
Pagi hari nya Azri terbangun karena hidung nya mencium bau masakan dari luar kamar tempat nya berbaring sekarang. Ia memaksakan diri bangun sambil meregangkan otot. Sedikit meringis ketika sadar beberapa bagian tubuhnya terasa kaku.
Sebelum turun dari tempat tidur, Azri merenung. Ada hal yang membuat perasaan nya sedikit mengganjal. Ekspresi Widya. Ia teringat kembali ekspresi yang di keluarkan Widya setiap kali menatap nya. Terkadang ia menemukan kegembiraan, keraguan dan ketakutan yang bercampur sehingga ia tidak bisa membedakan nya lagi.
Azri merasa istri nya menyembunyikan sesuatu dari nya. Seperti ada yang ingin Widya tanyakan pada nya, tetapi tak bisa.
"Baiklah, akan ku tanyakan nanti." Azri bangkit dari tempat tidur.
Azri sudah rapi dengan pakaian santai nya. la berniat menghampiri istri nya, tetapi langkah nya terhenti sebelum kaki nya menginjak lantai dapur. Mata nya terpaku melihat Widya sedang sibuk di dapur berkutat dengan peralatan masak. Bukan wangi masakan yang membuat nya tertegun di tempat nya berdiri melainkan pakaian yang di kenakan gadis itu.
"Widya Lovarza," desis nya sedikit menggeram.
Sekarang masih pagi kenapa Widya justru memakai kemeja kebesaran milik nya? Tidak masalah jika kemeja itu nyaman bagi nya hanya saja bahan nya yang agak menerawang memperlihatkan pakaian dalam nya yang berwarna gelap dengan jelas.
"Oh, kamu sudah bangun." Widya tersenyum pada Azri yang berdiri mematung di dekat meja makan.
Widya baru saja menggoda ku dengan senyuman nya? Atau itu hanya perasaan ku saja? Azri cepat menggelengkan kepala lalu bersikap sewajar nya.
"Sarapan apa kita?" Azri bertanya untuk mengalih kan perhatian dari pemandangan mengundang itu dengan duduk di salah satu kursi meja makan.
"Masakan yang kamu buat semalam. Aku sedang menghangatkan nya.“
"Apa?" Azri berseru kaget. Jadi semua makanan di sini adalah masakan nya semalam?
Ia lupa sama sekali sudah memasak makan malam.
"Aku menyimpan nya di lemari pendingin semalam. Sayang sekali jika masakan hasil jerih payah mu di buang begitu saja. Aku ingin menikmati nya bersama," ucap Widya santai tanpa menghiraukan wajah tercengang Azri.
"Kamu bisa membuang nya, kan?"
Widya diam, memandang Azri sejenak. "Sayang sekali jika dibuang begitu saja. Lagi pula aku tidak bisa menyia-nyiakan ketulusan orang lain."
__ADS_1
Melihat ekspresi Widya, Azri tidak memiliki alasan membantah lagi. Ia mengangguk. "Baiklah, ayo kita coba seperti apa rasa ketulusan itu."
Widya tertawa kecil setelah itu mereka sibuk sarapan. Ia memperhatikan wajah Azri dengan gelisah. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu. Alhasil ia hanya bisa memain-mainkan sendok nya.
"Kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan pada ku?" Azri bisa membaca tingkah aneh istri nya.
Widya tersentak lalu menunduk sebelum memandang Azri kembali. "Soal Yuna ...."
Azri memandang Widya terkejut, tetapi ia tidak menyela sebelum Widya mengatakan maksud nya. Ia heran bagaimana bisa topik pembicaraan tentang Yuna bisa muncul di antara diri nya dan Widya. Apa mungkin dia terbebani semenjak Nyonya Leeh menyebut-nyebut nama itu kemarin?
"Sebenar nya siapa Yuna? Bolehkah aku mengetahui nya?"
Widya sungguh-sungguh ingin mendengar cerita versi Azri. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya lagi dan rasa bersalah karena sudah lancang mengungkit-ungkit masa lalu yang tidak ingin Azri ingat.
Azri seharus nya tahu cepat atau lambat kisah tentang dirinya dan Yuna akan diketahui oleh Widya. Ia tidak bisa menyembunyikan nya lagi. Baiklah, jika Widya ingin tahu tentang Yuna, ia akan menceritakan nya meskipun itu berarti harus membuka luka lama.
Azri menguatkan hati setelah yakin ia lalu mulai berkata, "Yuna adalah mantan kekasih ku yang sudah lama meninggal. Kamu tidak perlu mencemaskan nya."
"Apa yang membuat Yuna meninggal dunia?"
Widya melihat Azri tersentak, bola mata pria itu tampak bergerak gelisah dan mulai berkabut.
"Kecelakaan kapal laut." Azri terdiam sejenak, tercengang karena memori itu kembali terlintas di pelupuk mata nya seolah diri nya sedang melihat film dokumenter. "Aku berada di sana ketika kapal feri yang kami naiki terbakar dan tenggelam. Jika saat itu aku tidak melepaskan tangan Yuna, mungkin....“ Suara Azri mulai tercekat. "Yuna masih hidup hingga saat ini."
Widya terpaku melihat betapa Azri berusaha menahan diri agar tidak terlihat lemah. Tidak, ia bertanya bukan untuk melihat Azri tersiksa melawan kesedihan nya sendiri seperti ini. Ia harus menghentikan Azri bercerita, tetapi pria itu meneruskan cerita nya.
"Kamu tak perlu."
"Aku bersalah pada Yuna. Aku yang sudah membuat Yuna meninggal," sela Azri. Ia sekuat tenaga menekan perasaan yang mulai berkhianat pada diri nya sendiri. Ia sudah bertekad tidak ingin tenggelam dalam rasa bersalah nya pada Yuna, tetapi kini rasa bersalah itu kembali menghantui, membuat nya merasa takut sekaligus kedinginan.
Widya segera bangkit lalu memeluk leher Azri dengan lembut dan penuh ke hati-hatian dari belakang. Ia bersalah karena sudah bertanya karena itu ia harus menenangkan Azri kembali.
__ADS_1
Kerisauan Azri seakan lenyap saat kedua tangan Widya melingkari leher nya. Ia terpaku pada pelukan hangat Widya yang membuat nya merasa begitu tenang dan damai.
"Maaf, aku tidak akan bertanya tentang Yuna lagi. Aku tahu dulu kamu sangat mencintai nya-mungkin sekarang pun masih. Tapi jangan pernah menyalahkan diri mu sendiri. Pergi nya Yuna bukan karena diri mu, saat itu memang sudah saat nya Yuna pergi karena itu Tuhan melepaskan genggaman mu dari nya. Kamu tidak bersalah, sungguh."
Azri tersenyum mendengar untaian kalimat penuh kelembutan yang di bisik kan Widya tepat di telinga nya. Ia dibuat sedih sekaligus terharu. Sejak dahulu ia memang ingin mendengar seseorang berkata demikian. la ingin seseorang memberi nya semangat dan berkata bahwa kematian Yuna bukan karena diri nya. Selama ini ia justru merasa semua orang menyalahkan diri nya atas kematian Yuna. Bahkan Ryan, tidak bisa mengatakan hal itu. Hanya memberi nya petuah untuk sabar dan merelakan kepergian Yuna.
"Terima kasih."
Widya terkejut ketika tiba-tiba saja Azri menarik tubuh nya jatuh ke atas pangkuan nya. Begitu mata mereka bertemu, jantung nya berdebar tak terkendali. Azri mendekap nya begitu erat, ditambah senyum indah tersemat di bibir nya. Ia terpaku pada senyum dan wajah rupawan Azri sehingga tidak sadar kini ia dalam posisi berbahaya karena jika Azri ingin melakukan apa pun pada nya, ia tidak bisa menghindar. Seluruh tubuh nya berada dalam kuasa Azri.
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening nya, begitu ringan, tetapi membuat jantung Widya seolah jatuh. Pria itu kini menatap nya selembut ciuman nya tadi.
"Terima kasih sudah menjadi istri ku.“
Pipi Widya merona dengan sendiri nya. "Kamu membuatku malu." Ia tersentuh dengan senyum hangat Azri. Hati nurani nya tergelitik, takut senyum ini akan lenyap suatu hari nanti. Apakah ada cara untuk mempertahankan nya?
Widya berniat bangkit, tapi Azri menahan nya agar tetap berada di atas pangkuan nya.
"Ayolah." Widya menatap Azri dengan wajah memohon.
Azri menggeleng lalu tersenyum usil. "Bagaimana kalau satu morning kiss setelah itu aku akan melepaskan mu."
Widya membulatkan mata.
"Well, aku tidak masalah kita begini seharian," ucap nya melihat keraguan di wajah Widya.
"Baiklah, baiklah."
Widya mengalah karena ia tidak mungkin membiarkan Azri terus memeluk nya seperti ini. Lagi pula tidak masalah jika hanya satu ciuman, la pun mencium Azri, tidak terlalu lama, tetapi mampu membuat senyum Azri terbit kembali. Setelah itu ia buru-buru bangkit dan kembali ke tempat duduk nya.
Azri tersenyum senang melihat Widya makan dengan wajah merah padam. 'Huh, salah sendiri kenapa mencari masalah dengan ku di pagi hari,' batin Azri. Yang harus di salahkan dalam semua ini adalah pakaian Widya. Jika ia tidak menahan diri tadi entah apa yang akan terjadi. Namun, tidak mau Widya menganggap nya pria mesum atau semacam nya. Ia tidak mau menakuti Widya hingga membuat gadis itu membenci nya.
__ADS_1
Bersambung ....