
"Kita akan ke mana?"
Siang ini ruangan nya cukup dihebohkan dengan kunjungan tiba-tiba Azri. Untuk pertama kali nya mereka melihat Azri El Pradipta menunjuk kan perhatian nya pada sang istri. Tanpa ragu Azri berkata ingin mengajak Widya pergi makan siang bersama. Padahal sejak pernikahan mereka, kedua nya hanya menunjuk kan sikap sopan terhadap sesama rekan kerja.
Widya yang saat itu sedang serius mengerjakan tugas nya jelas sekali terkejut. Tanpa mendengar pendapat nya pria itu segera menyuruh Widya memberes kan meja nya lalu mengereknya pergi dari sana.
Kini, Widya berada di dalam mobil Azri dan mereka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.
"Ke mana kamu akan membawa ku?" tanya Widya lagi karena Azri tak kunjung menjawab nya hingga mereka pergi.
"Tentu saja kita akan makan siang," ungkap Azri santai seraya memperhatikan jalan.
Widya ikut melihat ke luar jendela, mencoba menebak kira-kira restoran mana yang di kunjungi mereka siang ini. Namun, pada akan kenyataan nya mereka tidak berhenti di sebuah rumah makan melainkan sebuah butik.
"Bukankah kamu bilang kita akan makan siang?" Widya heran sekali karena yang di lihat nya kini jelas sebuah toko dengan deretan manekin berbaju mahal terpajang di etalase toko.
Azri memamerkan senyum malaikat nya. "Setelah kita mencari baju untuk mu."
Tangan Widya ditarik tiba-tiba hingga pekikan kaget keluar dari mulut nya. Ia berniat protes, tetapi kalimat nya tertelan kembali setelah ia melihat isi butik yang memajangkan aneka busana trendi masa kini. Ia harus menormalkan ekspresi nya agar tidak tampak norak dan sebisa mungkin mengatupkan mulut nya yang sempat menganga.
"Selamat siang, Tuan."
Azri dan Widya menoleh ke arah datang nya suara. Seorang wanita berusia kira-kira 40 tahun menghampiri mereka dengan wajah ramah. Dilihat dari gaya berpakaian nya yang formal, tetapi stylish, Widya yakin dia adalah pemilik dari butik ini.
"Selamat siang Nyonya Lee." Azri menyalami wanita itu dengan sikap formal.
"Kali ini membeli baju untuk siapa? Untuk Yuna?"
Widya melihat Azri sempat memucat ketika mendengar nama yang disebutkan Lee. la belum sempat menganalisis arti dari ekspresi itu karena Azri dengan cepat mengubah emosi di wajah nya.
“Bukan, kali ini aku mencari baju untuk istri ku. Perkenalkan dia istri ku, Widya Lovarza."
Azri memperkenal kan Widya disertai senyum lebar dan Widya tahu itu adalah senyum pura-pura nya saja.
__ADS_1
Lee mengerjap takjub. "Astaga, bagaimana bisa aku lupa kamu sudah menikah! Maafkan aku. Rasa nya baru kemarin Azri datang kemari mengenalkan kekasih nya." Dia dengan semangat menyalami Widya. "Kalau begitu aku harus memilihkan baju yang paling bagus untuk wanita paling istimewa Azri."
Wanita itu mengajak mereka masuk lebih dalam ke ruangan yang lebih privat. Widya menoleh untuk mengamati ekspresi Azri. la pun mencelos saat mendapati wajah gelisah dan sedih pria itu. Ada apa dengan nya? Rona sedih itu terpatri tepat saat Nyonya Leeh menyinggung soal gadis bernama Yuna yang diduga adalah mantan kekasih Azri. Ia penasaran dengan siapa sosok Yuna sebenar nya.
Leeh memilihkan beberapa baju yang bagus untuk nya. Widya hanya mengangguk dan setuju saja meski pun ia merasa tidak enak setelah melihat price tag yang tergantung di setiap baju yang diperlihat kan pada nya. Bagaimana bisa Azri rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk selembar pakaian?
"Leeh adalah desainer ternama dan dia adalah teman lama mendiang Ibu ku. Butik ini sudah menjadi langganan keluarga Pradipta selama bertahun-tahun," jelas Azri saat sadar Widya terus menatap nya. “Kenapa? Baju-baju di sini tidak sesuai selera mu?" la cemas.
"Sama sekali tidak."
Widya menggelengkan kepala cepat. la memandang Azri dalam untuk beberapa saat. Namun, ia sadar tindakan nya sangat ganjil karena mencurigai hal yang belum pasti, ia tersenyum secepat nya. "Baju di sini bagus. Tapi untuk apa kamu membelikan ku semua ini? Pakaian ku masih layak pakai."
Azri mendengkus jika mengingat betapa kuno nya pakaian layak pakai yang di maksud Widya.
"Nyonya Pradipta, suami mu ini tidak akan mengijinkan istri nya mengenakan pakaian out of date, karena itu biarkan aku membelikan pakaian yang lebih layak pakai' untuk wanita terpenting dalam hidup ku. Kamu harus menerima nya, paham!" Azri memeluk pinggang Widya, tak peduli sekarang mereka berada tempat umum.
Widya tidak bisa menyembunyikan rasa gugup dan malu nya. Apalagi ketika Azri menyebut diri nya Nyonya Pradipta. Ia merasa sudah menjadi milik Azri seutuh nya.
"Sikap manis mu yang tiba-tiba membuat ku sedikit takut," keluh Widya.
Azri mendaratkan bibir nya di pelipis Widya beberapa kali, seperti nya sengaja. Widya merasa lemas dan mungkin sudah jatuh jika tidak berpegangan pada lengan Azri. Untuk sesaat Widya lupa pada peringatan Mahendra bahwa ia tidak boleh melibatkan perasaan nya dalam tugas menjadi istri Azri El Pradipta.
Widya membiarkan perasaan gembira melingkupi hati nya meski hanya sementara.
Perlahan ia melingkarkan tangan nya di leher Azri, sedikit menarik tengkuk Azri ke bawah agar bibir mereka bisa bertemu.
Harus diakui bahwa Azri tidak pernah merasa sebahagia ini ketika berciuman dengan gadis mana pun. Namun, berbeda rasa nya menyentuh bibir lembut Widya, ia tidak bisa menahan desiran-desiran menyenang kan yang bergejolak seperti ombak yang mengombang-ambing kan tubuhnya. Sentuhan itu melenyapkan segala kegelisahan yang sempat dirasakan nya sesaat yang lalu.
Azri memang sempat kalut ketika Nyonya Leeh menyinggung nama yang tidak mau diingat nya, karena kenangan tentang gadis itu seperti vacum cleaner yang menyedot semua kegembiraan nya. Ia selalu kehilangan senyum nya kala kenangan itu teringat atau terlintas kembali dalam otak nya.
Yuna, nama itu sudah lama terhapus dalam hati Azri karena sekarang nama Widya Lovarza lah yang terpahat dengan jelas di hati nya. Hanya dua nama itu yang berhasil menyentuh hati nya. Jika dahulu ia membiarkan satu nama pergi, kali ini ia tidak akan membiarkan Widya pergi meninggalkan nya.
Oleh sebab itu kini Azri memeluk Widya seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskan nya. Ia amat menikmati momen kebersamaan ini dan berniat mempertahankan nya cukup lama jika tidak diinterupsi oleh kedatangan nyonya Leeh ke ruangan itu.
__ADS_1
***
Mereka keluar dari butik bersama beberapa kotak pakaian yang dibawakan oleh pramuniaga toko. Azri berjalan menuju mobil sementara Widya menghentikan langkah karena ponsel nya berdering. Ia mengangkat panggilan itu tanpa melirik si penelepon dahulu.
"Halo."
"Ku harap kamu tidak lupa dengan tugas mu."
Widya merasa dunia berhenti berputar saat suara itu menerjang telinga nya seperti petir. Ia tak perlu bertanya untuk tahu bahwa yang berbicara sekarang dengan nya adalah Ayah mertua nya. Senyum nya hilang sudah, berganti dengan ekspresi takut dan gelisah.
"Aku tidak lupa, Ayah."
"Kalau memang benar lantas apa yang kamu lakukan dengan Azri sekarang? Bukankah seharus nya dia sekarang mempelajari kontrak kerja sama dengan GN Group?"
Widya lekas menoleh pada Azri yang sedang membukakan kap bagasi membantu memasuk kan kotak-kotak pakaian itu ke sana. Pria itu tersenyum lepas, sama sekali tidak menyadari wajah Widya yang pucat pasi.
"Aku akan segera membawa nya ke kantor," lirih Widya tercenung. Sebelum ia menutup telepon nya, Mahendra kembali berkata, "Jangan pernah berpikir untuk membuat Azri menyukai mu. Bagaimana pun Azri ditakdirkan untuk gadis yang lebih kompeten segala nya dari mu."
Begitu kalimat itu selesai, Widya yakin ia pasti sudah ambruk di tanah seandai nya Azri tidak buru-buru menghampiri nya. Ucapan Mahendra tak kurang seperti cambuk pengingat untuk nya. Ia tidak pantas untuk Azri dan pria itu lebih pantas bersanding dengan gadis yang memiliki level jauh di atas nya.
"Kamu kenapa?"
Azri cemas melihat bias pucat di wajah putih Widya. Entah siapa yang menelepon nya, tetapi Azri yakin orang itu pasti sudah berkata kasar pada nya. Mendadak Azri ingin sekali mencekik siapa pun yang berani membuat istri nya pucat pasi seperti ini.
"Kamu pasti lapar. Kita cari tempat makan sekarang juga." Azri membimbing nya jalan menuju mobil.
"Tidak perlu," cegah Widya cepat. "Lebih baik kita kembali ke kantor sekarang."
Penolakan Widya yang terlalu cepat membuat Azri sedikit menaruh curiga. Apa gerangan yang didengar Widya dari telepon nya tadi? la yakin obrolan itu penyebab Widya menolak pergi makan siang.
"Tapi kamu harus makan."
"Aku baik-baik saja," sela Widya dengan senyum dipaksakan.
__ADS_1
Azri hanya menghela napas, tetapi akhir nya setuju juga. Ia sempat membelikan sekotak donat dan minuman untuk dimakan Widya saat bekerja nanti.
Bersambung ....