin salah menyebutkan. Azri memanggil Lia dengan nama Yuna karena di matanya Lia adalah Yuna. Wajah mereka serupa.


Namun, hal yang membuat Widya merasa lebih sakit adalah ketika ia menyadari kesedihan di wajah Azri. Seperti luka lama yang kembali mengeluarkan darah. Azri tampak begitu menderita dan Widya merasa sakit melihatnya. Ia ingin menghapusnya, tetapi tidak tahu kata-kata apa yang bisa membuat Azri terhibur. Untuk saat ini, tersenyum pun bahkan ia tidak bisa.


"Be-benarkah," lirihnya pelan. Widya mencoba menarik perhatian Azri dengan membelai wajahnya. Namun, Azri terus menatap kosong ke depan, tubuhnya memang berada di sini, memeluknya, tetapi pikirannya jelas melanglang buana.


Widya tidak tahan lagi, ia mencoba turun dari pangkuan Azri dan gerakannya mampu menyadarkan lamunan Azri. Pria itu mengerjap menyadari Widya sudah beranjak dari pangkuannya.


Widya kini berdiri dalam jarak dua meter darinya. Menatapnya dengan raut yang tak terbaca. Widya memalingkan wajah ketika Azri menatapnya lurus.


"Sepertinya kamu memang harus menenangkan diri. Mungkin satu atau dua gelas alkohol bisa membuat pikiranmu segar. Aku ingin tidur." Widya melangkah cepat, ia tidak ingin terus berada di tempat yang sama dengan Azri di mana pria itu sibuk merenungkan wanita lain.


"Sayang!" Azri berteriak memanggilnya, tetapi Widya tidak menghiraukannya.


Widya membuka pintu kamarnya lalu naik dengan cepat ke atas ranjang. Membaringkan diri di sana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Seharusnya aku tahu diri. Aku tidak boleh egois, marah, ataupun cemburu. Bukankah perintah Ayah sudah jelas, kamu harus membuat Azri jatuh cinta pada Lia dan sekarang kamu tidak perlu melakukan hal apa pun karena Azri sepertinya sudah jatuh cinta pada Lia.


Widya terus menghibur diri di sela air matanya yang mengalir. Ia terisak dalam diam, di tengah kamar tanpa pencahayaan sedikit pun.


Siapa yang menyangka Lia akan mirip dengan Yuna. Azri masih mencintai Yuna. Hingga saat ini mungkin perasaan itu masih ada, tersimpan jauh di lubuk hati Azri, di sebuah tempat yang tak terjangkau olehnya. Tak akan sulit bagi Azri untuk jatuh cinta kembali pada Lia.


Apa Mahendra tahu tentang hal ini? Ataukah dia memang sudah merencanakannya sejak awal?


Tenggorokan Widya tercekat mengingat bahwa dirinya memang tidak ditakdirkan untuk Azri. Sekarang, ia menyesal mengapa dulu dengan bodohnya menerima usulan atasannya itu.


Seandainya saat itu ia tidak setuju, mungkin sekarang ia tidak perlu merasa sakit hingga ingin mati rasanya.


Widya mengerjap merasakan tempat tidur bergerak dan sepasang tangan melingkari pinggangnya. Ia lekas menghapus air matanya ketika napas hangat terasa berhembus di tengkuknya.


"Kamu menangis?"


Azri berbisik di belakangnya. Ajaib, setiap kali berada di dekat Azri, jantungnya berdebar dengan kencang dan perasaan sedihnya mendadak menguap. Azri selalu bisa menjungkir-balikkan perasaannya semudah membalikkan telapak tangan. Ia memang sedih, sakit, dan marah beberapa saat lalu, tetapi sekarang, begitu ada Azri di sampingnya ia merasa lega, dan seolah seluruh dunia sudah menjadi miliknya.

__ADS_1


Sekarang Widya sadar kenapa ia tidak bisa memberitahukan soal perjanjian itu pada Azri. Karena rasa aman ini. Berada bersama Azri adalah tempat teraman baginya.


"Tidak."


"Kalau begitu kamu marah karena aku mengungkit tentang Yuna?"


Deg.


Widya menelan ludahnya bersamaan dengan seluruh tubuhnya yang membeku. Azri bahkan bisa merasakan kekakuan tubuhnya.


"Maafkan aku." Azri mendesah penuh penyesalan seraya mengeratkan pelukannya. Ia menyurukan hidungnya di tengkuk Widya. "Aku tidak bermaksud membuatmu marah, sungguh. Ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku pada Yuna ataupun Lia. Aku hanya merasa--"


Azri terdiam kembali, tidak sanggup berkata bahwa ia merasa tak karuan ketika melihat seseorang yang mirip sekali dengan Yuna.


"Sayang." kali ini Azri memohon karena Widya tak kunjung membuka mulut.


"Aku tidak akan marah seandainya kamu tidak menunjukkan wajah sedih setiap kali mengingat Yuna."


Widya membalikkan badannya menghadap Azri. Meskipun wajahnya kurang terlihat jelas karena minimnya pencahayaan, tetapi ia tahu Azri sedang menatapnya.


"Aku tidak pernah suka melihatmu muram karena masa lalu yang tidak menyenangkan. Kamu seharusnya bahagia. Jadi berhentilah bersedih setiap kali kamu teringat Yuna, tak peduli kamu masih mencintainya atau tidak." Meskipun rasanya sakit, tetapi Widya tetap menginginkan Azri bahagia.


Azri membelalakkan mata. "Kamu salah!" sanggahnya cepat, ia tidak suka mendengar kalimat terakhir Widya. "Aku mencintaimu. Sedikit pun tidak tersisa di hatiku cinta untuk Yuna ataupun wanita lain." Azri memeluknya posesif. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa takut. Takut Widya akan pergi meninggalkannya.


Widya tidak bahagia mendengar pernyataan Azri. Jika memang kamu mencintaiku, kenapa kamu seolah terpukul ketika melihat Lia yang mirip dengan Yuna? Bagaimana aku tidak berpikir kamu masih mencintai Yuna? Atau mungkin sekarang kamu sudah jatuh cinta pada Lia yang mirip dengan Yuna?


"Kamu terkejut ketika melihat Lia dan kamu memanggilnya Yuna. Lia sangat cantik, kalau begitu Yuna pun tentu sama cantiknya. Mereka tidak sebanding denganku. Aku tidak heran jika kamu jatuh cinta pada Lia karena kamu pun dulu sangat mencintai Yuna. Aku tidak keberatan jika kamu menyukainya. Mungkin dengan begitu kamu bisa melanjutkan kisah cintamu dengan Yuna yang terputus karena kematian--"


"Widya Lovarza!!"


Lengkingan suara Azri yang menggema di seluruh ruangan membuat Widya berhenti berbicara. Dengan marah Azri melepaskan pelukannya lalu menyalakan lampu meja sehingga suasana tidak lagi gelap. Ia menatap Widya yang tercengang dengan pandangan tidak suka.


"Kenapa kamu terus membandingkan dirimu dengan Yuna? Harus berapa kali kukatakan aku mencintaimu dan Yuna hanyalah masa lalu?! Sebaiknya kamu hentikan semua omong kosong ini. Lagipula ada apa denganmu? Aku merasa kamu menjadi aneh semenjak kamu pulang dari rumah Pria Tua itu!"


Tiba-tiba wajah Widya memucat.


"Kenapa kamu membawa-bawa ayahmu? kita sedang membicarakan tentang Lia dan Yuna." Widya sengaja mengalihkan pembicaraan. Saat ini ia tidak mau membahas masalahnya dengan sang Ayah Mertua.


"Persetan dengan mereka berdua!"


Widya terperangah mendengar Azri membentaknya.


Azri sadar ia sudah lepas kendali karena matanya membelalak lebar. Ia mengerang kencang lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Aku tidak ingin kita bertengkar karena Pria Tua itu atau pun gadis yang sudah mati."


Azri membanting tubuhnya sendiri ke kasur lalu memejamkan mata. Ia ingin tidur. Setelah sempat terkejut karena berpikir seseorang telah hidup kembali, Azri hampir tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia berharap dengan tidur pikirannya kembali normal dan ia bisa mengajak Widya berbicara baik-baik.


"Kamu tidak tidur di kamarmu? Ini kamarku, tempat tidurku," ujar Widya membuat Azri membuka matanya kembali. Sambil mendesis jengkel ia menarik selimut untuk menyelubungi tubuhnya.


"Mana ada suami-istri yang tidur di ranjang terpisah," gerutunya. Itu adalah kalimat terakhir yang didengar Widya sebelum akhirnya Azri tertidur pulas.


Widya menatap punggung suaminya dengan perasaan tak menentu. Ia menunduk menatap perutnya sendiri.


Aku ingin menceritakan banyak hal padamu, gumamnya dalam hati. Tentang perjanjian tentang bayi ini, dan perjodohan itu. Namun, Widya tidak ingin membuat Azri marah ataupun kecewa. Azri harus bahagia.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2