Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 54


__ADS_3

Widya yakin ia bisa gila jika terus terkekang oleh konfilk batin yang terus bergemuruh di otak nya. Pekerjaan di depan mata nya tak ada satu pun yang berhasil di selesai kan dengan baik.


Mahesa bahkan sampai bertanya-tanya dengan keanehan tersebut.


"Apa kamu sedang hamil?" tanya nya ngawur karena penasaran melihat perubahan pola tingkah Widya.


"Apa? Tidak. ...."


Widya menepis cepat anggapan itu. Bagaimana bisa Mahesa menyimpulkan ia sedang hamil? Apa tingkah nya merujuk pada tanda-tanda wanita yang tengah hamil muda? Mereka bahkan baru melakukan nya semalam. Tidak mungkin ia langsung hamil.


"Istri ku persis seperti mu saat sedang mengandung putra pertama kami. Jadi ku kira kamu pun sedang mengandung."


Widya tertawa hambar mendengar nya. "Tentu saja tidak, aku yakin--" la tiba-tiba teringat, bukankah saat ia berhubungan dengan Azri, pria itu tidak menggunakan pengaman sama sekali?


Astaga, bagaimana jika benar ia hamil?! Ia tidak boleh hamil di saat seperti ini!


"Tidak boleh!"


Widya tiba-tiba berseru panik. Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa yang kebingungan, Widya keluar dari ruangan nya.


la berpapasan dengan Bella ketika akan masuk ke toilet.


"Kamu kenapa?" Bella berta nya panik melihat Widya buru-buru masuk ke salah satu bilik toilet, entah apa yang di lakukan nya.


Di dalam, Widya memegangi perut nya sendiri mencoba merasakan apakah ada pergerakan di dalam sana terutama di dalam rahim nya. Siapa tahu diri nya sedang di buahi sekarang. Ia bergerak-gerak gelisah lalu akhir nya menjatuhkan diri nya di dudukan toilet. Bagaimana jika ia benar hamil di saat Mahendra menyuruh nya bercerai dengan Azri nanti?


Seingat nya memang tidak ada pasal dalam perjanjian yang melarang nya hamil. Namun, ia memiliki firasat Mahendra akan tetap membuat nya bercerai dengan Azri entah ia hamil atau tidak.

__ADS_1


Widya tidak mau anak nya tumbuh tanpa seorang ayah. la ingin Azri ada saat ia melahirkan dan membesarkan anak mereka kelak. Meski pun hal itu belum tentu benar terjadi, tetapi rasa takut dan panik sudah menghantui nya.


"Widya." Terdengar suara cemas Bella diiringi ketukan di pintu bilik yang di tempati nya sekarang. "Kamu kenapa?“


Widya benar-benar ingin menangis meraung-raung di pelukan sahabat nya itu saat sadar ia masih memiliki seseorang yang senantiasa bersama nya saat ia kesulitan. Perlahan ia membuka pintu bilik dan mendapati raut khawatir Bella.


"Kamu tidak apa-apa? Mungkin kah terjadi sesuatu?" tanya nya khawatir.


Widya terus menahan diri agar tidak menangis dengan semua tekanan yang ia rasakan sekarang. Ia hanya wanita biasa, ia tidak sanggup jika harus menahan semua ini sendirian.


"Bella ...," lirih nya dengan suara berat.


Bella melebarkan mata nya. Ia bisa melihat betapa tertekan nya Widya saat ini. Ia bisa merasakan kesedihan sahabat nya itu dari ekspresi nya saja.


Widya berada di ruangan Bella sekarang. la duduk termenung meremas kedua tangan nya sendiri sementara Bella menatap nya simpati dari tempat di samping nya. Suasana hening menyelimuti kedua nya. Widya sudah menceritakan semua problema yang membebani nya sejak awal pernikahan.


Bella terkejut luar biasa pada awal nya, tetapi perlahan-lahan keterkejutan nya itu sirna dan berganti dengan rasa iba. Ia tidak bisa menambah kesedihan Widya dengan menceramahi nya macam-macam atau pun menghakimi nya dengan kata-kata menggurui.


Bella menarik kata-kata nya dahulu yang menyatakan bahwa Widya sudah mengambil keputusan paling tepat seumur hidup nya. Jika saja ia tahu ada perjanjian semacam ini. “Apa kamu benar-benar tergiur oleh sejumlah uang yang di tawarkan oleh nya? Atau kamu memang berniat membantu nya?"


Widya menghela napas berat, ada nada penyesalan dalam suara nya. “Sungguh Bella, saat itu aku berniat tulus membantu tuan Pradipta. Entah kenapa saat itu aku merasa beliau mengingatkan ku pada Ayah. Aku pikir semua Ayah akan sama, lagi pula penjelasan nya benar-benar mencerminkan seorang Ayah yang menyayangi putra nya. Mana bisa aku menolak nya setelah beliau berkata begitu."


"Dasar gadis konservatif," desis Bella pasrah. "Karena kamu terlalu polos maka nya mudah sekali di manfaat kan."


Ucapan Bella benar-benar menusuk hati Widya. Mulut nya sampai bungkam karena tidak sanggup lagi membalas kata-kata Bella. Widya mengakui diri nya terlalu polos sehingga mudah sekali dikelabui. Ia tidak bisa melihat maksud sebenar nya dari Mahendra saat perjanjian itu di tandatangani. Itu lah kebodohanvnya.


"Aku yakin aku bisa melewati ini tanpa harus melibat kan perasaan ku. Hanya saja ...." Widya terdiam karena saat ini bayang-bayang wajah Azri terngiang dalam otak nya.

__ADS_1


"Kamu tidak menyangka akan jatuh cinta pada putra nya?"


Widya menoleh pada Bella, tidak menyangka Bella bisa menebak nya dengan telak. Dengan berat hati ia mengangguk. "Ya."


Bella mendesah, ia menatap sendu sahabat nya. "Apa kamu sudah tahu perasaan suami mu?"


Widya mengangguk. “Aku merasa sedih dan gembira saat dia mengatakan perasaan nya. Bagaimana ini, Bella? Aku tidak mau menyakiti hati Azri dan aku sangat ketakutan,"


"Kamu takut Azri mengetahui kontrak ini lalu membenci mu atau kamu takut menyakiti Azri karena kontrak ini?"


Widya menggeleng. "Aku takut saat perjanjian ini berakhir, aku harus meninggalkan Azri. Aku ... tidak bisa.“ la berusaha menahan air mata nya yang terus ingin menjebol kelopak mata nya. Ia tidak mau menangis.


Bella merangkul nya. Tak ada lagi hal yang bisa di katakan nya tentang masalah Widya. Ini terlalu kompleks.


"Suami mu belum mengetahui tentang perjanjian ini bukan?"


Widya tidak langsung menjawab, ia tampak ragu. Namun, setelah beberapa saat diam kepala nya mengangguk.


"Apa yang akan kamu lakukan seandai nya dia tahu?"


"Aku belum memikirkan nya." Widya memang tidak tahu apa yang akan ia lakukan seandai nya Azri tahu.


Bella tiba-tiba memegang kedua pundak nya. Sahabat nya itu menatap nya dengan sorot mata menegaskan.


"Apa pun yang terjadi kelak, jika kamu merasa kesulitan kamu harus mencari ku. Aku tidak mau kamu melewati masa-masa sulit itu sendiri. Kamu mengerti?"


"Terima kasih." Widya begitu terharu dengan ucapan Bella. Sahabat nya ini begitu tulus membantu nya. Ia sudah memikirkan alternatif lain seandai nya Azri mengetahui soal itu sebelum kontrak berakhir.

__ADS_1


Bersambung ....


Widya, Widya, udah tahu kalau baru nganu malah udah kepikiran udah hamil, hadeh!


__ADS_2