Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 68


__ADS_3

Sebenarnya apa yang direncanakan pria tua itu? Azri terus memikirkan nya sepanjang hari setelah ia membaca surat perjanjian tanpa sepengetahuan Widya. Gadis itu sudah sehat seperti sedia kala dan Azri masih belum bisa bertanya. Ia belum yakin mendengar jawaban gadis itu. Lagi pula ia takut mendengar kemungkinan terburuk, entah Widya bersedia jujur atau tidak.


"Selamat atas penunjukan mu."


Azri hanya tersenyum ketika Widya memberi nya kecupan ringan di dahi, sebagai bentuk ucapan selamat nya. Gadis itu masih bisa tersenyum bebas padahal mereka sama-sama tahu jika Azri menjadi seorang CEO, pernikahan mereka akan berakhir dan pagi ini jatuhlah bom itu dalam hidup Azri. Tiba-tiba saja seluruh pemegang saham sepakat menunjuk nya sebagai pemimpin baru Pradipta Group. Ia tidak senang, tentu saja.


Pandangan mata nya jatuh pada senyum di bibir Widya. Setengah mati gadis itu mencoba untuk tersenyum lepas, tetapi Azri tahu itu adalah senyum pahit. Dalam hati mungkin Widya menangis.


Sesuai dengan dugaan Azri, Widya memang menangis dalam diam. Sebenar nya ia ingin berlari dari tempat nya berada sekarang. Menangis kencang karena sadar waktu nya bersama Azri tidak akan lama lagi.


Seharus nya Widya tahu hal ini akan tiba cepat atau lambat. Sekuat tenaga ia berusaha bahagia. Ia tidak tahu sama sekali bahwa Azri sama terluka seperti diri nya, tetapi pria itu tetap diam, memandangi diri nya seolah tidak terjadi apa pun.


"Kamu bahagia?" Azri bertanya dengan senyum tipis. Widya mengangguk, tanpa sadar matanya berair.


"Lalu kenapa kamu menangis?"


Tersentak, Widya segera menghapus air matanya. "Aku menangis gembira."


Kamu berbohong, batin Azri. "Kalau begitu kemari, beri aku ucapan selamat seperti yang pernah ku ajarkan."


Azri mengulurkan tangan nya meminta Widya mendekat. Gadis itu masih berdiri kaku di tempat nya, tetapi sorot mata Azri yang penuh dengan kesungguhan membuat nya luruh. la tidak peduli apakah akan ada yang melihat mereka bercumbu di ruang kantor, ia hanya ingin seseorang memeluk nya di saat seperti ini.


Widya melingkarkan tangan nya di leher Azri, dan tanpa ragu memeluk nya. Mungkin saja ini pelukan terakhir nya untuk Azri sebelum Mahendra memberi nya instruksi lain.


Tadi pagi, Ayah mertua nya itu sudah memberikan ultimatum bahwa hari ini Azri akan resmi diangkat sebagai pengganti nya.


Widya jelas terkejut, tetapi ia hanya bisa menunduk dan mengiyakan saja ketika pria paruh baya itu berkata agar diri nya bersiap pergi dari Azri. Ia sendiri tidak tahu pergi yang dimaksud Mahendra adalah menghilang selamanya dari kehidupan Azri ataukah bercerai dengan nya. Pilihan yang mana pun sungguh menyiksa nya. Ia tidak bisa memilih kedua nya.


Widya memeluk Azri seerat yang ia bisa dengan bibir bergetar, berusaha menahan isakan tangis. Azri hanya pura-pura tidak tahu.


Melihat betapa Widya berusaha menjaga perasaan nya, Azri tahu Widya tidak pernah bermaksud memanfaatkan keadaan atau semacam nya. Gadis ini selalu melakukan apa pun dengan tulus. Bahkan pelukan nya pun begitu tulus. Azri tidak mau melepaskan Widya. Ia akan mengikat Widya dalam hidup nya bagaimana pun cara nya.


"Widya ...." Azri terenyuh merasakan bahu nya basah oleh air mata. Ia menarik wajah Widya dari pundak nya, menatap dalam-dalam gadis itu. "Kamu lupa cara memberi selamat pada suami mu?" tanya nya lembut.


Azri merapikan poni Widya yang jatuh berantakan di kening nya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa jejak air mata itu ia hapus dengan jari-jari nya. Demi apa pun, ia bersyukur menikah dengan Widya. Namun, kenapa gadis ini harus di kendali kan oleh Ayah nya?

__ADS_1


"Kamu lupa?" Azri bertanya ulang.


Widya seketika teringat dengan apa yang dimaksud Azri. Pria ini meminta diri nya mencium bibir nya. Wajah nya kembali bersemu merah.


"Aku tidak lupa."


"Kalau begitu ayo lakukan dengan benar."


Azri menarik Widya ke atas pangkuan nya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, tak ada satupun yang berbicara, tetapi seolah-olah kedua nya bisa memahami isi hati masing-masing. Saat itulah Widya tersenyum, mendekatkan wajah nya demi menyatukan bibir mereka kembali.


Widya berdebar, tetapi ia tidak mempedulikan hal itu dan semakin memperdalam ciuman nya. Ia berharap ini bisa membuat Azri senang.


Azri memang senang. Ia merasa melayang diperlakukan begitu istimewa oleh Widya. la memeluk tubuh gadis itu erat. Bersamaan dengan itu ia mendapatkan ide, ide untuk membuat Widya tetap bersama nya.


Azri menjauhkan wajah nya, napas nya yang tidak teratur menerpa pipi Widya. Menimbulkan kesan intim yang akan membuat Widya rindu dengan situasi ini.


"Sekarang pulanglah." Azri berbisik tepat di sudut bibir Widya, mengecup nya sekali lagi dengan lembut.


"Kenapa? Pekerjaan ku belum selesai," jawab nya gugup dan ragu. Widya memang memiliki janji bertemu dengan Mahendra untuk membicarakan masalah kontrak.


Aku tahu apa yang akan kamu bicarakan dengan Pria Tua itu, batin Azri. Dan aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan nya.


"Tapi ...." Widya ragu. Ia memandang Azri meminta pengertian. Mahendra bukanlah tipe pemberi toleransi jika permintaan nya diabaikan oleh pegawai nya. Jika pria itu meminta nya datang, maka ia harus datang. Tidak bisa tidak.


"Aku tidak menerima penolakan. Titik. Sekarang pulanglah untuk bersiap-siap."


Vonis sudah di jatuh kan oleh Azri. Widya bisa apa lagi. Ia akan menelepon Mahendra untuk meminta maaf dan menunda pertemuan.


***


Widya baru selesai mandi, ia melirik sekilas ke arah ponsel nya yang berkedip-kedip. Azri mengirimkan sebuah pesan untuk nya.


Aku akan menjemput mu jam 7 malam ini. Kita akan makan malam bersama. Berdandanlah yang cantik.


la tersenyum simpul lalu melirik ke arah gaun yang tergeletak di atas ranjang nya. Azri juga yang memberikan gaun indah itu. Rupa nya keputusan Mahendra menjadikan Azri seorang CEO secepat nya begitu membahagiakan bagi Azri sampai-sampai pria itu mengajak nya makan malam di luar.

__ADS_1


Namun, kenapa ia tidak bisa ikut senang bersama Azri? Seharus nya ia gembira karena dengan begini ia sudah memenuhi permintaan Mahendra.


Widya duduk di tepi tempat tidur. Ia merasa lelah sekaligus sedih. Pandangan nya menelisik ke seluruh tempat nya berada. Tenggorokan nya seperti tertohok.


Entah besok, atau lusa, atau hari-hari berikut nya ia akan meninggalkan kamar ini dan apartement ini, karena itu sekarang, ia akan memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baik nya. Paru-paru nya terasa sakit setiap kali ia menarik dan menghembus kan napas nya.


"Aku harus berdandan." Widya mengambil gaun malam itu dan bersiap-siap.


Tepat jam menunjukkan pukul 7 kurang, Widya menunggu di apartemen sampai Azri datang menjemput nya. Ia memandangi setiap sudut apartemen yang di tempati nya sekarang. Mencoba mengingat setiap perabot dan interior yang ada di sana. Ia tidak akan tinggal lama di sini.


Ponsel nya berdering. Ia mengangkat nya tanpa sempat melihat siapa yang menelepon.


"Halo."


"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"


Seketika tubuh Widya membeku. Ia spontan berdiri saat sadar suara yang sedang didengar nya adalah suara Ayah mertua nya.


"Aku di apartement."


Widya berharap suara yang di keluarkan nya tidak terdengar gemetar dan takut. Tadi siang mereka batal bertemu untuk membicarakan masalah kontrak, apa sekarang Mahendra bermaksud mengatakan nya? Mendadak saja ia merasa takut, ku mohon, jangan mengatakan apa pun.


"Seperti yang tertera dalam perjanjian, kamu harus bercerai dengan Azri segera setelah dia diangkat menjadi pemimpin Pradipta Group."


Mendadak saja otak Widya menjadi kosong. la harus pergi dari Azri segera?


"Kapan tepat nya?" la bodoh, seharus nya tidak perlu mengajukan pertanyaan seperti itu. Apa tidak cukup hati nya terluka?


"Jika kamu bisa, akhir minggu ini. Aku akan mengenalkan Azri pada calon istri yang sesungguh nya."


Lutut Widya lemas mendengar nya. Ia jatuh terduduk dengan dada sesak. Mahendra bahkan sudah berencana mengenalkan Azri pada calon istri yang sebenar nya? Ah, kepala nya mendadak pening.


Widya memaksakan diri berkata di tengah rasa terkejut nya, "Lalu apa yang harus ku katakan pada Azri tentang perjanjian ini?"


"Tidak perlu kau katakan. Aku yang akan mengatakan nya. Kau cukup menyingkir sementara ke tempat yang aku tentukan. Jangan pernah menghubungi atau pun mencoba menemui Azri setelah kau pergi. Aku akan menjamin semua kebutuhan mu. Tidak termasuk dengan aset yang sudah kau dapatkan."

__ADS_1


Widya ingin menangis, sungguh. Bagaimana Mahendra bisa berkata dengan nada seringan itu seolah-olah perasaan nya tidak di pertaruh kan saat ini. Ia mengakhiri pembicaraan itu tanpa mengatakan apa pun lagi. Semangat nya seolah tersedot habis dan ia tidak yakin apakah masih ada tenaga untuk makan malam bersama Azri?


Bersambung ....


__ADS_2