
BARU KALI ini Widya tersenyum puas melihat televisi yang menayangkan berita kebakaran. Ia bersorak menyaksikan bagaimana api memakan gedung itu, gedung laknat tempat di mana ia menemui wanita keji yang telah membuat suaminya menderita. Siapa pun yang telah melakukannya, dia pasti menyimpan dendam yang besar terhadap perusahaan itu, atau mungkin terhadap pemiliknya. Ia harus berterima kasih jika bertemu dengan pelakunya.
Widya melirik berkas-berkas milik Azri yang ia perlihatkan pada Rendra. Ia akan menyerahkannya pada polisi hari ini. la yakin Presdir GN akan terkena serangan jantung setelah menerima berita buruk untuk kedua kalinya karena ia yakin pria itu akan ditahan. Ia membereskan berkas-berkas itu dan hendak pergi meninggalkan kamar apartemen sederhana sewaannya ketika ia mendengar suara pembawa berita.
["Breaking news, pagi ini CEO GN Group, Matthew Fernandez ditangkap atas tuduhan pemerasan dan transaksi ilegal yang telah merugikan beberapa perusahaan dan negara..."]
Apa?
Widya membelalakkan matanya melihat Matthew Fernandez digiring oleh beberapa petugas polisi ke dalam mobil polisi. Kerumunan wartawan dan massa bergerombol mengiringi penjemputan itu.
Berkas itu dipegangnya erat-erat. Siapa gerangan yang telah mendahului langkahnya? Apakah Rendra? Namun, ia juga melihat Rendra di layar kaca. Pria itu terlihat terkejut dan tak bisa melakukan apa-apa melihat ayahnya dibawa ke kantor polisi. Ia bergegas keluar apartemennya ketika ponselnya berbunyi. Panggilan dari rumah sakit. la memang sudah meminta salah satu suster di sana agar meneleponnya jika terjadi sesuatu pada Azri.
"Widya di sini. Apa terjadi sesuatu?“ tanyanya cemas. la harap tidak.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya menghubungi Anda untuk memberitahukan bahwa suami Anda telah siuman."
Widya seperti baru saja mendengar bahwa ia mendapatkan undian senilai satu trilyun. Napasnya terhenti karena tersedak oleh rasa bahagia yang meluap-luap. Ia menggenggam lebih erat ponselnya.
"Benarkah? Baiklah, terima kasih suster. Aku akan ke sana segera.” Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tangannya sambil memanjatkan beribu syukur pada Tuhan. Ia meletakkan tangannya di depan dada lalu menengadahkan kepala ke langit.
Terima kasih Tuhan, akhirnya aku kembali melihat cahaya.
Dengan paru-paru yang bisa bernapas lebih lega, Widya berjalan cepat meninggalkan gedung apartemen itu. Tak ada yang ingin dilakukannya selain menemui Azri, tak peduli bagaimana reaksi keluarga pria itu ketika bertemu dengannya. Namun ketika ia hendak menyetop taksi, ponselnya lagi-lagi berdering. Kali ini bukan dari rumah sakit karena nomor yang muncul di layar ponselnya tidak ia kenali.
"Hallo," gumamnya ragu.
"Ini aku."
Widya terkejut ketika ia mengenali suara Lia. Ia mencengkeram tas tangannya tanpa sadar.
"Ada apa?" Sebisa mungkin nada suaranya terdengar tenang.
"Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin kukatakan padamu."
Widya membelalakkan mata. Saat bencana itu terjadi apakah ia masih mau menemui Lia? Ataukah gadis itu ingin membalas dendam padanya karena mengira dirinya yang telah membakar gedung kantor GN Group?
"Baiklah."
__ADS_1
Entah dari mana datangnya keputusan itu, Widya hanya merasa tidak ada salahnya ia menemui Lia. Lagipula ia bukanlah seorang pengecut, ia tidak melakukan kesalahan apa pun jadi untuk apa takut menghadapi Lia. Gadis itu bukanlah sebuah ancaman lagi untuknya.
Setelah menyebutkan tempat perjanjian, Widya berdiri di atas trotoar dengan pandangan kosong. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya. la terpaksa membatalkan niatnya untuk menengok Azri.
***
Kebahagiaan terpapar jelas di dalam ruangan rawat itu. Keluarga Pradipta bergembira karena Azri El Pradipta akhirnya siuman dari tidur panjangnya. Ia tersadar ketika Bibi Swari datang menjenguknya pagi hari tadi. Wanita itu memekik girang ketika menyadari keponakannya membuka mata lalu memanggilnya dengan suara lirih.
Kini setelah dokter memeriksa dan memberitahukan bahwa kondisi Azri baik-baik saja, pria itu segera dipindahkan ke ruang rawat biasa.
"Anda membuat saya tidak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkan kondisi Anda," ucap kepala pelayan itu dengan raut berbinar gembira.
Azri tersenyum lemah.
"Tentu saja, sebagai anggota keluarga Pradipta kamu telah menunjukkan ketangguhanmu," sahut sang Ayah bangga.
"Sungguh lega melihatmu sadar, Nak. Kamu membuat umur wanita ini berkurang melihatmu terus tertidur," ujar Bibi Swari lega. Ia mengusap tangan Azri lembut.
Azri senang. Sangat senang ketika ia siuman menemukan wajah orang-orang yang dicintainya. Mereka baik-baik saja dan ada bersamanya.
"Ada apa?" tanya ayahnya menyadari Azri memandang ke sekeliling, mencari sesuatu. Pria itu membuka mulutnya dan menatap Mahendra dengan sorot mata bingung.
Seketika suasana di ruangan itu hening. Mereka menunjukkan reaksi bingung, takut, gelisah, dan sedih yang membuat Azri mengerutkan kening. Mahendra memandang putranya sedih. Apa Azri lupa bahwa Widya Lovarza telah pergi meninggalkannya?
"Apa terjadi sesuatu pada Widya?" tanyanya cemas, mendesak siapa pun yang ada di hadapannya untuk menjawab.
Mereka tampak kebingungan bagaimana menjelaskan situasi yang terjadi saat ini pada Azri.
"Anu, Azri." Bibi Swari mengusap-usap tangannya. Azri menatapnya lekat.
"Katakan kalau istriku baik-baik saja. Apa dia makan dengan baik?"
"Tuan muda," ucap kepala pelayan prihatin.
Mahendra segera menggeleng, menyuruhnya agar tidak berkata apa pun. Jika ada yang harus menjelaskan tentang kepergian Widya pada Azri, maka dirinyalah orangnya.
"Nak, istrimu tidak ada di sini," ucapnya yang langsung disambut reaksi kaget pria yang berbaring di atas ranjang itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kak, jangan katakan," sela Bibi Swari pada kakaknya. Azri langsung memegang tangannya.
"Tidak, aku harus mengetahuinya." Azri memandang ayahnya kembali. “Jelaskan padaku, Ayah."
Mahendra memejamkan mata sejenak sebelum berkata dengan nada tercekat, "Widya sudah tidak ada di sini. Dia pergi."
Mendengar kata-kata itu seketika Azri teringat pada semua permasalahan yang sempat ia lupakan. Perjanjian antara ayahnya dan Widya, kemunculan Lia yang mirip dengan Yuna, kepergian Widya, astaga, Widya pergi meninggalkannya. Pergi. Jantungnya seperti terlepas dari tubuhnya.
"Tidak." Widya meng geleng dengan gerakan cepat. "Widya tidak mungkin meninggalkan ku. Kami sudah ber janji untuk ber sama. Tidak, tidak, tidak!"
Pria itu langsung histeris seperti orang gila. Reaksi nya itu mem buat semua orang panik.
"Azri, tenang lah." Bibi Swari langsung memeluk nya. Pria itu mem berontak. Mata nya tidak fokus memandang pada satu titik. Dalam sorot matanya terlintas rasa takut, merana, sedih, dan bingung.
"Aku harus pergi. Lepaskan aku!"
Azri me ronta. Semua orang panik ketika Azri dengan tenaga nya yang lemah men coba menarik selang infus yang tertempel di tangannya.
"Tuan muda, henti kan. Anda bisa melukai diri Anda sendiri." kepala pelayan itu menahan tangan Azri.
Azri tercengang, ia meronta hebat dan Bibi Swari berusaha menenangkannya. "Tenanglah, kondisimu masih belum stabil."
"Tidak bisa, aku tidak bisa ber ada di sini. Widya sangat mem benci rumah sakit. Dia tidak akan mau menemui ku jika aku masih berada di sini."
Nada suara nya penuh permohonan, mem buat semua orang di ruangan itu iba. Bibi Swari bahkan sampai menitikkan air mata. Ia ter haru melihat betapa besar rasa rindu Azri terhadap istrinya. Mahendra menyuruh kepala pelayan itu memanggil dokter.
"Azri, Widya sudah pergi." Bibi Swari menangis sedih sementara Azri terus meronta.
Dokter masuk dengan langkah ter gesa. Me lihat kondisi Azri dia ter paksa menyuntik nya dengan obat penenang.
"Aku ingin ber temu Widya...aku merindukan nya...."
Sebelum Azri benar-benar kehilangan kesadarannya, Azri mengucapkan kalimat itu dengan suara tersayat, membuat Bibi Swari menangis pilu. Ketika Azri sudah benar-benar terlelap, Bibi Swari menoleh pada kakaknya, Mahendra yang terpaku menatap putranya yang menderita dengan pandangan kosong.
"Kak, kamu harus membawa Widya kembali," pintanya. "Aku tidak bisa melihat Azri terus seperti ini.“
__ADS_1
Mahendra tidak lantas menjawab, ia menatap putranya yang tertidur lalu berkata dengan suara lirih. "Bahkan jika aku bisa, aku tidak tahu Widya berada di mana."
Bersambung ....