Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 51


__ADS_3

Keesokan hari nya Widya terbangun dengan tubuh berdenyut, seperti remuk sampai ke sendi-sendi nya. Pipi nya memanas teringat penyebab rasa pegal itu.


Semalam sungguh luar biasa. Azri membawa nya terbang mencapai langit tertinggi. Pria itu membuat pengalaman pertama nya menjadi momen tak terlupakan. Dia memang sempat terkejut mengetahui Widya masih perawan. Alih-alih mencela—seperti yang di takutkan Widya—Azri justru gembira mengetahui bahwa dia menjadi pria pertama yang menyentuh nya.


Melirik ke samping, Azri sudah tidak ada di sana. Widya tersenyum masam. Tentu saja, apa yang ia harapkan? Untuk apa Azri menunggu nya sampai ia terbangun dan memberikan morning kiss seperti pasangan suami istri pada umum nya? Itu tidak akan pernah terjadi.


Azri tetaplah Azri, tak perlu repot-repot tinggal lama dengan satu wanita setelah tidur dengan nya. Salah sendiri kenapa ia begitu merasa antusias dan istimewa karena sudah melewatkan malam bersama pria itu.


Tiba-tiba Widya merasa sesak, setelah milik nya yang berharga di renggut lalu apa lagi yang di miliki nya? Harga diri nya saja sudah ia tukar dengan aset senilai 1 milyar di tambah kenyataan bahwa status nya sebagai satu-satu nya menantu keluarga Mahendra tidak akan bertahan lama lagi.


Widya harus berpisah dengan pria yang dicintai nya. Apa yang harus ia lakukan? la bahkan tidak tahu bagaimana hidup nya setelah perpisahan itu terjadi.


"Berhenti nelangsa. Itu baru akan terjadi jika Azri sudah berubah menjadi baik."


Ambillah sisi positif nya. Azri belum 100% menjadi pria baik karena itu Widya masih memiliki kesempatan menghabis kan waktu bersama nya. Di atas segala nya, ia ingin memastikan bagaimana perasaan Azri pada nya.


Widya bergegas bangun lalu merapikan tempat tidur nya yang sangat berantakan. Baju-baju yang dipakai nya semalam tidak ada di lantai atau di mana pun di kamar itu. la memiringkan kepala, bingung.


Ke mana Azri melempar baju-baju nya? Widya bergegas mengambil kimono tidur lalu keluar kamar, mencoba bertanya pada Azri siapa tahu pria itu belum berangkat bekerja.


"Azri ...."


Aliran kata-kata nya terhenti saat Widya melihat meja makan penuh oleh makanan. Siapa yang memasak pagi-pagi begini? Ia yakin Bibi tidak akan repot-repot memasak makanan karena tugas nya hanya membersihkan rumah. Lagi pula jadwal datang nya besok, bukan hari ini.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun, Sayang?"


Suara Azri membuat perhatian Widya teralih dari piring-piring makanan itu ke arah sang pemilik suara yang berdiri di dekat kulkas. Azri sudah tampak rapi dan tampan dengan setelan jas, berbanding terbalik dengan kondisi nya yang hanya terbalut kimono tidur sutera dan rambut berantakan. Penampilan nya tidak rapi sama sekali.


"Tiba-tiba sekali? Kenapa memanggil ku Sayang?" tanya Widya heran sekaligus kaget. Azri tersenyum sambil membawa gelas kosong dan menata nya di atas meja makan.


"Apa nya yang tiba-tiba? Sudah sewajar nya seorang suami memanggil istri nya Sayang, bukan?" ujar nya santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa.


Widya mengerutkan kening bingung. Apa yang terjadi pada nya? Bagaimana Azri bisa berubah manis seperti ini hanya dalam tempo semalam saja? Mungkinkah dia merencanakan sesuatu?


"Dan masakan ini, kamu yang membuat nya?" Widya menunjuk ke arah meja makan yang penuh makanan.


"Em, siapa lagi."


"Apa yang kita lakukan semalam sudah membuat nya menjadi bertingkah seaneh ini?" Widya bergumam sendiri. Ia tersentak sadar saat tangan Azri melingkari pinggang nya. Apa yang di lakukan pria ini?


"Siapa yang bertingkah aneh?" Azri ternyata mendengar gumaman nya tadi.


"Tentu saja kamu, memang nya aku?!" Widya dengan gusar mencoba melepaskan diri dari dekapan Azri. Penampilan nya yang kurang layak membuat nya merasa tidak nyaman. "Sekarang lepaskan aku!"


"Kalau aku tidak mau?" Azri gembira sekali berhasil membuat Widya gugup. la menyentuh dagu gadis itu untuk menggoda nya. "Kamu pasti menantikan morning kiss dari suami mu sampai memakai baju seperti ini." la mendekat lalu berbisik. "Aku tahu tubuh mu tak terbalut apa-apa lagi di balik kain tipis ini. Bagaimana jika aku melepaskan nya lalu kita bersenang-senang sebentar seperti semalam?"


Widya membelalak kan mata, mendadak panik. "Tidak, tidak, kita harus pergi ke kantor.“

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa kamu tampil di depan ku dengan pakaian seminim ini?"


"Aku hanya ingin bertanya di mana baju ku semalam? Apa kamu melihat nya?"


"Oh, baju itu aku sudah menumpuk nya di keranjang baju kotor. Kenapa?"


"Hah, apa?" Widya mulai menduga telinga nya tidak berfungsi dengan baik. Sebab sejak tadi ia terus-menerus mendengar sesuatu yang mustahil.


Sejak kapan seorang Azri El Pradipta sempat-sempat nya memungut pakaian kotor lalu memasukkan nya ke keranjang? Widya mengenal Azri sebagai pria yang tidak mau mengurusi hal-hal remeh semacam memungut pakaian kotor nya. Semua itu di serahkan nya pada pembantu, begitulah. Seperti nya memang ada yang aneh dengan Azri.


"Kenapa?"


"Ah tidak," gumam Widya. Lebih baik ia tidak membahas nya. Toh keganjilan sikap Azri hari ini adalah sesuatu yang baik. Ia hanya belum terbiasa.


Azri mengecup pipi Widya kilat lalu melepaskan pelukan nya. Ia memutuskan untuk berhenti menggoda Widya menyadari reaksi tidak nyaman nya.


"Cepat bersiap-siap. Kita akan sarapan setelah itu berangkat ke kantor bersama-sama.“


Widya menatap Azri untuk beberapa saat dengan alis bertautan. Ada yang berbeda dengan Azri. Masih merasa aneh melihat nya sejinak ini. Namun, sebelum pikiran nya semakin melayang ke mana-mana, Widya segera berbalik lalu bersiap-siap.


Mereka berhasil melewati sarapan tanpa bertengkar maupun berdebat. Bahkan bisa dikatakan suasana nya cukup damai dan menyenangkan. Sesekali mereka mengobrol ringan. Sikap Azri yang hangat membuat Widya bertanya-tanya apakah seperti ini cara Azri memperlakukan kekasih nya?


Kalau begitu pantas saja mereka tergila-gila pada Azri. Widya tidak boleh merasa terbiasa, karena kelak mungkin ia akan merindukan momen ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2