Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Kesemek


__ADS_3

Azri yakin ada begitu banyak butik mewah tersebar di seluruh penjuru kota. Namun, kenapa dari sekian banyak butik, keluarganya harus memilih butik ini untuk mendapatkan baju pernikahannya? Apa mereka tidak tahu bahwa butik ini adalah butik milik keluarga Marleen? Ia hanya berharap Marleen tidak datang kemari hari ini. Ia hanya membuang napas pelan lalu mengalihkan tatapannya dari papan berpahatkan Swan Groom & Bridal ke arah bagian dalam butik dengan dekorasi serba mewah.


"Azri, akhirnya kamu tiba juga.“


Langkah pertama Azri memasuki butik, suara Bibi Swari sudah menyambutnya. Ia memberi salam pada bibinya dan seorang wanita yang ia tahu adalah kakak perempuan Marleen yang lebih tua sepuluh tahun. la berbasa-basi sebentar sebelum diperkenalkan oleh bibinya pada Miana, pemilik butik itu.


"Perkenalkan dia adalah nyonya Miana, pemilik dari butik ini.“


Azri menjabat tangan Miana yang tidak mengenalinya karena ini memang kali pertama mereka berkenalan secara resmi. Wanita itu tersenyum penuh kekaguman padanya. Azri bertanya-tanya bagaimana reaksinya jika dia tahu dirinya berkencan dengan adiknya selama ini.


"Jadi ini keponakanmu yang bernama Azri El Pradipta itu? Dia setampan seperti yang didesas-desuskan."


Miana menatap Azri secara keseluruhan dengan tatapan penuh minat. Azri menundukkan kepala sebagai bentuk rasa tersanjungnya-etiket penuh kepura-puraan. Dalam hati ia berdecak malas sambil membatin 'bayi yang baru lahir saja tahu aku ini sangat tampan, tidak perlu mengumbarnya seperti itu'.


Reaksi Miana hanya satu dari banyak ekspresi serupa yang sering dilihat Azri dari orang-orang. Tak bisa dipungkiri tubuh tinggi tegap dan proporsionalnya mampu memikat banyak desainer sampai mereka dengan senang hati merancangkan baju untuknya, seperti yang dilakukan Marleen. Jika dulu ia tidak menolak tawaran menjadi seorang model, mungkin sekarang ia sudah melanglang buana ke seluruh dunia sebagai model top di atas catwalk.


"Kita langsung saja fitting bajunya. Aku memiliki beberapa koleksi terbaik yang sangat cocok untukmu."


Miana membimbing Azri dan Bibi Swari menuju ke arah dalam butik. Mereka memasuki sebuah lounge yang luas dan didekor serba mewah.


Pandangan Azri langsung tertuju pada sesosok gadis yang duduk di atas sofa bersama keponakannya yang usil setengah mati. Gadis itu sontak berdiri ketika menyadari kedatangannya. Wajahnya yang semula dihiasi senyum kini benar-benar dingin sama sekali. Bagaimana ia lupa kalau fitting baju pengantin tidak mungkin dilakukan pengantin prianya saja? Tentu saja gadis itu juga akan ada di sana. Ia mendengkus.


Widya bisa melihat perubahan ekspresi Azri dengan sangat jelas. Ekspresi itu cukup membuatnya sadar bahwa Azri tidak senang dengan keberadaannya. Azri memang tidak akan pernah senang padanya. Pria itu tidak berniat menahan diri. Karena itu Widya pun memutuskan untuk tidak peduli.


"Paman, wajahmu terlihat seperti kesemek masam jika terus mendengkus seperti itu.“


Celetukan tiba-tiba Zavir membuat semua orang di ruangan itu terkejut dan seketika menatap Azri bersamaan. Pria itu tampak yang paling terkejut, jelas tidak terima wajah tampannya disamakan dengan kesemek masam oleh bocah ingusan sepertinya.


"Bocah ini!" Matanya memelototi Zavir yang langsung bersembunyi di balik tubuh Widya.


"Zavir, darimana kamu mempelajari kata-kata itu?!" tegur Bibi Swari terkejut.

__ADS_1


Zavir menatap takut ibunya lalu ragu-ragu menoleh ke arah Widya. Azri mengalihkan tatapan menyeramkannya pada Widya. "Aku tahu kamu pasti pelakunya," desisnya kejam. Gadis itu terkesiap kaget.


"Tidak, aku tidak mengajarkannya apa---pun.“


Widya diam, ia tersadar kemungkinan Zavir mendengar gerutuannya saat ia mengirim pesan singkat pada Bella tadi. Ia langsung memalingkan pandangan enggan melihat tatapan Azri yang menghujam, entah apa yang akan dilakukan pria itu padanya nanti. Widya bisa melihat kemarahan dari tatapannya saja.


Gadis ini benar-benar mencari mati, batin Azri.


Azri harus menahan emosinya karena tiga asisten Miana masuk membawa beberapa baju yang akan dicoba mereka sementara itu Widya mendesah lega. Ia selamat kali ini. Azri tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya dan berbisik.


"Jangan kira kamu bisa kabur. Aku akan membuat perhitungan denganmu," bisiknya tajam.


Widya membelalakkan mata.


"kamu pikir aku takut?" balasnya sengit.


Azri terkejut dengan keberanian Widya yang meremehkan ancamannya. Ia tersenyum sinis.


"Hanya pria lemah yang beraninya mengancam wanita."


Skak matt untuk Azri karena ia mendapati dirinya kehilangan kata-kata setelah mendengar balasan yang diucapkan dengan tenang, tetapi tajam oleh Widya.


"Hei!" seru Azri tertahan sambil mencengkeram tangan Widya. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa dirinya kalah debat dengan Widya.


"Jika ingin bermesraan lakukanlah setelah fitting baju pengantin."


Suara dari Bibi Swari membuyarkan amarah Azri. Sontak ia menolehkan pandangannya ke sekitar. la baru sadar bahwa semua orang memperhatikan semua yang diakukannya. la segera melepas tangan Widya yang dipegangnya lalu menjauh.


Widya mendesah selega-leganya. Tanpa sadar ia menahan napas saat Azri mencengkeram tangannya tadi. Alasannya bukan karena ia kesakitan, melainkan karena wajah Azri sangat dekat dengannya. Dari arah belakang mungkin akan terlihat seolah Azri sedang menciumnya. Jika Bibi Swari tidak menginterupsi mungkin ia sudah pingsan karena tidak sanggup menghadapi Azri dengan ekspresi yang lebih menyeramkan dari drakula. Baru permulaan saja ia sudah merasa panas-dingin, bagaimana setelah ia menikah nanti?


Mereka mencoba baju pengantin tanpa saling menatap satu sama lain. Azri berdiri di sudut lain sambil mematut dirinya di cermin besar setinggi tubuhnya sementara Widya sedang mencoba gaunnya di dalam memakai ruang ganti.

__ADS_1


"So awesome, as always."


Azri tersenyum mengagumi penampilannya sendiri dalam balutan tuxedo warna hitam. Senyumannya itu tidak bertahan lama karena ia melihat sosok lain masuk ke dalam ruangan dari pantulan cermin di depannya.


"Marleen."


Azri terkesiap. Ia membalikkan diri untuk melihat sendiri gadis itu yang kini sedang menyapa Miana. Marleen menolehkan wajah ke arahnya, seketika ekspresinya langsung berbinar cerah. Gadis itu berjalan ke arahnya, lalu memeluknya singkat.


"I don't believe it, bisa bertemu denganmu di sini. Apa yang kamu lakukan?”


Azri sempat bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia memilih jujur karena Marleen pasti bisa menebak alasan mengapa ia berada di butik khusus baju pengantin.


"Fitting baju pengantin tentunya," ucap Azri santai.


Sempat ada kilatan kaget di wajah Marleen, tetapi itu tidak berlangsung lama. Senyum cerah kembali menghiasi wajah cantiknya.


"Aku tidak tahu harinya adalah hari ini.“ Marleen meraih bow tie yang melingkari lehernya, membenarkannya sedikit.


"Seharusnya kakakku memberikan rancangannya yang terbaik. Pernikahan seorang Azri El Pradipta haruslah spektakuler."


Mata Marleen menatap Azri lurus. la menghela napas karena sepertinya gadis ini marah. Ia akan menjelaskan padanya tentang ini nanti.


"Seharusnya."


Mereka sama-sama tersenyum seolah dunia milik mereka sendiri. Azri sadar ini tempat umum karena itu ia tidak bisa melakukan hal lebih dari menatap Marleen. Apalagi Bibi Swari dan si kecil Zavir mengawasi dari jauh.


Untuk menghindari kecurigaan, Azri segera memperkenalkan Marleen pada bibinya dan mereka bisa langsung akrab dalam waktu beberapa menit. Lihat, bukankah Marleen gadis yang lebih pantas menjadi istrinya? Seharusnya dia yang kini mencoba gaun pengantin bersamanya.


Bukan gadis bernama Widya Lovarza Anindita ...


Bersambung ....

__ADS_1


Karena judul, sebelumnya terlalu panjang, jadi aku ganti 😁


__ADS_2