Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 81


__ADS_3

"Aku bertengkar dengan Widya."


Azri mendesah pelan dan penuh penyesalan. Dia tampak lelah dan putus asa di mata Ryan, membuat pria itu simpati.


"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya nya penuh perhatian.


Azri tidak menggeleng ataupun mengangguk. Pandangan pria itu menerawang jauh.


"Kami bertengkar karena Yuna."


"Apa?"


Keterkejutan menghiasi wajah Ryan. Tiba-tiba ia teringat hari di mana Widya menemui nya ke klub malam dan bertanya tentang Yuna. Widya tampak terpukul dan sedih pasca mendengar cerita gadis itu dari nya.


"Sungguh, aku akan benar-benar marah pada mu seandai nya kamu tidak segera berbaikan dengan istri mu. Sangat tidak lucu kalau kamu bertengkar dengan nya karena cinta masa lalu mu, kamu tidak tahu bagaimana syok nya dia saat tahu cerita mu dan Yuna? Dia akan berpikir kamu masih mencintai nya."


Azri langsung menatap nya begitu mendengar kalimat terakhir Ryan. "Apa? Jadi kamu pernah menceritakan tentang Yuna pada Widya?" seru nya tak percaya, mata nya berkilat marah. Ia menahan diri agar tidak memaki Ryan. Lancang sekali sahabat nya ini menceritakan kisah cinta nya tanpa seizin nya.


Ryan tidak takut menghadapi pelototan Azri. "Kamu berani mendebat ku tentang Yuna, itu arti nya kamu memang masih mencintai dia," ujar nya dingin.


Tak perlu waktu lama untuk Azri sadar. Detik berikut nya ia mengerjapkan mata lalu melemaskan bahu nya. Azri mengumpat pelan. Tak pernah di sangka ia akan sekacau ini karena Yuna. Sekarang ia menyesal kenapa hari itu ia setuju pergi dengan Widya dan bertemu Lia.


Ryan bersimpati melihat Azri segelisah ini. "Apa yang membuat topik tentang Yuna muncul di antara kalian?"


"Aku tidak ingin membahas hal itu sekarang. Jangan khawatir, cepat atau lambat kamu akan mengetahui nya."


Yang ingin Azri lakukan sekarang adalah bertemu dengan Widya. Sungguh, ia ingin memeluk nya. Ia membutuhkan tempat berlindung karena detik ini diri nya merasa takut, limbung, dan bimbang.


"Terserah pada mu." Ryan lalu mengeluar kan sesuatu dari saku jas nya, "Aku memiliki tiket drama musikal ini, paman ku salah satu sponsor nya. Aku sudah memberikan tiket yang sama pada Bella. Kamu bisa menggunakan tiket ini untuk berbaikan dengan istri mu dan datang menonton dengan nya."


Ryan menyerahkan tiket berwarna gold ke hadapan Azri, lalu tersenyum penuh pengertian.


"Sebagai sahabat, aku tidak mau melihat mu terpuruk. Cinta itu datang untuk membuat mu bahagia, bukan sakit hati. Karena itu jika kamu membiarkan hati mu tersakiti, arti nya kamu sudah membunuh cinta dari hidup mu. Itu sebab nya saat ibu mu dan Yuna pergi, kamu merasa hidup mu sudah berakhir. Kamu masih ingin hidup, bukan?"


Azri merenung. Diam tak bergerak di tempat nya. kata-kata Ryan memang benar. Ia mencintai Widya, bahkan sangat mencintai nya. Namun, bagaimana ia menjelaskan perasaan aneh yang ia rasa setiap kali ia teringat Yuna? Dan kini sosok itu muncul dalam diri seorang gadis bernama Lia? Bagaimana Azri bisa lupa betapa ia menyalahkan diri nya sendiri atas kematian Yuna?


***

__ADS_1


Widya biasa nya selalu serius menjalankan tugas nya di kantor. Namun, hari ini entah kenapa ia tidak bersemangat sama sekali. Karena itu ia menyerahkan tugas bimbingan nya pada Mahesa sementara diri nya lebih memilih mendekam di ruang kantor nya. Beruntung Bella datang berkunjung sehingga ia berhasil mencegah diri nya sendiri merasa nelangsa setiap kali teringat tentang Azri dan Lia.


Kenapa Lia harus mirip dengan Yuna? Itu kenyataan yang membuat hati nya menjengit nyeri. Azri selalu menunjuk kan sorot penuh kerinduan setiap kali menatap gadis itu. Tak perlu waktu lama untuk Azri jatuh cinta pada Lia dan melupakan diri nya. Bukankah dulu Azri begitu mencintai Lia?


Widya sudah menceritakan semuanya pada Bella. Tentang perintah Mahendra untuk menjodohkan Azri dengan Lia dan tentang kehamilan nya. Gadis itu sempat marah dan menyayangkan kenapa Widya bisa menjadi wanita yang begitu bodoh. Bisa-bisa nya bersedia melakukan perintah konyol itu dan mengorbankan perasaan nya sendiri. Jika itu Bella, maka ia lebih memilih pergi. Keputusan itu seribu kali lebih baik.


"Mungkin ini cara Ayah mengusir ku," lirih Widya sedih, menghentikan ekspresi sangar sahabat nya. "Lagi pula setelah semua ini, setelah Azri begitu terpesona pada Lia. Aku ragu apakah dia masih bersedia hidup dengan ku."


"Widya ...." Bella menyela dan suara tercekat. Ia tidak suka melihat Widya berpikir buruk tentang diri nya sendiri. "Kamu tidak boleh berkata begitu. Azri mencintai mu. Kamu tidak boleh berprasangka buruk dan menghancurkan diri mu sendiri. Kamu tidak kasihan pada bayi mu?"


Widya mulai berkaca-kaca. Ia meremas tangan nya sendiri demi mengalihkan rasa sesak di tenggorokan nya, "Azri langsung berubah setelah bertemu Lia. Bagaimana aku tidak menyimpulkan hati nya tergerak pada gadis itu?"


Ia lupa bahwa Bella tidak tahu tentang kemiripan di antara Lia dan Yuna, karena itu Bella tidak akan pernah mengerti betapa sakit nya Widya setiap kali melihat ekspresi Azri saat menatap Lia. Tanpa sadar ia sudah terisak.


"Mungkin dengan begini, aku bisa memiliki alasan untuk bercerai dengan Azri."


Bella langsung memeluk Widya ketika sahabat nya itu menangis.


***


Malam itu Azri menatap ragu istri nya yang sedang sibuk memasak di dapur. Gadis itu bersikap seperti biasa nya, seolah tidak terjadi apa pun. Sikap itulah yang membuat Azri merasa tidak enak hati. Ia menatap tiket yang di berikan Ryan, berharap benda di tangan nya itu bisa membantu nya berbaikan kembali dengan Widya.


Widya menoleh mendengar seseorang menggumam di belakang nya. Ia menatap suami nya heran.


"Ada apa?"


Azri terlihat begitu kaku, berdiri di depan nya dengan tangan di masuk kan ke saku celana. Sikap nya seperti anak kecil yang mencoba mengakui kesalahan pada ibu nya.


"Ini." Azri mengulurkan selembar tiket pada nya. "Akhir pekan ini ada pertunjuk kan drama musikal dan aku ingin kamu datang menonton nya."


"Terima kasih."


Widya menerima nya dan menatap sekilas benda itu sebelum ia memandang suami nya kembali. Ia berharap Azri mengatakan hal lain selain ini. Oh, memang apa yang ia harapkan? Penyesalan dari Azri?


"Apa kau akan pergi dengan ku?“


"Tentu saja," ujar Azri canggung.

__ADS_1


Suasana di antara mereka menjadi lebih aneh saat tak ada yang mau bicara setelah nya.


Azri mengumpati diri sendiri karena bersikap seperti pengecut. Ayolah, minta maaf saja apa susah nya? Ia memandang Widya yang berdiri gelisah di depan nya. Dari lubuk hati nya yang terdalam, ia benar-benar merindukan gadis ini. Setelah pertengkaran malam itu, tidak ada lagi kontak fisik yang menghangatkan hubungan mereka. Azri sadar diri nya salah karena telah memulai nya. Oleh sebab itu hari ini ia akan mengakhiri nya.


"Jika kamu tidak keberatan, aku akan kembali memasak."


Tidak, tunggu! Teriak Azri dalam hati. Sebelum Widya membalikkan badan, Azri meraih pundak Widya, membalik tubuh nya lalu menutup mulut Widya dengan mulut nya.


Widya terkejut. Setelah beberapa waktu Azri bersikap dingin pada nya, detik ini dia datang dan mencumbu nya dengan lembut. Widya merindukan Azri. Ciuman nya seperti obat penghilang rasa sakit dan membuat kepala nya terasa ringan. Tanpa sadar ia menyambut ciuman Azri seantusias pria itu melakukan nya.


Azri menggeram, sadar bahwa kekosongan di hati nya telah terisi saat Widya melingkarkan tangan di leher nya dan membalas ciuman nya.


Aku sudah di maafkan, batin Azri senang sekaligus lega. Ia sempat takut Widya akan mendorong nya, tetapi reaksi Widya menepis semua ketakutan nya. Azri merasa bahagia.


"Aku minta maaf."


Azri berkata di sela kecupan nya. Ia merapatkan tubuh Widya dengan tubuh nya. "Aku konyol sekali, aku marah pada mu karena kamu menyinggung tentang Yuna. Tapi kamu harus percaya bahwa aku tidak memiliki perasaan apa pun lagi pada nya."


Widya tersentak, lantas menjauhkan wajah nya. Azri merasa sedih saat bibir nya tak lagi menyentuh bibir lembut Widya.


"Aku tidak menyalahkan mu karena itu. Aku hanya tidak suka melihat mu sedih karena teringat Yuna. Selain itu Lia memang cantik, dan aku tidak keberatan seandai nya kamu jatuh cinta pada nya."


Widya tercekat dan ingin menampar bibir nya sendiri karena sudah berkata seenak nya. Kapan ia memutuskan hal itu? Kapan hati nya rela Azri jatuh cinta pada Lia, tak peduli itulah yang di inginkan Mahendra.


"Tidak, Demi Tuhan tidak!" Suara Azri mulai serak, bukti bahwa pria itu berusaha menahan emosi nya. “Aku tidak akan jatuh cinta pada Lia tak peduli dia mirip dengan Yuna atau siapa pun. Kenapa kamu tidak pernah percaya kata-kata ku? Apa yang membuat mu meragukan ku?"


Azri menatap nya sungguh-sungguh. Widya bisa melihat nya, sorot mata penuh kesungguhan milik Azri. Mendadak mata nya terasa panas. Ia ingin menangis.


Ya Tuhan, Azri mencintai nya. Sungguhkah itu? Sungguhkah Azri tidak akan meninggalkan nya meskipun kemunculan Lia sudah mengacaukan pikiran nya?


"Jangan menangis, ku mohon." Azri menangkup wajah Widya. Ia mengerjap melihat air mata sedang mengalir di kedua mata nya.


Widya tersenyum di antara tangisan nya. “Aku mempercayai mu.“ Ia berkata susah payah, "kamu tahu aku selalu mempercayai mu."


Seuntai kata itu berhasil membuat Azri mendesah lega lalu kembali mencium dalam bibir nya. "Jangan tinggalkan aku. Demi apa pun jangan tinggalkan aku."


Widya tidak sanggup mengangguk karena Azri tak berhenti membuat nya sibuk membalas setiap cium*an nya.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2